Selasa, 22 September 2015

Asyiknya Offroad ke Gunung Panderman dengan Motor SE 2 Tak


Sejak lama IDB memakai motor tipe cross atau sering disebut SE untuk melibas jalur offroad di hutan. Banyak yang bilang kalau motor SE itu tidak kuat dipakai offroad, atau ada yang juga bilang motor akan panas alias over heat. Pengalaman kami di IDB dan tim CHEELA selama bertahun-tahun memakai motor tipe SE seperti KX250F, CRF250R, KTM 250 SXF, KTM 350 SXF, Honda CR 125, Honda Cr 85, dan KTM 85 SX, gak ada masalah tuh. Baik-baik saja motornya dan malah semakin enjoy.

Mungkin akan ada ‘masalah’  seperti mesin panas jika dipakai untuk mengikuti event yang diikuti oleh ribuan orang, yang harus antri di jalur single track. Kalau antri seperti antri sembako kayak ikut event itu, motor tipe enduropun juga akan kepanasan bro hehehe.

Nah setelah puas pakai motor SE 4 tak, IDB kemudian jadi keranjingan pake SE 2 tak untuk offroad. Kami memutuskan pakai KTm 250 SX dan Kawasaki KX 85 yang bisa diubah menjadi KX 100. Kedua motor ini super ringan, yang KTM 250 SX bobotnya tidak sampai 100 kg, dan yang KX 100 malah tidak sampai 70 kg. Ringan banget khan?

Di hari Minggu yang cerah, kami berdua meluncur ke arah jalur offroad di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Tidak sampai 5 menit, di depan kami sudah terpampang jalur tanah yang agak menanjak sedikit dengan lebar sekitar 2 meter. Kami langsung buka gas, tanpa terasa roda depan KTM 250 SX terangkat! Begitu gigi masuk 4 dan gas dibuka roda depan masih mengangkat juga bro! Wow power SE 2 tak memang ganas!

MD yang memakai KX 100 juga berusaha mengimbangi laju KTM 250 SX. Meksi kalah jauh soal tenaga, namun soal kelincahan, KX ini tidak bisa diremehkan. Bobot motor yang ringan dan dimensi motor yang cocok untuk orang yang tinggi badannya tidak melebihi 160 cm, membuat KX bagaikan kancil yang lincah meloncat-loncat di tengah rimba.

Puas betot gas di jalur agak terbuka, kami mulai memasuki jalur sempit yang penuh lubang yang berada di tengah-tengah perkebunan tebu. Dengan suspensi yang telah kami setting ala motor enduro, kedua motor kami enak saja melibas jalur single track ini.

Lolos jalur perkebunan tebu, kami tiba di jalur aspal menuju arah Desa Perinci. Kami memacu pelan motor ketika melewati jalanan umum dan perkampungan. Khan kasihan pengguna jalan lain kalau kita beraksi ugal-ugalan dan membuka gas terlalu keras. Soalnya jalanan bukan hanya milik kita yang naik motor trail, tapi juga milik umum.

Lima menit kemudian kami memasuki jalur offroad di tengah hutan pinus. Jalurnya kebanyakan single track yang merupakan kesukaan kami, karena motor 2 tak memang terasa nikmatnya kalau dipakai di jalur single track.

Karena jalurnya kering, kami langsung buka gas dalam-dalam melibas jalur sempit di tegah pepohonan pinus. Dengan enaknya, kami meliuk-liuk di jalur yang penuh tikungan dan tanjakan ini.

Di sebuah tanjakan yang sebenarnya tidak ekstrim, IDB sempat mencium tanah berdebu. Pasalnya, jalur yang gembur membuat ban belakang masuk ke dalam tanah dan menyemburkan debu tebal ketika motor digas. Motor memang bisa keluar dari jebakan itu, namun karena posisi tanjakan yang langsung menikung tajam ke kanan, membuat kaki IDB tidak mampu menggapai tanah dengan sempurna. Akhirnya motorpun terguling ke kanan, bruk!

Untungnya 250 SX ini motor yang ringan bobotnya. Dengan hanya satu tangan, IDB mampu mendirikan kembali motornya tanpa kesulitan berarti. MD, ibu dua anak yang semula diperkirakan kesulitan melewati tanjakan menikung itu, ternyata dengan entengnya dia melibas dengan KX orangenya.

Usai melewati tanjakan itu kami memutuskan istirahat sejenak di tepi ladang tomat. Kebetulan di tepi ladang itu masih banyak pohon rindang, jadi bisa mendinginkan suhu tubuh yang mulai ‘mendidih’. Kalau motornya sih masih adem bro, pengendaranya yang mulai kepanasan hehehe.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan. Kini jalanan menurun tajam dengan kanan kiri berupa rumput gajah. Seteah melewati hutan pinus lagi, kami memutuskan turun ke jalan aspal untuk mencari makan siang. Maklum jam di tangan sudah menunjukan pukul 13.00 wib, waktunya mengisi BBM pengendaranya.

Ketika kami sampai di warung, ada beberapa remaja yang memakai motor Yamaha RX King model sport sedang nongkrong. Mereka tertarik dengan suara renyah knalpot kami yang khas 2 tak. Salah satu remaja itu bilang, “wah ternyata ada motor trail 2 tak yang keren juga ya”.

Puas menyantap bakso, kami langsung tancap gas menuju arah Gunung Panderman. Tidak sampai 5 menit kami sudah memasuki jalur single track yang menanjak dan penuh tikungan tajam. Beberapa kali badan kami harus maju kedepan, untuk mengimbangi agar motor tidak terbalik. Karena dengan power pendek-pendek yang ganas, motor 2 tak kami ini kalau di tanjakan maunya ngangkat terus ban depannya.

Di lereng Panderman yang ada tikungan tajam, MD tidak mampu menekuk stang motornya dengan baik, akibatnya diapun terguling bersama motornya. Untung KX dia sangat ringan, sehingga dengan mudahnya MD mendirikan motornya. Biasanya kalau MD pakai KLX 150 atau Husqvarna TE 250, dia tidak akan sanggup mendirikan motornya sendirian jika terjungkal.

Mendekati puncak Gunung Panderman, kami memutuskan berhenti karena hari beranjak sore. Kami menikmati indahnya pemandangan gunung di sore yang cerah itu. Beberapa petani yang hendak pulang dari berladang, menyapa kami dengan ramah. Puas rasanya bisa offroad hari itu, mendaki Panderaman dengan SE 2 tak. (IDB).