Minggu, 11 Maret 2012

OFFROAD BERSAMA KOMUNITAS TRAIL SURABAYA DAN SIDOARJO





Minggu pagi yang cerah (11/32012) sekelompok orang dengan motor trail terlihat berkumpul di sekretariat CHEELA. Hal yang biasa di sekretariat CHEELA ada motor trail, cuma hari itu jumlahnya lebih banyak karena CHEELA kedatangan ‘tamu’ dari komunitas trail Sidoarjo dan Surabaya yang mau offroad bareng. Rombongan yang offroad hari itu menaiki tunggangan yang beragam, antara lain KTM 250, KTM 200, KTM 350, Husaberg FE 450, Scorpa, Kawasaki KLX 250, Husqvarna TE 250, Husqvarna TXC 250, KLX 150 dan Suzuki TS 125.

Sekitar jam 10, rombongan mulai berangkat meninggalkan sekratariat CHEELA menuju medan offroad. Kami melalui jalan raya dengan beriringan dan tidak ngebut, hitung-hitung sekalian peregangan otot. Setelah mampir sejenak di pom bensin, lima belas menit kemudian kami sudah mulai masuk jalur offroad di daerah Kecamatan Karangploso. RK yang jadi leader langsung membetot KTM 350-nya melibar jalur offroad yang melintas sungai kecil itu. Jalan agak licin karena habis diguyur hujan.

Sepuluh menit meggeber motor, rombongan di barisan depan berhenti, untuk menunggu pasukan yang ada di belakang. Agak lama juga kami menunggu. Tak lama kemudian kami dapat kabar bahwa Gus dari Sidoarjo yang pakai Husqvarna TE 250 terjungkal masuk sawah sedalam 5 meter. Gus yang masih pemula itu kerepotan mengikuti irama offroad hari itu. Steven dari Surabaya yang pakai KLX 250 juga terlihat merah padam wajahnya karena kesulitan menaklukan jalur, maklum Steven juga seorang pemula di dunia offroad motor trail.

Kami berhenti sejenak dan memeriksa Husqvarna TE 250 yang baru saja ditebus seharga Rp 87 juta dari dealer yang dipakai Gus itu. Ternyata tengki motor bocor. Bensin mengucur cukup deras membasahi sistem injeksinya. Motor yang baru dipakai tidak lebih dari 30 menit itu terpaksa dievakuasi, tidak mungkin melanjutkan perjalanan, apalagi perjalanan masih panjang. Akhirnya Gus dengan ditemani Riko terpaksa turun ke jalan aspal, tidak bisa melanjutkan offroad bersama kami.

Rombongan yang lain melanjutkan perjalanan menuju Gunung Mujur yang berada di lereng Gunung Arjuna. Jalur yang kami lewati bukan jalur yang biasa dilewati oleh orang kebanyakan, namun kami memilih jalus sisi timur yang berada di tengah-tengah hutan pinus. Jalurnya single track yang menanjak dan licin.

Sebagai besar peserta harus berjuang ekstra keras untuk menaklukan jalur licin ini. Steven semakin terlihat pucat, namun semangatnya masih membara. Beberapa orang terjungkal di jalur ‘maut’ ini. Di jalur ini memakan korban, mesin motor bro Agus dari Sidoarjo keluar bunyi “klotak klotak” yang membuat motor harus angkat bendera putih alias tidak bisa lanjut.

Jam di tangan menunjukan pukul 12.30 ketika kami sampai di Gunung Mujur dengan penuh perjuangan. Steven yang terpaksa motornya dinaiki oleh BN dari tim CHEELA karena sudah kehabisan energi itu berujar, “oh akhirnya sanpai surga juga”. Kami kemudian memutuskan untuk istirahat sambil menyantap makan siang.

Setelah satu jam istirahat, hujan mulai turun rintik-rintik. Kami memutuskan tetap melanjutkan perjalanan kea rah Gunugn Putuk Gede. Kali ini jalur cukup lebar meskipun tetap harus hati-hati karena banyak kubangan lumpur.

Sepuluh menit kemudian, kami memasuki jalur single track lagi. Jalur ini lebih licin dibanding jalur di tengah hutan pinus yang telah kami lalui sebelum makan siang tadi. Jalurnya menanjak dan hanya selebar tidak lebih dari satu meter. Rombongan harus memeras keringat dan ‘memaksa' motor untuk lolos dari jalur ini. Motor terdengar meraung-raung. Pengendaranyapun harus mengatur nafas yang ngos-ngosan.

Setelah 30 menit berkutat dengan jalur licin, akhirnya sebagian besar peserta menyerah. Mereka memutuskan untuk balik arah lewat jalur alternatif. Hanya ada 3 orang yang bisa lolos melewati jalur ini yaitu RK, BN dan RB.

RK, BN dan RB melanjutkan perjalanan offroad menuju Putuk Gede dan janjian dengan rombongan yang lain untuk ketemu di samping peternakan ayam Wonokoyo. Jalur yang dilalui ketiga orang yang lolos dari jalur licin itu ternyata semakin susah. Ada banyak pohon tumbang dan jalur semakin banyak lubang. Yang pasti jalur tetap licin, bahkan semakin licin karena penuh dengan lumut hijau.

Sekitar jam 15.00 RK, BN dan RB sudah sampai di titik kumpul yang disepakati. Kami menunggu rombongan lain yang lewat jalur alternatif. Tiga puluh menit berlalu dan rombongan belum juga ada tanda-tanda muncul. RK akhirnya menghubungi TT lewat handphone. TT ngomong, “ ini masih di hutan pinus, susah dan Steven sudah mau pingsan!”

Kamipun terus menunggu. Sekitar jam 16.00 mulai terdengar suara motor yang mendekat ke arah kami. Ya rombongan yang kami tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Terlihat wajah-wajah kotor dan kelelahan. Apalagi Steven, sudah pucat pasi.

Setelah diskusi kecil, akhirnya kami memutuskan menyudahi offroad hari itu. Kami turun ke arah jalanan aspal. Tiga puluh menit kemudian akshirnya kami sampai di aspal. Saking bahagianya, Steven sampai mencium jalanan aspal. “Aduh lega sekali akhirnya bisa sampai aspal”, ujar Steven.

Meskipun offroad pendek, karena jalurnya sangat tehnical, peserta puas offroad hari itu. Yang lebih terpenting terjalin kebersamaan antara komunitas trail Surabaya, Sidoarjo dan tim CHEELA dari Malang. Terima kasih untuk sahabat-sahabat dari Surabaya dan Sidoarjo yang telah offroad bersama tim CHEELA. Mohon maaf jika ada kekurangan dan sampai ketemu lain waktu!