Senin, 28 November 2016

Tips Memilih Oli 2T untuk Motor Trail 2 Tak

KTM 200 jadi motor enduro favorit di tahun 2000-an
Kalau untuk harian motor 2 tak itu sudah tidak diproduksi lagi, namun beda dengan motor trail enduro dan motocross yang terus mengeluarkan motor trail 2 tak. Di sebagian besar kejuaraan enduro ekstrim kelas dunia itu juga masih didominasi motor 2 tak keluaran pabrik Eropa seperti KTM, Husqvarna, dan Beta.

Pabrikan Jepang juga memberikan kejutan ketika tahun 2016 Yamaha meluncurkan motor enduro 2 tak yaitu YZ250X. Tipe ini di kelasnya akan bertarung dengan KTM 250 XC yang dikenal mempunyai tenaga ganas.

Keluarnya YZ250X Ini menunjukan pabrikan Jepang khususnya Yamaha semakin serius menggarap pasar offroad motor trail. Mereka melihat bahwa penggemar motor trail 2 tak masih banyak dan terbukti sangat kompetitif di kompetisi enduro. Tidak ada yang meragukan kedahsyatan motor enduro 2 tak di dunia kompetisi hard enduro.

Pada awal tahun 2000-an motor enduro build up di tanah air dikuasai KTM 200 EXC. Sementara untuk motor lokal ada Suzuki TS125 yang hingga sekarang masih melumpur di berbagai acara offroad.

Kemudian diatas tahun 2007, motor trail 2 tak sempat meredup, dihajar munculnya motor-motor enduro 4 tak yang semakin bertenaga dan ringat bobotnya. Penunggang KTM 200 EXC beralih ke motor 4 tak seperti KTM 250 EXCF, 350 EXCF dan 450 EXCF. Dari kubu Jepang juga hadir Honda CRF 250X dan Yamaha WR250F.

Ketika banyak offroader di tanah air ramai-ramai ganti tunggangannya dengan motor 4 tak, IDB tetap setia menyimpan motor trail enduro 2 tak, KTM 300 dan KTM 250.

Kini minat motor trail 2 tak di Indonesia semakin naik lagi. Ini efek dari banyak penghobby yang “melek” internet dan melihat fakta di kejuaraan hard enduro dunia itu ternyata masih dikuasai motor 2 tak. Lihat saja dominasi Graham Jarvis dengan Husaberg/Husqvarna 300 (2 tak) atau Cody Webb dengan KTM 300 di berbagai kejuaraan enduro. Taddy Blazusiak juga sempat malang melintang menjadi raja di kejuaraan Endurocross dengan KTM 300 EXC, sebelum dia beralih ke KTM 350 (4 tak).

Seiring dengan semakin tingginya penunggang motor trail 2 tak di Indonesia, ini juga berefek dengan semakin tingginya kebutuhan akan oli 2 tak yang sering disebut oli samping. Sebutan oli samping karena dulu motor 2 tak seperti TS 125 atau RX King itu oli campurnya diletakan di samping rangka motor.

Lihat kode JASO di kemasannya
Seringkali rider motor trail 2 tak kebingungan ketika harus membeli oli 2T untuk campuran bensin motornya. Di pasar ada banyak pilihan, mulai merek branded seperti Maximma, Motorex, dan Motul, hingga merek ‘umum’ yang juga dipakai di motor harian seperti produk Pertamina, Shell, Castrol, Top One dan lain-lain.

Banyak yang berfikir bahwa oli 2T yang mahal itu pasti lebih bagus dibandingkan dengan harga yang lebih murah. Belum tentu bro, karena faktor mahal itu bukan sekedar soal kualitas tetapi juga soal asal negara produksi. Kalau oli-nya masih impor tentu saja harganya akan lebih mahal dibandingkan ketika sudah diproduksi di Indonesia.

Untuk memilih oli 2T jangan hanya berpatokan kepada oli impor yang mahal, tetapi berpatokan kepada standar spesifikasi, bahan dasar oli dan kebutuhan motornya.
Standar spesifikasi oli itu ditentukan oleh JASO, API, dan ISO. 

JASO (Japanesse Automobile Sandard Organization) itu standar yang digunakan negara Jepang untuk spesiikasi oli baik 4T maupun 2T. Sedangkan API (American Petrolium institute) itu standari dari Amerika dan ISO (International Standards Organization) itu untuk Eropa.

Tingkatan JASO itu antara lain:
  • JASO FA = sudah tidak diproduksi lagi
  • JASO FB = kualitas diatas JASO FA
  • JASO FC = kualitas diatas JASO FB
  • JASO FD = kualitas diatas JASO FC
Di setiap kemasan botol oli itu wajib dan pasti tertulis spefisikasi JASO-nya. Rekomendasi IDB, oli yang dibeli itu minimal JASO FC. Bisa saja pakai oli JASO FB, tetapi kualitasnya lebih rendah sehingga penumpukan kerak di piston akan lebih tebal.

JASO FB itu biasanya bahan dasar olinya adalah mineral, sedangkan JASO FC itu semi sintetis. Spesiikasi oli yang tinggi adalah JASO FD karena bahan dasarnya sudah sintetis.

Nah oli 2T apa saja yang masuk kategori JASO FB, FC dan FD yang beredar di Indonesia? Tunggu dulu di artikel IDB berikutnya bro dan sist, harap bersabar. (IDB).

Minggu, 20 November 2016

Hati-Hati Sepatu Off Road yang Mahal Kalau Tidak Pakai Malah Bisa Rusak

Punya sepatu offroad alias sepatu cross yang mahal jangan disimpan aja bro, nanti malah bisa hancur kayak bubur. Lho kog bisa? Ini pengalaman IDB yang pernah menyimpan sepatu offroad yang masih baru, maksud hati sebagai sepatu cadangan jika sepatu utama sudah rusak. Tapi setelah setahun disimpan dalam kardusnya, ketika dibuka sepatunya sudah hancur lebur.

Ini hancur betulan, karena bagian plastik dan karet ketika dipegang langsung hancur seperti roti. Yang tersisa hanya sol dan pengait sepatu.

Ternyata kejadian ini juga menimpa admin IDB yang lain yang menyimpan Sepatu merek Scott yang harganya waktu beli hampir Rp 4 jutaan, ternyata kemudian rusak. Rusaknya bukan karena sering dipakai, justru belum pernah dipakai sama sekali dan disimpan rapi di rak sepatu.

Sepatu alpinestar Tech 3 milik IDB yang mulai rusak ,
padahal tidak pernah dipakai offroad
Pengalaman buruk IDB itu jadi pembelajaran bahwa sepatu offroad, meskipun harganya mahal itu tetap punya usia. Yah kayak manusia dong, ada usianya hehehe. Betul bro, biasanya sepatu offroad itu akan mulai rusak begitu menginjak usia diatas 2 tahun pemakaian.

Jadi untuk bro dan sist yang baru beli sepatu offroad, meskipun itu harganya mahal, jangan sayang untuk memakainya. Jangan disimpan saja di lemari, karena takut kotor. Namanya juga sepatu, kalau dipakai pasti kotor, apalagi sepatu offroad.

Kalau sepatu rusak karena sering dipakai itu masih wajar, dan masih ada "kepuasaan" karena kita telah memakainya. Tapi kalau sepatu jarang dipakai kemudian rusak, khan hati jadi "gelo" alias kecewa. Makanya yang sering offroad dengan sepatu kesayangan anda, jangan dipajang saja! (IDB).

Kamis, 17 November 2016

Uji Coba Sepatu Cross Harga Dibawah Rp 2 juta: Thor Blitz

Ada banyak pilihan sepatu cross untuk offroad motor trail yang beredar di tanah air. Mulai sepatu lokal dengan harga Rp 300 ribuan hingga sepatu impor dengan harga diatas Rp 5 juta. Sepatu yang laris manis di pasaran itu biasanya yang harga dibawah Rp 2 jutaan, karena terjangkau untuk smeua lapisan.

IDB melakukan beberapa uji coba sepau cross yang harganya dibandrol dibawah Rp 2 jutaan, Kenapa bukan sepatu mahal yang diatas Rp 3 juta? Jawabannya ada dua bro. Pertama, sepatu mahal itu hanya bisa dibeli oleh yang punya kantong tebal, bukan sepatu “sejuta umat”. Kedua, sepatu yang mahal biasanya punya kualitas yang memang lebih bagus (meskipun belum tentu pas untuk dipakai di medan offroad lho, karena ada yang dirancang hanya untuk di sirkuit motocros, bukan untuk offroad).

Setelah melakukan uji coba sepatu Oneal tipe Rider, kini IDB mencoba sepatu Thor tipe Blitz yang dijual seharga Rp 1,7 juta. Pertama dipakai memang agak kaku, seperti juga sepatu cros lainnya. Tetapi ketika dipakai riding, langsung terasa nyaman, cepat menyatu dengan kaki.

Thor Blitz ternyata enak sekali dipakai offroad, tidak membuat kaki kaku. Ketika dipakai untuk jalan kaki juga lumayan nyaman. Lebih nyaman dibandingkan Oneal tipe Rider.

Jika punya anggaran dana kurang dari Rp 2 juta dan ingin beli sepatu cross yang branded, coba beli Thor Blitz. Sepatunya nyaman dan lumayan awet. IDB pernah memakai Thor blitz selama 3 tahun dan kondisi sepatunya masih layak pakai selama 3 tahun itu. Selamat mencoba. (IDB).

Rabu, 16 November 2016

AHM Beri Sinyal Tertarik Jualan Trail 150cc di Tanah Air

Kabar tentang Astra Honda Motor (AHM) akan jualan motor trail di Indonesia sudah gencar beredar sejak beberapa tahun terahir ini, namun belum ada wujudnya. Tapi sinyal AHM tertarik untuk jualan motor trail itu sepertinya semakin kuat bro dan sist. Paling tidak itu tercermin dari pernyataan dari Direktur Pemasarn PT AHM seperti yang disampaikan ke Liputan6.com.
Menariknya justru yang mungkin dijual di tanah air itu adalah trail Honda yang mengusung mesin kapasitas 150cc. Bisa jadi ini adalah CRF150F, tipe yang akan menjadi pesaing berat bagi Kawasaki KLX 150.
Honda CRF150F 
IDB sendiri tidaklah asing dengan motor trail Honda. Selama bertahun-tahun IDB merasakan nyamannya CRF150F di medan offroad. Motornya tahan banting, perawatan mudan dan murah, Selain itu jika sama-sama standar, CRF 150F ini lebih kencang dan stabil lho dibandingkan KLX 150.
Di bawah ini berita dari Liputan6.com tentang AHM juga tertarik jualan motor trail di anah air yang diunggah tanggal 13 November 2016;
 Liputan6.com, Legian - Honda saat ini menjadi penguasa pasar sepeda motor di Indonesia. Di segmen skutik, posisi pabrikan berlambang sayap mengepak itu tidak tergoyahkan. Sedangkan di segmen sport, Honda mulai menggeser Yamaha.

Satu-satunya kelas yang saat ini belum digarap Honda adalah trail. Meski volumenya tidak sebesar model lainnya, segmen ini dinilai memiliki potensi yang cukup besar.
Hingga kini Kawasaki leluasa bermain di kelas ini. Viar yang di atas kertas masih berada di bawah pabrikan Jepang, tentu bukan lawan sepadan bagi KLX cs.


Honda CRF150F tangguh dan stabil di jalur offroad
Marketing Director PT Astra Honda Motor Koji Sugita mengakui, penting bagi pihaknya untuk memiliki model trail. "Cuma kami tidak bisa sebutkan apa modelnya, kapan hadir. Tapi yang pasti kami harus punya karena kami melihat orang-orang begitu menikmati motor ini," jelasnya di sela acara test ride Honda CBR250RR di Bali.

Sugita mengisahkan, dirinya pada suatu waktu pernah ikut main trail. Di sana ia melihat, dengan motor trail orang bisa bersenang-senang. "

Saya lihat banyak masyarakat yang modifikasi motornya menjadi model trail. Contohnya seperti MegaPro. Mereka hanya ingin bersenang-senang," katanya.

Jikapun nantinya Honda ikut bermain di kelas ini, mesin 150 cc akan diprioritaskan ketimbang 250 cc. "Menurut saya mesin 150 cc cukup. Untuk off road ringan tidak perlu tenaga yang sangat besar. Selain itu harga juga bisa menjadi salah satu pertimbangan," tutup Sugita.

Kamis, 10 November 2016

Tampang Motor Enduro Gas Gas Versi 2017, Merah Garang

Gas Gas, pabirkan motor asal Spanyol sepertinya tidak patah semangat untuk bangkit dengan mengeluarkan motor enduro, meskipun beberapa tahun yang lalu sempat terpuruk. Dalam acara EICMA Motor Show di Milan, Gas Gas mengenalkan motor enduronya yang baru EC 250/300 dua tak.

Motor ini memakai frame dan mesin baru yang diklaim jauh lebih istimewa dibandingkan versi sebelumnya. Suspensi depan dan belakang pakai KYB, sementara knalpot standarnya sudah pakai FMF Powercore di bagian silencer-nya.

Dengan frame dan mesin baru itu bobot Gas Gas menjadi semakin ringan. Diklaim bobotnya sekitar 105 kg saja. Wow ringan sekali ini untuk motor 250/300 cc.

Sebenarnya Gas Gas pernah mencoba peruntungannya dengan membuka deler di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Sayangnya Gas Gas belum mampu menembus ketatnya belantara persaingan motor enduro di tanah air yang kelas premium masih dikuasai KTM dan Husqvarna.

Harga Gas Gas yang pada waktu itu dijual cukup tinggi, membuat kurang diminati oleh maniak trail tanah air. Beda strateginya ketika pertama kali Husqvarna masuk Indonesia itu harganya dibawah KTM dan Husaberg, sehingga motor trail Husky menjadi laris manis sebagai pilihan altenatif selain KTM dan Husaberg.

Semoga Gas Gas 2017 dijual lagi di Indonesia tapi dengan harga yang lebih bersahabat. Harga harus dibawah KTM atau Husqvarna, sehingga menjadi pilihan bagi penggemar trail yang mau 'naik kelas' dari trail lokal ke build up. (IDB).

Senin, 07 November 2016

Honda Luncurkan Trail Adventure 250 cc

Pabrikan Honda akhirnya meluncurkan motor trail tipe adventure rally dengan kapasitas mesin 250 cc. Motor yang diberi nama CRF250L Rally tahun 2017 ini mengambil basis mesin yang sama dengan CRF 250L yang juga dijual di Indonesia oleh importir umum.

Karena ini tipe adventure rally, tentunya CRF250L Rally dilengkapi dengan tangki bensin yang lebih besar dibandingkan standar CRF250L. Tipe rally juga dilengkapi dengan wind shield yang melindungi rider dari terpaan angin ketika asyik menunggangi motor dengan ciri warna merah ini.

CRF250L Rally ini dikeluarkan setelah CRF450 Rally diluncurkan terlebih dahulu yang dirancang untuk melibas ganasnya gurun di rally Dakar. Jika CRF 450 Rally mengambil basis mesin enduro dari CRF 450X, untuk CRF250L Rally itu memakai basis motor dual purpose CRF250L.

Andai saja CRF250 Rally itu mengambil basis dari motor enduro seperti CRF 250X, tentunya akan mengasyikan. IDB yang juga pernah mencoba CRF250L merasa power CRF250L kurang mumpuni untuk melibas jalur offroad. Memang motor ini bukan spek enduro untuk offroad, lebih untuk berpetualang dengan naik motor. Honda CRF 250L itu kompetitor dari Kawasaki KLX 250S.

Apakah CRF 250L Rally juga akan dijual di Indonesia oleh AHM? Semoga AHM tidak jualan CRF250L Rally ini, karena IDB yakin motor ini tidak akan terlalu laku.

Kalau IDB justru berharap jika AHM berniat jualan motor trail itu yang dijual adalah CRF250X dan CRF 230F. Kalau CRF 250L, meskipun itu tipe rally bukanlah motor yang ideal untuk melibas jalur offroad di tanah air. Motornya berat bro, dengan power yang tidak istimewa. (IDB).