Minggu, 06 Februari 2011

ALA THE LAS MAN STANDING DI PETUNGSEWU





Pukul 08.50 wib enam orang anggota tim CHEELA berangkat meninggalkan sekretariat CHELA di Jetis Kecamatan Dau Malang. Di hari minggu yang lumayan cerah itu tim CHEELA akan offroad pendek, namun ternyata akan menguras habis energi. Lima menit kemudian kami sudah dihadang medan offfroad di tengah ladang petani. Setelah melewati jembatan bambu selebar 1 meter, jalur terlihat becek oleh lumpur yang tergerus ban petani.

Tak sampai 50 meter setelah melewati jembatan bambu, di hadapan kami terpampang jalur yang sedikit menanjak dan menikung tajam. Jalur yang berupa tanah padas dan basah itu membuat ban motor tidak bisa menapak dengan sempurna. Di tikungan tajam ini RK harus merasakan “nikmatnya” ditindih motor BN. RK yang lagi membetulkan posisi motor di tikungan, tiba-tiba ditindih BN yang motornya terguling ke arah RK. Kamipun tertawa terbahak-bahak melihat adegan “tindih menindih” ini.

Lolos tikungan maut, jalur berikutnya masih di tengah-tengah ladang. Jalur berupa tanah yang diselingi rumput. Di jalur ini kami bisa memacu motor agak kencang. Tak lama kemudian kami memasuki perkebunan tebu dengan jalur berkelok-kelok. Di jalur inipun kami masih bisa memacu motor dengan kencang.

Melewati perkebunan tebu yang kami tempuh selama kurang lebih 5 menit, kami harus menyebarang jalur aspal. BN yang kehabisan air minum karena camel bag-nya bocor, berhenti sebentar di sebuah toko untuk membeli air minum. Keputusan membeli air minum ini sangatlah tepat, karena nanti akan benar-benar dibutuhkan ketika kmai dihajar jalur offroad sebenarnya.

Jalur berikutnya berupa jalan berbatu sepanjang 1 km. Karena jalan berada di tengah-tengah kampung, kami memacu motor dengan santai, untuk menghormati penduduk setempat. Tak lama kemudian kami sampai di Desa Petungsewu dan langsung masuk jalur offfroad, tidak lewat jalan aspal.

Begitu memasuki jalur offroad, kami langsung berhadapan dengan jalur single track selebar kurang dari semeter. Jalur berupa tanah dan menurun tajam. Jalur sangat licin karena berupa tanah liat dan di banyak titik itu tanahnya dicangkul oleh petani. Kami mengendalikan motor dengan hati-hati kalau tidak mau nyungsep dan mencium segarnya lumpur.

Tak lama kemudian di hadapan kami ada sungai selebar 3 meter dengan banyak batu-batuan licin. Di seberang sungai itulah jalur yang harus kami lewati. Jalur berupa tanjakan tajam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Persoalannya adalah selain jalur itu licin karena hujan, jalur itu juga penuh dengan rintangan batu sebesar kepala gajah!

Jam di tangan menunjukan pukul 09.30 ketika kami berada di sungai Petungsewu dan siap-siap menanlukan jalur berbatu ala the Last Man Standing itu. The Las Man Standing adalah nama kejuaran enduro ekstrim di Amerika, yang hanya ada satu pemenangnya. Dibutuhkan skill tinggi dan motor mumpuni untuk ikut dalam kejuaran the Last Man standing itu.

Jalur ini benar-benar jalur maut. Motor meraung-raung berusaha melewati licinnya tanah dan batu. Motor yang berusaha keras melewati tanah padas itu terpaksa harus berhenti karena ban tidak mampu melewati rintangan batu. Celakanya, batu itu banyak yang ditumbuhi lumut yang licin.

Di jalur ala “the last man standing” itu semua motor terjungkal. Segala jurus dikeluarkan untuk lolos jalur, hasilnya hanya satu yaitu terjungkal ! Ban motor sudah seperti donat karena dibalut lumpur. Wajah pengendara sudah penuh peluh, bahkan seperti habis terjebur di sungai. Nafas tersenggal-senggal mau putus. Motorpun meraung-raung seperti suara chain saw.

Jurus terakhirpun kami keluarkan yaitu jurus “tali sakti”. Ya TT akhirnya mengeluarkan “tali saktinya” beruap tali webbing untuk menarik motor satu per satu. Justru adegan tarik-menarik motor ini yang membuat energi kami terkuras habis. Apalagi setiap 5 meter motor terjungkal lagi dihajar oleh licinnya tanah padas. Kerja sama tim diuji di jalur ini. Kamipun bahu membahu untuk menarik motor satu per satu.

Jam 12.00 kami masih terjebak di jalur “the last man standing”. Petanipun mulai berdatangan untuk melihat “aksi” kami itu. Mereka berkomentar, “aduh mas jalan hancur kayak begini koq dilewati, ini adalah jalur orang mencari kayu, bukan untuk motor”. Kami hanya tersenyum mendengar celetukan para petani yang ternyata juga terhibur dengan adegan “kotor’ kami itu. Kami memang sudah benar-benar kotor oleh lumpur, baik motor maupun orangnya.

Setelah 3 jam berkutat di jalur “the last man standing”, jalur berikutnya lumayan santai karena berupa jalan tanah di tengah perladangan. Namun ternyata tidak santai-santai amat, karena di beberapa titik motor kami juga terjebak di licinnya tanah padas yang semalaman diguyur hujan. Kamipun harus sedikit bekerja keras lagi untuk melewatinya.

Mendekati jam 13.00 kami akhirnya lolos dari jalur offroad. Kami sampai di depan Jalan Margasatwa, jalan menuju Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC). P-WEC adalah sebuah pusat pendidikan konservasi alam yang juga asyik sebagai tempat outing. Kami meluncur ke arah P-WEC dan numpang makan siang di P-WEC.

Sambil makan siang, kami asyik bercanda melepas kepenatan. Menjadi kebiasaan di tim CHEELA untuk selalu membawa bekal makanan, maklum sering kita tidak tahu kita akan sampai jam berapa offroad di tengah hutan yang tentunya tidak ada warung.

Usai makan siang, kami memutuskan menyudahi offroad hari itu. WW bilang, “wah saya sudah low bat (loyo) nih karena tadi naikan beberapa motor”. Memang meskipun kami hanya offfroad sekitar 4 jam, namun rasanya seperti offroad 12 jam. Energi terkuras habis. Namun kami puas karena bisa melepas kejenuhan bekerja di hari minggu itu dengan offroad. Benar-benar puas, sehingga kamipun sepakat untuk mengakhiri petualangan hari itu. Sampai ketemu di offroad berikutnya!