Kamis, 31 Maret 2016

Mencicipi Performa KTM 1190 Adventure

Sepeda motor yang dicoba dan juga dimilik oleh IDB itu kebanyakan motor tipe enduro dan cros (SE). Untuk touring adventure, IDB mengandalkan motor kapasitas cc kecil yaitu KLX 250. Nah ketika ada kesempatan menjajal motor yang murni dilahirkan untuk touring adventure seperti KTM 1190 Adventure, tentu saja IDB sangat antusias.

IDB sangat jarang memakai motor tipe adventure. Motor gede tipe adventure yang pernah dicoba IDB hanya BMW GS 800 dan KTM 640. Jadi sebetulnya IDB tidak punya pengalaman banyak naik motor tipe touring adventure dengan kapasitas cc gambot.

Pertama kali melihat langsung tampang KTM 1190 Adventure, wow terlihat besar kayak badak dan garang bro. Ketika IDB hanya melihat fotonya di internet, motor ini tidak terlihat ‘macho’, tapi begitu melihat langsung dengan mata kepala sendiri, barulah terlihat KTM 1190 Adventure sangat garang.

Mohon maaf jika fotonya kurang jelas, karena IDB mengambil gambarnya malam hari pada waktu test ride. Maklum test ride-nya hanya bisa dilakukan malam hari, ketika IDB lagi luang waktunya.

Test rider IDB yang mempunyai tnggi badan 173 cm masih jinjit ketika menunggangi motor dengan warna hitam kombinasi orange ini. Posisi riding tegak, persis kayak motor KTM tipe enduro.

Awalnya IDB agak kuatir, apakah ‘mampu’ mengendarai motor yang berbobot 230 kg ini. Apalagi melihatnya bentukna yang tinggi besar, bikin agak keder. Kalau naik motor enduro sih, IDB sudah biasa, mulai kapasitas mesin 85 cc hingga 500 cc sudah biasa IDB kendarai, no problem.

Begitu gas motor dibuka pelan, KTM 1190 yang diklaim mempunyai tenaga sebesar 150 hp ini melaju dengan enteng. Lima detik diatas sadel motor, IDB merasa karakter ridingnya mirip banget dengan motor tipe enduro KTM atau Husqvarna.

Karena merasa nyaman dan mulai PD, IDB semakin berani buka gas motor lebih dalam. Wow motor melesat dengan enteng penuh denan tenaga! Begitu masuk gigi 4, motor semakin melaju kencang dengan suara yang tidak memekakan telinga.

Suspensinya KTM 1190 terbilang istimewa. Ketika ada jalan bergelombang dan gundukan kecil, IDB mencoba menggeber gas dengan gaya naik ala motor enduro. Hasilnya, motor ini melibasnya dengan enteng dan tidak terasa kalau sedang melewati  gundukan. Suspensinya benar-benar nyaman.

Power mesin, suspensi dan handling KTM 1190 Adventure bisa dibilang istimewa. IDB merasa seperti naik motor enduro tapi denga bodi gambot. Namun dengan power mesin yang dahsyat membuat berat motory ang lebih dari 200 kg itu menjadi terasa enteng ketika dikendarai.

Hemmm, cukup sudah IDB mencicipi sejenak KTM 1190 Adventure, karena kalau terlalu lama takut menjadi ketagihan. Di bawah ini foto KTM 1190 Adventure yang lebih jelas. (IDB).


Senin, 21 Maret 2016

Uji Coba Knalpot FMF Q4 untuk Motor Trail Dual Purpose

Mencari knalpot untuk motor dual purpose seperti Kawasaki KLX 250 yang pas tidaklah mudah. Memang di pasaran cukup banyak beredar knalpot untuk KLX 250, termasuk yang custom. Cuma kebanyakan knalpotnya itu dengan suara menggelegar ala motor yang full dipakai offroad.

KLX 250 itu gen-nya adalah motor dual purpose, yang dipakai untuk touring adventure. Yah kira-kira 70% jalanan aspal, 30% offroad ringan. Jadi kalau beli KLX 250 untuk dipakai full offroad, jelas itu salah pilih, karena motor ini bobotnya berat kalau untuk spek offroad.

Nah kalau KLX 250 dipakai untuk touring dengan knalpot yang menggelegar itu memekakan telinga bro. Belum lagi biasanya kalau pakai knalpot tipe free flow yang cenderung keras suaranya itu ada gejalak knalpot “nembak” ketika jalanan turun. Ahh khan gak enak kedengarannya dan malu, motor seharga Rp 60 jutaan kog nembak-nembak kayak bedil tentara hehehe.

Terus knalpot apa dong yang cocok untuk KLX 250? Jawabannya adalah FMF tipe Q4. IDB sudah mencobanya berulang kali dan hasilnya sangat memuaskan.

Dengan knalpot silencer FMF Q4, tenaga motor terasa meningkat, namun suarannya tetap ramah di telinga. Tenaga motor di kitiran bawah hingga atas ngisi terus. KLX 250 IDB dengan gir belakang ukuran 49 itu di jalanan raya masih bisa ngacir 120 km per jam dengan enteng.

Kelebihan FMF Q4 itu juga tidak ada gejala suara ‘nembak’, seperti kebanyakan knalpo model free flow. Knalpot juga dilengkai dengan DB killer untuk meredam suaranya agar tidak menggelegar, tanpa mengurangi performanya.


Jika misalnya tiba-tiba pingin masuk jalur offroad, DB Killer di knalpot bisa dilepas dengan kunci L. Tenaga motor lagsung terasa lebih terdongkrak, ngisi terus bro. (IDB)

Rabu, 02 Maret 2016

Tidak Ada Pesaing, KLX 150 Masih Laris Manis

KLX 150 series masih jadi andalan Kawasaki Indonesia untuk meraup rupiah dengan jualan motor trail kelas 150 cc. Kawasaki relatif melenggang sendirian di segmen ini, karena pabrikan Jepang lain seperti Honda, Yamaha atau Suzuki belum melirik segmen ini.

Data dari Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) menujunkan penjualan KLX 150 di bulan Januari 2016 masuk sepuluh besar motor sport 150 cc yang terlaris. Dalam bulan itu new KLX 150 terjual sebanyak 3.362 unit dan KLX 150 BF 2.225 unit. Penjualan D-Tracker 150 juga lumyan moncer yaitu sebanyak 1.753 unit.

Penjualan KLX 150 series itu mengalahkan motor sport Yamaha Byson yang hanya terjual sebanyak 1.273 unit di bulan yang sama. Penjualan total KLX 150 series jika digabung tipe standar dan BF itu totalnya 5.587 unit dan ini mengalahkan penjualan Honda CB 150R yang laku sebanyak 5.076 unit.

Laris manisnya KLX 150 itu tidak terlepas semakin tingginya peminat motor trail di tanah air, sementara Kawasaki bermain sendirian di 'kue' ini. Untuk Yamaha dan Honda mungkin tidak tertarik bermain di motor trail, karena motor skutik dan sport-nya masih berjaya. Hanya Suzuki yang seharusnya terjun di motor trail, karena toh motor bebek, skutik dan sportnya jeblok di pasaran.

Suzuki Indonesia punya sejarah panjang bermain di motor trail karena mereka pernah jualan motor legenda trail TS 125 di tahun 90-an. Motor yang mengusung mesin 2 tak itu sampai sekarang juga masih tinggi peminatnya.

Andai saja Suzuki mau mengeluarkan motor trail-nya dengan harga seputar KLX 150, ini akan bagus untuk konsumen, sehingga tidak hanya melulu geng hijau saja. Semoga Suzuki 'sadar' bahwa sebetulnya gen mereka di Indonesia adalah motor trail. (IDB)