Minggu, 21 Juli 2013

Offroad ke Bromo Bareng Bule Inggris

Setelah sekian lama tim Cheela vakum, kini bergeliat lagi di jalur offroad. Tim Cheela yang memang didisain tidak banyak anggota ini di pertengahan Juli 2013 memandu sahabat dari Inggris yang juga gila motor. Bule berinisial AD itu di negerinya sono biasa pakai KTM 450 SXF, motor tipe cross yang ganas bro. Nah kita penasaran, gimana performanya di jalur offroad. Kita pilih jalur ke Gunung Bromo, cuma lewat beberapa jalur yang lumayan sulit karena perlu skill untuk melewatinya. Jadi gak melulu langsung menggeber gas di lautan pasir Bromo.

Offroad bareng bule AD itu juga diikuti beberapa orang yang terbiasa main motor sport jalanan raya. Mereka terbiasa membetot motor sport semacam Kawasaki ZX6 atau Yamaha R6. Adalah DW yang mengenalkan mereka ke tim Cheela, jadilah mereka penasaran ingin mencicipi jalur offroad. Toh mereka sudah malang melintang di jalur on road dengan motor sport cc lumayan gede.

Jam di tangan menunjukan pukul 08.40 ketika rombongan kami yang berjumlah 9 orang meninggalkan perumahan Riverside, Kota Malang. Kami melewati jalanan kota dengan santai, tidak perlu membuka gas keras-keras, kasihan khan pengguna jalan lainnnya kalau panik mendengar ‘bleyeran’ gas motor kita. Santai saja di jalur aspal, nanti saatnya buka gas di jalur offroad yang sepi.

Sekitar lima belas menit kemudian, kami sampai di daerah Singosari dan bertemu dengan mas Roi yang akan gabung kita menuju Bromo. Setelah istirahat sebentar, kami langsung memacu motor dengan santai, karena masih lewat jalan di tengah perkampungan. Tidak lebih dari 10 menit, di hadapan kami terlihat jalur tanah selebar 2 meter di tengah perkebunan tebu. Langsung saja kami membetot gas motor dengan kencang. RK, DW dan si bule melesat di depan. Rombongan yang terbiasa memakai motor sport tipe on road mencoba mengikutinya, namun mereka  lupa kalau tehnik mengendarai motor di jalur offroad itu berbeda dengan di jalanan raya. Hasilnya, seorang pengendara motor langsung nyusruk menabrak tanaman tebu. Teman-temannya yang lain juga pontang-panting mengendalikan motornya di jalur tanah yang cukup kering hari itu.

Puas membetot gas di jalur tanah di tengah perkebunan tebu, tak lama kemudian kami memasuki jalur yang lebih menantang lagi. Jalurnya masih tanah, namun menanjak tajam, berkelok-kelok, menaiki bukit besar. Jika terlena, motor bisa terguling dan merosot ke bawah. RK yang membawa motor enduro 2 tak enak saja melibas perbukitan itu. Bobot motor yang ringan dan power yang mempuni, membuat RK bisa melewati jalur itu dengan tersenyum. AD yang membawa motor KTM bermesin 4 tak juga menyusul RK bersama DW yang membawa motor KLX 150. Namun tim yang lain terlihat lumayan susah payah melewati bukit itu.

Jakur berikutnya berupa jalan makadam yang kami lalui dengan tanpa hambatan berarti. Tak lama kemudian kami memasuki pasar Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan. Kami memacu agak santai di jalanan aspal ini. Tak lebih dari 10 menit, kami belok kanan menuju perkebunan pinus. Jalurnya berupa jalur batu yang menurun tajam, kemudian naik berkelok-kelok di tengah perkebunan pinus.

Jam 10.30 kami memasuki Desa Tosari. Jalanan berupa aspal yang berkelok-kelok dan menanjak. Tak lama kemudian kami memasuki jalur tanah yang campur debu. Jalurnya tidak terlalu lebar, hanya sekitar 1 meter. Di sisi kanan terlihat jurang menganga sedalam lebih dari 25 meter, ihh ngeri juga kalau sampai nyungsep ke dalam jurang itu.

Di jalur sempit berkelok-kelok itu kami membetot gas motor dengan lumayan kencang. Debu berhamburan karena sepertinya sudah agak lama tidak hujan di daerah ini. DW yang berada di baringan belakang ngebut menyalip sobat-sobatnya satu per satu. Di sebuah tikungan tajam, DW bersenggolan dengan 2 motor dan ketiganya pun mencium tanah yang sudah masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu.

Setelah asyik meliuk-liuk menyisiri pegunungan Tengger, kami akhirnya sampai juga di bibir lautan pasir Bromo. Jam di tangan waktu itu menunjukan pukul 11.30. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menikmati indahnya panorama Bromo dari atas sebuah bukit kecil. Si bule AD terlihat terpesona dengan pemandangan yang indah itu.

Setelah tiga puluh menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan memasuki lautan pasir. Di jalur ini kami berjumpa dengan dua orang yang memakai motor matik keluaran Yamaha yang kalau di iklan TV terlihat mudah sekali melibas jalur offroad. Nyatanya yang kami lihat, dua motor itu terlihat susah payah melewati jalur offroad di Bromo. Yah mestinya motor ini memang untuk motor perkotaan, tidak dipaksa masuk ke jalur offroad. Kalau di iklan sih memang semuanya akan tampak hebat.

Karena cukup sepi dan jalurnya luas sekali, kami membetot gas motor dengan dalam-dalam di lautan pasir. Karena sudah lama tidak hujan, pasir menjadi gembur yang membuat ban motor menjadi geal geol. Beberapa teman yang baru pertama kali offroad di pasir terlihat agak kerepotan juga melewati lautan pasir itu. Beberapa kali bannya terjebak dalam pasir yang cukup dalam. Beberapa orang juga terlihat terjungkal mencium pasir.

Setelah merasa cukup bersenang-senang di lautan pasir, kami melanjutkan perjalanan ke arah Jemplang. Sesampainya di Jemplang kami masuk ke jalur offroad menuju arah Desa Jarak Ijo. Jalurnya berupa tanah bercampur pasir yang cukup untuk satu motor saja. Kami melewati jalur ini tanpa hambatan berarti.

Setelah melewati Desa Jarak Ijo, kami masuk ke jalur offroad menuju arah Tumpang. Beberapa orang terlihat sudah lelah, terutama yang belum terbiasa offroad. Begitu kami memasuki jalur offroad lewat Dampul, terlihatnya jalur single track yang masih licin karena tertutup rapatnya pepohonan. Melihat jalur licin itu, teman-teman yang terbiasa naik motor sport langsung ciut nyalinya. Mereka memutuskan tidak lewat jalur itu, namun lebih memilih jalur aspal lewat Coban Pelangi. Akhirnya hanya 5 orang yang tetap lewat jalur offroad itu yaitu RK, DW, AD, RO dan anak muda yang bernama TG.

Setelah sepuluh menit melewati jalur single track yang agak licin, kami lihat jalur semakin tertutup rapat oleh semak-semak. DW memutuskan untuk mecoba jalur alternatif yang menurun ke arah jurang.  Hasilnya, ternyata jalur itu buntu! Terpaksa dengan susah payah tim membantu motor DW untuk putar balik. Jalurnya yang sangat sempit dan menurun tajam, membuat motor dan DW harus berjuang ekstra keras untuk bisa naik lagi. Keringatpun mulai mengalir dengan deras.

Setelah berhasil menaikan motor DW, kami memutuskan untuk menerobos lebatnya semak-semak yang berada di jalur sebelah kanan. Ternyata jalur itu semakin lama semakin susah dan menguras energi. Jalur penuh lubang yang tergerus air. Di beberapa titik bahkan lubang sampai sedalam hampir 3 meter. Kami harus bersusah payah meleati jalur ini. Kerja sama timpun mutlak dilakukan untuk bisa lolos dari kubangan-kubangan tanah di jalur sempit itu.

TG yang masih muda sudah pucat pasi. Di beberapa jalur dia sudah tidak sanggup lagi membawa motornya, sehingga DW jadi pemeran pengganti. Si bule AD juga terlihat wajahnya semakin terlihat putih dan peluh di sekujur kepalanya. Celakanya dia kehabisan air, demikian juga DW. RK dan RO memang tidak membawa air, maklum mereka lagi puasa. Jadi tidak kuatir soal kehabisan air hehehe.

AD berulang kali bertanya tentang apakah jalur gila itu masih jauh, karena dia sudah sangat kehausan. TG juga terlihat semakin loyo. Perlahan kami melewati rintangan di jalur itu. Jalurnya super sempit, sehingga beberapa kali motor harus kami tuntun dan angkat. Uhhh betul-betul menguras energi.

Setelah sejam berjibaku di jalur gila itu, akhirnya jalur semakin asyik. Masih tanah, namun sudah tidak banyak kubangan. Jalur semakin lebar, sehingga motor bisa dipacu lebih kencang. Tak lama kemudian, kami sampai di Desa Duwet dan berhenti sebuah warung kecil. AD membeli sebotol besar air kemasan dan langsung menyeropotnya dengan ganas. Maklum dia sudah sangat kehausan sekali dihajar jalur yang tidak biasa itu.


Sepuluh menit kemudian kami melanjutkan perjalanan ke arah Tumpang dengan santai karena jalanan sudah aspal. Hari itu terlihat kepuasan di 
wajah AD yang jauh-jauh dari Inggris ingin mencicipi offroad bersama kami. Kamipun puas bisa offroad bersama AD yang ternyata sangat tangguh dan punya skill yang baik juga untuk melibas jalur offroad. DW berujar, "wah kalau AD bisa sering ikut offroad bareng Cheela, akan semakin seru tuh karena dia punya kemampuan yang bagus".

Puas, adalah satu kata yang ada di benak kami di hari itu, meskipun di beberapa jalur menguras energi. Sampai ketemu di jalur offoroad berikutnya! (C001)

Minggu, 07 Juli 2013

Graham Jarvis Kembali Kuasai Red Bull Romaniacs 2013

Pembalap spesial enduro ekstrim dari tim Husaberg Graham Jarvis kembali merajai kejuaraan enduro Red Bull Romaniac 2013. Ini adalah kemenangan keempat di Red Bull Romaniacs bagi Graham Jarvis yang masih setiap menunggangi Husaberg TE 300. Di belakang Graham Jarvis, pemenang kedua diraih  Alfredo Gomez (Husaberg), kemudian Andreas Lettenbichler (Husqvarna);  Jonny Walker (KTM) dan Paul Bolton (KTM) . Lima besar teratas dikuasi motor Eropa dan kebanyakan masih pakai motor 2 tak.

Selamat untuk Graham Jarvis!