Senin, 26 Maret 2012

CATATAN DARI INDONESIAN ENDURO CHAMPIONSHIP (IEC) 2012 DI BATU





Kejuaraan enduro dengan nama Indonesian Enduro Championship (IEC) telah usai digelar di Batu, Jawa Timur pada tanggal 23-25 Maret 2012. Acara yang masih terbilang langka di Indonesia ini boleh dibilang sukses. Pembalap dari berbagai daerah dan klub datang untuk berlaga. Semuanya terlihat puas, meskipun pembalap jadi lemas karena jalur yang disajikan menguras keringat.

Jalur yang disajikan di IEC Batu sangat bagus dan bervariasi. Ada lintasan ala motocross, tetapi tidak ada gundukan tanah untuk jumping seperti lomba motocross atau supercross. Sebagai penggantinya diberi rintangan berupa kayu gelondong, ban mobil, batu dan juga genangan air. Lolos dari sirkuit ala motocross, pembalap masuk hutan dengan jalur yang licin dan single track. Apalagi waktu itu hujan masih mengguyur bumi Kota Batu. Di jalur hutan ini banyak peserta yang harus angkat tangan dan angkat kaki alias KO.

Sukses melewati jalur di tengah hutan pinus, pembalap akan memasuki rintangan yang tidak kalah sulitnya yaitu “sirkuit” di bangunan tua. Di bangunan tua ini pembalap akan dihadang dengan rintangan berupa tangga, masuk lorong dan juga kolam buatan yang disambung dengan tikungan tajam. Di lokasi ini, banyak pembalap yang tumbang dan megap-megap nafasnya!

Variasi dan rintangan di IEC itu diakui sangat menantang. Skill yang mumpuni tidak cukup untuk lolos, perlu dibentengi dengan fisik kuat dan emosi yang stabil. Terbukti, Andre Sondah, crosser nasional dari tim Husqvarna yang skill-nya sudah mumpuni itu tidak bisa finish di grand final kelas utama (E2). Sondah terjebak di kubangan air dan harus mengibarkan bendera putih, tidak bisa melanjutkan balap. Mahkota juarapun akhirnya diboyong oleh Agaritha dari tim Gudang Garam. Hasil lengkap lomba bisa dilihat di: http://indo-dirtbike.blogspot.com/2012/03/hasil-kejuaraan-enduro-iec-di-batu.html

Tim CHEELA yang menurunkan 3 pembalap juga hanya satu yang bisa lolos ke babak final. Dewa yang bertarung di kelas E3 (usia 40 tahun keatas) juga tidak bisa finish, padahal skillnya boleh dibilang mumpuni. Dewa sejak start hingga setengah lapangan sirkuit melesat di depan meninggalkan lawan, namun kemudian terjungkal dihadang balok kayu. Apesnya lagi di jalur hutan, motornya terperosok ke jurang. Akhirnya dia juga harus mengibarkan bendera putih, alias menyerah!

Beragamnya rintangan di jalur IEC ini memang mantap. Penyelenggara IEC ini patut diacungi jempol dalam menyajikan variasi jalur. Apalagi kejuaraan enduro itu relatif masih mainan baru di Indonesia. Kalau di luar sih itu sudah tidak asing lagi. Ada banyak kejuaraan enduro dunia, mulai dari yang “standar” semacam WORC, hingga yang ekstrim seperti “the last man standing”, ‘Romaniac”, “Hell Gate” atau “Ezrberg”.

Masukan untuk Kemajuan Enduro Indonesia

Pelaksanaan IEC 2012 di Batu yang boleh dibilang sukses itu bukan berarti tidak ada kekurangannya. Hal ini wajar, karena ini event yang relatif baru, jadi masih mencari bentuk dan formula yang pas. Terlepas dari kekurangan itu, IEC 2012 patut kita apresiasi dengan tinggi. Masukan dari berbagai pihak patut kita dengar, untuk kemajuan dunia enduro di Indonesia.

Beberapa “kekurangan” di IEC yang bisa menjadi catatan untuk penyelenggaraan event sejenis di masa mendatang yang lebih baik, antara lain:

• Jadwal start balap yang belum pasti. Beberapa kali jadwal balap itu berubah-ubah, sehingga ini menimbulkan kebingungan dan ‘panik’ di pembalap atau crew. Waktu start juga sering molor. Untuk final kelas E1 itu molor karena faktor hujan, ini bisa dimaklumi karena ada faktor alam.

• Nomor start pembalap yang ditempel di motor itu ukurannya terlalu kecil, sehingga menyulitkan penonton untuk melihatnya. Mestinya tulisan angkanya berukuran besar dengan kombinasi warna yang menyolok. Di kejuaraan enduro dunia itu ada standar warna dan ukuran nomor start. Setiap warna itu menunjukan kelas yang berbeda. Misalnya di kejuaraan Grand National Cross Country (GNCC) yang digelar di USA itu nomor start untuk kelas XC1 itu warna dasarnya merah dengan angka warna putih, sedangkan kelas XC2 itu warna dasar hijau dengan angka warna putih. Jadi semuanya terlihat jelas dan menyolok.

• Standar keamanan (safety riding) untuk pembalap juga belum ketat. Terbukti ada pembalap yang diperbolehkan bertanding dengan memakai celana pendek dan sepatu karet.

• Area paddock seharusnya hanya untuk pembalap dan crew, sementara di IEC ini penonton bisa bebas ‘nyelonong’ di paddock. Ini membuat tidak kosentrasi bagi pembalap selain tentu saja lebih rawan soal keamanan barang atau perlengkapan pembalap.

• MC tidak professional. MC berulang kali salah menyebut nama sponsor, misalnya seharusnya disebut Mie Sedap, MC malah menyebutnya Indomie. Sponsor ban Michelin, malah disebut Pirelli. MC juga berulang kali salah dalam melafalkan bahasa Inggris, ini membuat kami jadi tersenyum kecut. Salah menyebut sponsor adalah kesalahan fatal, karena ini terkait dengan branding.

• Akan lebih mantap kalau di lokasi pengecekan motor pembalap itu disediakan tempat sampah untuk menampung sampah bekas sticker yang ditempel di motor, jadi tidak nampak sampah berserakan yang tidak sedap dipandang mata, selain tentunya tidak baik juga untuk alam.

Meskipun ada kekurangan dan hal ini wajar karena masih baru, penyelenggaraan IEC ini juga ada beberapa hal positif yang patut dihargai, antara lain:

• Jalur atau lintasan yang bervariasi dan mantap

• Adanya toilet yang sangat diperlukan oleh penonton atau crew wanita

• Dibukanya kelas motor lokal, sehingga banyak pembalap yang bisa ikut

• Lokasi sirkuit yang mudah dijangkau oleh kendaraan bermotor

Terima kasih untujk penyelenggara IEC yang telah bekerja keras untuk menyajikan yang terbaik! Semoga ini menjadi tonggak baru bagi kejuaraan enduro di Indonesia dan pastinya akan lebih baik di event berikutnya!