Senin, 18 Februari 2013

Licinnya Lereng Arjuna


Jam di tangan menunjukan pukul 9 pagi tepat ketika kami berangkat meningglkan sekretariat CHEELA menuju arah Gunung Arjuna. Cuaca hari itu tidak terlalu cerah, maklum lagi musim hujan. Kami memacu motor di jalan raya dengan santai, tidak perlu kebut-kebutan dan ugal-ugalan, khan itu jalan umum. Tidak sampai sepuluh menit kemudian kami sampai di daerah Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dari pasar Karangploso, kami belok ke kanan menuju arah markas tentara Yonkes. Dari Yonkes inilah perjalanan offroad kami di hari Sabtu itu dimulai.

Karena semalaman diguyur hujan, tanah yang berada di samping markas Yonkes itu terlihat basah dan sedikit licin. Kami masih memacu motor dengan pelan, maklum dekat dengan markas TNI, kalau berisik khan bisa berabe. Tak lama kemudian jalan mulai menyempit dan di depan kami melintang sungai kecil. Kami menyebrang sungai kecil itu dengan lancar, namun selepas melintas sungai jalan semakin licin. Roda belakang terasa spin. Kamipun berhenti sejenak untuk ngempesin tekanan udara roda motor.

Kami melanjutkan perjalanan. Jalur mulai sempit, single track di tengah perkebunan tebu. Di beberapa titik kami harus menundukan kepala karena rapatnya semak-semak yang berada di kanan kiri jalur. RK yang memimpin di depan meliuk-liuk di jalur sempit itu, diikuti BG dan HD. Di jalur ini kami lalui dengan tanpa hambatan berarti, lancar jaya.

Tak lama kemudian kami sampai di jalur yang agak terbuka. Jalurnya menanjak dengan lebar sekitar 3 meteran. Karena terbuka, jalurnya agak kering karena sinar mentari lumayan membuat tanah kemerahan itu menjadi mengeras, meskipun di beberapa titik masih ada genangan air. Begitu melihat jalur agak lebar, RK langsung membetot gas motornya dengan kuat, apalagi jalur memang sepi. RK dengan tungangan kesayangannya, motor 300 cc itu melesat bagai anak panah, meninggalkan sobat-sobatnya yang berusaha mengejar.

Setelah bersenang-senang di jalur lebar itu, kami istirahat sejenak di sebuah pertigaan di tengah-tengah ladang. BB dan HD langsung mengeluarkan rokoknya, maklum dua orang ini termasuk ahli hisap, kalau tidak mengeluarkan asap jadi loyo hehehe. Meskipun merokok, ada syaratanya, yaitu tidak boleh membuang putung rokok sembarangan. Putung rokok wajib disimpan dalam asbak portable dan dibawa pulang. Ini hukum di Cheela, jangan pernah buang sampah plastik dan putung rokok di alam. Yah hitung-hitung mencoba berbuat nyata bagi pelestarian alam, khan bicara soal alam itu bukan sekedar soal penghijauan, tapi juga soal sampah yang nyata-nyata jadi masalah dalam keseharian.

Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan ke arah Arjuna. Jalurnya penuh ceruk tanah dan licin. Di jalur ini HD terjungkal, hasilnya fender (spatbor) dan lampu belakang KLX 150nya hancur lebur. Sambil bercanda RK bilang, “makanya pakai part motor yang asli, jadi tidak gampang pecah”. Di tengah hutan mahoni kami istirahat sejenak sambil melepas fender belakang motornya HD. Meskipun itu fender sudah pecah tidak karuan, HD memasukan fender itu ke dalam tas, karena kami tidak mau membuang fender itu sembarangan di hutan, khan nanti bisa jadi sampah juga....

Kami melanjutkan perjalanan dan lima menit kemudian kami sampai di jalanan berbatu di atasnya peternakan ayam Wonokoyo. Di depan kami terlihat dengan megahnya Gunung Arjuna. Kami langsung memacu motor ke arah lereng Arjuna itu. Jalurnya agak sempit, penuh lubang dan menanjak. Harus agak hati-hati, kalau tidak mau terperangkap lubang.

Lepas dari jalur tanah di tengah-tengah ladang, kami mulai memasuki jalur sempit di tengah hutan pinus. Jalur hanya selebar tidak sampai semeter dan licin. Jalurnya menanjak dan banyak tikungan tajam di sela-sela pohon.  Kami meliuk-liuk di tengah hutan pinus itu. Butuh kosentrasi tinggi untuk melewati jalur ini.
Lolos dari jalur di tengah pinus, kami sampai di jalur semak-semak. Jalur ini menuju Gunung Mujur. Jalurnya cukup sempit, banyak belokan tapi datar. Di jalur ini banyak kubangan air yang baunya menyengat. Jalurnya sebetulnya tidak sulit, tapi kalau lengah bisa mencium lumpur. Ini yang dialami BG yang bernafsu ngegas motornya, hasilnya dia harus terjungkal di sebuah tikungan.

Sekitar lima belas menit kemudian kami sampai di kaki Gunung Mujur. Hari itu sepi sekali, sama sekali tidak ketemu teman-teman yang biasa main motor trail. Warung kopi yang biasa buka, hari itu juga tertutup rapat. Kami istirahat sejenak sambil menyantap kue tradisional yang dibawa HD. Kami ngobrol ngalur ngidul dengan akrabnya.

Puas istirahat dan ngobrol, kami melanjutkan perjalanan ke arah Bumiaji, Batu. Jalur yang kami pilih jalur full offroad. Lima menit setelah meninggalkan Gunung Mujur, kami sudah memasukan jalur single track di tengah hutan. Jalurnya ngeril, karena bekas ban motor petani yang rodanya dililit rantai agar tidak licin. Jalur ngeril ini lumayan menguras tenaga, karena selain licin, kami juga susah memacu motor dengan kencang. Mau tidak mau, kami harus ngikutin jalur sempit itu dengan sabar.

Setelah melewati jalur ngeril yang menanjak, kini jalur jadi menurun tajam. Selain licin, jalurnya juga penuh dengan lubang dalam. Maklum ini sebetulnya jalurnya air, bukan jalurnya motor. Di jalur ini RK sempat terjebak di sebuah lubang, sehingga motornya meraung-raung berusaha lepas dari jebakan lubang air itu.
Di jalur menurun itu HD melaju dengan kencang. Hobby dia sebelumnya yang main downhill, lumayan membuat dia PD melaju d turunan tajam. HD bilang, “yah sekali-kali lah saya berada di depan hahaha”.

Setelah melewati peternakan ayam, kami langsung melanjutkan perjalanan ke arah Bumiaji. Jalur kali ini menanjak di tengah-tengah hutan pinus. Jalurnya masih sangat licin, maklum berupa tanah padas yang penuh lumut. Jalur ini tidak tersentuh sinar matahari, jadinya lembab dan licin bro.

Usai berjibaku melewati jalur licin itu, kami sampai juga di lahan yang agak terbuka. Kami istrirahat sejenak dan memutuskan untuk makan siang, karena waktu sudah menunjukan jam 12.30. Cuaca mendung, jadi kami tidak kepanasan, meskipun berada di daerah terbuka. Kamipun menyantap dengan lahap bekal makanan yang kami bawa. Hanya BG yang tidak makan, karena dia sudah kenyang dengan asap rokoknya hahaha.

Habis makan siang dan istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan bayang-bayang hujan yang sepertinya akan turun. Jalur yang kami lalui masih full single track yang licin. Beberapa jalur adalah jalur air, seperti gorong-gorong alami. Motor harus dipacu terus, karena kalau berhenti mendadak akan susah lagi melewati jalur ini, karena roda belakang sering spin.

Meskipun licn, jalur ini asyik sekali. Selain butuh kosentrasi tinggi, juga dibutuhkan fisik yang prima untuk bisa lolos. Tentu saja juga motor yang mumpuni. Kami puas bisa melewati jalur licin di lereng Arjuna ini.
Setelah satu jam bermain di jalur single track dan ngeril, akhirnya kami sampai di tepi perkebunan apel di daerah Punten, Batu. Tidak terasa sudah 5 jam kami main offroad. Kamipun memutuskan untuk menyudahi offoad hari itu dan kembali ke kota Malang lewat jalur on road. Pukul 2 siang kami turun dengan santai melewati perke bunan apel yang mulai berbuah itu dengan perasaan puas. Sampai ketemu di jalur offroad berikutnya! (C001).