Kamis, 26 Juli 2012

KAWASAKI KLX 150 VS HONDA CRF 150F



Kehadiran Kawasaki KLX 150 membawa angin segar bagi dunia motor trail tanah air. Harganya yang terjangkau dan tinggi motor yang pas untuk ukuran kebanyakan orang Indonesia, membuat KLX 150 laris manis bak kacang goreng. Aksesoris untuk KLX 150 juga turut tumbuh pesat, mulai dari cover plastik, gir, knalpot, hingga sektor pengapiannya. Sejatinya KLX 150 yang beredar di Indonesia itu adalah perwujudan dari KLX 140 yang beredar di USA. Dasarnya sama, hanya untuk KLX 150 mengalami down spec, agar harganya terjangkau untuk Indonesia. Harga KLX 140 di luar adalah US$ 3,000 atau sekitar Rp 30 juta (kalau masuk ke Indonesia lewat importer umum harganya jadi sekitar Rp 45 juta).

Pesaing KLX 150 (atau KLX 140 di luar) itu adalah Honda CRF 150F dan Yamaha TTR 125 LE. Yamaha TTR 125 ditawarkan seharga US$ 3,190 dan Honda CRF 150F seharga Rp 45 juta. Bagaimana performa KLX 150 jika dibandingkan dengan CRF 150F? Tim CHEELA yang kebetulan memakai kedua motor tersebut akan mencoba membuat perbandingannya, setelah lebih dari dua tahun memakai motor tersebut, dengan catatan kedua motor dalam keadaan standar di sektor mesin dan suspensi. Pergantian hanya di bagian knalpot, yang sama-sama memakai produk AHRS.

Berat Motor

Dimensi fisik CRF 150F sedikit lebih tinggi dan panjang dibanding KLX 150, namun berat motornya justru lebih ringan CRF 150F. Berat kosong KLX 150 itu 108 kg, sedangkan CRF hanya 99 kg, jadi terpaut 9 kg. Suspensi depan CRF 150F juga lebih panjang dibandingkan KLX 150, jadi mampu meredam goncangan lebih baik.
Untuk tenaga mesin yang disemburkan, CRF 150F masih selangkah di depan. Dalam kondisi sama-sama standar, mesin CRF 150F lebih responsif dibandingkan KLX 150. Meski kalah di sektor mesin, KLX 150 justru menang di bagian pengereman. Untuk rem belakang, CRF masih menganut rem tromol, sedangkan KLX 150 sudah pakai disc brake, jadi terasa lebih pakem.

Untuk material motor bagian luar seperti tuas perseneleng, tuas rem kaki, arm, pelk, ban dan tengki, CRF 150F lebih unggul dibandingkan KLX 150. Ini tidak mengherankan, karena KLX 150 memang mengalami penurunan spesifikasi di beberapa komponen untuk mengejar harga jual yang bersahabat.

Handling Motor

Baik CRF 150 maupun KLX 150 sama-sama memakai ban depan lingkar 19 dan belakang 16. Bedanya CRF dari pabrik sudah dilengkapi dengan ban tipe offroad, sedangkan KLX 150 pakai ban dual purpose yang lebih nyaman untuk jalanan raya. Kalau untuk dipakai offroad, ban KLX mesti diganti dulu, sedangkan CRF tinggal tancap gas tanpa perlu mengganti ban.

Handling motor untuk tikungan, keduanya relatif sama. Tetapi ketika dipakai untuk melibas gundukan tanah, KLX harus mengakui keunggulan CRF. Suspensi belakang dan depan CRF 150F lebih enak dalam meredam goncangan. Suspensi belakang KLX 150 terasa agak ‘goyang’ ketika dipakai untuk jumping. Untuk speed alias kecepatan tinggi, CRF 150F lebih stabil dibandingkan KLX 150. Secara umum untuk handling, CRF 150F lebih unggul dibandingkan KLX 150.

Pilih KLX 150 atau CRF 150F?

KLX 150 adalah motor dengan harga terjangkau yang enak untuk dipakai offroad, daripada modifikasi motor biasa jadi trail yang belum tentu nyaman dan aman. Dengan harga dibawah Rp 25 juta, KLX 150 adalah pilihan cerdas bagi konsumen yang ingin punya motor trail. Tinggal diupgrade di beberapa bagian, KLX 150 akan bisa bersaing dengan CRF 150F.

Jika anda punya anggaran lebih dan ingin motor trail yang langsung siap digeber di medan offroad, CRF 150F menjadi pilihan jitu. Namun harganya memang jauh lebih mahal dibandingkan KLX 150, yaitu sekitar Rp 45 jutaan. Baik KLX 150 ataupun CRF 150F adalah motor trail yang cocok untuk kebanyakan orang Indonesia, karena motornya tidak terlalu tinggi. Namun untuk orang yang tingginya diatas 170 cm akan terasa tidak nyaman dan terlihat aneh jika naik kedua motor tersebut. Maklum CRF 150F dan KLX 150 itu di Amrik sana memang diperuntukan untuk anak-anak yang lagi mau belajar motor trail!

Kelebihan KLX 150:

- Harga terjangkau
- Sudah dilengkapi dengan lampu depan dan belakang
- Rem pakai disc brake

Kelemahan CRF 150F:
- Harga cukup mahal
- Tidak dilengkapi dengan lampu
- Rem belakang masih pakai tromol.

PERHATIAN!
Uji coba setiap produk yang dilakukan oleh tim CHEELA dan Indo-Dirtbike sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi atau marketing produk tertentu. Semuanya murni dilakukan dari sudut pandang konsumen/pengguna secara obyektif.

Selasa, 24 Juli 2012

KNALPOT TRAIL YANG RAMAH LINGKUNGAN


Menarik ketika menyimak iklan produsen knalpot ternama dari USA, FMF, di berbagai majalah dirt bike. Di iklan tersebut ditampilkan gambar burung hantu yang memakai penutup telinga dan ada tulisan huruf kapital berbunyi “WE HEAR IT TOO”. Artinya burung hantu (yang tinggal di hutan) itu juga mendengar suara knalpot motor yang masuk ke hutan. Makna dari iklan itu adalah sudah sepatutnya suara knalpot yang keluar dari motor itu ditekan seminim mungkin, sehingga tidak mengganggu penghuni hutan (baca: binatang liar), yang dalam arti luas tentunya juga tidak mengganggu orang lain.

Produsen knalpot trail kelas dunia semacam FMF atau Pro Circuit itu kini semuanya berlomba-lomba mengeluarkan produk yang suaranya tidak terlalu keras, namun tenaganya meningkat dahsyat. Suara knalpot yang menggelegar itu sudah tidak zamannya lagi, sudah kuno. Di negara maju seperti USA itu ada aturan batas maksimum kekerasan suara yang dikeluarkan oleh knalpot. Di beberapa negara bagian dibatasi maksium 92 db.

Aturan ini yang kemudian mendorong produsen knalpot mau tidak mau harus mengeluarkan produk yang suaranya lebih ramah, tanpa mengurangi performa tenaga yang dihasilkan.
Selain alasan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah di Amrik sana, sehingga produsen knalpot mengeluarkan produk yang lebih ramah lingkungan, juga karena munculnya protes dari sebagian masyarakat yang merasa terganggu dengan pekaknya suara knalpt yang dikeluarkan motor.

Di Indonesia, aturan tentang suara knalpot ini sebetulnya juga sudah diatur dalam UU No 22 tahun 1999 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan juga di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup no 7 tahun 1999 tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor. Dalam peraturan itu disebutkan bahwa untuk motor tipe 80cc ke bawah itu maksimum kebisingan 85 db(db) dan untuk motor diatas 80cc adalah 90db. Sanksi bagi pengguna knalpot bising adalah pidana penjara maksimum 1 bulan atau denda maksimum Rp 250 ribu.

Permasalahannya di Indonesia adalah di lapangan itu polisi tidak dilengkapi dengan alat ukur untuk menilai kebisingan knalpot. Akhirnya hanya berdasarkan ‘perasaan’ sang polisi saja. Kalau bukan knalpot standar bawaan pabrik, maka bisa saja ditilang, padahal bisa jadi batas ambang kebisingan knalpot racing itu sama dengan bawaan pabrik/standar. Ini yang rawan terjadi korupsi dan kong kalikong antara polisi dan pengguna motor.

Fenomena yang terjadi di motor trail (Indonesia) itu masih ada yang berpikiran ‘kuno’. Suara knalpot yang menggelagar bagai halilintar dianggap keren dan gaya. Parahnya lagi ada pemikiran bahwa kalau mau meningkatkan tenaga motor itu wajib suara knalpotnya dibedah sehingga terdengar keras. Memang sih suaranya jadi keras, namun tenaganya belum tentu bertambah. Seringkali suara motor terdengar meraung-raung, bahkan dari kejauhan sudah terdengar, namun ternyata ketika motornya muncul, jalannya motor terseok-seok kayak siput hehehe. Khan kalau begitu jadi malu, motor hanya keras di suaranya saja, namun tenaganya loyo.

Pabrikan motor trail ternama misalnya seperti KTM, Honda atau Husbaerg itu untuk motor rail enduro knalpotnya dilengkapi dengan spark arrestor yang berfungsi untuk meredam kebisingan knalpot. Kalau suaranya bising melebihi batas yang ditentukan, motor tersebut tidak boleh dijual ke konsumen. Untuk knapot motor yang digunakan di sirkuit motocross, memang suaranya sedikit lebih keras karena beberapa tidak dilengkapi dengan spark arrestor, namun di beberapa negara bagian motor seperti ini akan dilarang bertanding! Solusinya adalah knalpt harus diganti dengan yang lebih ramah lingkungan, dan ini dijawab oleh FMF dengan mengeluarkan produk power bom yang diklaim bisa mengurangi kebisingan namun tenaganya lebih meningkat.

Memakai motor trail dengan knalpot yang bising sebetulnya bukan hanya mengganggu ‘tetangga’ dan penghuni hutan, namun kurang nyaman juga bagi pengendaranya. Jika offroad yang panjang, dari pagi hingga sore, dengan suara knalpot yang bising itu terasa kurang nyaman di telinga. Teliga terasa pekak, sehingga berulang kali harus menelan air ludah untuk menghilangkan pekak di telinga. Teman yang ada di belakang kita juga kasihan khan, karena ‘ditampar’ berulang kali dengan suara knalpot yang bising.

Saatnya kita bertindak lebih maju dengan meninggalkan knalpot motor trail yang bising. Knalpot bising itu sudah jadul, yang modern adalah suara knalpot rendah namun tenaga motor meningkat dahsyat, ini baru keren!

Sabtu, 14 Juli 2012

HONDA CRF VERSI 2013, BANYAK PERUBAHAN YANG SEMAKIN MANTAP


Setelah bertahun-tahun tidak mengalami perubahan yang signifikan, kini pabrikan Honda meluncurkan motor tipe cross veris 2013 dengan banyak perubahan, terutama CRF 450R. Perubahan besar-besaran ini tidak terlepas dari masukan multi juara supercross Jeremy McGrath.

Untuk CRF 450R kini memakai rangka alloy generasi keenam yang membuat motor lebih ringan, kuat dan stabil. Motor kini juga dilengkapi dengan buangan asap dua knalpot, mirip CRF 250R tahun 2007. Ya knalpot ganda kini muncul lagi di CRF 450R!

Suspensi depan CRF 450R juga berganti total, kini mengusung KYB Pneumatic Spring Fork (PSF) yang diklaim lebih ringan, kuat dan lebih enak handling-nya. Sektor mesin juga alami banyak perubahan untuk mengejar tenaga bawah dan menengah yang lebih dahsyat. Plastik cover penutup body juga berganti, kini terlihat lebih dinamis dan agresif.

Untuk CRF 250R mengalami perbaikan di seklor mesin dan kalibrasi injeksi. Versi 2013 kini lebih responsif di tenaga bawah dan menengah. Setting ini akan sangat berguna ketika berlaga di sirkuit supercross yang pendek-pendek.

Untuk ban, baik versi 250 atau 450 itu memakai Dunlop Geomax MX51FA yang meningkatkan traksi di tanah. Ban ini juga diklaim mempunyai bobot yang lebih ringan. (sumber: Australasian Dirt Bike edisi Agustus 2012)