Selasa, 28 Agustus 2012

5 Days Trail Adventure (bagian 3): KAYUMAS - KAWAH IJEN

Hari keempat

Jam di tangan menunjukan pukul 07.30 ketika kami beranjak meninggalkan Ketapang Banyuwangi menuju Asembagus, Situbondo. Jalanan pagi itu agak sepi, jadi kami bisa memacu motor agak kencang. Memasuki jalanan di kawasan Taman Nasional Baluran, jalan semakin mulus dan lebar karena baru saja diperbaiki. Jalannya meliuk-liuk, namun tidak terlalu tajam. Sepanjang jalan didominasi tanaman jati dan akasia yang meranggas.

Satu jam kemudian, kami sudah sampai di Kota Asembagus yang masuk wilayah Kabupaten Situbondo. Kami kemudian tanya kepada orang yang sedang mencari buah asam tentang arah menuju perkebunan Kayumas. Ternyata pertigaan arah Kayumas sudah terlewati sejauh 1 km, jadi kamipun harus balik arah.

Begitu sampai di pertigaan arah ke Kayumas, kami menghubungi sahabat kami, Maman, yang akan memandu kami menuju perkebunan Kayumas. Tiga puluh menit menunggu, Maman muncul membawa KLX 150 warna hijau. Setelah mengisi bensin, kamipun berangkat menuju perkebunan kopi Kayumas yang berjarak sekitar 40 km dari arah Asembagus.


Tidak sampai 10 menit kemudian jalanan mulai menanjak dan sedikit rusak. Kanan kiri terlihat pohon jati yang kering dan perbukitan batu. Semakin jauh masuk, jalanan semakin rusak. Satu jam kemudian kami sampai di pabrik pengelolaan kopi milik PTPN XII Kayumas. Kami istirahat sebentar, sambil melihat-lihat peralatan pengelolaan kopi dalam skala besar itu.

Meskipun sudah sampai di perkebunan Kayumas, perjalanan kami belum berakhir. Perjalanan offroad kami justru dimulai dari sini, karena setelah ini kami akan menuju arah Plampang, daerah paling terpencil dari perkebunan Kayumas. Jalur menuju Plampang itu 100% offroad. Sepertinya akan mengasyikan.


Jalur menuju Plampang ternyata benar-benar mengasyikan, campuran antara tanah dan batu. Yang bikin senang, jalur kebanyakan berada di tengah hutan yang masih bagus. Jalurnya sempit, selebar tidak lebih dari 2 meter dan di beberapa titik penuh dengan debu yang berterbangan ketika digerus roda motor kami. Jalurnya juga penuh dengan tikungan tajam yang pendek-pendek. Sebentar belok kiri, tiba-tiba sudah harus menekuk stang belok ke kanan. Menjadi tantangan sendiri bagi kami melintas medan offroad dengan motor yang membawa barang-barang ‘segunung’.


Setelah melibas medan offroad sejauh sekitar 25 km, akhirnya kami sampai di Plampang di tengah hari. Lega rasanya bisa sampai di Plampang yang berada di ketinggian 1300 m dari permukaan laut itu. Maman, sang tuan rumah, langsung mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya yang sederhana namun bersih. Ya, hari itu kami akan menginap di Plampang yang udaranya lumayan dingin.


Plampang merupakan bagian dari perkebunan kopi Kayumas. Tempatnya terpencil dan dikelilingi dengan hutan lindung. Plampang uga menjadi jalur alternatif menuju Gunung ijen, namun jalurnya full offroad. Yang menarik di Plampang adalah ini perkebunan yang ramah lingkungan, karena segala jenis perburuan satwa liar itu dilarang. Ini bagus sekali, karena akan membantu pelestarian alam.

Setelah makan siang dengan telur, mie dan rempeyek yang disajikan oleh Maman, kami memutuskan untuk menjajal jalur offroad menuju Kawah Ijen. Barang-barang yang ada di motor kami turunkan, agar lebih mudah manuvernya di medan offroad. Pukul 14.30 kami bertiga meninggalkan Plampang menuju Kawah Ijen lewat jalur offroad, bukan jalanan aspal biasa.

Begitu keluar dari rumah Maman, kami langsung masuk jalanan tanah di tengah perkebunan kopi. Jalurnya sempit, selebar 1,5 meter, meliuk-liuk seperti ular. Kadang naik, kadang turun dan juga track lurus yang panjang. Wow, jalur offroadnya benar-benar keren dan mengasyikan! Karena jalurnya sepi, kami memacu motor dengan kencang. Debupun berterbangan, sehingga motor yang bagian belakang hampir tidak bisa melihat jalur dengan jelas.


Pukul 15.30 kami memasuki perkebunan Blawah. Di kawasan ini ada pemandian air panas yang waktu itu lumayan ramai dikunjungi muda mudi yang lagi mengisi liburan. Dari Blawah kami langsung memacu motor lagi. Jalurnya masih full offroad, bahkan mulai memasuki bukit yang ditumbuhi rumput setinggi semeter. Pemandangan indah sekali dari atas bukit. Di sebuah titik, motor Made sempat terjebak di tanah gembur, sehingga terpaksa kami harus membantu mendorongnya, karena semakin motor digas, roda belakang motor semakin amblas masuk ke dalam tanah.


Gunung Ijen semakin terlihat jelas di depan mata kami. Motor kami pacu lebih kencang lagi di jalur offroad yang menurun. Ketika arah menuju kawah Ijen semakin dekat, ada hal yang tidak kami duga. Jembatan satu-satunya yang menghubungkan jalur ke Ijen itu ternyata ambrol! Wah celaka, padahal kami sudah menempuh perjalanan offroad lumayan panjang untuk menuju daerah ini.

Kami mencoba mencari jalur alternatif, namun ternyata tidak memungkinkan karena harus memasuki jurang. Karena hari semakin sore dan Made terlihat mulai capek dihajar medan offroad, kami memutuskan untuk balik arah lewat jalan kampung. Nyesal rasanya, tinggal selangkah lagi kami bisa menuju jalan ke ke arah Ijen, ternyata harus balik arah gara-gara jembatan yang putus.


Akhirnya kami balik arah menuju Desa Sempol, desa terakhir yang menuju Kawah Ijen. Memasuki Sempol, matahari mulai tenggelam dan beranjak gelap. Karena sudah malam, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen yang tinggal selangkah aja, namun kembali ke arah Plampang. Kami makan malam dulu di Sempol dengan menu nasi goreng plus keripik singkong.

Usai menyantap habis nasi goreng, kami mengisi bensin dan langsung tancap gas kembali ke Plampang. Jalur balik ke Plampang juga full offroad. Jalurnya gelap total, maklum memang jalur di tengah hutan yang tentu saja tidak ada penerangan listriknya. Kami memacu motor dengan lambat karena pandangan terganggu dengan debu tebal. Di beberapa titik ada banyak batu lepas yang membuat tangan kami harus ekstra bekerja kuat untuk menahan goncangan motor.

Jalur yang kami lalui di malam hari itu sempit, hanya selebar 1,5 meter. Di sebuah jalanan yang menurun, tiba-tiba Made terjungkal tersandung gundukan rumput. Faktor fisik yang mulai drop membuat Made tidak kuasa mengendalikan motornya dengan baik. Made bilang, “aduh tanganku sudah gak kuat pegang stang motor nih, istirahat dulu ya”. Kamipun memutuskan untuk istirahat sejenak di tengah kegelapan malam.

Setelah istirahat tidak lebih dari 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke Plampang. Jalurnya masih berupa tanah di tengah perkebunan kopi arabacia. Sekitar pukul 20.00 akhirnya kami sampai di Plampang. Lega rasanya. Begitu terkena penerangan lampu, kami tersenyum melihat motor dan tubuh kami yang penuh dengan debu tebal.

Kami langsung mandi yang ternyata airnya wow super dingin, brrrrrrrr dingin sekali! Habis mandi langsung terkapar di tempar tidur. Kami capek, namun puas sekali bisa mencicipi medan offroad di Perkebunan Kayumas menuju arah kawah Ijen. Kamipun berfikir, lain kami kami akan kembali dengan membawa motor dengan spek full offroad, karena motor yang kami bawa kali ini adalah spek untuk touring adventure.

Hari kelima
Ketika jam masih menunjukan angka 05.00 pagi, kami sudah terjaga dari tidur nyenyak. Kami langsung siap-siap packing untuk berangkat kembali ke Malang, karena target kami sebelum jam 17.00 kami sudah harus tiba lagi di Kota Malang. Apalagi kami prediksikan di jalanan agak macet karena arus balik mudik.


Pukul 07.15 kami berangkat meninggalkan Plampang yang menawan. Jalur yang kami lalui juga masih offroad. Di beberapa titik kami bisa menyaksikan pemandangan yang begtu indah. Terlihat begitu jelas Gunung Ijen dan beberapa gunung lainnya yang terlihat seperti menyelimuti perkebunan Kayumas. Betul-betul indah dan mempesona. Lain kali pasti kami akan kembali lagi.


Perjalanan kembali ke Malang melalui jalur Bondowoso, Jember, Lumajang dan melintas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dari Bromo langsung meluncur ke Malang lewat Tumpang. Karena perjalanan balik ini tidak ada hal yang istimewa, kami rasa tidak perlu deh untuk diceritakan. Namun yang pasti dalam perjalanan selama 5 hari dengan naik motor trail kali ini kami puas dan meninggalkan kenangan yang begitu indah. Terima kasih sahabat-sahabat kami yang menerima kami dengan baik selama di perjalanan. Sampai ketemu di petualangan kami berikutnya! (habis).

5 Days Trail Adventure (bagian 2): BAN BOCOR DI TENGAH HUTAN

Hari Kedua

Jam 5 pagi kami sudah terjaga dari tidur nyenyak di Pantai Bandealit, Taman Nasional Merubetiri. Cuaca cerah sekali dan burung-burung liar ramai bernyanyi menyambut mentari. Kami bangun pagi-pagi, soalnya hari ini kami akan melanjutkan perjalanan lagi ke Bali dengan motor trail. Barang-barang segera kami kemas dan dinaikan ke atas motor Kawasaki KLX 250 yang setia membawa kami berpetualang di liburan idul fitri itu.

Ternyata acara packing barang dan bongkar tenda memakan waktu yang lumayan lama, maklum ada banyak barang yang kami bawa dalam petualangan selama 5 hari itu. Jam di tangan menunjukan pukul 09.20 ketika kami beranjak meninggalkan Pantai Bandealit yang indah. Jalanan full offroad, kombinasi antara batu dan tanah. Beberapa kali kami berjumpa dengan penduduk desa yang menyapa kami dengan ramah.

Jalan yang kami lalui menanjak tajam dengan batu lepas dan lubang kanan kiri. Kamipun mengendarai motor dengan tehnik berdiri untuk menjaga kesimbangan dan mengurangi goncangan tubuh. Tiba-tiba Made yang ada di belakang saya teriak, “sepertinya ban motor saya bocor!”. Saya berhenti dan mengeceknya, celaka memang ban belakang motor Made terlihat kempes pes, sama sekali tidak ada anginnya. Padahal posisi kami waktu itu sudah di jalur offoad di tengah hutan! Ternyata bannya bocor ditembus paku karatan yang mungkin tertancap pada waktu kami melalui kampung nelayan di Pantai Bandealit.


Jika motor terus dipaksa dinaiki pasti tidak mungkin, bisa-bisa peleknya hancur karena jalannya berupa batu yang menonjol tidak karuan. Akhirnya kami memutuskan untuk membongkar ban motor dan membawanya ke kampung nelayan terdekat. Beruntung ada pengunjung yang lewat yang membantu kami membongkar ban motor. Pengunjung itu kaget ketika tahu bahwa salah satu pengendara motor trail itu adalah seorang perempuan!

Setelah dibongkar, ban motor yang bocor itu kami naikan ke KLX 250 dan membawanya ke kampung yang jaraknya 8 km dengan jalan offroad! Untungnya di kampung itu ada tukang tambal ban, kalau tidak ada bisa runyam nasib kami. Ban dalam yang bocor kami ganti dengan yang baru, karena takut bocor lagi di tengah jalan berbatu yang masih panjang. Ban yang bocor tetap kami tambal namun disimpan sebagai cadangan. Hemm semoga saja ban motor kami tidak ada yang bocor lagi!

Setelah ganti ban dalam, bergegas saya memacu motor menemui istri saya yang nungguin motor di tepi jalan di tengah hutan. Kata istri saya, ada banyak orang lewat yang heran, kog ada perempuan sendirian di tepi hutan dengan bawa motor trail tanpa ban!
Usai memasang ban, kami langsung memacu motor melewati jalanan offroad. Setelah 30 menit memacu motor di jalur offroad, kami mulai memasuki jalur di tengah perkebunan Glantangan. Jalurnya yang sepi membuat kami bisa memacu motor, target kami adalah jangan sampai kemalaman sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Jam menunjukan angka 13.25 ketika kami mulai memasuki daerah Pakusari Jember. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah warung yang jual mie pangsit, sekalian mengisi perut yang sudah keroncongan. Setelah setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kea rah Banyuwangi.

Jalur dari Jember ke Banyuwangi berupa jalur aspal yang meliuk-liuk menyisiri Gunung Kumitir. Jalannya mulus, cuma penuh dengan kelokan tajam. Kami memacu motor lumayan kencang, walaupun kadang-kadang harus ekstra hati-hati di tikungan karena motor kami membawa beban barang yang berat di bagian belakang. Jadi kalau keasyikan rebah di tikungan tajam, bisa jadi akan benar-benar rebah mencium aspal Kumitir.

Pukul 14.40 kami sampai di pasar Kalibaru yang sudah masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi. Setelah istirahat sejenak sambil melumasi rantai motor, kami melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Jalanan yang kami lalui berupa aspal mulus. Jalur ini lumayan membuat kami bosan, karena monoton dan lalu lintasnya lumayan padat oleh pemudik.


Tepat pukul 16.30 kami akhirnya tiba di Pelabuhan penyeberangan Ketapang. Untungnya begitu kami melewati loket pembayaran, kami langsung dipersilahkan naik ke kapal. Ternyata kami penumpang terakhir di kapal itu. Begitu kami memarkir motor di dek kapal, beberapa orang lagi-lagi kaget ketika tahu salah satu dari kami adalah perempuan, karena ketika pakai helm adventure full face dan jaket, memang tidak kelihatan kalau Made itu perempuan.

Penyebarangan dari Ketapang ke Gilimanuk Bali berjalan dengan lancar, hanya membutuhkan waktu 45 menit. Pukul 18.15 waktu setempat (waktu di Bali lebih cepat satu jam dibandingkan waktu tanah Jawa), kami sudah mendarat di pulau dewata. Hari sudah mulai beranjak gelap. Kamipun langsung memacu motor ke arah Negara lewat tepi Taman Nasional Bali Barat.

Jalan aspal dari pelabuhan Gilimanuk ke Negara terbilang mulus dan lebar. Kami memacu motor dengan kencang hiingga kecepatan 110 km/jam. Hari semakin gelap dan kami juga mulai kecapekan, maklum seharian membawa motor dan separuhnya adalah jalur offroad. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di Desa Penyaringan, Kabupaten Jembrana. Badan dan otak kami sudah letih, sudah waktunya istirahat daripada celaka di jalan.

Hari ketiga

Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00 kami sudah berangkat meninggalkan hotel untuk berpetualang di daerah Penyaringan sambil mengunjungi saudaranya Made yang memang punya keturunan Bali. Jalur yang kami lalui pemandangannya indah sekali, sawah hijau terbentang luas dengan suasana pedesaan yang asri. Kami tidak menjumpai satupun wisatawan asing di daerah ini, jadi terasa sekali suasana desa tradisionalnya.

Usai menikmati indahnya alam pedesaan di Penyaringan, kami meluncur ke SMP Medoyan untuk menemui seorang guru yang peduli akan lingkungan. Guru yang juga Supporter ProFauna (sebuah organisasi non profit untuk perlindungan hutan dan satwa liar, coba cek websitenya di http://www.profauna.net/id) itu bernama I Nengah Yasa Tenaya. Dia selama bertahun-tahun menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan ke anak didiknya. Aksi nyata dari Yasa itu membuat dia dianugrahi penghargaan oleh pemerintah pusat beberapa waktu yang lalu.


Yasa menyambut kami dengan penuh kehangatan. Kami bicara panjang lebar soal lingkungan dan masalah penyu yang ada di Pantai Perancak. Dua orang guru juga ikut diskusi dengan kami. Terus terang kami kagum dengan semangat guru-guru itu yang mau peduli soal lingkungan, apalagi aktivitas mereka itu sama sekali tidak dibayar.
Setelah panjang lebar diskusi dengan guru-guru, kami bersama-sama meluncur ke pantai Perancak untuk melihat program penyu. Jalan menuju ke Pantai Perancak juga membuat adem mata karena melalui sawah hijau yang terbentang luas sepanjang mata memandang. Suasana desanya juga masih asri.

Kedatangan kami di Pantai Perancak disambut dengan ramah oleh masayarakat lokal yang mengelola penyu. Mereka ngobrol ngalur ngidul sambil menyeruput kopi hitam yang dihidangkan. Ngobrol di tepi pantai Perancak yang sepi itu membuat kami kerasan karena kami selalu suka dengan pantai yang tenang, bersih dan tidak terlalu ramai.


Puas menikmati asrinya Pantai Perancak, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke tanah Jawa. Langit menguning ketika kami mulai meninggalkan Perancak menuju pelabuhan penyebrangan Gilimanuk. Masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi dalam petualangan 5 hari ini, tempat itu adalah Perkebunan Kayumas di dekat kawah Ijen. (bersambung).

Senin, 27 Agustus 2012

5 Days Trail Adventure (bagian 1): BANDEALIT, TAMAN NASIONAL MERUBETIRI

Ketika liburan Idul Fitri, dua orang anggota tim CHEELA yang sepasang suami istri melakukan petualangan berdua selama 5 hari dengan motor trail, mulai dari Gunung Bromo, kemudian menuju Taman Nasional Merubetiri di Jember, kawah Ijen, hingga Pulau Bali. Perjalanan ini benar-benar petualangan, karena motor dilengkapi dengan perlengkapan outdoor termasuk tenda untuk persiapan menginap di hutan. Berikut catatan perjalanannya, yang ditulis oleh RK.

Hari pertama.

Jam di tangan menunjukan pukul 07.55 ketika kami sampai di gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pagi yang cerah namun dingin. Kami memacu motor dengan santai, meliuk-liuk di jalanan semen di kawasan taman nasional itu. Tak lama kemudian kami sampai di Jemplang, pertigaan yang menuju Gunung Bromo. Jika belok kiri akan turun ke arah padang pasir bromo, jika lurus ke arah Gunung Semeru. Setelah berhenti sejenak untuk mengambil foto pemandangan yang begitu indah, kami melanjutkan perjalanan menuju arah Semeru.

Tiga puluh menit kemudian kami sampai di hutan Ireng-Ireng. Hutannya masih bagus dan terlihat ada banyak anggrek liar. Kami berhenti sejenak di tepi sungai untuk istirahat setelah melewati jalanan aspal yang penuh lubang dan hancur di sana sini. Harus ekstra hati-hati melewati jalur Ireng-Ireng ini karena aspal sudah terkelupas dan banyak kerikil berserakan.

Puas menghirup udara segar di hutan Ireng-Ireng, kami kembali memacu motor ke arah Kabupaten Lumajang. Jalanan yang kami lalui masih hancur dan menurun tajam. Sekali-kali kami berpapasan dengan pengendara lain yang menuju gunung Bromo. Lima belas menit setelah melewati batas taman nasional, sekitar pukul 09.00 kami memasuki Desa Senduro yang sudah masuk wilayah Kabupaten Lumajang. Jalanan berikutnya berupa aspal, namun harus hati-hati karena di beberapa titik aspalnya berlubang sehingga sering kendaraan bermotor tiba-tiba melakukan manuver menghindari lubang. Hampir saja saya menabrak sebuah sepeda motor di depan saya yang tiba-tiba belok kanan karena menghindari sebuah lubang.

Sekitar 15 menit kemudian kami sudah melewati Kota Lumajang dan mulai memasuki jalanan aspal menuju Jember yang menjemukan. Saya bilang menjemukan karena jalannya berupa aspal lurus yang seperti tidak ada habisnya. Di sebelah kanan jalan terlihat sungai keruh yang lumayan lebar. Di jalan ini kami bisa memacu motor di kecepatan 80 hingga 115 km/jam.

Matahari semakin tinggi dan panas mulai menyengat tubuh. Kami terus memacu motor di tengah padatnya rombongan pemudik. Jam 12.00 kami mulai memasuki Kota Jember. Setelah terminal bus Jember, kami ambil jalur belok kanan menuju arah Jenggawah. Di Jenggawah, kami istirahat sejenak sambil menyantap makan siang di warung pinggir jalan. Enak sekali menunya, tahu sama sambal pedas, ditambah segarnya air kelapa muda. Hemm nikmat sekali!


Tepat pukul 13.00 kami berangkat meninggalkan Jengawah menuju arah Pantai Bandealit. Kami memilih jalur lewat perkebunan Glantangan, tidak lewat jalan umum yaitu jalur Ambulu. Sengaja kami milih lewat Glantangan, karena jalurnya lebih asyik, lebih banyak jalur offroad-nya dibanding aspalnya. Sementara kalau lewat Ambulu itu jalurnya aspal dan ramai dengan wisatawan yang akan pergi ke Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma. Maklum waktu itu masih suasana liburan hari raya idul fitri, jadi jalanan padat dengan wisatawan lokal yang hendak berlibur ke pantai.

Memasuki perkebunan Glantangan, jalur berupa aspal rusak dengan selingan tanah. Sepanjang jalan ada banyak pohon karet yang bikin adem. Kami memacu motor agak kencang, karena jalanan sepi. D Sekali-kali kami tanya ke penduduk tentang arah menuju Bandealit, karena ini baru pertama kalinya kami lewat jalur Glantangan.

Tidak sampai satu jam kemudian kami memasuki jalur offroad. Jalurnya penuh dengan

batu, tanah dan lubang. Yang bikin asyik adalah kanan kiri berupa hutan yang masih bagus. Beberapa kali kami melihat sekelompok lutung yang bertengger di pepohonan dan elang yang melintas di atas kepala kami. Untung kami bawa motor trail, jadi bisa melewati jalur ini dengan santai, coba membawa motor biasa pasti akan nangis di tengah hutan!

Membawa motor trail di jalur offroad yang motornya sarat dengan muatan barang ternyata tidak mudah. Ketika tikungan tajam, kadang-kadang kami lupa kalau membawa beban, jadi motor dimiringkan, eh tahu-tahu motor mau nyungsep. Ketika ada gundukan tanahpun, kami tidak bisa melibasnya dengan bebas. Harus sedikit pelan, kalau tidak mau barang kami kocar-kacir di tengah jalan di tengah hutan.

Ketika jam di tangan menunjukan pukul 15.00 akhirnya kami sampai di Pantai Bandealit, taman nasional Merubetiri. Kami coba ke kantor resort KSDA, namun sayangnya kantornya sudah kosong melompong, tidak ada petugas yang berjaga. Seharusnya taman nasional itu selalu ada petugas yang piket, karena ini adalah kawasan konservasi alam yang patut dijaga.

Meskipun berada di dalam taman nasional, Pantai Bandealit juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata. Untuk masuk ke pantai ini dikenakan tarif parkir kendaraan bermotor sebesar Rp 2000. Pantainya sebetulnya indah, namun sayang kotor oleh sampah plastik yang berserakan. Membuat tidak sedap dipandang mata.


Akhirnya kami memutuskan tidak jadi menginap di Pantai Bandealit, namun belok arah kiri ke bagian pantai yang lebih sepi. Di tempat yang kami pilih ini benar-benar nyaman, sepi, alami dan banyak sekali burung liar. Tenang dan nyaman sekali. Malam itu kami habiskan waktu dengan menginap di Bandealit sambil menikmati bintang-bintang yang begitu cerah memancar di langit. Kami berujar, “indah sekali alam ciptaan Tuhan ini”. (Bersambung).

Kamis, 16 Agustus 2012

KTM CENTER INDONESIA DILUNCURKAN


KTM, pabrikan motor asal Austria yang bercirikan khas warna orange itu akhirnya resmi menunjuk PT Moto KTM Indonesia (MKTMI) sebagai agen pemegang merek (APM) di Tanah Air. Ini sangat menggembirakan bagi penggemar motor, khususnya motor trail karena KTM dikenal sebagai motor trail papan atas yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Adanya APM KTM ini juga membuat persaingan bisnis motor trail kelas premium di tanah air akan semakin sengit, karena sebelumnya Husqvarna juga sudah duluan membuka delaer di Indonesia. Paling tidak, konsumen akan lebih banyak pilihan dengan harga yang kompetitif.

Seriusnya KTM menggarap pasar Indonesia ini ditunjukan dengan dibukanya KTM Center Indonesia pada tanggal 28 Juli 2012 di Tanggerang. Meskipun jualan KTM Center Indonesia akan difokuskan ke tipe sport Duke 200, namun mereka juga akan memasukan motor tipe enduro dan motocross. Maklum justru nama KTM itu lebih moncer namanya sebagai produsen motor trail enduro kelas atas.

KTM Center Indonesia
Taman Tekno BSD Blok L1 No. 12
Tangerang Selatan
Telepon: 021-75876451


Berikut di bawah berita di tentang KTM Center Indonesia yang dimuat di Kompas Otomotif:

KTM Tunjuk APM di Indonesia

Tangerang, Kompas Otomotif - Prinsipal sepeda motor KTM di Austria secara resmi menunjuk PT Moto KTM Indonesia (MKTMI) sebagai agen pemegang merek (APM) di Tanah Air. "Saya sengaja tidak mau berkoar-koar sebelum memegang lisensi resmi dari sana (Austria) kendati banyak pihak mengaku dan mendaulat dirinya sebagai APM," ujar John Winata, Direktur Pemasaran PT MKTMI, saat acara ramah tamah dengan media dan komunitas di KTM Center BSD, Tangerang Selatan, kemarin (28/7).

Soft launching KTM Center pertama di Taman Tekno BSD, Tangerang Selatan, ini merupakan salah satu realisasi dari berdirinya MKTMI. "Hingga akhir tahun ini kami akan menambah 5 gerai dengan konsep serupa di Jabodetabek," tutur John. Konsepnya, selain menyediakan layanan 3S (Sales, Service dan Spare Part), pihaknya melengkapinya dengan kafe khusus komunitas dan juga komponen aksesoris. Pemilik KTM yang dibeli dari IU (importir umum) juga dilayani.

Duke 200
Kendati masih bersifat pre-launching, pihaknya sudah mulai menjual semua jajaran produk KTM seperti Duke 200 menjadi model favorit yang dibanderol Rp 57,5 juta on the road Jakarta. "Untuk Duke kita sudah siap unitnya dan pelanggan tak perlu menunggu lama," ungkap John.

Duke 200 yang dijual merupakan CBU dari India. Untuk garansi, MKTMI memberikan jaminan selama setahun atau 12.000 km dan itu berlaku untuk semua produk. "Secara total kami menargetkan bisa menjual 1.000 - 2.000 unit pertahun, tentunya kontribusi terbesar datang dari Duke 200 yang memiliki harga lebih menarik dibanding penawaran IU (di atas Rp 60 juta)," tutupnya.

(sumber: http://otomotif.kompas.com/read/2012/07/29/3358/KTM.Tunjuk.APM.di.Indonesia)

Kamis, 09 Agustus 2012

HUSABERG 2013, GANTI MESIN DAN LUNCURKAN VERSI 250 DAN 350


Pabrikan Husaberg sudah mempublikasikan motor trail versi 2013, yang mengejutkan adalah mesin motor 4 tak sudah berganti total. Jika sebelumnya motor 4 tak Husaberg itu mengusung mesin 70 derajat, kini mesinnya mirip dengan KTM. Ini tidak mengherankan karena kini Husaberg juga dimilik oleh KTM yang bermarkas di Austria. Alasan efesien, membuat motor husaberg 4 tak tidak lagi memakai mesin lama, tetapi mesin yang mirip KTM.

Untuk versi 2013 juga ada 3 model baru di barisan motor 4 tak, yaitu FE 250, FE 350 dan FE 501. Untuk FE 250 itu setara dengan KTM 250 XCFW, bahkan disebut-sebut mesinnya identik. Sedangkan untuk FE 350 itu juga sama dengan KTM 350 XCFW. Munculnya tipe FE 250 dan FE 350 ini mengembirakan, karena konsumen lebih punya banyak pilihan dan membuat persaingan semakin ketat.

Husaberg masih mempertahankan motor 2 tak, dengan diluncurkannya tipe TE 250 dan TE 300. Kedua motor ini dilengkapi dengan electric starter. Kalau dibandingkan dengan pasukan orange, kedua motor ini identik dengan tipe KTM 250 XCW dan KTM 300 XCW. Husaberg TE 300 sudah terbukti motor yang mumpuni untuk dipakai di berbagai kejuaraan enduro ekstrim, dan Graham Jarvis telah membuktikannya! (sumber: Dirtbike Magazine).