Minggu, 27 Mei 2012

FUN OFFROAD KE GUNUNG KELUD

Minggu pagi yang cerah di bulan Mei 2012 mengiringi tim CHEELA yang tiba di Ngantang, Kabupaten Malang, sekitar pukul 09.00. Kedatangan kami disambut sahabat kami, Bagus yang memang asli Ngantang. Baguslah yang akan memandu tim CHEELA untuk fun offroad ke Gunung Kelud. Lho koq ada kata ‘fun’? Ya kami sebut fun, karena sejak awal Bagus sudah bilang bahwa offroad kali ini sekitar 50% adalah lewat jalan aspal. OK tidak apa-apa, sekali-kali CHEELA perlu melakukan fun offroad sambil rekreasi.

Jam di tangan menunjukan pukul 10.00 ketika rombongan yang berjumlah 7 orang meninggalkan Ngantang. Kami memacu motor dengan santai, sekalian adaptasi dengan motor. Tak lama kemudian kami mulai memasukan jalanan rusak di tepi sungai yang beberapa tahun silam sempat banjir. Kami mulai sedikit membetot gas, meninggalkan debu yang berterbangan.

Lepas dari jalanan rusak di tepi sungai, kami memasuki jalur sempit di tengah hutan dan ladang. Hemm ini baru asyik, kami langsung menarik gas motor dengan kencang. Meliuk-liuk di bawah pepohanan. Di sebuah tikungan di tengah ladang kami berhenti. “Lho dimana TT, koq tidak kelihatan?” Kami menunggu TT yang menunggangi TS 125. Sekitar 15 menit kemudian TT datang dengan suara motornya yang “cring, cring, cring…”. Ternyata motor TT ada kendala di businya, namun setelah businya diganti, motornya langsung ngacir lagi.
Jalanan di tengah hutan itu ternyata tidak terlalu panjang, sekitar 10 menit kami sudah memasuki perkampungan yang masuk Kecamatan Kasembon. Jalanan berikutnya lebih banyak jalanan kampung yang diselimuti debu. Maklum musim kemarau sudah tiba, jadi debu ada dimana-mana. Kami memacu motor dengan santai.

Setelah perkampungan, kami mulai memasuki jalanan yang kanan kirinya berupa perkebunan tebu. Sayangnya jalannya sudah diaspal, jadi kami tidak bisa merasakan sensasi offroad. Untungnya tak lama kemudian kami mulai memasuki Perkebunan Sumber. Jalanan di perkebunan ini tanah dengan kombinasi di beberapa titik ada batu. Kami langsung membetot gas motor dalam-dalam. RK dengan KTM 350 dan RB dengan TXC 250nya langsung melesat di depan, saling kejar-kejaran. Di sebuah tikungan yang ditumbuhi rumput, RK tergelincir dan akhirnya harus mencium tanah Kediri. Tidak jatuh fatal sih, hanya tergelincir.

Di beberapa tikungan, kami bertanya ke petani tentang jalur ke Gunung Kelud yang lewat “jalan rusak”. Kami perlu bertanya, karena Bagus yang jadi pemandu juga belum hafal 100% jalurnya. Tapi kami senang, toh jumlah tim yang ikut kecil, hanya 7 orang. Jadi berulang kali berhenti untuk tanya jalur tidak menjadi hambatan berarti. Toh sejak awal offroad kali ini sudah dilabeli “fun offroad”.

Setelah meliuk-liuk di jalur perkebunan yang full debu warna putih, kami akhirnya tiba di Perliman Perkebunan Sepawon pada pukul 12.15. Karena sudah siang, kami memutuskan untuk makan siang, apalagi di lokasi kami beristirahat ada orang yang jualan es. Udaranya yang panas, membuat kami ramai-ramai menyeruput segarnya es di tengah perebunan kopi itu.

Satu jam kemudian kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Kami memacu motor dengan pelan, maklum melewati perkampungan. Sekitar jam 13.30 kami sampai di Desa Petungombo. Kami berhenti sejenak untuk tanya ke penduduk tentang jalur offroad menuju Gunung Kelud. Kami mencoba sebisa mungkin mengurangi jalan aspal.

Lepas dari Desa Petungombo, kami mulai memasukan jalan tanah di tengah hutan. Kami tersenyum melihat jalur ini, karena pasti enak sekali untuk membetot gas motor. Baru lima menit menikmati jalanan offroad, ban motor adiknya Bagus bocor. Terpaksa kami berhenti. Untungnya TT membawa ban dalam cadangan, jadi bisa langsung diganti. Kamipun membuka bengkel tambal ban di bawah rindangnya pohon beringin.

Beres ganti ban dalam yang bocor, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami memasuki jalur single track yang super sempit. Lebar jalur hanya skeitar 30 cm, dengan sebelah kanan jurang. Apalagi jalurnya menekuk tajam dengan posisi menurun. Terpaksa motor kami tuntun satu per satu. Setelah dua motor lolos dari rintangan itu, ternyata jalur tidak semakin mudah. Sementara jam di tangan sudah menunjukan pukul 14.30, artinya sudah menjelang sore hari. Akhirnya kami memutuskan untuk balik arah saja, karena kalau diteruskan pasti kami akan kemalaman waktu kembali ke Malang.


Setelah dengan susah payah dan kerja sama tim untuk membalik arah dua motor yang sudah terlanjur turun, akhirnya kami kembali memasuki jalur di tengah kebun kopi. Kami memacu motor lumayan kencang. Di jalur balik arah ini TT terlena dengan aksi speed offroad. Di sebuah tikungan jalanan yang ada batunya, TS 125 yang dinaiki TT terjungkal dan terlempar ke arah kiri. Hasilnya, fender depan motor TT hancur lebur. Untungnya pengendaranya sama sekali tidak cidera.

Sejenak kami istirahat sambil memperbaiki motor TT. Lima belas menit kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Kelud. Jalurnya memang membosankan karena kami lewat jalan aspal yang meliuk-liuk dan menanjak. Namun kebosanan kami lewat jalur aspal itu langsung sirna ketika kami sampai di Gunung Kelud. Wow indah sekali! Kami begitu kagum dengan kebesaran Tuhan yang menciptakan anak Gunung Kelud dan tebing indah yang berada di dekatnya.

Gunung Kelud memang indah dan cukup bersih karena kami lihat ada petugas yang secara rutin mengambili sampah. Ini bagus sekali, karena kalau sekedar mengandalkan kesadaran pengunjung, pasti susah sekali, karena kebanyakan kita masih terbiasa buang sampah plastik di sembarang tempat. Padahal sampah plastik itu butuh ratusan tahun untuk hancur secara alami.

Puas menikmati keindahan alam Gunung Kelud, kami memutuskan untuk turun, karena jam di tangan sudah menunjukan pukul 16.30. Untuk jalur balik ke Ngantang kami memilih lewat jalur aspal, karena beberapa motor tidak ada lampunya. Lewat jalur offroad di malam hari dengan debu tebal dan minim lampu penerangan juga bukan pilihan menarik. Akhirnya kami memutuskan lewat jalanan aspal saja.

Jalur Gunung Kelud ke Ngantang lewat aspal memang benar-benar melelahkan. Kami yang tidak masalah untuk offroad seharian, menjadi terasa pegal ketika lewat jalan aspal sepanjang lebih dari 50 km itu. Pantat terasa panas dan tangan pegal. Apalagi jalanan yang kami lalui juga tidak ada lampu penerangan jalan, sementara lampu di motor kami tidaklah terlalu terang.

Setelah berpegal-pegal ria di jalur aspal, akhirnya pada pukul 19.30 kami sampai juga di Ngantang. Begitu sampai di Ngantang, kami langsung menaikan motor ke atas dua mobil pick up yang sudah menunggu. Beres menaikan motor, kami disuguhi Bagus dengan menu isttimewa, sate ayam dan kambing! Keluarga Bagus begitu ramah dan baik hati menyambut kami. Terima kasih untuk semua ini!

Setelah ngobrol ngalur ngidul sambil menyantap makanan yang disajikan, akhirnya kami pamit untuk kembali ke Malang. Sekitar pukul 21.00 kami mulai beranjak meninggalkan Ngantang dengan rasa puas bisa menikmati keindahan alam Gunung Kelud. Terima kasih untuk Bagus dan adiknya yang telah memandu kami! Sampai ketemu di lain waktu!