Jumat, 21 Oktober 2011

CAMPURAN OLI MOTOR TRAIL ENDURO 2 TAK


Motor trail 2 tak tidak mati, never die, karena motor ini masih banyak dipakai di berbagai kejuaraan enduro dunia. Pabrikan motor Eropa seperti KTM, Husaberg, Husqvarna dan TM masih memproduksi motor berbasis mesin 2 nada. Bahkan di berbagai kejuaraan enduro ekstrim, motor 2 tak masih merajai, mengasapi motor 4 tak. Ini fakta dan hasil balap yang tidak terbantahkan.

“Kelemahan” dari motor trail enduro 2 tak adalah bensin harus dicampur oli. Oli langsung dimasukan ke dalam tengki bensin, karena kebanyakan tidak ada tempat oli terpisah seperti motor trail lokal Suzuki TS 125. Sebetulnya mencampurkan oli langsung ke dalam tengki bensin ini lebih aman, karena memastikan bahwa bensin yang ada adalah sudah tercampur dengan oli. Kalau oli ditempatkan di tempat yang terpisah, rawan lupa untuk mengisi oli dan kalau sampai ini terjadi, anda akan menangis kayak anak kecil minta permen karena mesin bisa-bisa jebol!

Oli 2 tak apa yang cocok dan berapa perbandingannya dengan bensin? Untuk oli samping (oli 2 tak) wajib memilih yang ada kodenya JASO FC. Coba lihat di kemasan botol oli-nya pasti ada kode JASO-nya, misalnya JASO FB atau JASO FC. JASO (Japanese Automotive Standards Organization) adalah organisasi yang mengatur standarisasi otomotif buatan Jepang. Kalau JASO FB itu spek-nya masih rendah, biasanya berbahan dasar mineral, dan asapnya masih lumayan tebal. Tapi kalau ada kode JASO FC, ini biasanya sudah berbahan dasar semi sintetis atau sintetis, sehingga asapnya lebih tipis.

Pemakaian oli 2T yang ada kode JASO FC juga akan membuat motor lebih awet, karena pembakaran efesien. Jangan kuaitr, di pasaran masih banyak yang jual ole 2T yang memenuhi standar JASO FC seperti merk Shell, Motul, Maxima dan juga versi pabrikan Kawasaki yang dipakai untuk ninja 150. Jadi kalau mau motor 2 tak-nya awet dan lebih ramah lingkungan, pastikan pakai oli 2T yang memenuhi standar JASO FC.

Setelah ketemu tipe olinya, yang juga kadang membingungkan bagi kebanyakan dirt bikers adalah berapa perbandingan campuran oli dan bensin yang benar? Coba lihat buku manualnya, pasti pabrikan telah merekomendasikan berapa campuran oli-nya, misalnya KTM 200/250/300 yang tahun 2008 keatas itu merekomendasikan perbandingan oli dan bensinnya adalah 1:60. Apa maksudnya?

Perbandingan oli 2T dan bensin di KTM 1:60 itu artinya adalah 1 liter oli untuk 60 liter bensin. Jadi kalau 1 liter bensin itu campuiran olinya adalah 16,6cc atau jika untuk 10 liter bensin itu maka campuran olinya adalah 166cc. Amannya sih dibulatkan saja menjadi 170 cc untuk 10 liter bensin.

Beberapa orang itu memakai campuran oli lebih banyak, agar mesin lebih dingin, misalnya 175cc untuk 10 liter bensin (sama dengan 17cc untuk 1 liter bensin). Beberapa bahkan pakai campuran 20cc untuk 1 liter bensin. Untuk kami sendiri selama bertahun-tahun memakai campuran oli 17cc untuk 1 liter bensin di KTM 200 tahun 2008-2010, dan selama ini tidak ada masalah. Mesin motor awet, tidak terlalu berasap dan larinya masih super kencang!

Kalau campuran oli 2T terlalu banyak, selain asap knalpot akan lebih tebal, juga akan membuat ruang bakar lebih cepat kotor, bahkan sampai timbul kerak. Kebanyakan oli juga bisa membuat justru tenaga motor jadi drop. Jadi paling enak adalah pakai campuran oli yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan karena takarannya sudah pas, tidak kekurangan dan tidak berlebih. (C001).

Jumat, 14 Oktober 2011

UJI COBA KTM 250 XCW TAHUN 2011 DI MEDAN OFFROAD





KTM 250 XCW tidaklah terlalu banyak populasinya di Indonesia, beda dengan ‘adiknya’ yaitu KTM 200 EXC. KTM 200 EXC sejak tahun 1990-an menjadi salah satu favorit penggemar offroad trail di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bobot motor yang ringan, handling mudah, power dahsyat dan perawatan yang mudah, membuat KTM 200 yang mengusung mesin 2 tak itu menjadi pilihan utama bagi banyak penggila offroad motor trail.

Nah bagaimana dengan KTM 250 (2 tak), apakah performanya juga mantap seperti adiknya KTM 200? Beruntung tim CHEELA bisa mencoba KTM 250 XCW yang banyak dipakai oleh pembalap top di berbagai kejuaraan enduro ekstrim dunia. Tim uji coba adalah RK dan DW, dua orang yang sudah banyak makan asam garam dunia offroad motor trail. RK dan DW sudah biasa memakai berbagai tipe motor trail baik tipe enduro maupun MX, mulai dari 125 cc hingga 450cc.

KTM 250 XCW yang diuji coba adalah keluaran tahun 2011 yang masih fresh alias baru. Uji cobanya tidak dilakukan di sirkuit, namun langsung di medan offroad dengan berbagai tipe jalur yaitu single track, pegunungan, hutan, tanjakan ekstrim, turunan, pasir, jalan berbatu hingga sungai. Motor yang baru keluar dari pabrik itu langsung dijajal di jalur offroad, sekaligus untuk menguji slogan KTM ‘ready to race’.

Begitu kami menaiki KTM 250 XCW, tersasa motor ini lebih tinggi sedikit dari KTM 200 tahun 2010. RK yang punya tinggi badan 173 cm harus jinjit kakinya ketika nangkring di atas jok motor. Begitu tombol electric starter dipencet, motor langsung berbunyi renyah “ding, ding, ding…”, khas motor 2 tak. Ya jangan kaget, meskipun KTM 250 XCW adalah motor 2 tak, namun sudah dilengkapi dengan electric starter, selain juga kick starter. Wow pasti menyenangkan, motor enduro 2 tak namun dilengkapi dengan electric starter!

Ketika gas motor ditarik, wow motornya terasa ringan sekali dengan power yang mantap! Menaiki KTM 250 XCW serasa memakai motor yang sudah lama dipakai, cepat sekali adaptasi dengan motor ini, tanpa terasa kikuk. Power motor besar, namun tidak liar, smooth dan mudah diprediksi. Power model seperti ini akan sangat membantu di jalur single track.

Handling motornya…..hemmm sangat luar biasa enak! KTM 250 XCW sangat mantap untuk diajak menikung, rebah di tikungan tajam, dan melibas jalur single track. Bobot motor yang ringan dipadu dengan power mesin yang dahsyat, membuat KTM 250 XCW menjadi monster di jalur single track atau jalur sempit di tengah hutan! Dibandingkan KTM 450 EXC (4 tak), menaiki KTM 250 XCW di jalur single track itu serasa naik sepeda mountain bike, ringan sekali bro! Motornya sangat lincah dan tangguh untuk menerjang medan offroad!

DW yang biasa naik Kawasaki KXF 250 mecoba mencicipi KTM 250 XCW di jalur offroad di Gunung Putuk Gede. Motor digeber habis, seperti DW biasa membawa KXF 250. DW pun melesat, meliuk-liuk dan menekuk stang KTM 250 XCW itu dengan lihai. Begitu selesai uji coba, DW berujar, “wah dahsyat sekali motornya, handling ringan dan tenaganya ngisi terus!”

Dibandingkan KTM 200, KTM 250 XCW itu terasa lebih stabil di speed offroad. Jika di KTM 200 sering terasa ban belakang “menari-nari” ketika gas dibetot kencang di jalur offroad, tidaklah demikian dengan KTM 250 XCW. Meskipun beda kapasitas mesin hanya 50cc, namun sangat terasa sekali kalau power KTM 250 XCW lebih stabil dan besar. Jika di tikungan tajam, KTM 200 kadang-kadang harus mengurangi gigi untuk mengejar traksi, namun untuk KTM 250 XCW tidaklah perlu sampai mengurangi gigi.

Untuk sektor suspensi dan pengereman, KTM masih yang terbaik. Demikian juga suspensi di KTM 250 XCW yang bekerja sangat baik di jalur offroad maupun jalan mulus. Diajak untuk jumping ringan dan melibas jalan berbatu, juga tidak masalah.

Adanya electric starter di KTM 250 XCW, benar-benar nilai plus, terutama ketika dipakai di jalur ekstrim. Sebetulnya tanpai pakai electric starter-pun, KTM 250 XCW sangat mudah dihidupkan dengan ‘pancalan’ kaki. Sekali tendang, biasanya langsung hidup, “greng..ding, ding, ding….”.

Setelah uji coba di 3 jalur offroad yang berbeda dengan total jarak tempuh sekitar 200 km, kami sampai pada sebuah kesimpulan bahwa KTM 250 XCW adalah senjata yang sangat ampuh untuk melibas medan offroad! Apalagi jika dipakai di jalur single track atau sempit, KTM 250 XCW (dan KTM 200) akan menjadi monster di tangan pengendara yang tepat! KTM 250 XCW menjadi plihan bagi penggemar offroad motor trail yang mencari motor ringan, power dahsyat dan perawatan yang lebih mudah dibandingkan motor 4 tak.

Kami menjadi paham kenapa majalah DIRT RIDER terbitan USA mengatakan dalam review-nya tentang KTM 250 XCW tahun 2011, mereka mengatakan, “sangat sulit mencari offroader sejati yang tidak menyukai KTM 250 XCW”. Majalah DIRT RIDER dan juga majalah DIRT BIKE mengatakan bahwa KTM 250 XCW bersama KTM 300 XCW adalah the best dirt bike. Kamipun langsung jatuh cinta begitu mencoba KTM 250 XCW ini, dan mungkin kami akan sulit berpindah ke lain hati.

Tunggu uji coba tim CHEELA berikutnya, KTM 250 XCW versus KTM 350 XCW-F!

Kelebihan KTM 250 XCW:

  • Motor ringan
  • Handling enak, apalagi di jalur single track
  • Electric starter (ditunjang juga dengan kick starter)
  • Perawatan lebih mudah dan murah dibandingkan motor 4 tak

Kekurangan KTM 250 XCW:

  • Dari pabrikan tidak dilengkapi dengan lampu (namun bisa dipasang, karena sudah ada kabel dan colokannya)
  • Harus mencampur oli dengan bensin

Sabtu, 08 Oktober 2011

OFFROAD PUJON: BERPACU MELAWAN DEBU





Pukul 9 pagi lebih, tim CHEELA beranjak meninggalkan sekretariatnya untuk memacu adrenalin di jalur offroad di akhir pekan yang cerah itu. Rombongan berjumlah 9 orang dengan tunggangan KXF 250, KTM 250 XCW, KTM 200, Husqy TXC 250 dan Kawasaki KLX 150. Seperti biasa, rombongan memacu motor dengan pelan ketika melewati perkampungan dan jalan raya.

Tidak sampai lima belas menit kemudian, jalur mulai memasuki jalan pematang sawah yang penuh dengan cerukan bekas alur ban. Tim langsung memacu motor agak kencang. Motor meliuk-liuk di tengah pematang sawah, seperti tarian gadis petani menyambut panen padi. Upsss tiba-tiba BN dengan KTM 200-nya terjungkal mencium keringnya tanah persawahan! Di jalur sawah ini memang perlu hati-hati, karena meskipun jalannya datar, namun penuh dengan cerukan tanah yang terkadang tertutup oleh rumput. Perlu kosentrasi tinggi untuk melahap medan seperti ini.

Tak lama kemudian tim memasuki jalur offroad di Karangploso. Jalurnya selebar satu meter, sedikit menanjak dan tanah sedikit berdebu. Begitu mencum aroma tanah, tim langsung membetot gas motor dengan kencang. Speed offroad dimulai di jalur ini. RK memimpin di jalur ini dengan kuda besinya KTM 250 XCW, kemudian disusul DW dengan KXF 250 dan RB dengan TXC 250.

Ketika tim memasuki jalur offroad di dekat peternakan ayam Wonokoyo, tim kehilangan sweeper dan seorang anggota. Hemm kemanakah WW yang jadi sweeper? Ternyata WW salah jalur, seharusnya belok malah keasyikan menarik kencang gas motornya di jalaur yang lurus. Begitu jumlah anggota tim sudah komplit, tim langsung melanjutkan perjalanan offroad arah Bumiaji Batu lewat jalur Gunung Putuk Gede.

Di jalur Putuk Gede, jalur berupa full single track. Ini adalah jalur kesukaan tim CHEELA, jalur yang penuh rintangan, meliuk-liuk, menanjak dan sempit. Butuh jam terbang tinggi dan kosentrasi penuh untuk menaklukan jalur ini. Yang bikin harus super waspada adalah jalur ini penuh dengan debu. Begitu motor di barisan terdepan melesat, debu berterbangan laksana bom meledak. Tim yang berada di barisan belakang harus ekstra hati-hati kalau tidak mau menabrak pohon karena pandangan terhalang total.

Melalui jalur pegunungan ini lumayan menjadi siksaan bagi DW yang menunggang KXF 250. Power motor memang sangat mantap, namun sayangnya motor sangat susah untuk dihisupkan. Jadi beberapa kali DW harus mendorong motornya agar bisa hidup. Hal ini menguras energi DW yang sudah “senior” usianya. RK, sang sahabat, sambil bercanda berujar, “makanya mas segera ganti KTM, biar mantap melibas jalur offroad-nya”

Jam di tangan menunjukan pukul 11.30 ketika tim sampai di Gandon. Tim istirahat sejenak, untuk melepas urat syarat yang tegang setelah dipacu untuk melahap medan offroad. Lima belas menit kemudian, tim melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur berupa jalan berbatu di tengah perkebunan apel. Tim memacu motor dengan santai, maklum banyak petani yang sedang bekerja di perkebunan, jadi kami harus menghormati mereka.

Setelah melewati perkebunan apel, kami berhenti sejenak di sebuah toko untuk menambah perbekalan air minum. WW memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberi minum KTM 200-nya. Sementara BN malah asyik menyantap kue, katanya untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Tim CHEELA kemudian memasuki Desa Kungkung, Batu. Tidak sampai lima menit, kami langsung dihadang jalur tanah di tengah hutan pinus. Jalur selebar 1 meter itu meliuk-liuk tajam, hemm sangat menyenangkan untuk memacu adrenalin. Tim langsung tancap gas motor, menari-nari di tengah hutan pinus yang kering itu.

Tak lama kemudian, jalur semakin menyempit. Jalur selebar tidak sampai setengah meter, dengan sebelah kiri jurang menganga sedalam lebih dari 100 meter! Wow ngeri kalau sampai terjungkal ke bawah. Beberapa anggota tim sempat ketar-ketir melewati jalur ini. Namun bagi RK dan DW yang sudah kenyang asam garam dunia offroad, jalur ini dilahapnya dengan kecepatan tinggi. Hasilnya adalah debu membumbung tinggi, menyaput badan tim CHEELA lainnya yang ada di barisan belakang. Wajah semua tim terlihat seperti monster karena penuh debu putih.

Sebelum jam 12.30 kami sudah melewati jurang buntu yang ada di kawasan Pujon, Kabupaten Malang. Tim langsung memacu motornya ke arah air terjun Coban Rondo. Kami kemudian memutuskan untuk makan siang di bawahnya rindangnya pohon di kawasan Coban Rondo. Pemandangan di depan kami sangat indah sekali, yaitu kawasan pemandian air panas Songgoriti.

Setelah istirahat satu jam sambil menyantap bekal makan siang, tim melanjutkan offroad kea rah Gunung Panderman. Jalur masih berdebu dan single track. Di beberapa titik, jalur menikung tajam dengan sebelah kiri jurang dan kanan berupa tebing batu. Di jalur ini RB sempat terjungkal di sebuah tikungan.

Lolos jalur Gunung Panderman, tim melanjutkan offroad kea rah dau lewat jalur offroad di tengah-tengah hutan pinus. Lagi-lagi jalur masih single track. Tim memacu motor dengan kencang. Sekali-kali terlihat motor rebah di tikungan tajam. Ban depan motor juga sekali-kali terangkat ke atas terbawa power motor yang dahsyat.

Hari beranjak sore ketika tim memasuki jalur offroad di Perinci, Dau. Jalur kebanyakan masih single track dan menanjak tajam. Di jalur ini, terlihat DW sudah mulai drop. Motor KXF-nya yang sulit dihidupkan membuat DW terkuras energinya. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi offroad hari itu. Apalagi beberapa anggota tim CHEELA harus pulang ke Sidoarjo yang jaraknya sekitar 80 km dari Kota Malang.

Kami turun gunung dengan senyum puas. Meskipun badan dan motor penuh debu, kami sangat puas bersenang-senang di hutan pada hari itu. Puas bisa offroad bersama tim CHEELA yang penuh dengan persahabatan dan kesetaraan. Sampai ketemu di jalur offroad berikutnya! (C001).