Minggu, 26 Juni 2011

OFFROAD ARJUNA BROMO BERSAMA DIRT BIKER AUSTRALIA





(Minggu, 26 Juni 2011). Pukul 08.30 pagi rombongan tim CHEELA meninggalkan sekretariat CHEELA menuju lereng Gunung Arjuna dan direncanakan tembus ke Gunung Bromo. Offroad di hari yang cerah itu menjadi istemewa karena ada lady dirt biker asal Australia yang gabung offroad bersama kami. Dirt biker asal Australia itu adalah Renee yang juga pernah melatih motocross untuk perempuan junior di Australia dan USA. Tim yang berangkat hari itu berjumlah 10 orang dengan persenjataan 5 KTM, 4 KLX 150 dan 1 honda CRF 150.

Lima menti setelah meninggalkan sekretariat CHEELA, kami langsung berhadapan dengan jalur single track di tengah-tengah persawahan. RK yang menjadi leader langsung membetot KTM-nya dengan kencang, sehingga beberapa kali terlihat roda depannya terangkat melibas jalur tanah sempit itu. RD yang juga menunggangi KTM 200 menguntit di belakang RK. Namun koq rombongan yang lain tidak kunjung tiba? Feeling kami mengatakan pasti ada masalah di belakang.

Ternyata feeling kami benar, tak lama kemudian kami dapat kabar bahwa WW terjungkal ke dalam sawah bersama KTM 200-nya. Terjungkalnya lumayan parah, karena knalpotnya sampai sobek dan kaki WW terlihat bengkak. Karena tidak bisa hidup, motor WW terpaksa diseret oleh motor AG menuju bengkel langganan tim CHEELA. Untungnya jarak ke bengkel hanya berkisar 2 km dari lokasi “kecelakaan”.

Sekitar jam 10 motor WW sudah kelar dan ready to race lagi! WW pun menyatakan siap melanjutkan perjalanan, meskipun dengan kaki pincang. Karena hari sudah beranjak siang, kami memutuskan tidak jadi lewat Gunung Mujur tetapi langsung potong kompas lewat jalur di atas perumahan Yonkes. Jalur di Yonkes menuju lereng Arjuna ini benar-benar luar biasa nikmat bagi penggemar speed offroad. Jalur berupa tanah selebar dua meter dengan beberapa titik banyak gundukan tanah menanjak. Di jalur ini tim CHEELA habis-habisan membetot gas motor. Debupun berterbangan seperti terkena bom!

Jaur di lereng gunung Arjuna kebanyakan jalur sempit di tengah hutan pinus. Namun karena tidak hujan, kami bisa melewati jalur ini dengan cepat. Jam 12.00 kami sudah tiba di tengah-tengah Kebun teh Lawang yang berada di lereng Gunung Arjuna. Kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Bromo, tanpa istirahat di kebun teh.

Jalur dari kebun teh Lawang menuju Desa Bedali berupa jalan aspal yang sudah rusak 95%, jadi mirip jalan batu (macadam). Kami memacu motor dengan agal kencang, namun ketika melewati perkampungan kami mengurangi laju motor kami untuk menghormati penduduk sekitar. Tak lama kemudian kami sampai di SPBU Bedali dan kamipun mengisi bensin semua motor. Mumpung di SPBU ini menyediakan pertamax plus, maklum beberapa motor minumnya wajib pertamax.

Usai mengisi bensin motor, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Desa Sri Gading. Dari Desa Sri gading jalan yang ada menjadi siksaan tersendii bagi sebagian anggota tim, karena jalur berupa bebatuan yang penuh dengan gelombang. MD, peserta cewek yang membawa KTM tipe cross harus extra keras mengendalikan motornya, karena berulang kali roda depannya terangkat terbawa oleh tenaga motornya yang ganas. Tangan MD jadi terasa seperti dikerubuti ribuan semut.

Terlepas dari “siksaan” jalur batu, kami mulai memasuki jalur tanah lagi. Ini membuat kami tersenyum. Namun karena jam di tangan sudah menunjukan pukul 1 siang, kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil makan siang di bawah rimbunya pohon. Semua anggota tim mengeluarkan bekal makanannya dan menyantap penuh dengan nikmat. Menjadi sebuah kebiasaan di tim CHEELA untuk selalu membawa bekal makanan ketika offroad, karena kami tidak tahu apakah di sepanjang jalur ada warung makan atau tidak. Khan lebih aman membawa bekal makanan sendiri, daripada kelaparan di tengah-tengah jalur offroad!

Usai makan, WW mulai merasakan nyeri yang hebat di kakinya akibat terjatuh di awal perjalanan. Untungnya di tim CHEELA juga ada “tukang pijat”. AG yang pernah mendapatkan kuliah ilmu pijat itupun mempraktekan ilmunya, mencoba memijat sobatnya itu. WW terlihat beberapa kali meringis menahan rasa sakit. Sementara WW dipijat, DM dan BG malah tertidur pulas di atas empuknya rerumputan! Wah dua orang ini memang begitu mudahnya tertidur dalam situasi apapun!

Tepat jam 2 kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang kami lalui 100% single track. Kamipun memacu motor dengan kencang, meliuk-liuk seperti penari ular menyusuri pinggiran bukit dan hutan. Tak lama kemudian kami sampai di turunan tajam yang meliuk-liuk di jurang Rojo Pasang. Kami harus extra hati-hati kalau tidak mau terjungkal ke dalam jurang!

Tak lama kemudian kami sampai di jalan aspal di daerah Nongkojajar. Kamipun memacu motor dengan santai melewati kota Nongkojajar yang dikenal sebagai penghasil apel itu. Namun kami mendapatkan “halangan” lagi, karena tanpa permisi tiba-tiba ban dalam motor RD bocor! Kamipun terpaksa menunggunya, sementara hari mulai beranjak sore. Jam di tangan waktu itu sudah menunjukan pukul 15.30 dan kabut tipis mulai menyelimuti lokasi kami berhenti.

Kelar menambal ban, kami memutuskan rombongan dipecah jadi dua. WW dan AG akan lewat jalur aspal menuju Pananjakan, karena kaki WW semakin parah. Sementara rombongan lain yang dipimpin RK akan terus melanjutkan offroad lewat jalur Ngawu. Titik ketemu dua rombongan ini adalah di pertigaan menuju Gunung Pananjakan.

WW juga harus tukar motor dengan DM, karena kaki WW tidak memungkinkan untuk “mancal” KTM-nya. WW berganti motor KLX 150 punya DM yang ada electric starter-nya. DM-pun menjadi tersenyum lebar mencicipi KTM di jalur offroad dari Ngawu menuju Panjakan. DM ngomong, “wah kalau pakai KTM jadi tidak milih jalur, semua medan dilibas!”

Sekitar jam 16.30 kami akhirnya sampai di pertigaan menuju Gunung Pananjakan. Setelah istirahatr sekita 15 menit sambil menncicipi bakso, kami memutuskan untuk langsung turun ke lautan padang pasir Gunung Bromo, agar kami tidak kemalaman di jalan. Jalur dari Penanjakan ke lautan pasir Bromo ternyata sudah banyak yang rusak berat. Di beberapa titik tanah longsor dan hanya cukup dilewati satu motor saja. Otomatis kendaraan roda empat tidak mungkin lewat jalur ini.

Lima menit kemudian kami sudah sampai di bibir lautan pasir Gunung Bromo. Renee yang asal Australia itu langsung menggeber Honda CRF-nya dengan kencang. Di jalur pasir ini Renee menunjukan kemampuan offroad-nya. Meskipun perempuan, dia begitu lihai mengendalikan motornya dan melibas habis rintangan di lautan pasir. Sepertinya di Australia dia sudah terbiasa offroad di padang pasir.

Medan di lautan pasir waktu itu super kering, jadi pasirnya lumayan tebal. Motorpun terlihat meliuk-liuk berusaha melewati pasir yang dalam itu. Debupun berterbangan tinggi membuat wajah kami semuanya seperti “korban perang”, kotor dan hitam! Renee yang wajahnya putih pun sudah tidak lagi terlihat seperti bule.

Setelah sesi foto bersama dengan latar belakang gunung Bromo yang masih terlihat mengepulkan asapnya, kami langsung membetot kencang motor kami ke arah Jemplang. Hari sudah mulai beranjak gelap, sementara beberapa motor tidak dilengkapi dengan lampu. Target kami adalah sebelum gelap total, kami sudah harus melewati Jemplang.

Ketika kami melewati Jemplang, hari benar-benar sudah gelap. Kamipun memacu motor dengan pelan karena harus mengawal beberapa motor yang tidak ada lampunya. Motor tidak ada lampunya, karena itu motor tipe kompetisi.

Setelah beberapa saat lamanya “berjuang” di kegelapan malam, akhirnya kami sampai juga di Coban Pelangi. Terlihat 3 mobil tim penjemput sudah siap di parkiran yang gelap total karena sama sekali tidak ada lampu. Kami semua bernafas lega karena akhirnya bisa finish di Coban Pelangi. Renee dari Australia juga tersenyum lebar, puas offroad bersama tim CHEELA! (C001).

Rabu, 22 Juni 2011

TIPS MEMILIH BAN TRAIL UNTUK OFFROAD


Bagi penggila berat kegiatan offroad motor trail, fungsi ban sangatlah vital. Meskipun rider-nya handal dan motor super mantap, namun kalau tidak ditunjang dengan ban yang pas, tentunya juga akan menjadi siksaan tersendiri bagi pengendara. Apalagi kalau medan yang dilalui itu licin akibat diguyur hujan, maka yang terjadi adalah “gudubrak, gedubruk” alias sering mencium segarnya tanah!
Ban di motor trail itu ibarat sepatu bagi pendaki gunung. Sepatu yang pas akan membuat pendaki menjadi merasa nyaman, menghemat energi karena tidak sering selip atau terpeleset. Apalagi jika medan yang dilalui itu memang membutuhkan cengkeraman “sepatu” yang yahud. Jadi “sepatu” di motor trail itu sangat vital peranannya.
Di pasaran ada banyak beredar berbagai macam merek ban trail. Tipe yang ditawarkan oleh penjual juga beragam. Penggemar trail apalagi pemula, sering dibuat puyeng untuk menentukan pilihan ban mana yang cocok untuk dibeli. Yang bikin lebih puyeng lagi, memilih ban mana yang cocok dengan isi dompet, karena harga ban trail yang berkualitas itu rata-rata diatas Rp 500.000.
Seringkali ada pemula yang sudah terlanjur membeli ban trail namun ketika dipakai di medan offroad ternyata tidak sesuai dengan harapan. Roda motor masih sering selip dan tidak mencengkeram dengan baik di tanah. Akibatnya dia harus membeli lagi ban motor yang dirasa pas. Ini artinya pemborosan.
Ketika membeli ban jangan tergoda dengan tampang ban yang terlihat “sangar”, padahal ketika dipakai di medan offroad ternyata menjadi “mellow”. Akan lebih baik jika membeli ban yang sudah punya nama besar di dunia offroad misalnya Dunlpop, Kenda, Bridgestone, Maxis, Pirelli, Metzeler, dll. Memang harga ban merk-merk ternama itu harganya relatif lebih mahal, namun kita tidak akan rugi karena puas memakainya. Daripada beli harga yang lebih murah, namun nantinya akan kecewa dan akhirnya membeli lagi ban yang lebih bagus. Kalau sudah demikian, berarti kita akan keluar uang lebih besar lagi.
Persoalan lain adalah ban tipe apa yang pas untuk kita pakai offroad? Pada dasarnya tipe ban offroad itu dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu tipe hard, intermediate dan soft. Bagi yang punya uang banyak, mungkin tidak ada masalah menyimpan ban berbagai tipe dan tinggal memasangnya sesuai dengan medan offroad yang akan dilalui. Namun bagi yang dananya pas-pasan, tentunya akan puyeng jika harus membeli ban berbagai tipe itu. Terus tipe apa yang sebaiknya kita beli untuk offroad di semua medan?
Untuk menghemat uang, lebih baik membeli ban tipe intermediate. Tipe intermediate ini adalah tipe yang berada di tengah-tengah, antara hard dan soft. Ban tipe intermediate bisa dipakai di medan yang basah hingga keras, seperti bebatuan. Tipe intermediate juga cocok untuk dipakai di jalur tanah keras yang licin, sepertinya tanah padas yang banyak berada di gunung-gunung.
Berikut adalah beberapa ban tipe intermediate yang beredar di pasaran tanah air:
- Bridgestone tipe M403 dan M404
- Dunlop tipe Geomax MX51
- Kenda tipe Calrsbad dan Washougal
- Maxxis tipe Maxx Cross IT
- Pirelli tipe Scorpion MXMS 32 dan Scorpion XCMS
Kabar yang menggembirakan adalah produsen ban IRC Indonesia sudah memproduksi ban offroad yang berkualitas dengan harga miring. Memang hanya waktu yang akan membuktikan apakah ban tersebut berkualitas atau hanya “nomor satu” di iklan saja, maklum semua iklan itu pasti no 1. Selamat memilih ban yang pas untuk motor trail anda! (IDB/Dirt Rider magazine).

Minggu, 12 Juni 2011

OFFROAD KEDIRI: JALUR GAZA!





(12/6/20110. Minggu pagi yang cerah. Langit terlihat biru disaput awan tipis di atas Kota Kediri, Jawa Timur. Di hari yang penuh dengan siraman matahari itu tim CHEELA merapat di kota tahu untuk menjajal medan offroad di Gunung Wilis-Klotok. Udin dan teman-teman Track – komunitas trail di Kediri- memandu kami. Ketika jam di tangan mulai meninggalkan angka 9, kami mulai meninggalkan rumah Udin untuk menuju jalur offroad.

Sekitar 10 menit meninggalkan Kota Kediri yang tidak terlalu ramai itu kami mulai memasuki jalan offroad berbatu. Setelah melewati jalan batu sepanjang kurang dari 1 km, di depan kami terlihat sungai selebar 2 meter. Kami langsung menerobos masuk ke dalam sungai yang keruh itu. Di jalur ini, MD, satu-satunya wanita di tim CHEELA terjungkal karena batu yang licin. KTM tipe cross (SX) yang ditunggangi MD terlalu liar untuk jalur berbatu dan licin.

Usai melewati sungai, jalur masih berbatu. Namun 5 menit kemudian jalur mulai menyenangkan karena berupa tanah menanjak. RK dan RD yang memakai KTM 200 langsung membetot gas motornya, dan (maaf) meninggalkan pemandunya. Dua motor orange itu meliuk-liuk di jalur tanah sempit di tengah perladangan itu. Lumayan bisa membuat tersenyum kami, karena kami bisa membetot gas lumayan kencang.

Tak lama kemudian kami sampai di posko Track di Puhsarang. Disini jumlah tim bertambah banyak, karena beberapa anggota Track yang lain bergabung dengan kami. Tiga orang dari Wates juga gabung di jalur kami. Kebanyakan mereka memakai motor trail modifikasi dan KLX 150.

Lima menit kemudian kami meninggalkan Puhsarang menuju jalur offroad arah Gunung Klotok. Jalur lumayan mengasyikan, banyak single track dan penuh tanjakan. Kami yang berada di barisan depan, memacu motor dengan kencang. RK, RD dan BN berada di garda depan bersama pemandu dari Track.

Di suatu titik, jalurnya lumayan mengasyikan. Jalur berupa tanjakan berbatu, single track dan penuh ceruk. Kabarnya ketika event yang diadakan Track beberapa waktu yang lalu, di jalur ini banyak memakan korban. Banyak peserta yang tidak bisa melanjutkan perjalanan dan terpaksa lewat jalur alternatif lain yang lebih mudah. Maklum pada waktu itu hujan mengguyur lintasan yang membuat jalur menjadi licin.

Awalnya RD sempat ragu-ragu melihat jalur tersebut. “wah ini untuk motor gede pasti kesulitan nih”, ujar RD dengan nada pesimis. RK yang biasa pakai motor gede sambil tersenyum membesarkan hati sobatnya itu, “santai aja bos, bisa kog, coba lihat ini”. Usai mengucapkan kata-kata itu, RK langsung menarik gas motornya dengan kencang. RK dengan enteng melibas jalur tanjakan berbatu itu. RD-pun kemudian menyusul dengan penuh semangat, dan ternyata sukses! Dengan wajah sumringah RD berbisik, “saya lupa bos kalau sudah pake ‘orange’, ingatnya masih pakai KLX 150 yang waktu event itu saya hampir pingsan melewati jalur ini”.

Rombongan lainnya yang ada di belakang sepertinya agak kesulitan menaklukan jalur tersebut. Apalagi MD yang membawa KTM tipe kompetisi, terlihat kesusahan menaklukan tenaga liar motornya. BG yang biasa memakai KLX 150 mencoba menjadi pemeran pengganti. Diapun dengan penuh pede mencoba menaiki KTM punya MD. Yang terjadi adalah, BG “dipermainkan” oleh motor. Bobot motor yang super ringan dengan tenaga yang galak membuat BG kerepotan mengendalikan motor. BG-pun tertunduk lemas di atas motor!

Beberapa orang teman Track juga mencoba menjadi pemeran pengganti, menggantikan MD yang fisiknya sudah mulai drop. Hasilnya sama, mereka juga kebingungan menaklukan “kuda besi liar” tunggangan MD. Namun kami semuanya senang dan tersenyum lebar di jalur offroad yang menantang dan mengasyikan itu.

Usai melewati tanjakan berbatu, kami istirahat di rindangnya pepohonan. Jam di HP menunjukan pukul 12.30 wib. Ini berarti saatnya makan siang, apalagi beberapa anggota CHEELA punya catatan sakit mag, jadi urusan makan tidak boleh telat. Tim CHEELA dengan permisi ke teman-teman Track mohon untuk menyantap makan siangnya. Sementara itu pemandu dari Track tidak ada yang membawa bekal makan siang, karena berharap nanti makan di warung yang sudah dipersiapkan. Untuk mengganjal perut teman-teman Track, kami berbagai snack.

Puas menyantap makan siang, kami melanjutkan perjalanan offroad. Jalur masih berupa single track dan cenderung menanjak, karena tujuan akhir kami adalah puncak Gunung Klotok. Sayangnya tidak semua tim bisa melewati jalur tersebut, karena fisik yang drop. Hanya RK, AD, WW dan BG dari tim CHEELA yang sukses meraih puncak, bersama 3 orang dari Track. Itupun butuh perjuangan extra keras, khususnya bagi BG, TT dan AD yang naik KLX 150 dan TS 125. BG dan TT harus jungkir balik untuk bisa sampai puncak. Selamat untuk BG, TT, WW dan AD!

Dari puncak gunung kami bisa melihat pemandangan yang menakjubkan. Kami bisa melihat dengan jelas Kota Kediri dari kejauhan. Betul-betul indah, walaupun kami sedikit terganggu dengan udaranya yang panas, padahal kami berada di puncak gunung.

Puas menikmati alam puncak, kami turun ke arah warung. Jalur turun ini mengasyikan sekali, karena berkelok-kelok dan banyak rintangan. RK mencoba speed offroad di jalur turunan tajam ini, hemmm luar biasa nikmat!

Tak lama kemdian kami sampai di sebuah warung, berjumpa dengan anggota tim CHEELA lainnya yang lewat jalur alternatif yang lebih mudah. Di warung itu terlihat WW sudah “terkapar” kelelahan. Sementara itu BN dan RD senyam-senyum karena sudah menyeruput hangatnya kopi.

Di warung yang lumayan ramai itu kami berjumpa dengan komunitas 22 Kediri yang dikomandoi oleh pria nyentrik yang akrab disama “Kaji”. Kaji mengajak kami untuk offroad di jalur Gaza yang katanya super ekstrim. Kamipun tertantang untuk mencoba jalur gaza itu. Kaji dan teman-temanya memandu kami, meskipun sayangnya Kaji cs ini lumayan nekat, karena offroad tidak memakai helm dan juga peranti keselamatan yang layak (sorry bro ya, demi keselamatan kita bersama).

Jalu gaza memang benar-benar jalur yang menantang dan luar biasa. Jalur berupa tanjakan dan turunan super ekstrim, Jalur berupa tanah yang penuh dengan kerikil dan batu, yang membuat ban motor kurang bisa menggigit dengan sempurna.

Pasukan orange tim CHEELA berusaha menaklukan jalur gaza itu. Motor dibetot dengan kencang, dan hasilnya motor terbalik, terjungkal dan menggelinding ke bawah. RK harus terseret sejauh 4 meter dari posisi jatuhnya. RD yang juga pakai motor KTM juga harus terhenti di tengah jalur dan terjungkal. Yang lebih seru lagi adalah aksi BN. Dengan penuh percaya diri, BN membetot gas motornya dengan kencang. BN melaju dengan kencang laksana anak panah, dan tiba-tiba motor dan orangnya langsung terlempar ke sisi kanan. Berguling-guling menabrak semak dan terhenti di sebatang pohon yang menahan tubuh BN dan motornya agar tidak terus nyungsep ke bawah.

Jalur gaza adalah jalur yang menyenangkan bagi penggila offroad single track. Di jalur ini dibutuhkan skill yang baik untuk bisa melwati aneka rintangan yang betul-betul menaikan adrenalin kami. Karena baru pertama kali lewat jalur tersebut, tim CHEELA belum bisa membaca karakter medan dan posisi yang pas, hasilnya kami gagal melewati jalur yang menantang itu. Apalagi fisik kami sudah mulai drop setelah seharian offroad, dari pagi hingga sore. Next time akan kami coba lagi!

Jam di tangan sudah menunjukan pukul 4 sore. Kami harus meninggalakn jalur gaza, karena mobil penjemput kami sudah datang di Kota Kediri. Yah kami harus mengakhir bersenang-sneang di medan offorad hari itu, karena kami harus kembali Kota Malang.

Meskipun kami hanya offroad sehari saja di Kediri, kami tersenyum puas, khususnya di jalur Gaza. Ini adalah jalur kesukaan kami. Terima kasih untuk teman-teman Track dan komunitas trail 22 Kediri yang telah memandu kami dengan tulus. Terima kasih juga untuk AD yang telah menyediakan akomodasi tim CHEELA. Lain waktu kami akan datang lagi ke Kediri! (C-001).