Senin, 18 Maret 2013

Tabrak Petani, Pengendara Trail Melarikan Diri


Belum sirna polemik kasus ditutupnya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) untuk motor trail karena dianggap menganggu ekosistem kawasan konservasi, kini dunia motor trail di Malang diterpa kejadian memalukan. Wiyono, seorang petani warga Dusun Krajan, Desa Gading Kulon Kecamatan Dau, KabupatenMalang harus dilarikan ke rumah sakit akibat jadi korban tabrak lari pengendara motor trail pada hari Minggu, 17 Maret 2013. Menurut saksi mata, Wiyono ditabrak dari belakang ketika korban sedang berusaha menyalip truck. Korban ditabrak oleh rombongan motor trail yang memakai motor 2 trail warna orange dan 2 KLX 150.

Ironisnya, setelah menabrak petani itu, rombongan trail itu langsung tancap gas tanpa rasa bersalah. Korban langsung tidak sadarkan diri dan kini dirawat di RS Baptis Batu. Sampai berita ini diturunkan, korban belum sadarkan diri.

Agus, dari komonitas motor trail Desa Selorejo yang berbatasan dengan Desa Gading Kulon menyesalkan kejadian itu. Agus dan teman-temannya menunjukan kepeduliannya dengan menggalang dana untuk meringankan penderitaan korban. Apalagi korban tabrak lari itu adalah warga yang tidak mampu.Agus mengatakan, "kasihan warga desa yang jadi korban tabrak lari itu karena dia dari keluarga tidak mampu"

Kasus tabrak lari itu menjadi ancaman serius bagi kegiatan motor trail di Malang khususnya dan Indonesia pada umumnya. Stigma miring akan komunitas motor trail akan semakin terpaku di sebagian benak masyarakat. Seorang warga Desa Gading Kulon mengatakan dengan geram, “kami akan larang motor trail lewat desa kami, tidak boleh ada acara-acara trail, kalau tetap bandel masyarakat yang akan bertindak!”

Mengetuk Hati Pelaku Tabrak Lari

Untuk pengendara motor trail yang menabrak petani itu dimohon kesadarannya untuk bertanggung jawab. Jika anda seorang offroader sejati dan jantan, datanglah ke rumah Pak Wiyono yang jadi korban tabrak lari itu dan bertanggungjawablah! Keluarga Pak Wiyono butuh bantuan, karena kabarnya perlu dioperasi.

Saatnya Main Trail dengan Etika

Kasus ditutupnya Bromo untuk trail dan ditambah kasus tabrak lari seharusnya menjadi momen bagi penggemar motor trail untuk lebih menerapkan etika dalam berkendaraan. Jika terus-terusan mengendarai motor trail tanpa etika, jangan salahkan kalau suatu ketika akan terkena batunya. IDB masih ingat, beberapa bulan yang lalu ada rombongan motor trail yang sempat dilempari batu oleh warga waktu melewati desa di  kaki Gunung Arjuna. Ih ngerii, itu bisa saja terjadi kepada anda!

Beberapa etika yang perlu kita lakukan ketika offroad motor trail, antara lain:
  • Jangan ngebut di jalan raya dan jalanan kampung,  berkendaraanlah dengan sopan
  • Jika dalam rombongan besar, janganlah menghabiskan badan jalan. Ingat jalanan bukan hanya milik rombongan anda, tapi juga milik semua masyarakat.
  • Untuk yang pakai knalpot bising, janganlah mem-bleyer-bleyer (membuka gas) knalpot semau gue. Suara yang memekakan telinga bisa mengagetkan orang.  Suara motor yang keras itu sudah jadul bro, di USA dan Eropa sudah ditinggalkan!
  • Jika berpapasan dengan petani, kasih kesempatan terlebih dahulu petani tersebut untuk lewat
  • Jika ada ternak di jalanan, jangan main lindas bro, kurangi gas motor, biarkan satwa ternak tersebut lewat
  • Jangan pernah melindas tanaman petani di ladang. Jika kepepet melindasnya, anda harus menggantinya ke petani tersebut.
  • Jangan seenaknya memasang tanda penunjuk arah, pastikan anda tidak memasangnya di pohon atau di rumah yang itu merupakan milik pribadi. IDB sering melihat ada panitia event yang seenaknya menempelkan tanda penunjuk arah, termasuk di pagar rumah orang tanpa ijin. Itu tindakan arogan bro, yang bisa memicu rasa tidak simpatik.
Semoga kegiatan motor trail di Indonesia semakin dewasa dan mengkedepankan etika terhadap masyarakat dan alam. (IDB).

Minggu, 17 Maret 2013

Kawasaki Luncurkan KLX 150 Versi Big Wheel Edisi Terbatas


Animo yangt tinggi terhadap motor trail KLX 150 membuat Kawasaki Indonesia meluncurkan edisi terbatas dengan ukuran ban lebih gede yaitu belakang diameter 18 dan depan 21. Ukuran standar KLX 150 yang ban belakang 16 dan depan 19 itu dirasa kekecilan oleh sebagian penggila trail karena motor kelihatan mini, tak heran banyak yang memodifikasinya untuk tampil lebih jangkung dan gagah. Produk after market untuk meningkatkan tampilan KLX 150pun menjamur untuk menjawab kebutuhan pasar.

Kawasaki Indonesia melirik segmen kecil itu, yaitu orang yang mau beli KLX 150 namun ingin tampil lebih garang dan tidak mau ribet beli produk affter market. IDB beruntung mendapatkan bocoran itu dan melihat langsung penampakan motornya. KLX 150 versi ban gede ini memang terlihat jauh lebih keren dibanding standarnya, terlihat graphic seperti ala motor SE. Fork depan juga lebih jangkung, tanpa ada sambungan seperti kalau motor standar diupgrade untuk lebih jangkung. Arm, gir, rantai, pelk, roda dan knalpot juga beda. Semuanya kelihatan racing look. Ban yang dipakai merek maxxis dengan profil offroad, sehingga tampak semakin garang dan mantap untuk melibas jalur offroad.
Ketika dikonfrmasi soal harga, Kawasaki masih bungkam. Mereka masih melihat animo pasar. Namun ada bisik-bisik, kalau KLX 150 versi ban besar edisi terbatas ini akan dijual sekitar Rp 28 jutaan. Kalau benar dijual seharga di bawah Rp 30 juta, kemungkinan pasar akan menyambutnya dengan baik, karena kalau dihitung-hitung akan lebih murah dibanding memodifikasinya sendiri. Apalagi IDB melihat knalpot yang dipasang di KLX edisi terbatas itu di pasaran dijual seharga sekitar Rp 1,5 juta. Tapi kalau dijual diatas Rp 30 juta, sepertinya akan agak susah diterima konsumen, karena pasar KLX 150 memang di segmen low, jadi soal harga akan menjadi pertimbangan utama. Kita lihat saja perkembangannya. (IDB)

Minggu, 10 Maret 2013

Etika Lingkungan kurang, Motor Trail Dilarang Masuk Kawasan Bromo Tengger Semeru


Ganggu Elang Jawa, Trail Dilarang Masuk TNBTS

SURYA Online, MALANG - Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melarang sepeda motor trail masuk area taman nasional. Selama ini penggemar trail banyak yang memanfaatkan kawasan Bromo dan Tengger. Menurut Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS, Boiga, Mereka yang mengendarai trail hanya boleh mencapai parkiran kawasan wisata, seperti wisatawan umum lainnya. “Tidak ada keistimewaan untuk pengendara trail. Mereka sama saja dengan wisatawan lain, harus berhenti di area parkir pengunjung,” tegasnya.

Boiga menjelaskan, trail memberikan kerusakan para alam. Mereka kerap merusak permukaan tanah hutan karena tapak roda mereka yang bergigi. Kendaraan ini juga mengganggu secara langsung kelestarian elang Jawa. Masih menurut Boiga, TNBTS merupakan kawasan konservasi elang Jawa yang paling berhasil. Di kawasan Coban Trisula saja sekurangnya sudah terlihat tiga pasang elang Jawa. Belum daerah-daerah lian di TNBTS.

Elang langka lambang negara ini sangat sensitif terhadap kedatangan orang dari luar. Ancaman terbesar mereka adalah polusi asap dan polusi udara. “JIka ada motor yang meraung-raung, elang-elang itu akan kabur. Kalau dia sedang mengerami telurnya, maka akan mengganngu proses reproduksinya,” katanya.
Untuk elang Jawa yang berada di Coban Trisula sudah beradaptasi dengan kehadiran manusia. Namun, mereka tetap peka dengan suara yang terlalu bising. Sedangkan untuk daerah-daerah lain mereka lebih sensitif dengan kehadiran manusia.
“ Taman nasional adalah tempat konservasi, bukan petualangan yang merusak alam,” pungkasnya. 


- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/03/09/ganggu-elang-jawa-trail-dilarang-masuk-tnbts#sthash.sLVkbUJR.dpuf

 Komunitas Trail Akan Melakukan Koreksi


Ketua Harian Dirt Bike Adventure Federation Jawa TImur, Ridho Faizal lebih bersikap bijak dengan larangan dari TNBTS. Menurutnya larangan tersebut memang bermula dari polah tingkah para rider trail. Mereka yang bersikap liar kerap tidak mengundang rasa simpati dari masyarakat. Ada pula rider yang bersikap bodoh dan mengabaikan aspek konservasi alam. Menyikapi larangan tersebut Ridho lebih menekankan evaluasi dari semua penggemar trail. Evauasi tersebut harus mampu merubah sikap dan perilaku komunitas trail.

“Memang harus ada perubahan perilaku dari penggemar trail. Semua harus duduk bersama dan melakukan koreksi,” ujarnya.

Namun melarang total aktivitas trail di taman nasional juga dianggap sebuah kesalahan. Perilaku buruk pengendara trail tidak bisa dipukul rata. Sebab banyak juga penggemar trail yang bersikap tertib dan memelihara kelastarian alam. Lanjut Ridho, taman nasional tidak bisa lepas dari perannya sebagai kawasan wisata. Sebagai lokasi wisata, taman nasional membuthkan komunitas trail. Selama ini komunitas inilah yang paling banter mempromosikan kawasan wisata TNBTS.

“Taman nasional tidak bisa dilepaskan dari aspek pariwisata. Komunitas trail selama ini yang paling getol mempromosikan wisata di taman nasional,” tegasnya. Bagi Ridho butuh solusi antara TNBTS dengan komunitas trail. Bukan menutup total taman nasional untuk kegiatan trail. “Para rider itu naik hajinya ke Bromo. Itu seharusnya dipandang sebagai potensi wisata yang luar biasa,” tambahnya.

Ridho meyakini pelarangan ini akan semakin membawa dampak buruk bagi citra Bromo. Selama ini Bromo dikenal sebagai kawasan wisata yang paling ribet. Citra ini akan semakin kuat karena banyak wisatawan dengan trail dilarang masuk. Apalagi semua sudah paham terjadi monopoli transportasi di Bromo oleh komunitas hardtop.

“Banyak wisatawan yang semakin rugi dengan kondisi ini. Jelas kebijakan tersebut sangat emosional,” ujarnya.

Menyikapi pelarangan tersebut, masih menurut Ridho, pihaknya mencoba untuk menyatukan pendapat sesama penggemar trail. Sebab permasalahan mendasar komunitas trail selama ini tidak ada organisasi tunggal yang melindungi. Mereka nantinya akan diajak untuk melakukan dialog dengan TNBTS. “Solusinya adalah sebuah aturan yang kuat dan tegas dan disepakati komunitas trail. Jadi menutup taman nasional bukan sebuah solusi,” pungkasnya.


ProFauna: Perlu Regulasi Turing di Hutan

Larangan kegiatan penjelajahan hutan atau turing di kawasan Gunung Bromo dan Gunung Semeru dengan sepeda motor trail atau kendaraan roda empat yang dikeluarkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) didukung oleh ProFauna Indonesia.

Menurut chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, kegiatan turing dengan trail di kawasan hutan nasional tetap bisa dilakukan asalkan dibarengi etika menjaga lingkungan. “Kegiatan trail itu tetap positif asalkan beretika. Kalau turing jumlah pesertanya bisa ratusan orang. Saya hanya minta mereka menjaga sampah-sampahnya,” kata Rosek Sabtu (9/3).

Rosek membeberkan dari pengamatannya di ProFauna, masih banyak para rider yang lupa memperhatikan kebersihan lingkungan. Sampah-sampah ini, lanjutnya akan mengganggu ekosistem. “Suara yang dihasilkan motor trail ataupun mobil jeep inikan cukup keras kalau ada di hutan. Itu memang mengganggu ketenangan satwa liar”, sambungnya.

Rosek menuturkan kalaupun kegiatan turing itu tetap dilakukan panitia diharapkan membatasi jumlah peserta. Panitia atau penikmat turing dengan motor trail juga diharapkan tidak membuat jalur baru, karena hal itu malah makin merusak wilayah hutan yang masih alami.

Selain kawasan hutan nasional yang dikelola TNBTS, Rosek mengungkapkan wilayah lereng hutan Gunung Arjuna juga rawan kegiatan turing trail liar. “Regulasi turing di hutan ini, sepngetahuan saya, belum ada aturannya dari pihak komunitas. Saya mengusulkan, etika-etika yang tadi saya sebutkan dijadikan sebagai juklak saja. Kalau etika ini dijadikan regulasi oleh IMI, akan lebih baik lagi”. (isy)