Minggu, 16 Desember 2012

Powercross 2012 Dikuasai Crosser Asing


Powercross seri ketiga di Malang yang digelar 16 Desember 2012 yang juga merupakan seri pamungkas dari powercross 2012 itu semakin mengukuhkan dominasi crosser asing. Mahkota tertinggi diusung oleh Jerney IRT dari Slovenia, posisi kedua Luke Wilson dari Australia dan ketiga Agi Agasi dari Indonesia. Muka indonesia diselamatkan dengan menyodoknya Agi Agasi di posisi tiga besar. Selama 3 seri Powercross 2012 ini memang praktis hanya Agasi yang mampu memberikan perlawanan tanggguh dari gempuran crosser-croseer asing itu.


Powercross seri ke-3 di Malang itu diadakan dibawah bayang-bayang mendung menggantung dan rintik hujan. Lintasan yang sebelumnya diguyur hujan, membuat crosser harus berjibaku melawan licinnya lintasan. Mereka jatuh bangun di sirkuit Djagung MX itu. Licinnya lintasan sebetulnya memberikan keuntungan buat crosser nasional, karena mereka terlihat lebih mampu memberikan perlawanan terhadap crosser asing. Namun setelah tengah hari, lintasan semakin kering dan motor bisa dipacu lebih kencang lagi, crosser asing melesat di depan.

Selain Agi Agasi, crosser nasional yang mampu menunjukan performa terbaiknya di Malang adalah Alexander Wiguna. Alexander menunjukan kemampuannya dan sempat bersing ketat melawan Luke Wilson. Namun terlihat setelah melewati 10 putaran, Luke Wilson menunjukan fisik yang lebih baik. Tenaganya seperti tidak pernah habis dan irama ‘menggoyang’ motornya stabil. Akhirnya Luke Wilson bisa menyalip Alexander Wiguna.


Jerney IRT dari Slovenia juga menjukan skill yang mumpuni. Dia sangat cepat sekali dan pantang menyerah. Meski sempat terjatuh ketika bersaing ketat dengan Lopes Andrien dari Perancis, Jerney menyusul lawan-lawannya dengan mantap. Jerney selalu unggul ketika melibas double jump. Terlihat beberapa kali dia terbang melintas di atas motor lawan-lawannya. Dengan kosistensi, skill mumpuni dan semangat tinggi sangatlah pantas Jerney menjadi yang terbaik di Powercross 2012.


Powercross 2012 meski hanya diadakan hanya 3 seri di Kota Banyuwangi, Kediri dan Malang, patut diacungi jempol penyelenggaraannya. IDB menyambut baik penyelenggaraan Powercross di siang hari, karena di tahun-tahun sebelumnya itu diadakan di malam hari yang membuat penonton kurang nyaman karena minimnya penerangan. Harga tiket juga masih ramah di kantong penonton, hanya Rp 25.000. Bahkan di Banyuwangi itu malah digratiskan!

Juara Powercross 2012 kelas MX2 Internasional:

1. Jerney IRT, Slovenia, dari tim Husqvarna MX
2. Luke Wilson, Australia, dari tim Dumasari INK SSR Honda PF-ONE
3. Agi Agasi, Indonesia, dari tim Dumasari INK SSR Honda PF-ONE
4. Lopes Andrien, Perancis, dari tim Husqvarna MX
5. Alexander Wiguna, Indonesia, dari tim Gandasari Enduro 4T INK IRC

Juara Powercross 2012 kelas MX2 Nasional:

1. Agi Agasi, Jabar, dari tim Dumasari INK SSR Honda PF-ONE
2. Alexander Wiguna, NTB, dari tim Gandasari Enduro 4T INK IRC
3. Ivan Harry Nugroho, Jateng, dari tim Dumasari INK SSR Honda PF-ONE ORCA
4. Aldi Lazaroni, DIY, dari tim Gandasari Enduro 4T INK IRC
5. Aris Setyo, Jatim, dari tim Nugroho MX Ardians Gordon Evalube KYT

Selamat untuk para jawaran Powercross 2012, semoga penyelenggaraan Powercross di tahun berikutnya akan semakin lebih baik dan crosser nasional bisa menguasai podium tertinggi! (IDB).

Senin, 10 Desember 2012

Uji Coba Panjang Husaberg TE 300, Motornya Jawara Enduro Ekstrim!


Review tentang Husaberg TE 300 memang sudah banyak dilakukan di majalah dirt bike luar negeri. TE 300 juga mencetak hasil fenomental di berbagai kejuaraan enduro ekstrim dengan pengendaranya Graham Jarvis. Namun kalau hanya membaca review dari bule sih kurang lengkap rasanya, akan lebih afdol lagi kalau melakukan uji coba sendiri. Itulah ciri ulasan dari IDB dan tim Cheela, selalu berdasarkan test ride dan pengalaman sendiri, bukan kata orang lain bro, apalagi kalau hanya berdasarkan gosip belaka, ahh itu sih gak mutu. Makanya biar bermutu, baca terus ulasan IDB tentang Husaberg TE 300 tahun 2012 ini.

Agar hasilnya lengkap, dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk mencoba kemampuan TE 300 di berbagai medan offroad yang berbeda. Mulai dari single track, berbatu, lumpur, tanah padas, padang pasir terbuka, jalur tengah hutan hingga perbukitan. Sengaja dicoba di medan yang variasi, agar bisa benar-benar menyerap kelebihan dan kekurangan TE 300 ketika dipakai offroad dalam waktu lama.

Ketika pertama kali menaiki Husaberg TE 300 terasa kalau motor ini lebih jangkung dibandingkan KTM 350 EXCF tahun 2012. IDB yang tingginya 173 cm masih harus jinjit agar ujung kaki bisa menyentuh tanah. Waduh kalau terlalu tinggi bisa merepotkan nih kalau dipakai di jalur offroad yang susah. Akhirnya suspensi depan (fork) kami turunkan sedikit agar motor lebih rendah dan nyaman dipakai.


Melihat secara fisik, Husaberg TE 300 tahun 2012 ini sama persis dengan KTM 250/300 EXC tahun 2011. Rangka, mesin, cover plastik (kecuali bagian cover tengki) dan suspensi belakang itu 100% sama dengan KTM. Keunggulan TE 300 adalah suspensi depan sudah pakai tipe Close Cartridge, sama kayak di KTM tipe XC (cross country). Jadi boleh dibilang TE 300 ini adalah KTM warna biru bro! Kalau di USA, TE 300 ini identik dengan KTM 300 XCW, hanya beda di suspensi depan saja.

Untuk menghidupkan TE 300 tidak perlu susah payah dengan mengengkol, cukup pencet tombol electric starter di sebelah kanan stang, langsung terdengar bunyi renyah “ding ding ding ding”. Mencoba menghidupkan dengan engkol kaki, dengan dua kali jejakan, motor juga langsung hidup. Di TE 300 yang dipakai pembalap enduro ekstrim, Graham Jarvis, itu malah electric starter-nya dilepas untuk mengurangi bobot motor. Padahal bobot TE 300 ini dari pabrikannya terbilang ringan, hanya 102 kg. Sebagai gambaran, kawasaki KLX 150 yang ukurannya lebih kecil dengan ban belakang 16 depan 19 itu bobot kosongnya 108 kg.

Tenaga traktor dan roket

Setelah beberapa kali mencoba TE 300, power mesinnya benar-benar dahsyat. Terasa sekali tarikan motornya, membuat badan pengendara terasa tertarik ketika gas dibetot. Jika posisi duduk agak ke belakang, roda motor depan terasa mau ngangkat terus. Dengan mengusung mesin 300 cc 2 tak, membuat TE 300 jarang sekali main kopling seperti misalnya ketika memakai KTM 200 EXC. Power bawah TE 300 ini malah mirip sekali motor 4 tak. Tinggal putar gas, motor langsung ngacir, dalam situasi apapun!

Mesin TE 300 layaknya seperti traktor, rajanya ketika dipakai di jalur tanjakan yang ekstrim. Motor enak saja melaju. Di sisi lain, ketika dengan tiba-tiba kopling ditekan setengah, motor akan melaju cepat seperti roket! TE 300 sangat enak sekali dipakai offroad di single track dengan karakter "stop and go”. Maksudnya “stop and go” adalah offroad dengan karakter main buka dan tutup gas dengan tiba-tiba, misalnya di jalur offroad yang penuh dengan tikungan tajam. Bahkan dalam uji coba dengan Kawasaki KX250F yang dikenal dengan tenaga liarnya itu, TE 300 lebih unggul di jalur "stop and go”. TE 300 lebih cepat keluar di tikungan dan melesat cepat bagai roket!


Dengan karekter mesin yang “cepat” itu kami sempat kuatir ketika dipakai di jalur licin di tengah hutan. Kuatir roda akan spin seperti kalau kami memakai motor tipe cross di jalur licin, karena putaran transmisi mesinnya pendek-pendek. Namun kekuatiran itu sirna ketika kami coba di jalur super licin di Gunung Arjuna dan Dampul (arah Bromo). TE 300 mampu melewati “ujian” di jalur licin itu, namun membawanya harus agak kencang. Jika dibandingkan dengan KTM 350 XCWF yang dikenal rajanya jalur licin, memang TE masih ada gejala roda spin di jalur super licin. Namun jika membawanya agak kencang, jalur licin bukan hal yang menakutkan bagi TE 300. Libas saja bro!

Mengendarai TE 300 di jalur terbuka dan double track, akan membuat anda tersenyum lebar. Motor akan melaju dengan cepat dan stabil. Lebih stabil jika dibandingkan motor 2 tak dengan cc lebih kecil lainnya seperti KTM 200 dan KTM 250 EXC/XCW. Ketika dicoba di lautan pasir Gunung Bromo, TE 300 enak sekali melintas tanpa kesulitan di kecepatan tinggi. Suspensi depannya yang tipe close membuat TE 300 nyaman dipakai di jalur pasir.

Dipakai untuk jalan pelan, karakter mesin TE 300 juga enak. Mesin motor tidak mudah mati. Dipakai di jalanan menurun tajam, mesin juga nyala terus, tidak ada gejala mesin mati atau nyendat nyendat. Mesin TE 300 enak untuk dipakai pelan, dahsyat untuk dipakai kencang.

Handling dan Suspensi

Suspensi TE 300 sama persis dengan suspensi yang dipakai Di KTM, keduanya memakai WP. Bedanya untuk suspensi depan (fork) TE 300 itu memakai jenis close cartridge, sama seperti yang dipakai di KTM tipe XC. Kelebihan suspensi ini adalah sangat enak dipakai untuk speed offroad dan jalur yang penuh gundukan. Suspensi akan meredam dengan baik.

Namun suspensi TE 300 jika dipakai pelan, terutama di jalur berbatu, akan terasa keras dan kurang nyaman. Tangan akan terasa cepat pegal. Jauh lebih nyaman suspensi yang ditancapkan di KTM 350 EXCF atau KTM 250 XCW. Namun ketika gas dibetot lebih dalam dan motor dibuat lari kencang, baru terasa “nikmatnya” suspensi tipe close di TE 300. Jadi memang TE 300 maunya dibawa kencang terus, baru terasa kenikmatannya!

Dengan bobot ringan, handling TE 300 sangat enak sekali. Mudah sekali untuk manuver di jalur sempit dan single track. Dengan bobot motor yang lebih ringan, terpaut hampir 10 kg dengan KTM 450 EXCF (4 tak), namun dengan tenaga mesin yang mumpuni, membuat TE 300 enak dipakai di segala kondisi. TE 300 akan sangat mampu bersaing dengan motor 450 cc 4 tak.

Jika dibandingkan dengan KTM 250/300 XCW tahun 2011, TE 300 lebih enak untuk dipakai di tikungan yang tajam. Di KTM itu sudut tekuk stangnya terlalu lebar, jadi sering kesulitan untuk masuk di tikungan tajam.

Untuk speed offroad, TE 300 juga lebih stabil jika dibandingkan saudaranya yang mengusung mesin lebih kecil seperti KTM 200 atau KTM 250 EXC. Setting suspensi depan dan belakang terasa lebih nyaman, tidak ada gejala roda belakang “menari” seperti di KTM 200.

Kesimpulan


Setelah mencoba berulang kali TE 300 di berbagai medan, kami semakin paham kenapa motor ini banyak dipakai di kejuaraan enduro ekstrim kelas dunia. Motornya memang enak bro, cocok untuk offroad di jalur ekstrim! Bobot motor yang ringan dan perawatan yang lebih mudah, menjadikan TE 300 motor pilihan bagi penggemar offroad. TE 300 sama persis dengan KTM 300 EXC/XCW, lha memang dari pabrikan yang sama. Khan Husaberg memang satu atap dengan KTM. Malah bisa dibilang kini Husaberg seakan-akan menjadi kelas premium-nya KTM, karena tambahan beberapa spek yang lebih baik. Tak heran jika harga resmi Husbaerg itu kalau di luar sono harganya lebih mahal $300 hingga $500 dibandingkan KTM di tipe yang sama.

TE 300 bukanlah motor untuk pemula, kalau pemula pakai motor itu dijamin akan kalang kabut dan cepat capek. Bisa-bisa malah sering terjungkal di jalur offroad. Jika anda pemula dan ingin merasakan sensasi motor enduro 2 tak, pilihan paling jitu adalah KTM 200. TE 300 dirancang untuk expert dan profesional.

Kelebihan Husaberg TE 300:
• Motor ringan, namun dengan power mesin yang mumpuni
• Electric dan kick starter
• Perawatan dan setting lebih mudah dibandingkan motor 4 tak
• Fork sudah pakai tipe close cartridge
• Cocok untuk segala medan, mulai single track hingga daerah terbuka

Kekurangan Husaberg TE 300:
• Suspensi depan kurang nyaman jika dipakai pelan di jalur berbatu
• Harus mencampur oli 2 tak ke bensin
• Bukan untuk pemula

Spesifikasi umum:
Mesin: Single cylinder, 2-stroke, 293.2 cc
Starter: Electric dan kick
Transmisi: 6 percepatan
Fuel system: Keihin PWK 36S AG
Suspensi depan: WP-USD Ø 48 mm Closed Cartridqe
Suspensi belakang: WP-PDS DCC shock absorber

PERHATIAN:
Uji coba setiap produk yang dilakukan oleh tim IDB sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi atau marketing produk tertentu. Semuanya murni dilakukan dari sudut pandang konsumen/pengguna secara obyektif.

Hasil Powercross 2012 Seri 2 di Kediri


Powercross 2012 seri kedua yang digelar di Kediri pada tanggal 8-9 Desember 2012 masih dikuasai crosser asing. Untung ada Agi Agassi yang bisa menyodok di posisi ketiga. Juara 1 diraih Jerney IRT dari Slovenia Husqvarna MX team, posisi kedua dipegang Luke Wilson dari Australia Dumasari Ink SSR Honda, dan yang ketiga adalah Agi Agasi dari Jabar Dumasari Ink SSR. Seri ketiga yang juga merupaka seri terakhir akan diadakan di Sirkuit Djagung Malang tanggal 15-16 Des 2012. (IDB)

Selasa, 04 Desember 2012

Agi Agassi Jadi Jawara Kelas Nasional di Powercross Seri 1 Banyuwangi


Powercross 2012 seri satu yang digelar di stadiun Diponegoro Banyuwangi (1/12/2012) untuk kelas internasional masih dikuasai oleh crosser asing. Untuk kelas nasional, Agi Agassi dari tim Dumasari MX berhasil jadi jawara, mengalahkan pesaing beratnya Farhan Hendro dan Andre Sondakh. Agassi meraih mahkota juara itu tidaklah dengan mudah, dia harus berjibaku melawan gempuran Farhan Hendro, Andre Sondahk dan Adi Aprian. Di moto 1 sebetulnya Agassi kalah dengan Farhan Hendro yang meraih posisi pertama, namun di moto 2 Agassi mampu membalasnya dan memaksa Farhan di posisi kelima. Akhirnya nilai total Agassi lebih tinggi dibanding Farhan Hendro.

Powercross seri pertama di Banyuwangi itu diadakan di siang hari, yang memberikan keleluasaan bagi penonton untuk melihat secara jelas aksi crosser yang mendebarkan. Untuk powercross yang di Banyuwangi itu digratiskan, biaya tiket ditanggung oleh pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Tapi anehnya meskipun itu gratis, sirkuit tidaklah terlalu dipadati dengan penonton. Paling tidak itu jika dibandingkan dengan setiap kejuaraan nasional motorcross di Malang yang selalui dijejali oleh penonton, meskipu harus membayar. Padahal powercross di Banyuwanai itu dirancang dengan apik, tertib dan gratis lagi.

IDB sangat salut dengan penonton powercross di Banyuwangi, karena penonton sangat tertib. Tidak ada penonton yang berusaha merusak pagar pembatas dan nyelonong ke tengah sirkuit. Semuanya tertib melihat dengan asyik di tepi sirkuit. Tidak tampak petugas keamanan yang bertampang sangar di sekitar sikurit. Tapi semuanya tertib, padahal ini gratis lho. Salut untuk Banyuwangi!

Suguhan aksi free style di sela-sela pertandingan Powercross membuat penonton bersorak dengan gemuruh. Seakan-akan puncak dari Powercross di Banyuwangi itu adalah aksi free style itu. Apalagi cuaca pada hari itu cerah dan kemudian mendung, tapi tanpa hujan, membuat aksi free styler dan crosser bisa maksimal.

Powercross seri berikutnya akan diadakan di Kediri, Jawa Timur pada tanggal 8-9 Desember 2012 dan seri terakhir akan digelar di Malang pada tanggal 15-16 Desember 2012. Powercross 2012 memang hanya diadakan 3 seri, padahal di tahun-tahun sebelumnya itu minimal 5 seri.

HASIL POWERCROSS 2012 SERI 1 BANYUWANGI:

Kelas MX2:
1. Luke Wilson, Australia, tim Dumasari MX (Honda CRF 250)
2. Lopes Andrien, Perancis, tim Husqvarna MX (Husqvarna TC 250)
3. Agi Agassi, Indonesia, tim Dumasari MX (Honda CRF 250)

Kelas 85 cc:
1. Hakim Uka uka, Kalsel, tim H rahman Bonaharto Ardians (Honda CRF 150R)
2. Joshua Pattipi, Papua, tim Emana Papua Barat MSD (Honda CRF 150R)
3. Tyrel Bullen, Australia, tim Cargloss AHRS (KTM 85 SX)

Kelas Ex Pro:
1. Pieters Tanujaya, Jabar, tim Cargloss AHRS (Kawasaki KX250F)
2. Daniel Tangka, Jatim, tim Husqvarna Djagung MX (Husqvarna TC 250)
3. Tonk Enk, DKI, tim Gapuraning Rahayu BHP (Suzuki RMZ250)

Senin, 26 November 2012

Jadwal Power Cross 2012, Semuanya di Jatim


Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya jadwal pasti Surya Power Cross International Championship(SPCIC) 2012 nongol juga. Kejuaraan power cross yang mirip supercross di Amrik sana itu kali ini hanya akan diadakan sebanyak 3 seri, semuanya di Jawa Timur. Seri pertama akan digelar di stadion Diponegoro Banyuwangi pada tanggal 1-2 Desember 2012, seri kedua di Kediri pada tanggal 8-9 Desember 2012 dan seri ketiga akan diadakan di Malang pada tanggal 15-16 Desember 2012.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Power Cross 2012 ini juga akan diikuri crosser asing seperti Jerney IRT dari Slovenia dan Lewis Stewart (Australia). Pembalap nasional papan atas juga akan terjun di powercross yang kabarnya berhadiah total Rp 90 juta itu, antara lain Farhan Hendro, Andre Sondakh , Aep Dadang, Denny Orlando, dan Aldy Lazaroni. Semoga pembalap tanah air bisa unjuk gigi di ajang ini.

Kabar yang menggembirakan untuk penonton adalah kali ini Power Cross akan diadakan di siang hari, tidak lagi di malam hari seperti tahun-tahun sebelumnya. IDB pernah mengkritisi pelaksanaan Power Cross di malam hari yang minim penerangan, sehingga menggangu kenyamanan penonton. Syukurlah kini Power Cross akan diadakan siang hari, pasti akan lebih nyaman dan enak ditonton. Ayo nonton Power Cross 2012!

Kamis, 22 November 2012

Graham Jarvis, Dinobatkan Jadi Raja Enduro Ekstrim 2012!


Graham Jarvis dengan tunggangannya Husaberg TE 300 merajai berbagai kejuaraan enduro ekstrim kelas dunia di tahun 2012. Dominasi Graham dengan motor 2 taknya itu membuat dia dinobatkan sebagai Kings of Extreme Enduro oleh KoEE yang punya situs http://www.kingsofextremeenduro.com. KoEE menyusun daftar rangking pembalap enduro berdasarkan pencapaian pembalap tersebut di 7 balapan enduro paling ekstrim di planet bumi ini.

Ketujuh balapan enduro ekstrim yang dinilai itu adalah:
1. Tough One (UK), Jan. 15
2. Hell’s Gate (Italia), Feb. 18
3. Erzbergrodeo (Austria), Jun. 7-10
4. Red Bull Romaniacs (Romania), Jun. 12-17
5. Red Bull Sea to Sky (Turki), ?
6. Extreme Lagares (Portugal), Oct. 7
7. Roof of Africa (LSO)

Penilaian dilakukan dengan cara sederhana yaitu di setiap event itu pembalap yang masuk finish posisi pertama akan diganjar nilai 20 poin, posisi kedua 17 poin, ketiga 15 poin, keempat 13 poin, kelima 11 poin, dan seterusnya. Jumlah poin akan ditotal, sehingga akan muncul mana poin yang tertinggi. Peraih poin tertinggi berhak menyandang gelar Kings of Extreme Enduro dan mendapatkan hadiah uang tunai yang berasal dari donatur.

Dengan absennya Taddy Blazusiak di kejuaraan enduro ekstrim tahun ini, Graham Jarvis tidak terbendung lagi untuk mendapatkan mahkota raja enduro ekstrim. Saat ini Taddy Blazusiak lebih kosentrasi di kejuaraan Endurocross dengan hasil yang gemilang juga.

Daftar lima besar pembalap yang masuk dalam daftar Kings of Extreme Enduro 2012 adalah:
1. Graham Jarvis (Husaberg, UK)
2. Jonny Walker (KTM, UK)
3. Ben Hemingway (KTM, UK)
4. Xavi Galindo (Husaberg, Spanyol)
5. Dougie Lampkin (GasGas, UK)

Menyimak daftar pembalap yang masuk deretan papan atas Kings of Extreme Enduro terlihat bahwa kebanyakan pembalap masih memakai motor mesin 2 tak. Ini sekali lagi membuktikan bahwa motor enduro 2 tak masih menjadi raja di kejuaraan ekstrim enduro! Selamat! (IDB)

Selasa, 20 November 2012

Apa Beda KTM tipe EXC, XC, XCW dan SX?


Populasi motor trail dari pabrikan KTM yang bercirikan warna orange itu semakin banyak di Indonesia, apalagi dealer resmi KTM mulai bermunculan di beberapa kota. Ini sangat positif untuk konsumen, apalagi KTM yang asal Austria itu dikenal sebagai produsen motor offroad kelas premium. Dengan slogannya “ready to Race” membuat KTM berada di barisan terdepan di berbagai kejuaraan enduro kelas dunia. Soal kualitas, motor keluaran KTM tidak perlu diragukan lagi, super mantap bro!

Motor KTM menjadi idaman banyak penggila offroad motor trail. Namun ketika niat (dan duit) untuk membeli sudah ada, giliran bingung menentukan pilihan mau beli KTM yang tipe apa, soalnya ternyata tipe motor trail KTM itu banyak sekali. Ada tipe EXC, XC, XCW, SX dan juga edisi six days. Bedanya apa ya? Soalnya banyak yang masih awam, bila salah pilih dalam membelinya, maka jadi berabe urusannya ketika dipakai di medan offroad. Makanya terus simak tulisan sederhana ini untuk membantu bro dan sister memahami beragam jenis tipe KTM untuk varian offroad-nya.


Yang pertama perlu diketahui, kalau tipe motor KTM itu ada huruf “F” itu berarti motor 4 tak, huruf F artinya adalah four strokes. Sekarang kita mulai dari tipe SX yaitu tipe untuk kompetisi di sirkuit motocross. Tipe SX dirancang untuk di sirkuit, tidak untuk main offroad enduro. Dipakai enduro juga bisa sih, Cuma hanya untuk yang skill-nya mumpuni karena karakter mesin dan suspensinya dirancang untuk speed offroad di jalur terbatas. Jadi untuk pemula atau penghobby itu tidak disarankan memakai tipe SX untuk offroad.

Ciri umum KTM tipe SX:
• Suspensi lebih keras
• Close ratio gearbox atau rasio girbok-nya itu rapat atau pendek-pendek karena untuk di sirkuit dan mengejar akselerasi bawah
• Tidak dilengkapi dengan lampu
• Tidak ada jagrak alias standar samping
• Ban belakang ukuran 19 dan depan 21
• Tengki bensin ukurannya lebih kecil
• Electirc starter

KTM tipe SX yang kini beredar itu tipe 85 SX, 125 SX, 250 SXF, 350 SXF, 450 SXF, 125 SX dan 250 SX, Ingat kalau ada huruf “F” nya itu berarti motor 4 tak, kalau tidak ada berarti motor 2 tak. Untuk tipe cros yang ada di Indonesia kebanyakan yang 250 SXF.

Untuk tipe enduro yang banyak beredar di tanah air itu tipe EXC. Tipe EXC ini murni tipe enduro, jadi nyaman dipakai untuk offroad atau juga on road. Tipe EXC ini kalau di USA setara dengan tipe XCW, Bedanya kalau tipe XCW itu tidak dilengkapi dengan kaca spion dan lampu sein. Mesin, rangka suspensi, dan transmisi itu antara tipe EXC dan XCW boleh dibilang sama persis. Paling beda di setting pengapian dan injektor-nya.

Karena dilengkapi dengan lampu, kaca spion dan lampu sein, maka KTM tipe EXC itu bisa dipakai di jalanan raya, tentu saja jika ada suratnya. Intinya tipe EXC itu dirancang untuk legal road.

Ciri umum KTM tipe EXC:
• Suspensi lembut, cocok untuk offroad dan adventure
• Wide ratio gearbox atau rasio girbok-nya itu lebar/luas, cocok untuk offroad
• Dilengkapi dengan lampu
• Ada jagrak alias standar samping
• Ban belakang ukuran 18 dan depan 21
• Tengki bensin ukurannya lebih besar dibanding tipe cross
• Electirc dan kick starter

KTM tipe EXC dan XCW itu antara lain 200 EXC, 250 EXC, 250 EXCF, 300 EXC, 350 EXCF,dan 450 EXCF. Kalau di USA itu tipenya 200 XCW, 250 XCW, 250 XCWF, 300 XCW, 350 XCWF dan 450 XCWF. Ingat kalau ada huruf F berarti itu motor yang mengusung mesin 4 tak.

Apa itu tipe XC?

Tipe XC yang beredar di US itu bisa dibilang penggabungan antara tipe cross (SX) dan tipe enduo (EXC). Tipe XC dirancang untuk kejuaraan cross country yang popular di USA. Kejuaraan cross country ini menggabungkan jalur offroad/enduro dan cross, dituntut untuk speed offroad terus. Beberapa bilang bahwa tipe XC ini adalah tipe kompetisinya enduro.

Tipe XC memakai suspensi depan tipe close cartridge yang dirancang untuk speed offroad, semakin kencang bawa motornya maka akan semakin terasa enak suspensinya. Kalau bawa motornya lambat, cenderung tidak bisa merasakan “nikmatnya” suspensi tipe close yang ditancapkan di XC. Transmisi girboxnya adalah semi close ratio, jadi berada di tengah-tengah antara tipe cross dan enduro.

Ciri umum tipe XC:
• Suspensi lebih keras dibandingkan tipe EXC, tetapi lebih lembut dibanding tipe SX, jadi berada di tengah-tengah. Suspensi depan (fork) pakai tipe close cartridge yang dirancang untuk kompetisi enduro.
Semi close ratio gearbox
• Dari pabrikan, tidak dilengkapi dengan lampu, namun bisa dipasangi lampu
• Ada jagrak alias standar samping
• Ban belakang ukuran 18 dan depan 21
• Tengki bensin lebih besar dibanding tipe SX
• Electric dan kick starter

KTM tipe XC antara lain 105 XC, 150 XC, 250 XC, 250 XCF, 300 XC, 350 XCF dan 450 XCF.


Selain tipe EXC, XC dan SX, ada varian lain yaitu KTM six days. Secara umum varian Six Days itu sama persis dengan tipe EXC, hanya saja ada beberapa penambahan misalnya dilengkapi dengan pelindung knalpot (untuk yang 2tak), pelindung mesin, dan di beberapa tipe itu knalpotnya versi racing. Yang jelas pembeda utama tipe Six Days itu biasanya bajunya (plastik covernya) itu berwarna putih dengan logo atau tulisan Six Days. Six Days sendiri itu adalah nama dari kejuaraan enduro selama 6 hari yang diselenggarakan di Eropa.

Mau pilih KTM tipe apa?

Semua produk KTM itu bagus, sudah teruji di berbagai kejuaraan enduro dan motocross dunia. Tinggal kini disesuaikan dengan peruntukan dan skill anda. Jika untuk motocross atau supercross, jelas pilihannya akan jatuh ke tipe SX. Kalau untuk offroad/enduro atau main ke hutan, maka pilihannya adalah tipe EXC, XCW atau varian Six Days. Tipe-tipe ini sudah dilengkapi dengan lampu dan transmisi yang pas untuk offroad.

Kalau anda cari motor enduro yang juga bisa dipakai untuk latihan ringan di sirkuit motocross, maka pilihan yang pas adalah tipe XC. Tipe XC juga cocok untuk gaya riding anda yang agresif, kalau gayanya melow sih mending tidak pakai tipe XC. Suspensi tipe XC yang lebih keras dibanding tipe EXC akan membuat anda lebih cepat capek kalau fisiknya tidak kuat dan membawa motornya lambat. Tipe XC dirancang untuk speed offroad dan pengendara agresif!

Udah jelas bro dan Sist? Kalau udah jelas, selamat memilih motor KTM idaman anda!

PERHATIAN!
Uji coba setiap produk yang dilakukan oleh tim IDB sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi atau marketing produk tertentu. Semuanya murni dilakukan dari sudut pandang konsumen/pengguna secara obyektif. (Indonesian Dirt Bike/IDB)

Rabu, 31 Oktober 2012

KTM Freeride 350 vs KTM 350 XCFW, Mana yang Lebih Enak?



Kehadiran KTM Freeride menimbulkan rasa penasaran kalangan penggemar dirt bike di tanah air. Tim IDB dan CHEELA berulang kali mendapat request untuk me-review KTM Freeride. Beruntung akhirnya IDB berkesempatan melakukan uji coba KTM Freeride, meskipun tidak terlalu lama. Agar lebih enak menilainya, kami coba bandingkan antara KTM Freeride dengan KTM 350 XCFW tahun 2012. Tipe XCFW ini adalah relatif sama dengan tip EXCF yang banyak beredar di Indonesia.

Dimensi

KTM 350 XCFW itu tinggi jok-nya sudah cukup rendah, enak dipakai untuk orang yang tingginya antara 165 hingga 170 cm. Nah KTM Freeride ini terasa lebih rendah dibanding KTM 350 XCFW, tinggi joknya hanya sekitar 89 cm. KTM Freeride sangat nyaman untuk orang Indonesia yang rata-rata tinggi badannya tidak sampai 170 cm.
Soal berat motor, KTM Freeride juga lebih ringan dibandingkan KTM 350 XCFW. Bobot Freeride sekitar 99,5 kg, sementara bobot KTM 350 XCFW itu sekitar 107 kg, jadi selisih sekitar 8 kg. Dari sudut dimensi, jelas KTM Freeride sangat cocok untuk kebanyakan orang Indonesia.

Suspensi

Dalam uji coba yang lumayan panjang untuk KTM 350 XCFW, kami sangat puas dengan performa suspensinya. Suspensi mampu meredam dengan baik untuk jalur hutan, single track ataupun bebatuan. Suspensi KTM 350 XCFW benar-benar istimewa. Sementara KTM Freeride itu suspensi depan (fork) ukurannya lebih kecil dibanding KTM 350 XCFW, diameternya hanya 43 mm, sedangkan KTM 350 XCFW itu 48 mm.

Meskipun ukuran fork KTM Freeride itu lebih kecil, namun performanya mantap sekali, apalagi untuk jalur single track. Dengan suspensi lebih kecil terasa lebih lincah dan ringan. Namun untuk kestabilan ketika dipakai speed offroad, kami masih lebih suka suspensi KTM 350 XCFW. Tetapi untuk jalur yang susah dan single track, suspensi KTM Freeride sangatlah mantap.

Power dan Handling

KTM 350 XCFW dalam promonya disebutkan punya power mesin ala 450cc, namun dengan handling ala motor 250cc. Sebetulnya secara power mesin, KTM 350 tidaklah sama persis dengan KTM 450, masih ganas 450. Namun soal handling, KTM 350 adalah the best! Motornya ringan, smooth dan mudah untuk manufer. KTM 350 XCFW juga motor yang sangat enak ketika dipakai di jalur yang super licin. Power mesin yang smooth membuat KTM 350 XCFW dengan santai melibas jalur yang licin, tanpa ada gejala sliding!

Sementara KTM Freeride meskipun sama-sama mengusung mesin 350cc, namun powernya masih jauh dibawah KTM 350 XCFW. Tenaga kuda (horse power) KTM Freeride hanya 24 hp, sementara KTM 350 XCFW itu mencapai 45 hp. Jelas kalau untuk daerah terbuka dan speed offroad, KTM Freeride akan jauh tertinggal oleh KTM 350 XCFW.

Namun jika dipakai untuk jalur single track dan di tengah hutan yang penuh dengan tantangan, KTM Freeride akan memimpin di depan! KTM Freeride memang dirancang untuk jalur yang susah. Anda akan dibuat tersenyum lebar memakai KTM Freeride di jalur sempit dan penuh rintangan.

Anehnya meskipun tenaga kudanya lebih rendah dibanding KTM 350 XCFW, kami merasa KTM Freeride lebih responsif dibanding KTM 350 XCFW. Dengan karakter mesin seperti ini, KTM Freeride memang sangat nyaman untuk offroad dengan karakter “stop and go”.
Handling KTM Freeride dan KTM 350 XCFW sama-sama enak. Hanya saja KTM Freeride terasa jauh lebih ringan dibandingkan dengan KTM 350 XCFW.

Pilih mana, Freerride atau 350 EXCF/XCFW?

Untuk pemula, KTM Freeride sangat cocok. Motornya ringan, tenaga tidak terlalu besar, handling nyaman dan tidak membuat cepat lelah. Jika jalur offroad anda lebih banyak single track dan penuh tantangan, Freeride adalah pilihan yang cerdas. Namun jika jalur offroad anda lebih bervariasi dan juga banyak daerah terbuka, KTM 350 XCFW/EXCF adalah pilihan yang pas. KTM 350 XCFW juga lebih nyaman dipakai untuk offroad yang jarak jauh.

Kedua motor ini sama-sama istimewa, tergantung anda yang memilihnya. Jika anda ingin motor yang “santai” dan tidak menguras banyak energi, KTM Freeride adalah pilihan yang tepat. Jika anda pengendara yang lebih agresif dan suka speed offroad, KTM 350 XCFW pilihan yang mantap.

Kalau harga jadi pertimbangan, KTM Freeride itu lebih murah dibandingkan KTM 350 XCFW. Di tanah air, KTM Freeride dilego dengan harga sekitar Rp 105 juta, sedangkan KTM 350 XCFW sekitar Rp 120 juta.

PERHATIAN!
Uji coba setiap produk yang dilakukan oleh tim IDB sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi atau marketing produk tertentu. Semuanya murni dilakukan dari sudut pandang konsumen/pengguna secara obyektif.

Jalur Gunung Bromo-Pananjakan Ditutup


Jalur dari Gunung Bromo menuju Pananjakan ditutup sementara karena ada perbaikan jalan. Ditutupnya jalur ini ketika dua orang anggota tim CHEELA berkunjung ke sana pada tanggal 26 Oktober 2012. Menurut info dari petugas yang ada di lapangan, penutupan itu akan dilakukan sampai pertengahan november 2012. Jalur ditutup total, baik sepeda motor atau mobil tidak bisa lewat.

Jika anda ingin ke Pananjakan masih bisa lewat jalur alternatif yaitu lewat Nongkojajar dan Wonokitri. Untuk jalur offroad, masih bisa lewat jalur Ngawu, Nongkojajar menuju Pananjakan. Namun untuk ke lautan pasir masih belum bisa. Jika mau ke lautan pasir bisa lewat jalur Jemplang, Malang atau Cemorolawang, Probolinggo.

Senin, 22 Oktober 2012

Husaberg dan KTM 2 tak Masih Kuasai Kejuaraan Enduro Ekstrim


Motor enduro 2 tak tidak ada matinya, masih menjadi penguasa di berbagai kejuaraan enduro ekstrim. Ini terlihat dari hasil kejuaraan Red Bull Sea to Sky yang baru saja digelar di Turki (21/10/2012). Lima besar teratas dikuasai motor 2 tak dari pabrikan Husaberg dan KTM. Di posisi teratas dipegang oleh Graham Jarvis yang memakai Husaberg TE 300, posisi kedua diduduki oleh pasukan KTM yaitu Jonny Walker, dan ketiga Paul Bolton yang pakai KTM juga.

Bukan hal baru sebetulnya kalau motor 2 tak (biasanya KTM) itu merajai kejuaraan enduro ekstrim di berbagai belahan dunia. Motornya yang ringan namun bertenaga, membuat motor 2 tak menjadi pilihan pembalap enduro kelas dunia. Husaberg yang kini dimiliki oleh KTM juga meluncurkan motor 2 tak di tahun 2011 yang notabene sama persis dengan KTM. Boleh dibilang motor Husaberg yang 2 tak itu adalah KTM berwarna biru!

Meski di Eropa dan juga USA, motor 2 tak masih sering dipakai, bahkan menjadi raja, kondisinya beda dengan di Indonesia. Motor enduro 2 tak di negeri ini semakin tidak diminati. KTM 200 EXC sempat meraja lela di tanah air 10 tahun yang lalu, namun kini posisinya semakin tergeser dengan motor 4 tak yang sebetulnya perawatannya jauh lebih ribet dibanding motor 2 tak. Konsumen Indonesia dan Eropa memang beda. Pengetahuan tentang motor enduro di Indonesia juga boleh dibilang masih minim, dibandingkan dengan Eropa, USA atau Australia.

Pabrikan motor di Eropa masih terus mengembangkan motor trail 2 tak, seperti KTM, Husaberg, Husqvarna, TM dan Gasgas. Bukti tentang hasil kejuaraan enduro yang menunjukan motor 2 tak masih sangat kompetitif, membuat pabrikan belkum ada rencana untuk menghentikan produksi motor 2 tak (isu ini sempat beredar di Indonesia), justru riset masih berjalan terus. Termasuk kemungkinan akan dikeluarkannya motor 2 tak dengan sistem injeksi!

Hasil lengkap kejuaraan Red bull Sea to Sky 2012:

1. Graham Jarvis (Husaberg) 2hrs 16mins 19secs
2. Jonny Walker (KTM) 2hrs 21mins 36secs
3. Paul Bolton (KTM) 2hrs 30mins 8secs
4. Andreas Lettenbichler (Husqvarna) 2hrs 33mins 13secs
5. Xavier Galindo (Husaberg) 2hrs 33mins 58secs
6. Phillipp Scholz (KTM) 2hrs 51mins 15secs
7. Lars Encokl (KTM) 2hrs 59mins 48secs
8. Harry Neumayr (KTM) 3hrs 19secs
9. Gerhard Forester (Husqvarna) 3hrs 1min 21secs
10. Rene Dietrich (KTM) 3hrs 9mins 36secs

Sumber: http://www.enduro21.com/index.php/component/k2/item/684-red-bull-sea-to-sky-%E2%80%93-mountain-race

Rabu, 03 Oktober 2012

HONDA LUNCURKAN CRF 450 VERSI RELI DAKAR 2013


Honda meluncurkan model trail terbaru yang khusus dirancang untuk reli terganas di dunia, Reli Dakar. Motor yang berbasis CRF 450X enduro itu dirancang dengan ketahanan dan konsumsi bahan bakar yang lebih irit. Maklum jarak tempuh reli Dakar itu ribuan kilometer, jadi perlu motor yang irit namun bertenaga untuk melibas medan gurun pasir. Motor berbasis mesin injeksi ini diklaim bertenaga, stabil, namun konsumsi bahan bakarnya irit.

Motor ini akan berlaga di Rali Dakar tahun 2013 dengan sejumlah pembalap papan atas, antara lain Johnny Campbell (USA), juara 11 kali US Baja 1000, dan juga Helder Rodrigues (Portugal), Felipe Zanol (Brazil), Sam Sunderland (United Kingdom) dan Javier Pizzolito (Argentina). Sebelum berlaga di reli Dakar, CRF 450 ini akan diuji coba di reli Maroko yang akan digelar tanggal 14 Oktober 2012.

Kehadiran Honda CRF 450 versi Dakar ini akan menjadi penantang tangguh buat barisan KTM yang selama ini dikenal menjadi penguasa di Reli Dakar. Kita lihat saja hasilnya nanti!

Selasa, 18 September 2012

GAS GAS AKHIRNYA BUKA DELER DI INDONESIA


Semakin banyak saja pabrikan motor trail kelas dunia buka deler di Indonesia. Setelah Husqvarna dan KTM, kini giliran Gas Gas asal Spanyol masuk tanah air. Hal ini sangat menggembirakan, karena konsumen lebih punya banyak pilihan untuk membeli motor trail yang berkualitas. Harganya juga akan jadi bersaing, tidak lagi mematok harga setinggi langit seperti sebelumnya. Ujung-ujungnya konsumen yang senang, produsun juga tersenyum lebar karena dagangannya laris manis.

Gas Gas bukan merk baru, tapi pabrikan ini sudah jualan motor sejak tahun 1985. Tipe paling terkenal dari pabrikan asal Spanyol ini adalah tipe trial. Padahal Gas Gas juga memproduksi motor tipe enduro seperti tipe EC 250F atau EC 300 (2 tak). Gas Gas juga aktif ikut berbagai kejuaraan enduro dunia. Salah satu pembalapnya yang terkenal adalah Ivan Cervantes.

Selamat atas masuknya Gas Gas di indonesia! Yang lebih terpenting adalah kepuasan konsumen harus diutamakan, jangan sampai beli motor tapi kemudian kesulitan mendapatkan spare part-nya! Seorang teman mengeluh karena pernah beli motor trail Eropa di deler resmi, namun ketika mencari spare part fast moving, malah tidak ada. Parahnya deler tidak menanggapi dengan baik keluhan teman ini, terkesan dicuekin.

Semoga nantinya Gas Gas Indonesia juga menyediakan spare part, layanan servis dan juga layanan purna jual. Kalau layanan ini bisa diberikan, kami yakin Gas Gas akan diterima dan berkembang di Indonesia! Ingat, peribahasa lama: konsumen adalah raja! Selamat untuk Gas Gas!

Info lebih lanjut silahkan lihat website Gas Gas Indonesia: http://www.gasgasindonesia.com/

Senin, 17 September 2012

ANTOINE MEO JUARA DUNIA ENDURO E1 DENGAN KTM 250 EXCF


Antoine Meo memastikan dirinya sebagai juara dunia kejuaran enduro kelas E1 di putaran 14 Enduro World Championship di Finlandia. Dengan menunggangi KTM 250 EXCF, Meo memimpin klaseman dengan meraih poin 237, jauh meninggalkan pesaingnya. Meo yang sebelumnya pembalap Husqvarna itu, kini kariernya semakin mentereng dengan pabrikan KTM yang bercirikan warna orange itu.

Artikel lebih lanjut silahkan baca di link bawah ini:
KTM Meo wins E1 World title!

Minggu, 16 September 2012

Catatan Offroad Jabung-Bromo: DERU CAMPUR DEBU, DAN GEDEBRUK!


Sudah lama sekali tim Cheela tidak offroad dengan tim yang lengkap, maklum banyak yang sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Setelah hampir 5 bulan tidak offroad bareng, akhirnya kami bisa jalan bareng lagi di hari minggu yang cerah (16/9/2012). Tim yang ikut full, minus DD yang terpaksa tidak bisa ikut karena ada tugas mendadak dari kantornya. Offroad kali ini juga istimewa, karena di barisan offroader cewek ketambahan NY yang merupakan istri dari anggota Cheela, RB. Jadi tim CHEELA kini ada dua cewek (tepatnya dua ibu-ibu) yang aktif offroad, yaitu MD dan NY.


Lokasi offroad yang kami pilih adalah ke Gunung Bromo lewat jalur Jabung, Rojo Pasang, Ngawu, dan finish di lautan pasir Gunung Bromo. Start dari rumahnya C005 di kawasan Jabung, Kabupaten Malang. Jalur yang dilalui sangat bervariasi, mulai dari tanah, batu, pasir, ladang, hutan dan perbukitan. Jalurnya mulai dari single track hingga open space. Yang jelas benar-benar asyik, apalagi kami sudah jarang offroad secara full tim.


Karena banyak anggota yang sudah lama tidak offfroad, muncul berbagai keluhan. Ada yang bilang tangan terasa kaku, pantat terasa tebal atau boyok (pinggang) yang sudah tidak lentur lagi bergoyang-goyang di atas motor trail. Meski lama tidak offroad, tetap saja kami memacu motor dengan kencang, speed offroad, ya karena ini memang kesukaan kami. Kalau offroad santai-santai saja, keringat tidak keluar bro!


Meski jalur offroad ke Bromo itu bukan jalur baru buat tim Cheela, perjalanan kami ternyata jadi lama. Start jam 09.20, ehh baru finish jam 18.30 ketika hari sudah gelap. Lho kenapa koq lama? Karena kami harus ngemong NY yang baru pertama kali ini offroad bareng tim Cheela. NY harus jatuh bangun berulang kali untuk mengimbangi irama offroad kami. NY bilang, “aduh saya udah tidak tahu berapa kali nih jatuh!”. Tapi meski jatuh bangun mencium debu dan tanah kering, NY tetap semangat. Benar-benar salut untuk ibu yang satu ini!

Selain faktor ngemong NY yang masih pemula, ada beberapa kejadian yang di luar rencana. Pertama, ban RB bocor ketika sudah sampai di Rojo Pasang, Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan. Kedua, tiba-tiba rem depan Honda CRF 150 yang ditungangngi MD itu terkunci yang membuat MD harus terjungkal mencium tanah aspal. Butuh waktu unhtuk membetulan rem depannya yang katanya ‘masuk angin’, yah kayak orang aja ada masuk angin. Ketiga, TT dan NY sempat tersesat, salah jalur, yang membuat kami harus menunggu lumayan lama.


Terlepas dari kendala yang ada, offroad hari itu benar-benar mengobati kerinduan kami untuk offroad bersama. Semuanya penuh dengan semangat memacu motornya. Menderu di sela-sela debu yang berterbangan. Karena selalu tancap gas, akhirnya banyak yang gedebruk alias terjungkal di jalur offroad. Tubuh dan motor sudah tidak tampak lagi warna aslinya, semuanya terselimuti debu!

Hari itu kami senang sekali bisa offroad bareng lagi bersama sahabat-sahabat yang memang semuanya gila offroad. Meskipun gila offroad tentu saja etika terhadap alam dan masyarakat selalu kami perhatikan. Kalo soal itu sih memang jadi semangat di tim Cheela. Sampai ketemu di jalur offroad berikutnya! (C001)

Selasa, 28 Agustus 2012

5 Days Trail Adventure (bagian 3): KAYUMAS - KAWAH IJEN

Hari keempat

Jam di tangan menunjukan pukul 07.30 ketika kami beranjak meninggalkan Ketapang Banyuwangi menuju Asembagus, Situbondo. Jalanan pagi itu agak sepi, jadi kami bisa memacu motor agak kencang. Memasuki jalanan di kawasan Taman Nasional Baluran, jalan semakin mulus dan lebar karena baru saja diperbaiki. Jalannya meliuk-liuk, namun tidak terlalu tajam. Sepanjang jalan didominasi tanaman jati dan akasia yang meranggas.

Satu jam kemudian, kami sudah sampai di Kota Asembagus yang masuk wilayah Kabupaten Situbondo. Kami kemudian tanya kepada orang yang sedang mencari buah asam tentang arah menuju perkebunan Kayumas. Ternyata pertigaan arah Kayumas sudah terlewati sejauh 1 km, jadi kamipun harus balik arah.

Begitu sampai di pertigaan arah ke Kayumas, kami menghubungi sahabat kami, Maman, yang akan memandu kami menuju perkebunan Kayumas. Tiga puluh menit menunggu, Maman muncul membawa KLX 150 warna hijau. Setelah mengisi bensin, kamipun berangkat menuju perkebunan kopi Kayumas yang berjarak sekitar 40 km dari arah Asembagus.


Tidak sampai 10 menit kemudian jalanan mulai menanjak dan sedikit rusak. Kanan kiri terlihat pohon jati yang kering dan perbukitan batu. Semakin jauh masuk, jalanan semakin rusak. Satu jam kemudian kami sampai di pabrik pengelolaan kopi milik PTPN XII Kayumas. Kami istirahat sebentar, sambil melihat-lihat peralatan pengelolaan kopi dalam skala besar itu.

Meskipun sudah sampai di perkebunan Kayumas, perjalanan kami belum berakhir. Perjalanan offroad kami justru dimulai dari sini, karena setelah ini kami akan menuju arah Plampang, daerah paling terpencil dari perkebunan Kayumas. Jalur menuju Plampang itu 100% offroad. Sepertinya akan mengasyikan.


Jalur menuju Plampang ternyata benar-benar mengasyikan, campuran antara tanah dan batu. Yang bikin senang, jalur kebanyakan berada di tengah hutan yang masih bagus. Jalurnya sempit, selebar tidak lebih dari 2 meter dan di beberapa titik penuh dengan debu yang berterbangan ketika digerus roda motor kami. Jalurnya juga penuh dengan tikungan tajam yang pendek-pendek. Sebentar belok kiri, tiba-tiba sudah harus menekuk stang belok ke kanan. Menjadi tantangan sendiri bagi kami melintas medan offroad dengan motor yang membawa barang-barang ‘segunung’.


Setelah melibas medan offroad sejauh sekitar 25 km, akhirnya kami sampai di Plampang di tengah hari. Lega rasanya bisa sampai di Plampang yang berada di ketinggian 1300 m dari permukaan laut itu. Maman, sang tuan rumah, langsung mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya yang sederhana namun bersih. Ya, hari itu kami akan menginap di Plampang yang udaranya lumayan dingin.


Plampang merupakan bagian dari perkebunan kopi Kayumas. Tempatnya terpencil dan dikelilingi dengan hutan lindung. Plampang uga menjadi jalur alternatif menuju Gunung ijen, namun jalurnya full offroad. Yang menarik di Plampang adalah ini perkebunan yang ramah lingkungan, karena segala jenis perburuan satwa liar itu dilarang. Ini bagus sekali, karena akan membantu pelestarian alam.

Setelah makan siang dengan telur, mie dan rempeyek yang disajikan oleh Maman, kami memutuskan untuk menjajal jalur offroad menuju Kawah Ijen. Barang-barang yang ada di motor kami turunkan, agar lebih mudah manuvernya di medan offroad. Pukul 14.30 kami bertiga meninggalkan Plampang menuju Kawah Ijen lewat jalur offroad, bukan jalanan aspal biasa.

Begitu keluar dari rumah Maman, kami langsung masuk jalanan tanah di tengah perkebunan kopi. Jalurnya sempit, selebar 1,5 meter, meliuk-liuk seperti ular. Kadang naik, kadang turun dan juga track lurus yang panjang. Wow, jalur offroadnya benar-benar keren dan mengasyikan! Karena jalurnya sepi, kami memacu motor dengan kencang. Debupun berterbangan, sehingga motor yang bagian belakang hampir tidak bisa melihat jalur dengan jelas.


Pukul 15.30 kami memasuki perkebunan Blawah. Di kawasan ini ada pemandian air panas yang waktu itu lumayan ramai dikunjungi muda mudi yang lagi mengisi liburan. Dari Blawah kami langsung memacu motor lagi. Jalurnya masih full offroad, bahkan mulai memasuki bukit yang ditumbuhi rumput setinggi semeter. Pemandangan indah sekali dari atas bukit. Di sebuah titik, motor Made sempat terjebak di tanah gembur, sehingga terpaksa kami harus membantu mendorongnya, karena semakin motor digas, roda belakang motor semakin amblas masuk ke dalam tanah.


Gunung Ijen semakin terlihat jelas di depan mata kami. Motor kami pacu lebih kencang lagi di jalur offroad yang menurun. Ketika arah menuju kawah Ijen semakin dekat, ada hal yang tidak kami duga. Jembatan satu-satunya yang menghubungkan jalur ke Ijen itu ternyata ambrol! Wah celaka, padahal kami sudah menempuh perjalanan offroad lumayan panjang untuk menuju daerah ini.

Kami mencoba mencari jalur alternatif, namun ternyata tidak memungkinkan karena harus memasuki jurang. Karena hari semakin sore dan Made terlihat mulai capek dihajar medan offroad, kami memutuskan untuk balik arah lewat jalan kampung. Nyesal rasanya, tinggal selangkah lagi kami bisa menuju jalan ke ke arah Ijen, ternyata harus balik arah gara-gara jembatan yang putus.


Akhirnya kami balik arah menuju Desa Sempol, desa terakhir yang menuju Kawah Ijen. Memasuki Sempol, matahari mulai tenggelam dan beranjak gelap. Karena sudah malam, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen yang tinggal selangkah aja, namun kembali ke arah Plampang. Kami makan malam dulu di Sempol dengan menu nasi goreng plus keripik singkong.

Usai menyantap habis nasi goreng, kami mengisi bensin dan langsung tancap gas kembali ke Plampang. Jalur balik ke Plampang juga full offroad. Jalurnya gelap total, maklum memang jalur di tengah hutan yang tentu saja tidak ada penerangan listriknya. Kami memacu motor dengan lambat karena pandangan terganggu dengan debu tebal. Di beberapa titik ada banyak batu lepas yang membuat tangan kami harus ekstra bekerja kuat untuk menahan goncangan motor.

Jalur yang kami lalui di malam hari itu sempit, hanya selebar 1,5 meter. Di sebuah jalanan yang menurun, tiba-tiba Made terjungkal tersandung gundukan rumput. Faktor fisik yang mulai drop membuat Made tidak kuasa mengendalikan motornya dengan baik. Made bilang, “aduh tanganku sudah gak kuat pegang stang motor nih, istirahat dulu ya”. Kamipun memutuskan untuk istirahat sejenak di tengah kegelapan malam.

Setelah istirahat tidak lebih dari 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke Plampang. Jalurnya masih berupa tanah di tengah perkebunan kopi arabacia. Sekitar pukul 20.00 akhirnya kami sampai di Plampang. Lega rasanya. Begitu terkena penerangan lampu, kami tersenyum melihat motor dan tubuh kami yang penuh dengan debu tebal.

Kami langsung mandi yang ternyata airnya wow super dingin, brrrrrrrr dingin sekali! Habis mandi langsung terkapar di tempar tidur. Kami capek, namun puas sekali bisa mencicipi medan offroad di Perkebunan Kayumas menuju arah kawah Ijen. Kamipun berfikir, lain kami kami akan kembali dengan membawa motor dengan spek full offroad, karena motor yang kami bawa kali ini adalah spek untuk touring adventure.

Hari kelima
Ketika jam masih menunjukan angka 05.00 pagi, kami sudah terjaga dari tidur nyenyak. Kami langsung siap-siap packing untuk berangkat kembali ke Malang, karena target kami sebelum jam 17.00 kami sudah harus tiba lagi di Kota Malang. Apalagi kami prediksikan di jalanan agak macet karena arus balik mudik.


Pukul 07.15 kami berangkat meninggalkan Plampang yang menawan. Jalur yang kami lalui juga masih offroad. Di beberapa titik kami bisa menyaksikan pemandangan yang begtu indah. Terlihat begitu jelas Gunung Ijen dan beberapa gunung lainnya yang terlihat seperti menyelimuti perkebunan Kayumas. Betul-betul indah dan mempesona. Lain kali pasti kami akan kembali lagi.


Perjalanan kembali ke Malang melalui jalur Bondowoso, Jember, Lumajang dan melintas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dari Bromo langsung meluncur ke Malang lewat Tumpang. Karena perjalanan balik ini tidak ada hal yang istimewa, kami rasa tidak perlu deh untuk diceritakan. Namun yang pasti dalam perjalanan selama 5 hari dengan naik motor trail kali ini kami puas dan meninggalkan kenangan yang begitu indah. Terima kasih sahabat-sahabat kami yang menerima kami dengan baik selama di perjalanan. Sampai ketemu di petualangan kami berikutnya! (habis).

5 Days Trail Adventure (bagian 2): BAN BOCOR DI TENGAH HUTAN

Hari Kedua

Jam 5 pagi kami sudah terjaga dari tidur nyenyak di Pantai Bandealit, Taman Nasional Merubetiri. Cuaca cerah sekali dan burung-burung liar ramai bernyanyi menyambut mentari. Kami bangun pagi-pagi, soalnya hari ini kami akan melanjutkan perjalanan lagi ke Bali dengan motor trail. Barang-barang segera kami kemas dan dinaikan ke atas motor Kawasaki KLX 250 yang setia membawa kami berpetualang di liburan idul fitri itu.

Ternyata acara packing barang dan bongkar tenda memakan waktu yang lumayan lama, maklum ada banyak barang yang kami bawa dalam petualangan selama 5 hari itu. Jam di tangan menunjukan pukul 09.20 ketika kami beranjak meninggalkan Pantai Bandealit yang indah. Jalanan full offroad, kombinasi antara batu dan tanah. Beberapa kali kami berjumpa dengan penduduk desa yang menyapa kami dengan ramah.

Jalan yang kami lalui menanjak tajam dengan batu lepas dan lubang kanan kiri. Kamipun mengendarai motor dengan tehnik berdiri untuk menjaga kesimbangan dan mengurangi goncangan tubuh. Tiba-tiba Made yang ada di belakang saya teriak, “sepertinya ban motor saya bocor!”. Saya berhenti dan mengeceknya, celaka memang ban belakang motor Made terlihat kempes pes, sama sekali tidak ada anginnya. Padahal posisi kami waktu itu sudah di jalur offoad di tengah hutan! Ternyata bannya bocor ditembus paku karatan yang mungkin tertancap pada waktu kami melalui kampung nelayan di Pantai Bandealit.


Jika motor terus dipaksa dinaiki pasti tidak mungkin, bisa-bisa peleknya hancur karena jalannya berupa batu yang menonjol tidak karuan. Akhirnya kami memutuskan untuk membongkar ban motor dan membawanya ke kampung nelayan terdekat. Beruntung ada pengunjung yang lewat yang membantu kami membongkar ban motor. Pengunjung itu kaget ketika tahu bahwa salah satu pengendara motor trail itu adalah seorang perempuan!

Setelah dibongkar, ban motor yang bocor itu kami naikan ke KLX 250 dan membawanya ke kampung yang jaraknya 8 km dengan jalan offroad! Untungnya di kampung itu ada tukang tambal ban, kalau tidak ada bisa runyam nasib kami. Ban dalam yang bocor kami ganti dengan yang baru, karena takut bocor lagi di tengah jalan berbatu yang masih panjang. Ban yang bocor tetap kami tambal namun disimpan sebagai cadangan. Hemm semoga saja ban motor kami tidak ada yang bocor lagi!

Setelah ganti ban dalam, bergegas saya memacu motor menemui istri saya yang nungguin motor di tepi jalan di tengah hutan. Kata istri saya, ada banyak orang lewat yang heran, kog ada perempuan sendirian di tepi hutan dengan bawa motor trail tanpa ban!
Usai memasang ban, kami langsung memacu motor melewati jalanan offroad. Setelah 30 menit memacu motor di jalur offroad, kami mulai memasuki jalur di tengah perkebunan Glantangan. Jalurnya yang sepi membuat kami bisa memacu motor, target kami adalah jangan sampai kemalaman sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Jam menunjukan angka 13.25 ketika kami mulai memasuki daerah Pakusari Jember. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah warung yang jual mie pangsit, sekalian mengisi perut yang sudah keroncongan. Setelah setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kea rah Banyuwangi.

Jalur dari Jember ke Banyuwangi berupa jalur aspal yang meliuk-liuk menyisiri Gunung Kumitir. Jalannya mulus, cuma penuh dengan kelokan tajam. Kami memacu motor lumayan kencang, walaupun kadang-kadang harus ekstra hati-hati di tikungan karena motor kami membawa beban barang yang berat di bagian belakang. Jadi kalau keasyikan rebah di tikungan tajam, bisa jadi akan benar-benar rebah mencium aspal Kumitir.

Pukul 14.40 kami sampai di pasar Kalibaru yang sudah masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi. Setelah istirahat sejenak sambil melumasi rantai motor, kami melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Jalanan yang kami lalui berupa aspal mulus. Jalur ini lumayan membuat kami bosan, karena monoton dan lalu lintasnya lumayan padat oleh pemudik.


Tepat pukul 16.30 kami akhirnya tiba di Pelabuhan penyeberangan Ketapang. Untungnya begitu kami melewati loket pembayaran, kami langsung dipersilahkan naik ke kapal. Ternyata kami penumpang terakhir di kapal itu. Begitu kami memarkir motor di dek kapal, beberapa orang lagi-lagi kaget ketika tahu salah satu dari kami adalah perempuan, karena ketika pakai helm adventure full face dan jaket, memang tidak kelihatan kalau Made itu perempuan.

Penyebarangan dari Ketapang ke Gilimanuk Bali berjalan dengan lancar, hanya membutuhkan waktu 45 menit. Pukul 18.15 waktu setempat (waktu di Bali lebih cepat satu jam dibandingkan waktu tanah Jawa), kami sudah mendarat di pulau dewata. Hari sudah mulai beranjak gelap. Kamipun langsung memacu motor ke arah Negara lewat tepi Taman Nasional Bali Barat.

Jalan aspal dari pelabuhan Gilimanuk ke Negara terbilang mulus dan lebar. Kami memacu motor dengan kencang hiingga kecepatan 110 km/jam. Hari semakin gelap dan kami juga mulai kecapekan, maklum seharian membawa motor dan separuhnya adalah jalur offroad. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di Desa Penyaringan, Kabupaten Jembrana. Badan dan otak kami sudah letih, sudah waktunya istirahat daripada celaka di jalan.

Hari ketiga

Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00 kami sudah berangkat meninggalkan hotel untuk berpetualang di daerah Penyaringan sambil mengunjungi saudaranya Made yang memang punya keturunan Bali. Jalur yang kami lalui pemandangannya indah sekali, sawah hijau terbentang luas dengan suasana pedesaan yang asri. Kami tidak menjumpai satupun wisatawan asing di daerah ini, jadi terasa sekali suasana desa tradisionalnya.

Usai menikmati indahnya alam pedesaan di Penyaringan, kami meluncur ke SMP Medoyan untuk menemui seorang guru yang peduli akan lingkungan. Guru yang juga Supporter ProFauna (sebuah organisasi non profit untuk perlindungan hutan dan satwa liar, coba cek websitenya di http://www.profauna.net/id) itu bernama I Nengah Yasa Tenaya. Dia selama bertahun-tahun menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan ke anak didiknya. Aksi nyata dari Yasa itu membuat dia dianugrahi penghargaan oleh pemerintah pusat beberapa waktu yang lalu.


Yasa menyambut kami dengan penuh kehangatan. Kami bicara panjang lebar soal lingkungan dan masalah penyu yang ada di Pantai Perancak. Dua orang guru juga ikut diskusi dengan kami. Terus terang kami kagum dengan semangat guru-guru itu yang mau peduli soal lingkungan, apalagi aktivitas mereka itu sama sekali tidak dibayar.
Setelah panjang lebar diskusi dengan guru-guru, kami bersama-sama meluncur ke pantai Perancak untuk melihat program penyu. Jalan menuju ke Pantai Perancak juga membuat adem mata karena melalui sawah hijau yang terbentang luas sepanjang mata memandang. Suasana desanya juga masih asri.

Kedatangan kami di Pantai Perancak disambut dengan ramah oleh masayarakat lokal yang mengelola penyu. Mereka ngobrol ngalur ngidul sambil menyeruput kopi hitam yang dihidangkan. Ngobrol di tepi pantai Perancak yang sepi itu membuat kami kerasan karena kami selalu suka dengan pantai yang tenang, bersih dan tidak terlalu ramai.


Puas menikmati asrinya Pantai Perancak, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke tanah Jawa. Langit menguning ketika kami mulai meninggalkan Perancak menuju pelabuhan penyebrangan Gilimanuk. Masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi dalam petualangan 5 hari ini, tempat itu adalah Perkebunan Kayumas di dekat kawah Ijen. (bersambung).

Senin, 27 Agustus 2012

5 Days Trail Adventure (bagian 1): BANDEALIT, TAMAN NASIONAL MERUBETIRI

Ketika liburan Idul Fitri, dua orang anggota tim CHEELA yang sepasang suami istri melakukan petualangan berdua selama 5 hari dengan motor trail, mulai dari Gunung Bromo, kemudian menuju Taman Nasional Merubetiri di Jember, kawah Ijen, hingga Pulau Bali. Perjalanan ini benar-benar petualangan, karena motor dilengkapi dengan perlengkapan outdoor termasuk tenda untuk persiapan menginap di hutan. Berikut catatan perjalanannya, yang ditulis oleh RK.

Hari pertama.

Jam di tangan menunjukan pukul 07.55 ketika kami sampai di gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pagi yang cerah namun dingin. Kami memacu motor dengan santai, meliuk-liuk di jalanan semen di kawasan taman nasional itu. Tak lama kemudian kami sampai di Jemplang, pertigaan yang menuju Gunung Bromo. Jika belok kiri akan turun ke arah padang pasir bromo, jika lurus ke arah Gunung Semeru. Setelah berhenti sejenak untuk mengambil foto pemandangan yang begitu indah, kami melanjutkan perjalanan menuju arah Semeru.

Tiga puluh menit kemudian kami sampai di hutan Ireng-Ireng. Hutannya masih bagus dan terlihat ada banyak anggrek liar. Kami berhenti sejenak di tepi sungai untuk istirahat setelah melewati jalanan aspal yang penuh lubang dan hancur di sana sini. Harus ekstra hati-hati melewati jalur Ireng-Ireng ini karena aspal sudah terkelupas dan banyak kerikil berserakan.

Puas menghirup udara segar di hutan Ireng-Ireng, kami kembali memacu motor ke arah Kabupaten Lumajang. Jalanan yang kami lalui masih hancur dan menurun tajam. Sekali-kali kami berpapasan dengan pengendara lain yang menuju gunung Bromo. Lima belas menit setelah melewati batas taman nasional, sekitar pukul 09.00 kami memasuki Desa Senduro yang sudah masuk wilayah Kabupaten Lumajang. Jalanan berikutnya berupa aspal, namun harus hati-hati karena di beberapa titik aspalnya berlubang sehingga sering kendaraan bermotor tiba-tiba melakukan manuver menghindari lubang. Hampir saja saya menabrak sebuah sepeda motor di depan saya yang tiba-tiba belok kanan karena menghindari sebuah lubang.

Sekitar 15 menit kemudian kami sudah melewati Kota Lumajang dan mulai memasuki jalanan aspal menuju Jember yang menjemukan. Saya bilang menjemukan karena jalannya berupa aspal lurus yang seperti tidak ada habisnya. Di sebelah kanan jalan terlihat sungai keruh yang lumayan lebar. Di jalan ini kami bisa memacu motor di kecepatan 80 hingga 115 km/jam.

Matahari semakin tinggi dan panas mulai menyengat tubuh. Kami terus memacu motor di tengah padatnya rombongan pemudik. Jam 12.00 kami mulai memasuki Kota Jember. Setelah terminal bus Jember, kami ambil jalur belok kanan menuju arah Jenggawah. Di Jenggawah, kami istirahat sejenak sambil menyantap makan siang di warung pinggir jalan. Enak sekali menunya, tahu sama sambal pedas, ditambah segarnya air kelapa muda. Hemm nikmat sekali!


Tepat pukul 13.00 kami berangkat meninggalkan Jengawah menuju arah Pantai Bandealit. Kami memilih jalur lewat perkebunan Glantangan, tidak lewat jalan umum yaitu jalur Ambulu. Sengaja kami milih lewat Glantangan, karena jalurnya lebih asyik, lebih banyak jalur offroad-nya dibanding aspalnya. Sementara kalau lewat Ambulu itu jalurnya aspal dan ramai dengan wisatawan yang akan pergi ke Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma. Maklum waktu itu masih suasana liburan hari raya idul fitri, jadi jalanan padat dengan wisatawan lokal yang hendak berlibur ke pantai.

Memasuki perkebunan Glantangan, jalur berupa aspal rusak dengan selingan tanah. Sepanjang jalan ada banyak pohon karet yang bikin adem. Kami memacu motor agak kencang, karena jalanan sepi. D Sekali-kali kami tanya ke penduduk tentang arah menuju Bandealit, karena ini baru pertama kalinya kami lewat jalur Glantangan.

Tidak sampai satu jam kemudian kami memasuki jalur offroad. Jalurnya penuh dengan

batu, tanah dan lubang. Yang bikin asyik adalah kanan kiri berupa hutan yang masih bagus. Beberapa kali kami melihat sekelompok lutung yang bertengger di pepohonan dan elang yang melintas di atas kepala kami. Untung kami bawa motor trail, jadi bisa melewati jalur ini dengan santai, coba membawa motor biasa pasti akan nangis di tengah hutan!

Membawa motor trail di jalur offroad yang motornya sarat dengan muatan barang ternyata tidak mudah. Ketika tikungan tajam, kadang-kadang kami lupa kalau membawa beban, jadi motor dimiringkan, eh tahu-tahu motor mau nyungsep. Ketika ada gundukan tanahpun, kami tidak bisa melibasnya dengan bebas. Harus sedikit pelan, kalau tidak mau barang kami kocar-kacir di tengah jalan di tengah hutan.

Ketika jam di tangan menunjukan pukul 15.00 akhirnya kami sampai di Pantai Bandealit, taman nasional Merubetiri. Kami coba ke kantor resort KSDA, namun sayangnya kantornya sudah kosong melompong, tidak ada petugas yang berjaga. Seharusnya taman nasional itu selalu ada petugas yang piket, karena ini adalah kawasan konservasi alam yang patut dijaga.

Meskipun berada di dalam taman nasional, Pantai Bandealit juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata. Untuk masuk ke pantai ini dikenakan tarif parkir kendaraan bermotor sebesar Rp 2000. Pantainya sebetulnya indah, namun sayang kotor oleh sampah plastik yang berserakan. Membuat tidak sedap dipandang mata.


Akhirnya kami memutuskan tidak jadi menginap di Pantai Bandealit, namun belok arah kiri ke bagian pantai yang lebih sepi. Di tempat yang kami pilih ini benar-benar nyaman, sepi, alami dan banyak sekali burung liar. Tenang dan nyaman sekali. Malam itu kami habiskan waktu dengan menginap di Bandealit sambil menikmati bintang-bintang yang begitu cerah memancar di langit. Kami berujar, “indah sekali alam ciptaan Tuhan ini”. (Bersambung).

Kamis, 16 Agustus 2012

KTM CENTER INDONESIA DILUNCURKAN


KTM, pabrikan motor asal Austria yang bercirikan khas warna orange itu akhirnya resmi menunjuk PT Moto KTM Indonesia (MKTMI) sebagai agen pemegang merek (APM) di Tanah Air. Ini sangat menggembirakan bagi penggemar motor, khususnya motor trail karena KTM dikenal sebagai motor trail papan atas yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Adanya APM KTM ini juga membuat persaingan bisnis motor trail kelas premium di tanah air akan semakin sengit, karena sebelumnya Husqvarna juga sudah duluan membuka delaer di Indonesia. Paling tidak, konsumen akan lebih banyak pilihan dengan harga yang kompetitif.

Seriusnya KTM menggarap pasar Indonesia ini ditunjukan dengan dibukanya KTM Center Indonesia pada tanggal 28 Juli 2012 di Tanggerang. Meskipun jualan KTM Center Indonesia akan difokuskan ke tipe sport Duke 200, namun mereka juga akan memasukan motor tipe enduro dan motocross. Maklum justru nama KTM itu lebih moncer namanya sebagai produsen motor trail enduro kelas atas.

KTM Center Indonesia
Taman Tekno BSD Blok L1 No. 12
Tangerang Selatan
Telepon: 021-75876451


Berikut di bawah berita di tentang KTM Center Indonesia yang dimuat di Kompas Otomotif:

KTM Tunjuk APM di Indonesia

Tangerang, Kompas Otomotif - Prinsipal sepeda motor KTM di Austria secara resmi menunjuk PT Moto KTM Indonesia (MKTMI) sebagai agen pemegang merek (APM) di Tanah Air. "Saya sengaja tidak mau berkoar-koar sebelum memegang lisensi resmi dari sana (Austria) kendati banyak pihak mengaku dan mendaulat dirinya sebagai APM," ujar John Winata, Direktur Pemasaran PT MKTMI, saat acara ramah tamah dengan media dan komunitas di KTM Center BSD, Tangerang Selatan, kemarin (28/7).

Soft launching KTM Center pertama di Taman Tekno BSD, Tangerang Selatan, ini merupakan salah satu realisasi dari berdirinya MKTMI. "Hingga akhir tahun ini kami akan menambah 5 gerai dengan konsep serupa di Jabodetabek," tutur John. Konsepnya, selain menyediakan layanan 3S (Sales, Service dan Spare Part), pihaknya melengkapinya dengan kafe khusus komunitas dan juga komponen aksesoris. Pemilik KTM yang dibeli dari IU (importir umum) juga dilayani.

Duke 200
Kendati masih bersifat pre-launching, pihaknya sudah mulai menjual semua jajaran produk KTM seperti Duke 200 menjadi model favorit yang dibanderol Rp 57,5 juta on the road Jakarta. "Untuk Duke kita sudah siap unitnya dan pelanggan tak perlu menunggu lama," ungkap John.

Duke 200 yang dijual merupakan CBU dari India. Untuk garansi, MKTMI memberikan jaminan selama setahun atau 12.000 km dan itu berlaku untuk semua produk. "Secara total kami menargetkan bisa menjual 1.000 - 2.000 unit pertahun, tentunya kontribusi terbesar datang dari Duke 200 yang memiliki harga lebih menarik dibanding penawaran IU (di atas Rp 60 juta)," tutupnya.

(sumber: http://otomotif.kompas.com/read/2012/07/29/3358/KTM.Tunjuk.APM.di.Indonesia)

Kamis, 09 Agustus 2012

HUSABERG 2013, GANTI MESIN DAN LUNCURKAN VERSI 250 DAN 350


Pabrikan Husaberg sudah mempublikasikan motor trail versi 2013, yang mengejutkan adalah mesin motor 4 tak sudah berganti total. Jika sebelumnya motor 4 tak Husaberg itu mengusung mesin 70 derajat, kini mesinnya mirip dengan KTM. Ini tidak mengherankan karena kini Husaberg juga dimilik oleh KTM yang bermarkas di Austria. Alasan efesien, membuat motor husaberg 4 tak tidak lagi memakai mesin lama, tetapi mesin yang mirip KTM.

Untuk versi 2013 juga ada 3 model baru di barisan motor 4 tak, yaitu FE 250, FE 350 dan FE 501. Untuk FE 250 itu setara dengan KTM 250 XCFW, bahkan disebut-sebut mesinnya identik. Sedangkan untuk FE 350 itu juga sama dengan KTM 350 XCFW. Munculnya tipe FE 250 dan FE 350 ini mengembirakan, karena konsumen lebih punya banyak pilihan dan membuat persaingan semakin ketat.

Husaberg masih mempertahankan motor 2 tak, dengan diluncurkannya tipe TE 250 dan TE 300. Kedua motor ini dilengkapi dengan electric starter. Kalau dibandingkan dengan pasukan orange, kedua motor ini identik dengan tipe KTM 250 XCW dan KTM 300 XCW. Husaberg TE 300 sudah terbukti motor yang mumpuni untuk dipakai di berbagai kejuaraan enduro ekstrim, dan Graham Jarvis telah membuktikannya! (sumber: Dirtbike Magazine).

Kamis, 26 Juli 2012

KAWASAKI KLX 150 VS HONDA CRF 150F



Kehadiran Kawasaki KLX 150 membawa angin segar bagi dunia motor trail tanah air. Harganya yang terjangkau dan tinggi motor yang pas untuk ukuran kebanyakan orang Indonesia, membuat KLX 150 laris manis bak kacang goreng. Aksesoris untuk KLX 150 juga turut tumbuh pesat, mulai dari cover plastik, gir, knalpot, hingga sektor pengapiannya. Sejatinya KLX 150 yang beredar di Indonesia itu adalah perwujudan dari KLX 140 yang beredar di USA. Dasarnya sama, hanya untuk KLX 150 mengalami down spec, agar harganya terjangkau untuk Indonesia. Harga KLX 140 di luar adalah US$ 3,000 atau sekitar Rp 30 juta (kalau masuk ke Indonesia lewat importer umum harganya jadi sekitar Rp 45 juta).

Pesaing KLX 150 (atau KLX 140 di luar) itu adalah Honda CRF 150F dan Yamaha TTR 125 LE. Yamaha TTR 125 ditawarkan seharga US$ 3,190 dan Honda CRF 150F seharga Rp 45 juta. Bagaimana performa KLX 150 jika dibandingkan dengan CRF 150F? Tim CHEELA yang kebetulan memakai kedua motor tersebut akan mencoba membuat perbandingannya, setelah lebih dari dua tahun memakai motor tersebut, dengan catatan kedua motor dalam keadaan standar di sektor mesin dan suspensi. Pergantian hanya di bagian knalpot, yang sama-sama memakai produk AHRS.

Berat Motor

Dimensi fisik CRF 150F sedikit lebih tinggi dan panjang dibanding KLX 150, namun berat motornya justru lebih ringan CRF 150F. Berat kosong KLX 150 itu 108 kg, sedangkan CRF hanya 99 kg, jadi terpaut 9 kg. Suspensi depan CRF 150F juga lebih panjang dibandingkan KLX 150, jadi mampu meredam goncangan lebih baik.
Untuk tenaga mesin yang disemburkan, CRF 150F masih selangkah di depan. Dalam kondisi sama-sama standar, mesin CRF 150F lebih responsif dibandingkan KLX 150. Meski kalah di sektor mesin, KLX 150 justru menang di bagian pengereman. Untuk rem belakang, CRF masih menganut rem tromol, sedangkan KLX 150 sudah pakai disc brake, jadi terasa lebih pakem.

Untuk material motor bagian luar seperti tuas perseneleng, tuas rem kaki, arm, pelk, ban dan tengki, CRF 150F lebih unggul dibandingkan KLX 150. Ini tidak mengherankan, karena KLX 150 memang mengalami penurunan spesifikasi di beberapa komponen untuk mengejar harga jual yang bersahabat.

Handling Motor

Baik CRF 150 maupun KLX 150 sama-sama memakai ban depan lingkar 19 dan belakang 16. Bedanya CRF dari pabrik sudah dilengkapi dengan ban tipe offroad, sedangkan KLX 150 pakai ban dual purpose yang lebih nyaman untuk jalanan raya. Kalau untuk dipakai offroad, ban KLX mesti diganti dulu, sedangkan CRF tinggal tancap gas tanpa perlu mengganti ban.

Handling motor untuk tikungan, keduanya relatif sama. Tetapi ketika dipakai untuk melibas gundukan tanah, KLX harus mengakui keunggulan CRF. Suspensi belakang dan depan CRF 150F lebih enak dalam meredam goncangan. Suspensi belakang KLX 150 terasa agak ‘goyang’ ketika dipakai untuk jumping. Untuk speed alias kecepatan tinggi, CRF 150F lebih stabil dibandingkan KLX 150. Secara umum untuk handling, CRF 150F lebih unggul dibandingkan KLX 150.

Pilih KLX 150 atau CRF 150F?

KLX 150 adalah motor dengan harga terjangkau yang enak untuk dipakai offroad, daripada modifikasi motor biasa jadi trail yang belum tentu nyaman dan aman. Dengan harga dibawah Rp 25 juta, KLX 150 adalah pilihan cerdas bagi konsumen yang ingin punya motor trail. Tinggal diupgrade di beberapa bagian, KLX 150 akan bisa bersaing dengan CRF 150F.

Jika anda punya anggaran lebih dan ingin motor trail yang langsung siap digeber di medan offroad, CRF 150F menjadi pilihan jitu. Namun harganya memang jauh lebih mahal dibandingkan KLX 150, yaitu sekitar Rp 45 jutaan. Baik KLX 150 ataupun CRF 150F adalah motor trail yang cocok untuk kebanyakan orang Indonesia, karena motornya tidak terlalu tinggi. Namun untuk orang yang tingginya diatas 170 cm akan terasa tidak nyaman dan terlihat aneh jika naik kedua motor tersebut. Maklum CRF 150F dan KLX 150 itu di Amrik sana memang diperuntukan untuk anak-anak yang lagi mau belajar motor trail!

Kelebihan KLX 150:

- Harga terjangkau
- Sudah dilengkapi dengan lampu depan dan belakang
- Rem pakai disc brake

Kelemahan CRF 150F:
- Harga cukup mahal
- Tidak dilengkapi dengan lampu
- Rem belakang masih pakai tromol.

PERHATIAN!
Uji coba setiap produk yang dilakukan oleh tim CHEELA dan Indo-Dirtbike sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi atau marketing produk tertentu. Semuanya murni dilakukan dari sudut pandang konsumen/pengguna secara obyektif.