Sabtu, 08 Oktober 2011

OFFROAD PUJON: BERPACU MELAWAN DEBU





Pukul 9 pagi lebih, tim CHEELA beranjak meninggalkan sekretariatnya untuk memacu adrenalin di jalur offroad di akhir pekan yang cerah itu. Rombongan berjumlah 9 orang dengan tunggangan KXF 250, KTM 250 XCW, KTM 200, Husqy TXC 250 dan Kawasaki KLX 150. Seperti biasa, rombongan memacu motor dengan pelan ketika melewati perkampungan dan jalan raya.

Tidak sampai lima belas menit kemudian, jalur mulai memasuki jalan pematang sawah yang penuh dengan cerukan bekas alur ban. Tim langsung memacu motor agak kencang. Motor meliuk-liuk di tengah pematang sawah, seperti tarian gadis petani menyambut panen padi. Upsss tiba-tiba BN dengan KTM 200-nya terjungkal mencium keringnya tanah persawahan! Di jalur sawah ini memang perlu hati-hati, karena meskipun jalannya datar, namun penuh dengan cerukan tanah yang terkadang tertutup oleh rumput. Perlu kosentrasi tinggi untuk melahap medan seperti ini.

Tak lama kemudian tim memasuki jalur offroad di Karangploso. Jalurnya selebar satu meter, sedikit menanjak dan tanah sedikit berdebu. Begitu mencum aroma tanah, tim langsung membetot gas motor dengan kencang. Speed offroad dimulai di jalur ini. RK memimpin di jalur ini dengan kuda besinya KTM 250 XCW, kemudian disusul DW dengan KXF 250 dan RB dengan TXC 250.

Ketika tim memasuki jalur offroad di dekat peternakan ayam Wonokoyo, tim kehilangan sweeper dan seorang anggota. Hemm kemanakah WW yang jadi sweeper? Ternyata WW salah jalur, seharusnya belok malah keasyikan menarik kencang gas motornya di jalaur yang lurus. Begitu jumlah anggota tim sudah komplit, tim langsung melanjutkan perjalanan offroad arah Bumiaji Batu lewat jalur Gunung Putuk Gede.

Di jalur Putuk Gede, jalur berupa full single track. Ini adalah jalur kesukaan tim CHEELA, jalur yang penuh rintangan, meliuk-liuk, menanjak dan sempit. Butuh jam terbang tinggi dan kosentrasi penuh untuk menaklukan jalur ini. Yang bikin harus super waspada adalah jalur ini penuh dengan debu. Begitu motor di barisan terdepan melesat, debu berterbangan laksana bom meledak. Tim yang berada di barisan belakang harus ekstra hati-hati kalau tidak mau menabrak pohon karena pandangan terhalang total.

Melalui jalur pegunungan ini lumayan menjadi siksaan bagi DW yang menunggang KXF 250. Power motor memang sangat mantap, namun sayangnya motor sangat susah untuk dihisupkan. Jadi beberapa kali DW harus mendorong motornya agar bisa hidup. Hal ini menguras energi DW yang sudah “senior” usianya. RK, sang sahabat, sambil bercanda berujar, “makanya mas segera ganti KTM, biar mantap melibas jalur offroad-nya”

Jam di tangan menunjukan pukul 11.30 ketika tim sampai di Gandon. Tim istirahat sejenak, untuk melepas urat syarat yang tegang setelah dipacu untuk melahap medan offroad. Lima belas menit kemudian, tim melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur berupa jalan berbatu di tengah perkebunan apel. Tim memacu motor dengan santai, maklum banyak petani yang sedang bekerja di perkebunan, jadi kami harus menghormati mereka.

Setelah melewati perkebunan apel, kami berhenti sejenak di sebuah toko untuk menambah perbekalan air minum. WW memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberi minum KTM 200-nya. Sementara BN malah asyik menyantap kue, katanya untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Tim CHEELA kemudian memasuki Desa Kungkung, Batu. Tidak sampai lima menit, kami langsung dihadang jalur tanah di tengah hutan pinus. Jalur selebar 1 meter itu meliuk-liuk tajam, hemm sangat menyenangkan untuk memacu adrenalin. Tim langsung tancap gas motor, menari-nari di tengah hutan pinus yang kering itu.

Tak lama kemudian, jalur semakin menyempit. Jalur selebar tidak sampai setengah meter, dengan sebelah kiri jurang menganga sedalam lebih dari 100 meter! Wow ngeri kalau sampai terjungkal ke bawah. Beberapa anggota tim sempat ketar-ketir melewati jalur ini. Namun bagi RK dan DW yang sudah kenyang asam garam dunia offroad, jalur ini dilahapnya dengan kecepatan tinggi. Hasilnya adalah debu membumbung tinggi, menyaput badan tim CHEELA lainnya yang ada di barisan belakang. Wajah semua tim terlihat seperti monster karena penuh debu putih.

Sebelum jam 12.30 kami sudah melewati jurang buntu yang ada di kawasan Pujon, Kabupaten Malang. Tim langsung memacu motornya ke arah air terjun Coban Rondo. Kami kemudian memutuskan untuk makan siang di bawahnya rindangnya pohon di kawasan Coban Rondo. Pemandangan di depan kami sangat indah sekali, yaitu kawasan pemandian air panas Songgoriti.

Setelah istirahat satu jam sambil menyantap bekal makan siang, tim melanjutkan offroad kea rah Gunung Panderman. Jalur masih berdebu dan single track. Di beberapa titik, jalur menikung tajam dengan sebelah kiri jurang dan kanan berupa tebing batu. Di jalur ini RB sempat terjungkal di sebuah tikungan.

Lolos jalur Gunung Panderman, tim melanjutkan offroad kea rah dau lewat jalur offroad di tengah-tengah hutan pinus. Lagi-lagi jalur masih single track. Tim memacu motor dengan kencang. Sekali-kali terlihat motor rebah di tikungan tajam. Ban depan motor juga sekali-kali terangkat ke atas terbawa power motor yang dahsyat.

Hari beranjak sore ketika tim memasuki jalur offroad di Perinci, Dau. Jalur kebanyakan masih single track dan menanjak tajam. Di jalur ini, terlihat DW sudah mulai drop. Motor KXF-nya yang sulit dihidupkan membuat DW terkuras energinya. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi offroad hari itu. Apalagi beberapa anggota tim CHEELA harus pulang ke Sidoarjo yang jaraknya sekitar 80 km dari Kota Malang.

Kami turun gunung dengan senyum puas. Meskipun badan dan motor penuh debu, kami sangat puas bersenang-senang di hutan pada hari itu. Puas bisa offroad bersama tim CHEELA yang penuh dengan persahabatan dan kesetaraan. Sampai ketemu di jalur offroad berikutnya! (C001).