Kamis, 26 Oktober 2017

Test Jangka Panjang IDB: Yamaha YZ250FX Kurang Enak untuk Offroad Single Track?


Sebelum membaca lebih lanjut test jangka panjang IDB tentang performa Yamaha YZ250FX ini, silahkan dulu membaca artikel review IDB tentang YZ250FX di link berikut ini: http://www.indonesiandirtbike.com/2016/09/uji-coba-idb-performa-yamaha-yz250fx.html

YZ250FX merupakan motor tipe cross country yang diirancang untuk enduro kompetisi atau rider yang suka motor enduro namun yang punya karakter lebih agresif. Uji coba jangka panjang IDB tentang performa FZ250FX ini memakan waktu sekitar satu tahun. Uji coba ini melibatkan tim CHEELA yang sudah kawakan menggaruk tanah dengan motor trail.

Ketika pertama kali muncul di tanah air dengan harga sekitar Rp 90 jutaan, IDB merasa gembira, karena ini menjadi angin segar di tengah melambungnya harga motor trail buatan Eropa seperti KTM dan Husqvarna. Kedua motor trail Eropa ini yang 250 cc dibandrol diatas Rp 120 juta.

DW, Anggota senior CHEELA-pun menebus YZ250FX tahun 2017 dengan kondisi kinyis-kinyis alias baru. Untuk mendapatkan YZ250FX ini DW harus rela menunggu waktu berbulan-bulan inden dengan penuh kesabaran, kalau tidak boleh dibilang nyaris putus asa.

Akhirnya dalam lingkaran IDB dan CHEELA ada 3 buah motor YZ250FX tahun 2016 dan 2017. Adanya tiga motor yang berbeda dengan 3 rider yang punya karakter yang berbeda dalam mengendarai motor itu membuat semakin komplit review IDB.

YZ250FX motor yang enak untuk offroad. Apalagi untuk rider yang baru naik kelas, misalnya awalnya naik Kawasaki KLX 150, maka ketika menunggangi YZ250FX akan terkaget-kaget dengan performanya yang mantap.

Di jalur yang terbuka atau double track YZ250FX bisa menunjukan tajinya. Dipakai untuk latihan di sirkuit motocross juga lumayan, meskipun suspensinya perlu diseting ulang jika dipakai untuk motocross.

Tetapi di jalur single track apalagi yang ada jalur ‘ngeril’ itu YZ250FX kehiangan kesaktiannya. Motor ini terasa kurang mumpuni melibas jalur single track. Rider merasa lebih cepat capek naik YZ250FX dibandingkan naik motor enduro lainnya seperti KTM 250 XCF atau Husqvarna FE 250.

Apalagi jika jalur single track-nya itu licin, akan semakin susah payah rider melewatinya dengan YZ250FX. Roda belakang mudah spin di jalur licin. Jika dimasukan gigi 1 misalnya, roda akan spin, tetapi jika dimasukan gigi 2 itu motor tidak mau bergerak naik. Yang terjadi kemudian mesin motor akan panas dan perlu istirahat agar tidak overheat.

Awalnya IDB mengira itu faktor rider yang masih pemula, sehingga kesulitan membawa YZ250FX di jalur single track atau jalur licin. Tetapi IDB yang sudah kenyang main motor enduro belasan tahunpun ternyata merasa kesulitan juga menaklukan YZ250FX di jalur single track.

Bahkan DW, yang punya skill mumpuni mengaku kesulitan nunggangi YZ250FX di jalur single track. Padahal sebelumnya DW yang naik Husqvarna TE250 dan KTM 250 XCF itu tidak pernah mengeluh ketika melibas jalur single track.

“YZ250FX ini susah kalau kena jalur single track, handling-nya kurang lincah dan bikin capek,” kata DW pada waktu offroad dengan IDB baru-baru ini.

GW yang beli YX250FX bareng DW juga merasakan kesulitan yang sama. 

“Aduh ampun kalau kena jalur licin yang susah, motornya gak mau gerak, padahal motor-motor yang lain kog enak aja lewat jalur itu,” kata GW sambil terengah-engah ketika offrroad bersama iDB.

Kesimpulannya, IDB merasa YZ250FX kurang mumpuni melibas jalur single track. Bukannya tidak bisa, tetapi rider merasa lebih capek dibandingkan ketika membawa motor lain. Usaha rider harus lebih extra keras untuk melewati jalur single track licin dengan YZ 250FX.

Mungkin yang paling pas untuk melibas jalur single track itu adalah yang tipe YZ250X yang mengusung mesin 2 tak. Tapi sayang IDB belum pernah mencicipi YZ250X, semoga segera bisa mencobanya. (IDB)