Kamis, 07 Juli 2011

POWERCROSS 2011: HABIS TERANG TERBITLAH GELAP





Powercros 2011 usai digelar. Para juarapun sudah dimumumkan. Juara pertama diraih oleh Kim Askhenazi (Surya 12 Evalube INK KTM), kedua Nick Sutherland (Surya 12 Evalube INK KTM) dan posisi ketiga diraih Jake Ridley (Dumasari Bostart INK MOS). Lho kog namanya asing semua? Ya memang Powercross 2011 ini seperti menjadi milik crosser asing. Di posisi 4 dan 5 pun diduduki oleh crosser asing dari tim Husqvarna MX yaitu Matev Irt dan Lewis Stewart. Praktis di posisi 5 besar itu dikuasi oleh crosser asing!

Hal menarik lainnya adalah di posisi 5 besar itu didominasi oleh motor Eropa, yaitu KTM dan Husqvarna. Posisi 1 dan 2 dipegang teguh oleh pembalap KTM. Kim Askenazi yang menunggangi KTM 250 SXF begitu kosisten naik podium di setiap seri. Sedangkan Husqvarna adalah tim baru yang mulai meramaikan balap garuk tanah Indonesia sejak tahun lalu. Pembalap nasional Aep Dadang juga naik kuda besi Husqvarna TC 250, walaupun sayang hasil yang diraih Aep di tahun 2011 ini kurang menggembirakan.

Untuk kelas SE 125 grade A nasional para jawaranya adalah pembalap-pembalap muda. Posisi pertama diraih Aris Setyo (Cargloss AHRS Jatim), kedua Alexander Wiguna (Gandasari Pertamina Enduro INK IRC) dan ketiga Farhan hendro (Cargloss AHRS IRC ARG). Sedangkan di posisi keempat dan kelima dipegang oleh Andre Sondakh dan Agi Agassi. Hasil kelas nasional ini menyejukan karena crosser-crosser muda mulai unjuk gigi. Selama bertahun-tahun juara motocross/supercross di Indonesia tidak lepas dari wajah crosser senior seperti Aep Dadang dan Dony Orlando.

Stop bicara pembalap dan motornya….karena mungkin kami tidak punya kemampuan analisa yang mumpuni untuk ini. Tulisan ini akan lebih ditujukan untuk “evaluasi” penyelenggaraan Powercross 2011 dari sudut penonton. Wah koq dari sudut penonton, kog bukannya dari pembalap atau pengamat cross? Sekali-kali perlu dong ada penilaian dari sudut penonton, toh balapan tanpa ada yang menonton juga akan jadi garing alias tidak bernyawa. Mau balapan tanpa ada penonton?

Secara umum Powercross 2011 sangat menarik ,karena ada banyak pembalap asing dan suguhan free style yang menajdi hiburan tersendiri. Kehadiran crosser asing memberi ‘jiwa” tersendiri dan menyenangkan penonton karena bisa menyaksikan tehnik cross yang rapi, konsisten dan professional. Kelihatan bahwa crosser asing lebih bisa menjaga irama bertanding, skill mumpuni dan punya mental juara yang mantap.

Powercross 2011 juga memanjakan penonton karena ada banyak tribun/kursi yang disediakan, jadi ada kesempatan penonton untuk bisa duduk jika capek. Penonton yang ‘kebelet’ buang air kecil pun juga tidak bingung cari tempat, karena disediakan toilet. Apalagi bagi penonton perempuan tentunya akan sangat membutuhkan toilet seperti ini, beda dengan kaum pria yang bisa “seenaknya” buang air. Terima kasih untuk panyelenggara yang telah menyediakan toilet ini!

Selain sisi positif yang ada di Powercross 2011, yang bikin kami bertanya-tanya kenapa Powercross diadakan di malam hari? Mungkin meniru supercross di luar negeri yang diadakan di dalam stadion yang ada lampu terang benderang. Sedangkan Powercross 2011 ini diadakan di sirkuit dadakan dan relatif minim penerangan. Di beberapa titik terlihat gelap. Penontonpun jadi bingung melihat aksi pembalap. Apalagi powercross ini diadakan mulai pagi hingga malam, jadi habis terang terbitlah gelap!

Penyelanggaraan Powercross di malam hari terkesan terlalu dipaksakan. Lampu terlihat kurang memadai, meskipun dari seri satu ke seri berikutnya terus ditambah lampunya, namun tetap saja penonton susah untuk menikmati aksi crosser dengan maksimal. Crosser hanya bisa dilihat dengan jelas ketika melintas di depan pentonton, begitu lepas dari depan mata hanya kelihatan seperti bayangan hitam saling balapan, membuat bingung penonton!

Powercross yang diadakan di malam hari dengan penerangan yang belum maksimal juga rawan terjadinya kecelakaan, seperti tabrakan beruntun 5 crosser di seri Malang. Selain petugas bendera kurang sigap mengibarkan bendera kuning, kurang terangnya penerangan diduga juga memicu kurang sigapnya crosser untuk menghindar dari kecelakaan beruntun.

Nomor start crosser yang tertera di motor dan baju juga sering beda. Ini juga bikin bingung penonton, apalagi penonton pemula yang belum hafal nama-nama crosser yang bertanding. Seharusnya panitia penyelenggara tegas soal ini, yaitu nomor start yang tertera di motor harus sama dengan yang tertulis di baju. Bahkan ada motor yang nomor start di depan dan di samping itu beda nomornya, apa tidak bingung tuh penonton?

Harga tiket kelas ekonomi juga terbilang terjangkau. Namun yang bikin heran kenapa harga tiket VIP begitu tinggi yaitu Rp 150.000? Padahal fasilitasnya hanya berupa kursi dan peneduh saja. Ini terlalu mahal, pantas kalau kursi VIP selalu terlihat tidak terisi penuh. Coba kalau harga tiket VIP di bawah Rp 100.000 pasti lebih menarik minat penonton.

Terlepas dari kekurangan Powercross 2011, kami salut terhadap promotor dan penyelenggara yang telah berusaha maksimal menyukseskan event nasional bahkan internasional tersebut. Semoga di tahun mendatang akan lebih baik lagi penyelenggaraannya, dan mungkin tidak perlu dipaksakan diadakan di malam hari. Toh sepertinya waktunya cukup bila diadakan mulai pagi hingga sore.

Selamat untuk para juara powercross 2011! Selamat untuk penyelenggaranya dan terima kasih juga untuk masyarakat yang setia menonton! Ingat tanpa penonton, event balapan itu akan kehilangan “nyawanya”. Sampai ketemu di Powercross 2012! (C001)