Senin, 01 Januari 2018

Jatuh Bangun di Jalur Offroad Gunung Kawi- Gunung Panderman – Coban Rondo


Delapan orang perlahan meninggalkan sekretariat tim CHEELA pada hari Minggu (31/12/2017) untuk offroad akhir tahun. Mereka yang naik Husqvarna FE 250. Husqvarna TE 250, Husaberg TE 250, Kawasaki KLX 150 dan Honda CRF150L itu memacu motornya dengan perlahan ketika melewati perkampungan.

Tidak sampai 5 menit, tim langsung memasuki jalur offroad di atas perumahan Oma Campus, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Karena sudah memasuki jalur offroad dan tampak sepi, tim langsung buka gas motor lebih dalam. RK dan DW melesat di depan, menyemburkan lumpur yang terlontar ke sobat-sobatnya yang ada di belakang.

Sejak start awal, jalur offroadnya sudah mulai licin, karena memang hujan sedang deras-derasnya di bulan Desember itu. Jalur di tengah ladang itu kelihatannya mudah karena datar, namun salah buka gas dan keliru memainkan tehnik pengereman, bisa jadi akan terjungkal mencium kotornya lumpur.

Tak lama kemudian tim memasuki Desa Selokerto yang dikenal dengan agrowisata jeruknya. Tim memacu motornya dengan perlahan, karena gak keren kalau lewat perkampungan dengan kencang apalagi bleyer-bleyer knalpot hingga memekakan telinga.

Begitu masuk kembali jalur offroad, tim membetot gas motor. Kali ini jalurnya lebih licin, karena berupa tanah padas mengkilat di sela-sela hutan pinus dan perladagangan. DW yang memacu Husabernya di barisan depan harus terjungkal persis di depan RK.

Cek video ini: Husqvarna Fe 250 vs CRF 150L

DV yang biasa naik moge yang ikut offroad hari itu juga harus jatuh bangun melewati jalur licin. Setelah ban belakang motornya dikempesin dikit, baru dia mulai bisa melibas jalurnya dengan lebih enak, meskipun tetap tampak kesusahan.

Setelah tim menyebarangi sungai kecil, jalur mulai ngeril dalam. Tim harus berjuang extra keras untuk lolos jalur ini. RZ yang naik KLX 150-pun motornya tertancap di jalur ngeril tanpa bisa beregerak sama sekali. Semakin digas motornya, semakin dalam roda belakang tertancap di tanah. Akhirnya RZ menyerah pasrah.

Video motornya yang nancap di tanah: Motor nancap di tanah

ER yang baru pertama kali ikut offroad tim CHEELA juga harus menguras energi untuk melewati jalur di tengah pinus ini. Untungnya fisik ER kuat dan semangatnya menggebu, sehingga dia terus mampu mengkuti irama offroad para senior di tim CHEELA.

Setelah istirahat sejenak, tim melanjutkan perjalanan. Jalurnya tetap full single track, licin dan ngeril. Benar-benar butuh kosentrasi tinggi, fisik prima dan tentu saja motor yang sehat untuk lolos jalur ini.

Di jalur ini WW, AW dan DV sempat tersesat. Untung jalurnya buntu sehingga mereka bisa balik arah dan kembali menemukan anggpta tim lainnya yang menunggu di bawah rindangnya pohon hutan.

Sekitar jam 11.30, tim memasuki kawasan  Goa Jepang. Wajah rider dan warna motor sudah semakin tidak jelas, tesamarkan dengan cipratan lumpur. Disinilah WW yang naik CRF150L mengangkat bendera putih alias menyerah untuk tidak melanjutkan offroad.

“Tangan saya sakit pak, maaf tidak bisa lanjut offroad, saya akan lewat jalur on road aja,” kata WW.

Tim yang kini berjumlah tujuh orang kembali melanjutkan offroad, Jalurnya kali ini membuat tim tersenyum, karena sedikit kering dan meliuk-liuk di perbukitan, sehinga tim bisa membetot gas motor lebih dalam.

Tidak sampai setengah jam, tim memasuki jalan raya lintas barat Kota Batu. Wah jalannya macet karena wisatawa yang mau berkunjung ke Coban Rais.

Tim istirahat sejenak di sebuah warung yang ada di tepi jalur Jalibar. Sambil menyantap makan siang, kami ngobrol banyak hal tentang dunia motor trail. Dari obrolan ini kami baru tahu bahwa DV itu sebelum pindah ke Malang itu dia tinggal di Bandung dan sejak lama memang dia suka motor.
Istirahat sejenak di warung sekalian makan siang
“Saya sudah sejak lama tahu akan IDB dan CHEELA, dan baru sekarang bisa offroad bareng,” kata DV yang naik Husqvarna FE 250.

Setelah dirasa cukup istirahat, tim melanjutkan offroad. Kali ini jalurnya menyisiri lereng Gunung Panderaman yang tak kalah licinnya.

Di beberapa titik, DV kesulitan melewati jalur Panderman ini. Ban motor yang sudah mati, membuat DV kesulitan melibas jalur licin. Jatuh bangun sudah menjadi hal biasa untuk lolos jalur ini.

TG yang usianya paling mudapun juga harus mengeluarkan extra tenaga untuk melibas jalur. Dia juga sempat terjungkal bersama Husqvarna TE 250-nya.

Jalur lereng Gunung Panderman ketika musim hujan memang terkenal licin, karena karakter tanahnya itu padas keras tapi licin.



Setelah satu jam berasyik ria di jalur offroad lereng Panderman, akhirnya tim tiba di kawasan wisata Coban Rondo. Ini adalah kawasan wisata air terjun yang terkenal di Malang.

Dari Coban Rondo kami meluncur arah desa wisata Kungkuk lewat jalur Paralayang Batu. Dari Desa Kungkuk kami menuju arah lereng Gunung Arjuna lewat tengah perkebunan apel dan jeruk.

Di jalur menuju lereng Arjuna ini jadi ‘bonus’bagi tiim karena jalurnya lebar dan kering. Tim membetot gas dengan dalam dan meliuk-liuk di jalur speed offroad ini. DW dengan motor 250 dua tak langsung melesat di depan tanpa terkejar.

ER yang masih pemula juga terbawa irama speed offroad yang dimainkan tim CHEELA sore itu. ER punya nyali dan fisik yang mumpuni, tetapi skill riding masih minim. Di jalur lurus dia bisa buka gas pol, tetapi begitu masuk tikungan dia lurus saja dan nyungsep nabrak pagar tanaman!

RZ, anggota tim CHEELA nomor 20 tampak begitu menikmati jalur speed offroad ini. Meskipun fork depan motornya bocor, dia masih ngotot untuk buka gas melawan senior RK.

“Puas rasanya offroad akhir tahun ini, jalurnya lengkap, ada single track dan juga speed offroad,” kata RZ yang berasal dari Pasuruan.

Jalur speed offroad itu menajdi pamungkas rangkaian offroad akhir tahun tim CHEELA. Terima kasih atas kebersamaan dan persahbatan di jalur lumpur ini, sampai ketemu di jalur offroad berikutnya. (IDB)