Minggu, 24 Juli 2011

OFFROAD ARJUNA-BROMO BERSAMA KOMUNITAS TRAIL TULUNGAGUNG





Minggu 24 Juli 2011, tim CHEELA kedatangan tamu dari komunitas trail Tulungagung yang ingin dipandu offroad menuju Gunung Bromo. Tim CHEELA tentu saja dengan senang hati memandu sesama penghobby offroad motor trail tanpa bayaran. Ini semata-mata untuk mempererat tali persaudaraan, apalagi tim CHEELA itu adalah komunitas hobby yang bersifat non profit, jadi kalau memandu atas nama tim itu meminta bayaran adalah masuk kategori “haram” hukumnya di tim CHEELA.

Jumlah rombongan yang akan ikut offroad jalur gunung Arjuna-Bromo itu lumayan besar untuk ukuran CHEELA, yaitu sekitar 35 orang. Rombongan Tulungagung menginap di P-WEC (www.p-wec.com), sebuah pusat pendidikan konservasi alam yang mestinya cocok untuk para petualang. Selain lokasi P-WEC yang berada di dekat jalur offroad, menginap di P-WEC tidak perlu menguras isi kantong, karena harganya sangat bersahabat dengan para petualang atau pecinta alam.

Sekita jam 07.30, rombongan sudah bergerak meninggalkan P-WEC untuk bersenang-senang di jalur offroad di hari minggu yang cerah itu. Rombongan dikomandoi oleh RK dengan tunggangan kesayangannya, KTM 200 XCW. Tidak sampai 5 menit, rombongan sudah dihadang jalur offroad double track. Di awal jalur ini Yudhi dari Tulungagung yang membawa Yamaha YZF 250 sempat terjungkal.

Ketika rombongan mulai memasuki jalur Gunung Arjuna, ada halangan yang menghadang. Bukan jalur yang super ekstrim, namun 2 motor bannya kempis, sehingga terpaksa rombongan yang lain harus bersabar menunggu. Setelah menunggu 30 menit tidak ada tanda-tanda proses tambal ban akan usai, akhirnya diputuskan rombongan dipecah dalam dua grup. Grup pertama melanjutkan offroad menuju Kebun Teh Lawang, sedangkan grup kedua langsung bertemu di SPBU Bedali.

Jalur di Gunung Arjuna menuju Kebun Teh terbilang mengasyikan. Sebagian besar jalur berupa single track. Beberapa kali ada anggota rombongan yang harus jatuh, mencium segarnya tanah Arjuna. Namun secara umum perjalanan dari Arjuna ke Kebun Teh hingga ketemu rombongan grup kedua di SPBU itu berjalan dengan lancar dan menyenangkan.

Setelah mengisi bensin di SPBU bedali, rombongan langsung melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo lewat jalur Rojo Pasang. Jalur masih didominasi single track, dengan beberapa titik jalan berbatu. Di jalur berbatu ini menjadi siksaan tersendiri bagi sebagian rombongan yang jam terbangnya di dunia offroad masih terbilang minim.

Jam di tangan menunjukan pukul 12.30 ketika rombongan sampai di hutan mahoni Rojo Pasang. Kamipun memutuskan untuk istirahat makan siang. Semua tim membuka kontak nasi bersisi bekal makan siang. Ya, memang kebiasaan di tim CHEELA itu kami selalu membawa bekal makan siang di kotak nasi (lunch box), jadi ini meminimalkan sampah bekas bungkus nasi. Rombongan yang dipandu tim CHEELA tentu saja harus mengikuti kode etik ini.

Usai istirahat dan makan siang, rombongan langsung tancap gas menuju Bromo lewat jalur Kandangan. Di jalur inilah debu mulai berterbangan dan harus ekstra hati-hati, karena jalur sempit dan meliuk-liuk seperti ular naga. Apalagi di sebelah kanan adalah jurang dalam menganga. Hiii ngeri kalau sampai terjungkal!

Setelah menari-nari, meliuk-liuk melintas di jalur Kandangan, rombongan memasuki lautan pasir Gunung Bromo. Rombongan Tuluangung-pun langsung ceria dan memuaskan diri ber-offroad-ria di lautan pasir. Hari itu angin cukup kencang, sehingga debu dan pasir berterbangan seperti putting beliung. Jarak pandangpun menjadi sangat pendek. Beberapa anggota sempat terperosok dalam lubang pasir. Namun semuanya merasa senang bukan kepalang bisa menikmati offroad di lautan pasir Gunung Bromo. Salah seorang rombongan dari Tulungagung berujar, “wah capek langsung hilang begitu memasuki lautan pasir Bromo!”

Setelah puas bersenang-senang di lautan pasir Bromo, rombongan mulai meninggalkan Bromo menuju arah Coban Pelangi untuk menyudahi offroad di hari itu. Meskipun badan letih dan wajah sudah tidak karuan bentuknya karena debu, terlihat senyum kepuasaan terpancar di wajah-wajah rombongan Tulungagung. Wawan, salah satu peserta dari Tulungagung mengatakan, “terima kasih untuk tim CHEELA yang telah memandu kami, ini adalah offroad yang paling menyenangkan yang pernah kami alami. Lain waktu kami akan datang lagi”. (C001)

Rabu, 20 Juli 2011

PASUKAN 2 TAK KUASAI RED BULL ROMANIAC 2011





Graham Jarvis yang menunggang Husaberg TE 300 menempatkan dirinya pada posisi teratas dalam kejuaraan enduro extrim kelas dunia Red Bull Romaniac 2011. Ini adalah gelar kedua yang diaraih Graham Jarvis setelah pada tahun 2008 dia juga meraih mahkota juara di event yang sama. Posisi kedua ditempati oleh Chirs Birch yang naik KTM 300 dan posisi ketiga diraih Andreas Lettenbichler dengan kuda besinya Husqvarna WR 300.

Red Bull Romaniac disebut-sebut sebagai event enduro paling ekstrim di dunia. Hanya rider dan motor tangguh yang akan lolos dalam kejuaraan super berat ini. Red Bull Romaniac 2011 yang diadakan pada tanggal 16-20 Juli 2011 di Sibiu, Romania itu diikuti oleh 176 pengendara dari berbagai negara dan menempuh rute sejauh 600 km.

Jalur offroad yang ditempuh bukan sembarang jalur, karena penuh dengan rintangan yang membuat pengendara harus memeras keringat, kemampuan dan otaknya. Belum lagi rintangan buatan seperti kayu gelondongan dan batu yang membuat banyak pengendara terjungkal dan berdarah. Hanya pengendara yang punya skill mumpuni saja yang bisa lolos hingga babak terakhir di acara yang selalu menjadi magnet bagi penggila off road ekstrim ini.

Menariknya, dalam kejuaran enduro super ekstrim seperti Red Bull Romaniac ini kebanyakan motor yang dipakai adalah motor 2 tak. Graham Jarvis, sang juara, mengendarai Husaberg TE 300, demikian juga juara kedua Chris Birch yang memakai KTM 300 (2 tak). Jika dilihat 10 besar pengendara yang finish terdepan itu 90% pakai motor 2 tak. Coba lihat hasil lengkapnya di situs resmi Red Bull Romaniac di link berikut: http://www.redbullromaniacs.com/results/results-2011/overall-results-day-4/

Motor enduro 2 tak bukan hanya pertama kali ini saja mendominasi kejuaraan enduro ekstrim. Selain di Red Bull Romaniac, motor 2 tak banyak dipakai juga di kejuaraan off road ekstrim seperti the Last Man Standing, Erzberg Rodeo dan Hell Gate.

Husaberg TE 300 yang dipakai Graham dan KTM 300 yang dipakai Chris Birch itu dari pabrikannya dilengkapi dengan electric starter, jadi tinggal pencet tombol, motor sudah siap melaju. Sementara Husqvarna WR 300 hanya mengandalkan ‘pancalan’ kaki untuk menghidupkan motor. Meskipun tidak pakai electric starter, sebetulnya tidak menjadi masalah karena motor 2 tak itu sangat mudah dihidupkan.

Motor 2 nada itu bobot motor lebih ringan dibanding motor 4 tak. Ini menjadi salah satu pertimbangan pengendara untuk turun di kejuaran ekstrim enduro yang penuh dengan single track dan rintangan. Pengendalian yang mudah namun dengan power yang mumpuni, membuat motor 2 tak banyak dipilih untuk enduro ekstrim.

Bagaimana dengan di Indonesia? Pada tahun 90-an, motor trail di tanah air juga “dikuasai” oleh motor 2 tak yaitu Suzuki TS 125. TS 125 selama bertahun-tahun dikenal tangguh, meskipun tampangnya terkesan “jadul”. Ketika Kawasaki meluncurkan KLX 150, sempat muncul dugaan kalau nasib TS 125 akan habis “dilahap” geng hijau 4 tak dari Kawasaki. Nyatanya sampai saat ini TS 125 masih eksis, meskipun pabrikan sudah tidak memproduksinya lagi. Andai saja Suzuki mengeluarkan “new TS’ dengan model lebih modern dan kapasitas mesin lebih besar, misalnya 150cc, pasti akan laris manis di kalangan off roader.

Untuk trail build up, pada awalnya di Indonesia juga “dikuasai” barisan motor 2 tak yaitu KTM 200 EXC. Motor yang satu ini dikenal tangguh, ringan, handling enak dan perawatan mudah. Tak heran kalau populasi KTM 200 di Indonesia lumayan besar. Namun kemudian lambat laun, orang mulai melirik motor 4 tak, apalagi sempat ada isu motor 2 tak akan dilarang di Indonedia. Padahal ini sebuah isu yang tidak ada dasarnya dan ngawur.

Jika motor trail (build up) 2 tak di Indonesia semakin meredup, tidak demikian di Eropa dan USA. Motor 2 tak, terutama KTM, masih sangat banyak di pakai di berbagai kejuaraan enduro. Bahkan tim enduro KTM USA juga kini disebut-sebut semuanya akan memakai motor 2 tak. Andalan mereka adalah KTM 250 XCW dan 300 XCW. Mereka masih percaya bahwa motor 2 tak masih sangat kompetitif melawan gempuran motor 4 tak dengan cc yang lebih gede.

Perlu diingat bahwa dalam kejuaraan enduro atau motocross, itu selalu kapasitas mesin 2 tak harus lebih kecil dibanding 4 tak. Misalnya, motor 2 tak 250 cc itu akan melawan motor 4 tak 450cc. Dalam motocross, motor 2 tak 125cc akan melawan 4 tak 250cc. Kenapa kapasitas mesinnya tidak dibuat sama saja, anatara 2 tak dan 4 tak? Kenapa motor 2 tak kapasitas mesinnya harus lebih kecil dibanding yang 4 tak? Bukankah lebih adil, kalau kapasitas mesinnya sama? Silahkan disimpulkan sendiri. (C001/foto: www.redbullromaniacs.com).

Kamis, 07 Juli 2011

POWERCROSS 2011: HABIS TERANG TERBITLAH GELAP





Powercros 2011 usai digelar. Para juarapun sudah dimumumkan. Juara pertama diraih oleh Kim Askhenazi (Surya 12 Evalube INK KTM), kedua Nick Sutherland (Surya 12 Evalube INK KTM) dan posisi ketiga diraih Jake Ridley (Dumasari Bostart INK MOS). Lho kog namanya asing semua? Ya memang Powercross 2011 ini seperti menjadi milik crosser asing. Di posisi 4 dan 5 pun diduduki oleh crosser asing dari tim Husqvarna MX yaitu Matev Irt dan Lewis Stewart. Praktis di posisi 5 besar itu dikuasi oleh crosser asing!

Hal menarik lainnya adalah di posisi 5 besar itu didominasi oleh motor Eropa, yaitu KTM dan Husqvarna. Posisi 1 dan 2 dipegang teguh oleh pembalap KTM. Kim Askenazi yang menunggangi KTM 250 SXF begitu kosisten naik podium di setiap seri. Sedangkan Husqvarna adalah tim baru yang mulai meramaikan balap garuk tanah Indonesia sejak tahun lalu. Pembalap nasional Aep Dadang juga naik kuda besi Husqvarna TC 250, walaupun sayang hasil yang diraih Aep di tahun 2011 ini kurang menggembirakan.

Untuk kelas SE 125 grade A nasional para jawaranya adalah pembalap-pembalap muda. Posisi pertama diraih Aris Setyo (Cargloss AHRS Jatim), kedua Alexander Wiguna (Gandasari Pertamina Enduro INK IRC) dan ketiga Farhan hendro (Cargloss AHRS IRC ARG). Sedangkan di posisi keempat dan kelima dipegang oleh Andre Sondakh dan Agi Agassi. Hasil kelas nasional ini menyejukan karena crosser-crosser muda mulai unjuk gigi. Selama bertahun-tahun juara motocross/supercross di Indonesia tidak lepas dari wajah crosser senior seperti Aep Dadang dan Dony Orlando.

Stop bicara pembalap dan motornya….karena mungkin kami tidak punya kemampuan analisa yang mumpuni untuk ini. Tulisan ini akan lebih ditujukan untuk “evaluasi” penyelenggaraan Powercross 2011 dari sudut penonton. Wah koq dari sudut penonton, kog bukannya dari pembalap atau pengamat cross? Sekali-kali perlu dong ada penilaian dari sudut penonton, toh balapan tanpa ada yang menonton juga akan jadi garing alias tidak bernyawa. Mau balapan tanpa ada penonton?

Secara umum Powercross 2011 sangat menarik ,karena ada banyak pembalap asing dan suguhan free style yang menajdi hiburan tersendiri. Kehadiran crosser asing memberi ‘jiwa” tersendiri dan menyenangkan penonton karena bisa menyaksikan tehnik cross yang rapi, konsisten dan professional. Kelihatan bahwa crosser asing lebih bisa menjaga irama bertanding, skill mumpuni dan punya mental juara yang mantap.

Powercross 2011 juga memanjakan penonton karena ada banyak tribun/kursi yang disediakan, jadi ada kesempatan penonton untuk bisa duduk jika capek. Penonton yang ‘kebelet’ buang air kecil pun juga tidak bingung cari tempat, karena disediakan toilet. Apalagi bagi penonton perempuan tentunya akan sangat membutuhkan toilet seperti ini, beda dengan kaum pria yang bisa “seenaknya” buang air. Terima kasih untuk panyelenggara yang telah menyediakan toilet ini!

Selain sisi positif yang ada di Powercross 2011, yang bikin kami bertanya-tanya kenapa Powercross diadakan di malam hari? Mungkin meniru supercross di luar negeri yang diadakan di dalam stadion yang ada lampu terang benderang. Sedangkan Powercross 2011 ini diadakan di sirkuit dadakan dan relatif minim penerangan. Di beberapa titik terlihat gelap. Penontonpun jadi bingung melihat aksi pembalap. Apalagi powercross ini diadakan mulai pagi hingga malam, jadi habis terang terbitlah gelap!

Penyelanggaraan Powercross di malam hari terkesan terlalu dipaksakan. Lampu terlihat kurang memadai, meskipun dari seri satu ke seri berikutnya terus ditambah lampunya, namun tetap saja penonton susah untuk menikmati aksi crosser dengan maksimal. Crosser hanya bisa dilihat dengan jelas ketika melintas di depan pentonton, begitu lepas dari depan mata hanya kelihatan seperti bayangan hitam saling balapan, membuat bingung penonton!

Powercross yang diadakan di malam hari dengan penerangan yang belum maksimal juga rawan terjadinya kecelakaan, seperti tabrakan beruntun 5 crosser di seri Malang. Selain petugas bendera kurang sigap mengibarkan bendera kuning, kurang terangnya penerangan diduga juga memicu kurang sigapnya crosser untuk menghindar dari kecelakaan beruntun.

Nomor start crosser yang tertera di motor dan baju juga sering beda. Ini juga bikin bingung penonton, apalagi penonton pemula yang belum hafal nama-nama crosser yang bertanding. Seharusnya panitia penyelenggara tegas soal ini, yaitu nomor start yang tertera di motor harus sama dengan yang tertulis di baju. Bahkan ada motor yang nomor start di depan dan di samping itu beda nomornya, apa tidak bingung tuh penonton?

Harga tiket kelas ekonomi juga terbilang terjangkau. Namun yang bikin heran kenapa harga tiket VIP begitu tinggi yaitu Rp 150.000? Padahal fasilitasnya hanya berupa kursi dan peneduh saja. Ini terlalu mahal, pantas kalau kursi VIP selalu terlihat tidak terisi penuh. Coba kalau harga tiket VIP di bawah Rp 100.000 pasti lebih menarik minat penonton.

Terlepas dari kekurangan Powercross 2011, kami salut terhadap promotor dan penyelenggara yang telah berusaha maksimal menyukseskan event nasional bahkan internasional tersebut. Semoga di tahun mendatang akan lebih baik lagi penyelenggaraannya, dan mungkin tidak perlu dipaksakan diadakan di malam hari. Toh sepertinya waktunya cukup bila diadakan mulai pagi hingga sore.

Selamat untuk para juara powercross 2011! Selamat untuk penyelenggaranya dan terima kasih juga untuk masyarakat yang setia menonton! Ingat tanpa penonton, event balapan itu akan kehilangan “nyawanya”. Sampai ketemu di Powercross 2012! (C001)

Rabu, 06 Juli 2011

OFFROAD DI PULAU DEWATA





Bali yang dikenal sebagai tujuan utama pariwisata di Indonesia bukan hanya menyimpan keindahan alam dan budaya, namun juga jalur offroad yang mantap. Pulau Dewata yang penuh dengan Pura dan senyum ramah masyarakatnya itu juga membuat RK dari tim CHEELA tersenyum lebar ketika menjajal medan offroad pada awal Juli 2011. Monty dan Mike, dua sahabat RK memfasilitasi offroad di Bali ini. Thanks Monty and Mike!

Kami melakukan start offroad dari Kintamani dan finish di Pantai Candidasa. Untuk menjajal medan offroad ini kami semuanya dilengkapi dengan tunggangan motor Eropa yaitu Husaberg dan KTM. Dua-duanya motor yang hebat yang membuat kami bisa enjoy di jalur single track dan double track di pulau seribu Pura ini.

Jalur dari Kintamani ke Candidasa ini didominasi single track, tanah berpasir dan sedikit jalan batu. Jalur banyak juga yang masuk ke dalam hutan di Gunung Abang. Jalur meliuk-liuk, asyik sekali, sehingga kami sekali-kali harus merebahkan badan untuk melibas tikungan tajam di beberapa titik. Lebih mengasyikan lagi, ada banyak jalur menanjak alias mendaki di perbukitan, yang membuat kami harus menarik kuat-kuat gas motor, jika tidak ingin motor melorot ke bawah.

Di tengah hari kami sampai di Pura Besakih, pura terbesar di Pulau Bali. Hemm indah sekali pura-nya. Dari Besakih kami melanjutkan offroad ke arah Karangasem. Di jalur ini jalurnya sedikit lebar, berupa tanah padat dan penuh dengan gelombang tanah. Otomatis kami langsung tancap gas, speed offroad! Motorpun beberapa kali terlihat “terbang” melibas gundukan tanah.

Di jalur yang berada di tengah-tengah perkebunan salak di Karangasem ini, RK mencoba merasakan performa Husaberg FE 390. Wow gilaa…motornya enak sekali. Handlingnya ringan seperti motor 250cc namun powernya mantap untuk melibas medan offroad. Untuk menikung, motor juga enak diajak rebah. Apalagi suspensinya, hemmm bikin tersenyum lebar! Empuk dan meredam dengan baik goncangan motor.

Di Karangasem kami juga disambut senyum manis gadis-gadis Bali yang berkebun di perkebunan salak. Dengan ramah mereka menyapa kami, bahkan sempat foto bersama. Beberapa wanita juga terlihat sibuk untuk mempersiapkan hari raya Galungan. Anak-anak mengerubungi kami yang lagi istirahat, sambil terheran-heran melihat motor yang jangkung-jangkung.

Menjelang gelap, kami sampai di Pantai Candi Dasa yang masih asri. Pantai ini relatif tidak banyak wisatawan, tidak seramai Pantai Kuta. Begitu sampai di Candidasa, hanya satu kata yang kami ucapapkan, “puas!”. Ya kami benar-benar puas bisa menjajal medan offroad di Bali ini. Medannya asyik, alamnya indah dan masyarakatnya ramah. Puas! (C001).