Sabtu, 28 Mei 2011

TIM CHEELA JUARA PERTAMA POWERCROSS MALANG KELAS ADVENTURE




Penggiat petualangan motor trail atau offroad biasanya melakukan offroad di hutan, ladang atau pantai. Namun kali ini beda karena mereka justru terlihat di tengah kota, dalam sebuah sikuit kejurnas powercross! Di Powercross seri 2 di Malang, ada yang berbeda dibandingkan di Powercross sebelumnya, karena untk pertama kalinya dikenalkan kelas adventure. Kelas ini dibuka untuk penggematr petualangan motor trail, bukan untuk pemain professional.

Dalam kelas adventure di Powercross seri 2 itu (sayangnya) hanya khusus untuk motor keluaran parbikan Husqvarna. Meskipun hanya khusus untuk motor husqvarna, pesertta yang ikut tidak kalah “gaya” dengan pembalap professional yang berlaga di Powercross. Mereka juga memakai baju, sepatu dan helm kelas atas. Motorpun juga motor premium, yang harganya diatas Rp 70 juta. Yang membedakan dengan pembalap professional adalah bentuk tubuhnya saja, para pembalap di kelas adventure ini tubuhnya banyak yang terlihat ‘melar’, maklum kebanyakan diisi kaum hobby yang sudah berusia diatas 40 tahunan. Usia boleh 40, tetapi semangat dan gaya layaknya usia 14 tahun bro!

Di kelas adventure ini yang berlaga sekitar 10 orang, semuanya memakai motor Husqy mulai tipe TE 250, TXC 250, WR 250 hingga TE 449. Karena ini balap senang-senang oleh kaum hobby, soal cc mesin motor memang tidak dibatasi. Mau membawa 125 cc atau 450 cc juga boleh, yang penting bisa mengendalikan motornya saja. Dalam balap kelas adventure ini tim CHEELA diwakili oleh Dewa yang membawa bendera tim Djagung CHEELA.

Kelas adventure dimulai ketika hari sudah gelap, setelah mahrib. Lampu-lampu sirkuitpun mulai dinyalakan. Umbrella girl juga berdiri rapid an manis di depan para pembalap kelas adventure. Sifat “alam liar” dari pembalap dadakan itupun muncul melihat umbrella girl yang kinclong itu, seperti biasa suit suit….

Tak lama kemudian para pembalap kelas adventure itupun sudah berdiri di garis start. Gas motor meraung-raung layaknya pembalap kelas atas. Pandangan kosentrasi kedepan memandang sirkuit yang meliuk-liuk dan banyak sekali gundukan tanah setinggi lebih dari 2 meter. Ya lintasan yang dipakai oleh kelas adventure ini juga sama persis dengan lintasan yang dipakai kejuaran powercross.

Begitu bendera start dikibarkan, para pembalap itupun memacu motornya dengan kencang. Begitu memasuki tikungan pertama, Dewa dari tim Djagung CHEELA melesat meninggalkan lainnya. Dewa yang terbiasa melakukan speed offroad bersama tim CHEELA itu jauh meninggalkan teman-temannya (baca: teman, bukan lawan, maklum ini kelas hobby saja). Di satu titik, Dewa sempat terjatuh ketika melakukan jumping, namun dia bangkit lagi dan terus memimpin lomba hingga bendera finish dikibarkan.

Selamat untuk Dewa dan salut untuk teman-teman semuanya yang telah ikut lomba Powercross kelas adventure ini!

Selasa, 17 Mei 2011

‘MOMONG” PEMULA DI JALUR SPEED OFFROAD



“Maaf ya saya jadi merepotkan teman-teman CHEELA, jadi seperti momong”, ujar RB ketika beristirahat di rindangnya pohon setelah melakukan offroad bersama tim CHEELA di hari Selasa yang cerah(17/5/2011). Wajar jika RB berucap seperti itu, karena belum juga satu jam offroad, dia sudah jatuh bangun mengikuti irama tarian tim CHEELA di jalur offroad. RB yang tinggal di Sidoarjo itu menambahkan, “waduh saya kaget, ternyata kalau offroad itu CHEELA kenceng banget, saya jadi keteteran!”

RB adalah pemula di dunia offroad motor trail. Dengan tungangannya Kawasaki D-tracker 150 yang rodanya sudah diubah ke versi offroad, dia kemudian mencoba bergabung dengan tim CHEELA. Perkenalan dengan tim CHEELA diawali lewat dunia maya dan ternyata kemudian berujung ke dunia nyata. Setelah menyatakan setuju dengan kode etik CHEELA seperti misalnya tidak membuang sampah plastik dan putung rokok di hutan, RB-pun mantap untuk gabung dengan tim CHEELA, meskipun ini tidak mudah karena dia harus ikut dulu minimal 5 kali offroad baru bisa diterima sebagai life member CHEELA.

Di hari itu, selain RB, juga ada 2 anggota baru lainnya yang ikutan offroad yaitu RD dan ABR. RD menggunakan KTM 200 sebagai senjatanya, sedangkan ABR memakai KLX 150 warna merah. Semua anggota baru selalu dibawa ke “jalur wajib” CHEELA yaitu jalur Poncokusumo. Jalur ini sengaja dipilih karena jalurnya relatif agak lebar, tidak licin dan banyak gundukan tanah. Jalur sepanjang 60 km ini sangat mantap untuk dipakai speed offroad dan yang terpenting adalah aman untuk pemula.

RK, pendiri CHEELA, mengatakan, “ikut CHEELA itu selain harus peduli lingkungan dan masyarakat sekitar, juga harus suka speed offroad dan tight offroad”. Sambil bercanda RK menambahkan, “kalau naik motor gayanya melow jelas akan tidak cocok dengan gaya di tim CHEELA”. Apalagi jalur-jalur favorit CHEELA kebanyakan adalah single track sehingga dibutuhkan motor yang sehat termasuk sehat pengendaranya.

Meskipun tim CHEELA dikenal pengila speed offroad, kebersamaan tim sangatlah kental dan diutamakan. Tidak akan pernah ada anggota tim, termasuk pemula, yang akan ditinggal apalagi diterlantarkan. Apapun permasalahannya, anggota tersebut akan ditunggu. Jadi dalam kasus RB yang merasa “sungkan” karena menganggap telah merepotkan teman-teman lainnya di CHEELA itu jelas adalah anggapan yang salah. Wajar khan kalau pemula itu perlu “dimomong” alias dibimbing.

Sementara itu RD yang kerja di dunia perjhotelan itu juga terlihat enjoy dengan tim CHEELA. Dia bisa membaur dengan semua anggota tim CHEELA. Demikian juga dengan ABR yang masuk angkatan “Portugal” alias “Persatuan orang tua ugal-ugalan”, terlihat penuh semangat mengikuti offroad mulai pagi hingga petang itu. Karena terlalu semangat, beberapa kali ABR jatuh bangun, bahkan pagar kebunpun tanpa sengaja ditabrak!

Meskipun jari tangan RB menjadi bengkak akibat jatuh, kemudian tangan dan kaki ABR gemeteran karena dihajar medan sejuta gelombang dan RD yang kepanasan hingga buka baju menunjukan badannya yang "berisi", terlihat ketiga orang anggota baru tersebut enjoy dan full semangat. Salut untuk ketiga orang ini!

Untuk anggota baru CHEELA, sampai ketemu di medan offroad berikutnya! Setelah lima kali ikut offroad, baru anda berhak mendapatkan status anggota tetap alias life member CHEELA!

Minggu, 08 Mei 2011

TIM CHEELA MENGASAH KETRAMPILAN OFFROAD MOTOR TRAIL




Minggu (8/5/2011), beberapa motor trail warna hijau dan orange terlihat memasuki kawasan perumahan bukit Villa Tidar, Malang. Semua motor terlihat penuh lumpur. Wajah pengendarnya juga sudah tidak karuan lagi, penuh belepotan tanah basah. Mereka adalah tim CHEELA yang baru saja offroad di seputar sungai Bedengan.

Di hari yang mendung itu, tim CHEELA mengasah ketrampilan dalam mengendarai motor trail di medan offroad. Maklum sebagian besar yang ikut di CHEELA adalah newbie alias pemula, yang memegang motor trail tidak lebih dari setahun. Kalau sekedar naik motor trail di jalur offro-ad sih mereka sudah piwai, namun itu semuanya dilakukan secara ‘insting”, tanpa dibekali tehnik yang benar dalam ber-offroad. Akibatnya sering habis offroad badan menjadi super pegal, atau langsung down ketika melibas jalur single track yang rumit. Atau langsung keteteran ketika diajak speed offroad. Itu semuanya karena tidak dibekali dengan tehnis dasar menekuk motor trail.

Nah untuk itu secara rutin tim CHEELA mengadakan latihan atau istilah kerennya ‘coaching clinic’ tentang tehnik offroad. Orang yang mendapatkan “sampur” untuk berbagai pengalaman itu adalah offroader senior DW dan RK. DW selain offroad juga main motocross. Tunggangan andalannya adalah Kawasaki KXF250. Sedangkan RK adalah offroader senior yang sudah main motor trail sejak tahun 90-an.

Tehnik yang diajarkan adalah berkaitan dengan riding position dan tehnik menikung yang benar. Karena masih banyak yang awam soal ini, ada yang membawa motor trail tetapi posisinya seperti membawa motor mio. Atau menikungnya kaku seperti babi hutan dikejar harimau, nabrak sana, nabrak sini.

Meskipun cuaca kurang bersahabat, anggota tim CHEELA itu penuh semangat mempraktekan tehnik offroad yang benar. Sirkuit yang diguyur hujan menjadi licin. Akibatnya banyak peserta yang jatuh atau maunya belok kiri, lha koq motor jadi muter belok kanan. Jadinya semuanya tertawa terbahak-bahak. Meskipun jatuh, semuanya senang, karena jatuh itu sesuatu yang biasa dalam olahraga ekstrim seperti offroad motor trail itu.

Senyum puas terlihat di wajah BN yang baru saja punya tunggangan baru, KTM 200. BN nyelutuk, “terima kasih sekali diajarkan tehnik offroad ini, sekarang saya jadi lebih PD dalam menikung, pokoknya mantap!”. AK yang pake KLX 150 juga terlihat senang, meskipun pada awalnya terlihat kaku dalam menekuk stang motor, namun setelah diarahkan semakin luwes saja “tariannya” dalam memainkan motor. WW yang pakai KTM 200 juga terlihat semakin yahud dalam mengendalikan motornya, meskipun pada awalnya terlihat kalau tenaga WW kedodoran. Sambil bercanda RK nyletuk, “masih mudah koq loyo ha ha”.

ASBAK PORTABLE UNTUK PEROKOK DI MEDAN OFFROAD


Bagi “pengepul asap” alias perokok yang juga gemar offroad dengan motor sering kebingungan untuk membuang putung rokoknya. Ada sih yang tidak bingung, dengan cueknya langsung membuang putung rokoknya begitu saja di hutan. Kebiasaan membuang putung rokok sembarangan itu kini patut dienyahkan, pasalnya kebiasan buruk itu mempunyai dampak besar terhadap kelestarian alam.

Berbagai penelitian mengungkap bahwa gabus putung rokok itu membutuhkan waktu minimal 10 tahun untuk bisa hancur secara alami. Lama-lama tanah di hutan akan penuh dengan putung putung rokok kalau kita membuangnya sembarangan. Selain ini mengganggu keindahan, jelas itu juga tidak ramah lingkungan. Belum lagi jika di musim kemarau, membuang putung rokok sembarangan bisa memicu kebakaran hutan! Hii mengerikan kalau sampai kegiatan hobby yang seharusnya menyenangkan itu justru membuat “bencana” dengan merusak alam apalagi menyebabkan kebakaran hutan!

Di kegiatan otomotif, banyak perusahaan internasional yang menaruh perhatian besar terhadap masalah rokok ini. Banyak perusahaan internasional itu mensyaratkan atlet yang disponsori oleh perusahaan tersebut harus menghindari rokok. Oakley, produsen optic, salah satu produk andalannya adalah goggle untuk motocross itu juga membuat aturan ketat terhadap atlet yang disponsori-nya. Atlet yang dikontrak dilarang untuk merokok, jika ketahuan merokok maka bisa-bisa kontrak-nya diputus!

Bagaimana dengan penggemar offroad motor trail yang masih merokok namun tidak ingin merusak alam? Solusi sederhana namun susah pelaksanaanya adalah dengan tidak merokok pada waktu offroad. Namun yang sudah terbiasa menjadi “ahli hisap”, tentu tidaklah mudah menghilangkan kebiasaan tersebut. Patut dicontoh adalah kreasi beberapa anggota tim CHEELA yang juga masih giat menghisap rokok. Mereka pantang membuang putung rokok di hutan, dan sebagai konsekensinya mereka membawa “asbak portable”. Asbak tersebut adalah berupa kaleng bekas tempat rokok. Ada juga yang membuat dari bekas tempat rokok yang ada di bus pariwisata. Langkah sederhana juga dilakukan oleh Rinsang, salah satu anggota CHEELA, yang cukup menyimpan putung rokoknya di kantung plastik.

Menyimpan ptuung rokok dalam asbak portable seperti yang dilakukan tim CHEELA itu tidaklah sulit. Kita bisa memanfaatkan tempat apapun yang mudah dibawa dan ada tutupnya. Putung rokok yang sudah disimpan di asbak portable itu kemudian akan dibuang di tempat sampah ketika sampai di rumah, dan asbaknya bisa dipakai ulang. Hemm kalau saja semua perokok yang gemar petualangan dengan motor trail punya kepedulian terhadap alam, tentunya ini akan sangat luar biasa. Bukankah alam sudah memberikan kenikmatan bagi kita, para pengemar petualangan (termasuk dengan motor trail)? Kini saatnya kita membalas “kebaikan” alam itu yaitu dengan meminimalkan kerusakan alam.

Senin, 02 Mei 2011

MATHIAS MUCHUS PENGGEMAR MOTOR TRAIL YANG JUGA PEDULI HUTAN


Mathias Muchus, aktor senior yang juga penggemar dirt bike (motor trail), ternyata peduli akan pelestarian hutan Indonesia. Mathias Muchus yang terbiasa menunggangi motor tipe cross Kawasaki KXF 250 itu menunjukan kepeduliannya dengan mendukung kampanye pelestarian hutan yang dilakukan oleh ProFauna Indonesia (www.profauna.org), sebuah organisasi terdepan yang aktif melakukan perlindungan satwa liar dan hutan Indonesia.

Pelestarian hutan membutuhkan partisipasi aktif semua pihak, termasuk masyarakat yang hidup di kota. Ada banyak cara untuk membantu hutan antara lain dengan hemat penggunaan kertas. Mathias Muchus mengatakan, “Mari kita menggunakan kertas tidak secara berlebihan, gunakanlah seefisien mungkin, karena kertas itu berasal dari olahan kayu-kayu yang didapat dari hutan.

Mathias Muchus juga menghimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah plastik dan putung rokok di hutan. “Sampah plastik itu sulit terurai secara alami. Jika kita pergi ke hutan masukan sampah plastik atau putung rokok anda ke kantung celana dan buang di tempat sampah yang ada di desa atau kota terdekat”, ujar Muchus.

Penggiat kegiatan petualangan dengan motor trail atau offroad roda dua juga sudah sepatutnya untuk mendukung pelestarian hutan., karena mereka juga memanfaatkan hutan untuk menyalurkan hobby-nya. Salah satu cara sederhana adalah dengan tidak membuang sampah plastik dan putung rokok selama melakukan kegiatan offroad di alam. Ini adalah cara sederhana, namun akan sangat besar manfaatnya jika semua orang menerapkan “etika” terhadap lingkungan. Alampun akan tersenyum ramah dengan kita, karena kita memperlakukan alam sebagai sahabat.

Video clips yang berisikan pesan Mathias Muchus tentang pelestarian hutan tersebut dapat dilihat di link berikut: http://www.youtube.com/user/profaunatv#p/u/0/yBZbHRLEs-c