Minggu, 13 Maret 2011

TWO DAYS OFFROAD: DAMPIT-BROMO-LUMAJANG (Bagian 1)





Jam di tangan menunjukan pukul 9.30 pagi ketika kami sampai di Dampit, Kabupaten Malang. Di hari yang cukup cerah itu tim CHEELA akan menemani dua sahabat kami yaitu Monty dan Mike untuk menjajal medan offroad dari Dampit menuju Bromo dan akan tembus ke Senduro Lumajang.

Motor-pun segera kami turunkan dari truck dan double cabin. Tim yang berjumlah 11 orang itu ditemani dengan tunggangan beragam antara lain Husaberg FE 390, KTM 200 XC, KTM 200 EXC, Honda CRF 150F, Kawasaki KXF 250 dan KLX 150. Usai menurunkan motor dari truck, beberapa orang bergegas mengisi perut di sebuah warung di samping pom bensin. Maklum hari itu (12 Maret 2011) kami jam 6 pagi sudah sibuk menaikan motor ke atas truck, jadi banyak yang belum sarapan pagi.

Sekitar jam 10.00 wib kami memulai perjalanan offroad 2 hari ke arah Gunung Bromo. Karena masih di jalan kampung, kami memacu motor dengan santai sambil melemaskan otot tangan dan kaki. Tak sampai 5 menit, kami sudah dihadang oleh jalur tanah di tengah perkebunan tebu. Hujan yang mengguyur di malam hari membuat jalur menjadi licin, apalagi di beberapa titik ada kubangan lumpur. Kami mulai memacu motor dengan kencang, meskipun masih terasa kaku dalam mengendalikan kuda besi.

Setelah melewati perkebunan tebu, kami memacu motor dengan kencang. RK dengam motor andalannya, KTM 200 XC memimpin di depan, diikuti Monty dengan FE 360, DW dengan KXF 250 dan Mike yang memakai KTM 200 EXC. Keempat orang tersebut memacu motor dengan lumayan kencang, sekali-kali ban belakang terlihat sliding karena tanah yang licin. Di belakang keempat orang itu, pasukan KLX 150 terlihat berusaha mengejar.

Tiga puluh menit kemudian, kami sampai di sebuah kampung. Kami menghitung jumlah anggota tim, lho kog kurang satu? Ternyata MD, satu-satunya wanita di tim CHEELA tidak Nampak. Kami menunggu beberapa saat, tetapi MD dengan honda CRF 150F-nya tidak kunjung datang juga. Akhirnya 4 orang dari kami memutuskan untuk balik arah untuk mencari MD.

Lima menit kami mencari MD, di depan terlihat ada banyak orang yang berkerumun di tepi sebuah jurang. Astaga, ternyata MD masuk jurang sedalam 25 meter dengan air sungai deras di dasarnya! Untungnya motor MD tersangkut di sebuah pohon, jadi tidak sampai terseret arus sungai yang deras. Lebih beruntung lagi, di lokasi MD terjun bebas ke jurang itu lagi banyak petani yang sedang berkerja, jadi MD langsung bisa segera dievakuasi oleh para petani yang baik hati itu.

Para petani itu kaget bukan kepalang ketika mereka tahu bahwa pengendara motor trail yang jatuh di jurang itu ternyata seorang perempuan. Kami patut bersyukur meskipun jatuh di jurang yang lumayan dalam itu, MD selamat. Body protector yang dikenakannya, mampu meredam benturan di dadanya. Meskipun dada MD terasa nyeri, namun relatif tidaklah fatal. Coba kalau MD tidak pakai body protector dan helm, pasti ceritanya akan jadi lain. Ini menjadi alasan kenapa soal safety riding di CHEELA itu sangat diutamakan!

Meskipun tulang rusuk MD terasa nyeri, dia dan tim tetap melanjutkan perjalanan offroad. Jalur berikutnya adalah benar-benar surga bagi penggila speed offroad. Jalur berupa tanah dengan banyak gundukan tanah, bahkan gundukan tanah setinggi 2 meter. Kami pun membetot gas dengan kencang melibas gundukan tanah ala super bowl itu. Motor kami dengan entengnya “terbang” layaknya burung elang bido yang dalam bahasa latin disebut Spilornis cheela. Nama burung elang itu yang kemudian diadopsi menjadi nama dari tim CHEELA.

Puas dengan jalur penuh gundukan tanah, sekitar jam 11.45 wib kami sampai di sebuah sungai selebar sekitar 10 meter. Kami melintasi sungai itu dengan tanpa halangan. Jalur berikutnya semakin menantang. Masih berupa tanah dengan banyak cerukan dalam, kubangan lumpur, kadang berbatu dan masih banyak gundukan tanah. Monty yang asli UK itu berujar, “wow track-nya sangat mantap dan amazing!”

Menjelang tengah hari, kami sampai di Desa Mbambang. Setelah melewati jalan sepanjang tidak lebih dari 1 km, kami masuk ke jalur offroad lagi. Jalur terlihat basah dan banyak genangan air. Tak lama kemudian di hadapan kami terpampang jalur ekstrim berupa single track dengan bentuk zig zag menaiki sebuah bukit. Jalur hanya selebar tidak lebih dari 1 meter, dengan sebelah kanan berupa jurang sedalam lebih dari 25 meter.

RK yang berada di barisan di depan, langsung memacu motor orange-nya dengan kecepatan tinggi, merebahkan motornya dan menukuk tajam stang motor untuk bisa melewati jalur itu. Di belakangnya, anggota tim yang lain berusaha mengikutinya. Untungnya di jalur maut ini semuanya bisa lolos, meskipun ada beberapa motor yang harus bekerja extra keras untuk melewatinya. Mike yang dari USA itu berseru, “ saya suka track ini, betul-betul dibutuhkan skill dan tehnik untuk melewatinya”.

Lolos dari jalur zig zag, kami akan melewati jalur single track membelah hutan mahoni. Udara begitu panas menyengat. Hampir semua anggota tim penuh dengan peluh campur cipratan lumpur. DW dengan KXF 250-nya sudah terlihat drop, diapun minta berangkat duluan menembus hutan mahoni, karena dia keburu ingin istirahat. Setelah semua anggota tim berkumpul, kami menyusul DW.

Jalur menuju hutan Mahoni ini betul-betul sempit. Jalur tidak terlihat karena tertutup rimbunnya semak dan rerumputan. Monty berada di barisan depan, disusul oleh RK dan anggota tim lainnya.

Ketika jam menunjukan pukul 13.00 kami akhirnya sampai di tengah-tengah hutan mahoni yang rindang. Kamipun memutuskan untuk makan siang di tengah hutan itu. Baru saja kami akan membuka bekal makanan, tiba-tiba hujan turun lumayan deras. Terpaksa deh kami makan dengan tambahan kuah yang tercurah dari langit. Hemm tetap sedap, karena memang kami sudah lapar setelah dihajar jalur single track menantang.

Setelah sejam istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Untungnya hujan juga mulai mereda. Jalur berikutnya masih full speed offroad! Di jalur ini terjadi adu kecepatan antara DW dan RK. DW dengan KXF 250-nya membetot kencang gas motornya, diikuti dengan RK yang naik KTM 200 XC versi kompetisi enduro. Dua orang ini saling salip menyalip, melibas gundukan tanah, dan menerjang kubangan-kubangan lumpur. Jarak RK dan DW rata-rata terpaut hanya 1 ban saja. Di belakang dua orang gila speed offroad itu, Monty dengan FE 390 “memantau” jalannya “balapan” KTM melawan KXF itu.

Setelah menyebrangi sungai Aran-Aran yang arusnya agak deras, kami akhirnya sampai di Desa Wonokerto. Wakti itu jam di HP menunjukan pukul 15.00 wib. Kedatangan kami di Wonokerto disambut dengan hujan rintik-rintik.

Kami memacu motor menuju arah Desa Pandasari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Di jalur menuju Desa Pandasari ini, masih full gundukan tanah. Bedanya adalah di jalur ini lebih banyak turunannya dibanding tanjakan. DW dan WD terlihat sudah drop fisiknya. RK bercanda, “mas kenapa tangannya kog gemetar, kayak orang sudah manula aja”. DW hanya tersenyum kecut mendengar candaan dari sahabatnya itu.

Tak lama kemudian kami sampai di Desa Pandansari yang sudah beraspal jalannya. Di perempatan menuju Desa Kunci, jumlah tim harus berkurang, DW, EW dan WW harus kembali ke Malang karena ada urusan mendadak. Sementara anggota tim lainnya terus melanjutkan offroad ke Bromo.

Sekitar jam 16.00, tim sampai di Wana Wisata Coban Pelangi. Setelah istirahat sebentar sambil menyeruput teh panas, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Gunung Bromo. Cuara berkabut dan hujan gerimis mengiringi perjalanan kami ke Gunung Bromo. AG dan MD yang berada di barisan depan sampai menggigil kedinginan ketka menunggu rombongan Monty dan Mike yang lagi asyik berfoto ria di sepanjang jalan menuju Bromo. Breerrrrr dingin sekali….

Sekitar jam 5 sore akhirnya kami sampai di Hotel Lava View, Cemorolawang yang berada di bibir lautan pasir Gunung Bromo. Kedatangan kami di Lava View disambut dengan gelegar suara Gunung Bromo yang masih aktif. Asap hitam bergulung-gulung terlihat keluar dari kawah Gunung Bromo. Hari itu Gunung Bromo menunjukan keperkasaannya yang membuat kami merasa “kecil”.

Bersambung ke bagian 2, silahkan lihat di: http://indo-dirtbike.blogspot.com/2011/03/two-days-offroad-dampit-bromo-lumajang.html

TWO DAYS OFFROAD: DAMPIT-BROMO-LUMAJANG (Bagian 2)





Hari kedua, 13 Maret 2011. Offroad di hari pertama yang penuh dengan single track dan speed offroad rupanya membuat kami terlelap semalaman, meskipun kadang-kadang kami harus terbangun karena mendengar suara gelegar Gunung Bromo. Kami semua, kecuali WD, bangun kesiangan. Cuaca yang berkabut tebal dan sedikit gerimis membuat kami malas beranjak dari empuknya ranjang. Rata-rata jam 7 pagi kami baru bangun dan menyiapkan perjalanan offroad selanjutnya.

Ketika jam di tangan menunjukan pukul 9 pagi, semua tim baru siap untuk melanjutkan offroad. Sayang MD yang di hari pertama jatuh ke jurang tidak bisa melanjutkan ikut offroad karena dadanya masih terasa nyeri. MD akhirnya kembali ke Malang dengan mobil double cabin membelah lautan pasir menuju arah Tumpang. Sedangkan tim lainnya melanjutkan offroad ke arah Kandangan.

Tim yang tersisa langsung menggeber gas motor melintas lautan pasir Gunung Bromo. Pasir pagi itu padat karena diguyur hujan, jadi kami bisa puas membetot gas motor. Monty dan Mike terlihat senang bisa merasakan track di kaki Gunung Bromo itu. Monty berulang kali melibas gundukan-gundukan pasir yang banyak terdapat di sekitar Gunung Bromo.

Meskipun jalur menuju arah Kandangan itu lebar, namun kami tetap harus hati-hati, karena di beberapa titik ada “sungai dadakan”. Sungai dadakan itu beberapa diantaranya sedalam 2 meter. Bibir sungai dadakan itu juga labil, sehingga mudah longsor.

Kami memacu motor dengan kencang. Sekali-kali melibas gundukan pasir dan melintas cepat membelah rerumputan setinggi lutut. Selang 1 jam lepas dari Cemorolawang, kami dihadang jalur menantang berupa double track yang penuh dengan lubang dan cerukan dalam. Beberapa lubang akibat gerusan air hujan itu sedalam lebih dari 1 meter. Butuh kewaspadaan tinggi untuk lolos dari “jebakan” lubang-lubang itu.

RK, Monty dan Mike dengan asyiknya melewati doble track menanjak itu. Sementara pasukan KLX yang ada di belakangnya harus kerja extra keras, apalagi WD yang sudah berusia 53 tahun itu terlihat mulai kedodoran fisiknya. Untungnya ada RS, AG dan IN yang bahu membahu menolongnya. Itulah sebuah kebersamaan dalam tim CHEELA.

Di pertigaan menuju Kandangan, Nongkojajar, kami bertemu dengan rombongan trail modifikasi . Rombongan trail modifikasi itu sontak ramai-ramai minta foto bersama dengan Monty dan Mike. Untungnya Monty dan Mike dengan ramah melayani permintaan foto bersama rombongan trail modifikasi dari Desa Tutur, Kecamatan Nongkojajar itu.

Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan offroad menuju Desa Jarak Ijo. Jalur yang kami lalui benar-benar menyenangkan. Jalur berupa single track yang berkelok-kelok mengelilingi Gunung Bromo. Kami harus extra hati-hati karena di sebelah kiri kami adalah jurang menganga sedalam lebih dari 50 meter. Hiii ngeri kalau seandainya jatuh ke dalam jurang itu!

Satu jam kemudian kami sampai di Jemplang. Setelah istirahat sejenak sambil menikmati baso yang lumayan mengurangi rasa dingin, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami akan offroad ke arah Senduro Lumajang lewat jalur Gunung Jantur.

Sekitar 5 menit meninggalkan Jemplang, kami langsung mau jalur offroad. Jalurnya berupa single track menanjak dan penuh dengan semak berduri. Di jalur ini banyak sekali ranting dan pohon tumbang, sehingga kalau kami meleng sedikit saja, bisa-bisa kepala terbentur dahan yang melintang.

Di beberapa titik, kami harus merunduk bahkan menuntun motor karena terhalang pohon tumbang atau semak-semak yang rebah. Perjuangan kami menunduk, merunduk dan kadang tergores duri itu dibayar dengan pemandangan yang indah sekali. Kawasan Gunung Bromo terlihat begitu cantik kami lihat dari posisi kami yang berada di atas Gunung Bromo. It's amazing!

Di jalur single track arah Jantur ini tim yang memakai motor KTM dan Husaberg bisa melewatinya dengan santai. Namun tidak demikian dengan pasukan KLX 150. Tim yang memakai KLX 150 di salah satu titik harus bekerja super keras untuk melewatinya. Roda ban yang ukurannya kecil yaitu ring 16 terlihat spin, tidak mampu melewati tanah padas yang licin. Apalagi fisik WD sudah benar-benar drop. Nafas WD sudah kembang kempis dan katanya, “aduh paha saya sampai kram….”.

Karena tim yang memakai KLX 150 terlihat susah payah melewati jalur itu, akhirnya kami memutuskan untuk lewat jalur biasa menuju Senduro. Jalur biasa itu adalah jalur aspal di tengah-tengah hutan setelah danau Ranu Pani. Meskipun aspal, namun di beberapa titik ada banyak aspal yang hancur dan penuh kerikil, jadi kami harus tetap hati-hati.

Jam 13.30 kami sampai di Desa Ranu Pani. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil makan siang. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Senduro. Jalan berupa aspal rusak di tengah hutan dan berkelok-kelok menurun.

Waktu menunjukan pukul 15.30 ketika kami sampai di Hutan Ireng-Ireng. Di hutan hujan tropis inilah kami berpisah dengan Monty dan Mike. Monty dan Mike akan melanjutkan perjalanan ke Senduro Lumajang untuk bertemu dengan mobil pendukung yang akan membawa mereka ke Bali.

Kami saling bersalaman dan berpelukan. Offroad selama 2 hari bersama tim CHEELA itu begitu berkesan di hati Monty dan Mike. Mereka benar-benar puas bisa menikmati jalur offroad yang beragam, apalagi jumlah timnya juga kecil jadi bisa enjoy. Kami pun berjanji untuk offroad bersama lagi, next time! Sampai berjumpa di medan offroad berikutnya!

Selasa, 01 Maret 2011

OFFROAD BERSAMA JUARA NASIONAL MOTOCROSS AEP DADANG





Awal Maret 2011 tim CHEELA berkesempatan untuk offroad bersama penyandang beberapa kali juara nasional motocross Aep Dadang asal Bandung, Jawa Barat. RK dari tim CHEELA memandu offroad di jalur Poncokusumo dan finish di Gunung Bromo itu. Sebanyak 8 orang yang kebanyakan memakai motor Husqvarna meninggalkan Kota Tumpang jam 10.00 menuju arah Desa Pandansari, Kecamatan Poncokucumo, Kabupaten Malang. Keberangkatan kami diiringi dengan hujan rintik-rintik yang membuat kami harus memakai rain coat.

Sepuluh menit kemudian kami sudah sampai di jalur offfroad yang sedikit menanjak dan penuh dengan ceruk tanah akibat tergerus air hujan yang hampir tiap hari turun di daerah Poncokusumo itu. Kami langsung membetot gas motor, meliuk-liuk dan meloncati gundukan tanah. Melewati track pertama, setelah sedikit bebatuan, kami dihadang oleh jalur yang mengasyikan yaitu jalur double track yang penuh gundukan tanah ala super bowl.

Di jalur “seribu gundukan tanah” itu Aep Dadang yang merupakan juara nasional supercross tahun 2008 itu menunjukan skill-nya sebagai sang juara, Aep dengan TE 250-nya melibas habis gundukan tanah itu, diikuti oleh crosser masa depan Irfan yang menunggangi Yamaha YZF250. Aep dan Irfan yang punya pengalaman dan skill mumpuni di dunia motocross, dengan manisnya melahap “sirkuit alam” di Poncokusumo itu. RK yang juga kenyang asam garam offroad trail berusaha mengimbangi Aep dan Irfan yang melesat di barisan depan.

Offroad kali ini memang penuh dengan crosser. Selain Aep yang menyandang gelar juara nasional motocross beberapa kali, ada Irfan, anak muda yang punya talenta tinggi dan sepertinya punya harapan besar untuk jadi juara di masa mendatang. Ada juga Daniel Tangka, crosser andalan tim Djagung MX yang masih aktif balap di kelas ex-pro. Selain itu masih ada Adit yang juga terbiasa bergelut di sirkuit motocross. Praktis yang ikut offroad di hari yang tidak cerah itu adalah para penggila “speed offroad”, karena meskipun tim CHEELA bukan tim motocross namun dikenal sebagai maniak speed offroad dan jalur single track.

Puas pemanasan di jalur offroad di Poncokusmo, kami langsung menuju arah Bromo. Jalur pulang juga masih penuh gundukan tanah, namun jalurnya menurun tajam, Di jalur ini Aep Dadang, Irfan dan Daniel Tangka asyik terbang melibas gundukan tanah. Bahkan beberapa kali Aep dan Irfan terlihat melewati 2 hingga 3 gundukan tanah sekalligus. Hemm asyik sekali!

Tak lama kemudian kami memasuki Desa Kunci dan langsung membetot gas ke arah Bromo. Sekitar 5 menit kemudian kami sampai di Coban pelangi. Di Coban Pelangi bergabung Edi yang juga membawa TE 250.

Setelah istrihat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo lewat jalur ke arah Kandangan. Jalur yang dilalui berupa single track dengan sisi kanan berupa jurang dengan kedalaman lebih dari 50 meter. Cuaca yang berkabut membuat kami harus extra hati-hati karena jarak pandang kurang leluasa. Apalagi di beberapa jalur ada banyak ranting pohon yang melintang. Terbukti di jalur ini kepala Daniel Tangka sempat terbentur potongan dahan yang melintang. Untung saja dia pakai helm jadi tidak sampai membuat kepala benjol.

Jalur yang kami lalui banyak lubang dalam. Jalur juga sangat sempit jadi membutuhkan kosentrasi dan feeling tinggi. Adit yang membawa Yamaha WRF 250 sepertinya kurang terbiasa offroad di jalur sempit dan penuh lubang. Beberapa kali dia mengerem mendadak, sehingga bikin kalang kabut pasukan yang ada di barisan belakang. Beberapa kali Daniel Tangka yang membawa Husqvarna WR 125 nyaris terjungkal karena menghindari Adit yang mengerem mendadak.

Sukses melewati jalur single track Kandangan, rombongan akhirnya sampai di lautan pasir Gunung Bromo. Di lautan pasir yang juga penuh bukit pasir ini para crosser menunjukan keahliannya. Aep, Irfan, Adit dan Daniel Tangka asyik terbang melibas puluhan gundukan dan bukit pasir yang ada di Gunung Bromo.

Puas “terbang”, kami melanjutkan perjalanan ke arah Cemoro Lawang. Di dekat Pura yang ada di kaki kawah Gunung Bromo, kami berjumpa dengan Pak Ogik yang sempat “kesasar” ketika rombongan menuju arah Poncokusumo. Akhirnya kami sama-sama menuju Hotel Lava View di Cemoro Lawang untuk mengisi perut.

Sekitar jam 15.00 wib kami sampai di Hotel Lava View. Semua terlihat kelaparan, maklum sudah sore hari dan rombongan tidak ada yang membawa bekal makanan. RK yang terbiasa membawa bekal makanan dan minuman, adalah satu-satunya orang yang tidak memesan makanan di restoran Lava View. Idealnya ketika offrtoad itu lebih baik membawa bekal makanan dan minuman yang cukup, karena kita tidak tahu apakah bisa finish tepat waktu atau mungkin malah “diharuskan” makan di tengah hutan. Apalagi jika punya catatan penyakit mag, hemm wajib hukumnya untuk membawa bekal makanan, kalau tidak mau masuk rumah sakit.

Usai makan, kami melanjutkan perjalanan membelah lautan pasir menuju Jemplang. Di jalur pulang ini kami membetot gas dengan kencang. Motor melesat di atas pasir yang padat akibat tersiram air hujan. RK, Irfan dan Aep berada di barisan terdepan melintas lautan pasir sepanjang 2 km itu.

Tak lama kemudian kami sampai di Coban Pelangi. Kamipun dengan senyum penuh kepuasan melakukan salam perpisahan. Sebuah pengalaman mengesankan, offroad bersama Aep Dadang yang ternyata piwai juga menekuk stang motor enduro di jalur offroad. Sampai ketemu di jalur offroad berikutnya!