Minggu, 13 Maret 2011

TWO DAYS OFFROAD: DAMPIT-BROMO-LUMAJANG (Bagian 2)





Hari kedua, 13 Maret 2011. Offroad di hari pertama yang penuh dengan single track dan speed offroad rupanya membuat kami terlelap semalaman, meskipun kadang-kadang kami harus terbangun karena mendengar suara gelegar Gunung Bromo. Kami semua, kecuali WD, bangun kesiangan. Cuaca yang berkabut tebal dan sedikit gerimis membuat kami malas beranjak dari empuknya ranjang. Rata-rata jam 7 pagi kami baru bangun dan menyiapkan perjalanan offroad selanjutnya.

Ketika jam di tangan menunjukan pukul 9 pagi, semua tim baru siap untuk melanjutkan offroad. Sayang MD yang di hari pertama jatuh ke jurang tidak bisa melanjutkan ikut offroad karena dadanya masih terasa nyeri. MD akhirnya kembali ke Malang dengan mobil double cabin membelah lautan pasir menuju arah Tumpang. Sedangkan tim lainnya melanjutkan offroad ke arah Kandangan.

Tim yang tersisa langsung menggeber gas motor melintas lautan pasir Gunung Bromo. Pasir pagi itu padat karena diguyur hujan, jadi kami bisa puas membetot gas motor. Monty dan Mike terlihat senang bisa merasakan track di kaki Gunung Bromo itu. Monty berulang kali melibas gundukan-gundukan pasir yang banyak terdapat di sekitar Gunung Bromo.

Meskipun jalur menuju arah Kandangan itu lebar, namun kami tetap harus hati-hati, karena di beberapa titik ada “sungai dadakan”. Sungai dadakan itu beberapa diantaranya sedalam 2 meter. Bibir sungai dadakan itu juga labil, sehingga mudah longsor.

Kami memacu motor dengan kencang. Sekali-kali melibas gundukan pasir dan melintas cepat membelah rerumputan setinggi lutut. Selang 1 jam lepas dari Cemorolawang, kami dihadang jalur menantang berupa double track yang penuh dengan lubang dan cerukan dalam. Beberapa lubang akibat gerusan air hujan itu sedalam lebih dari 1 meter. Butuh kewaspadaan tinggi untuk lolos dari “jebakan” lubang-lubang itu.

RK, Monty dan Mike dengan asyiknya melewati doble track menanjak itu. Sementara pasukan KLX yang ada di belakangnya harus kerja extra keras, apalagi WD yang sudah berusia 53 tahun itu terlihat mulai kedodoran fisiknya. Untungnya ada RS, AG dan IN yang bahu membahu menolongnya. Itulah sebuah kebersamaan dalam tim CHEELA.

Di pertigaan menuju Kandangan, Nongkojajar, kami bertemu dengan rombongan trail modifikasi . Rombongan trail modifikasi itu sontak ramai-ramai minta foto bersama dengan Monty dan Mike. Untungnya Monty dan Mike dengan ramah melayani permintaan foto bersama rombongan trail modifikasi dari Desa Tutur, Kecamatan Nongkojajar itu.

Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan offroad menuju Desa Jarak Ijo. Jalur yang kami lalui benar-benar menyenangkan. Jalur berupa single track yang berkelok-kelok mengelilingi Gunung Bromo. Kami harus extra hati-hati karena di sebelah kiri kami adalah jurang menganga sedalam lebih dari 50 meter. Hiii ngeri kalau seandainya jatuh ke dalam jurang itu!

Satu jam kemudian kami sampai di Jemplang. Setelah istirahat sejenak sambil menikmati baso yang lumayan mengurangi rasa dingin, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami akan offroad ke arah Senduro Lumajang lewat jalur Gunung Jantur.

Sekitar 5 menit meninggalkan Jemplang, kami langsung mau jalur offroad. Jalurnya berupa single track menanjak dan penuh dengan semak berduri. Di jalur ini banyak sekali ranting dan pohon tumbang, sehingga kalau kami meleng sedikit saja, bisa-bisa kepala terbentur dahan yang melintang.

Di beberapa titik, kami harus merunduk bahkan menuntun motor karena terhalang pohon tumbang atau semak-semak yang rebah. Perjuangan kami menunduk, merunduk dan kadang tergores duri itu dibayar dengan pemandangan yang indah sekali. Kawasan Gunung Bromo terlihat begitu cantik kami lihat dari posisi kami yang berada di atas Gunung Bromo. It's amazing!

Di jalur single track arah Jantur ini tim yang memakai motor KTM dan Husaberg bisa melewatinya dengan santai. Namun tidak demikian dengan pasukan KLX 150. Tim yang memakai KLX 150 di salah satu titik harus bekerja super keras untuk melewatinya. Roda ban yang ukurannya kecil yaitu ring 16 terlihat spin, tidak mampu melewati tanah padas yang licin. Apalagi fisik WD sudah benar-benar drop. Nafas WD sudah kembang kempis dan katanya, “aduh paha saya sampai kram….”.

Karena tim yang memakai KLX 150 terlihat susah payah melewati jalur itu, akhirnya kami memutuskan untuk lewat jalur biasa menuju Senduro. Jalur biasa itu adalah jalur aspal di tengah-tengah hutan setelah danau Ranu Pani. Meskipun aspal, namun di beberapa titik ada banyak aspal yang hancur dan penuh kerikil, jadi kami harus tetap hati-hati.

Jam 13.30 kami sampai di Desa Ranu Pani. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil makan siang. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Senduro. Jalan berupa aspal rusak di tengah hutan dan berkelok-kelok menurun.

Waktu menunjukan pukul 15.30 ketika kami sampai di Hutan Ireng-Ireng. Di hutan hujan tropis inilah kami berpisah dengan Monty dan Mike. Monty dan Mike akan melanjutkan perjalanan ke Senduro Lumajang untuk bertemu dengan mobil pendukung yang akan membawa mereka ke Bali.

Kami saling bersalaman dan berpelukan. Offroad selama 2 hari bersama tim CHEELA itu begitu berkesan di hati Monty dan Mike. Mereka benar-benar puas bisa menikmati jalur offroad yang beragam, apalagi jumlah timnya juga kecil jadi bisa enjoy. Kami pun berjanji untuk offroad bersama lagi, next time! Sampai berjumpa di medan offroad berikutnya!