Rabu, 09 Februari 2011

PERBEDAAN MOTOR TIPE CROSS (SE) DAN ENDURO




Ada banyak pertanyaan bagaimana kalau motor tipe cross (di Indonesia sering disebut SE alias special engine) dipakai untuk offroad atau enduro? Sebelumnya perlu dipahami dulu perbedaan antara motor tipe cross/MX dengan enduro. Motor MX itu biasa dipakai untuk kompetisi motocross dan supercross. Motor disetting dengan akselerasi ganas dan untuk meloncat bahkan terbang melibas gundukan tanah. Karena hanya dipakai untuk kompetisi maka motor MX itu tidak dilengkapi dengan lampu, sein dan standar samping (jagrak).

Motor tipe MX terlihat simple dan ramping, tidak terlalu banyak aksesorisnya. Motor MX alias SE (padahal sebetulnya salah kaprah menyebut motor cross dengan istilah SE karena motor enduropun mesinnya sudah Special Engine, bukan mesin biasa) itu misalnya Yamaha YZF 250, KTM 250 SXF, Honda CRF 250R, Suzuki RMZ 250, Kawasaki KXF 250, Honda CR 150R, Husqvarna TC 250, dll.

Sedangkan motor enduro itu dirancang untuk di medan offfroad yang panjang. Kalau di USA dan Eropa juga dipakai untuk kompetisi enduro. Bedanya dengan tipe MX, untuk motor tipe enduro itu sudah dilengkapi dengan lampu sehingga aman kalau harus kemalaman di hutan. Selain itu motor tipe enduro juga kebanyakan dilengkapi dengan electric starter, standart samping dan suspensi yang lebih empuk dibanding tipe MX. Tenaga motor memang tidak seganas tipe MX, cenderung lebih smooth, namu justru ini yang membuat pengendara tidak cepat capek. Maklum offroad itu seringkali lebih dari 6 jam, bahkan berhari-hari, sedangkan kompetisi cross hanya beberapa jam saja.

Contoh motor tipe enduro itu adalah KTM 250/450 EXCF, Honda CRF 250X, Yamaha WRF 250, Husqvarna TE 250, Husaberg FE 450, dll. Karena penuh dengan piranti tambahan, maka motor tipe enduro itu bobotnya lebih berat dibanding motor tipe cross.

Jadi perbedaan motor tipe MX dan enduro itu adalah:

MOTOR TIPE CROSS/MX:

- Tenaga motor lebih ganas

- Suspensi lebih keras

- Tidak pakai standar samping (jagrak)

- Bobot motor lebih ringan

- Tidak bisa dipakai untuk jalanan, karena tidak ada suratnya, hanya untuk kompetisi

- Kebanyakan tidak dilengkapi dengan electric starter, hanya mengandalkan engkol kaki.

MOTOR TIPE ENDURO:

- Suspensi lebih empuk

- Tenaga motor kebanyakan lebih smooth

- Dilengkapi dengan lampu, sein, standar samping dan juga bisa untuk jalanan (bisa dilengkapi dengan surat)

- Dilengkapi dengan electric starter

Bisakah Motor Tipe Cross Dipakai Offroad?

Meskipun sudah ada motor tipe enduro yang mumpuni untuk melibas medan offroad, namun banyak juga orang yang memakai motor tipe cross untuk offroad. Di beberapa kejuaraan offroad atau enduro dunia, banyak juga top riders yang memakai motor tipe MX, sebut saja David Knight pernah berjaya dengan Kawasaki KXF 450 juga Strang dengan Suzuki RMZ 450.

Mereka memilih motor tipe cross untuk offroad karena pertimbangan bobot motor yang lebih ringan dan power motor lebih mantap. Cuma tentu saja akan lebih menguras energi, tetapi di tangan pengendara yang tepat, motor tipe cross akan menjadi monster di medan offfroad.

Di tim CHEELA juga ada beberapa orang yang memakai motor tipe cross untuk offroad. Motor tipe cross yang biasa kami pakai untuk offroad adalah KXF 250, CRF 250R dan juga KTM SXF 250. Sejauh ini tidak ada masalah memakai motor MX untuk offfroad, tentunya sebelumnya pengendaranya harus adaptasi dulu dengan karakter motornya yang memang dari pabrikannya dirancang untuk kompetisi.

Memakai motor tipe cross untuk offroad perlu ada setting ulang, antara lain suspensi depan dibuat lebih empuk dengan mengurangi volume oli dan mengganti kekentalan oli dengan yang lebih encer. Atau kalau ada dana lebih, per suspensi diganti dengan per tipe enduro. Gir belakang juga dikecilkan 2 atau 3 mata, untuk mengurangi ganasnya akselerasi bawah dan menambah top speed. Dan yang terpenting adalah setelan klep harus pas, sehingga motor mudah dihidupkan, maklum kebanyakan motor tipe cross masih mengandalkan engkolan kaki untuk menghidupkan mesin.

Oli mesin yang dipakai juga harus kualitas bagus, karena ini akan membantu memudahkan untuk menghidupkan motor di situasi udara dingin. Kekentalan oli harus diperhatikan, lebih baik menggunakan oli mesin yang encer.

Kalau tidak mau repot membawa besi penyangga motor waktu diparkir, motor tipe cross bisa ditambahkan standar samping seperti halnya motor enduro. Ada banyak produk yang menjual standar samping untuk tipe cross. Pilih bahan yang dari alloy, sehingga bobotnya akan ringan dan kuat, jangan pakai besi.

Bagaimana dengan isu over heat? Gejala mesin motor panas berlebih atau disebut over heat bisa diatasi dengan memastikan radiator tidak bocor, air radiator selalu terisi penuh dan jangan teralu sering memakai setengah kopling. Mesin motor yang terawatt dan sehat juga akan menjamin motor tidak over heat. Kalau perlu ganti radiator dengan ukuran yang lebih besar.

Pengalaman kami memakai tiga motor tipe cross yang berbeda, Honda CRF 250R paling tangguh untuk dipakai offfroad. Mesin motor tidak pernah over heat dan tenaganya lebih mudah dikendalikan. Suspensi juga mudah disetting. Namun kalu bicara soal suspensi, KTM 250 SXF boleh dibilang terdepan karena terasa smooth dan masih enak untuk melibas gundukan tanah yang tinggi. Sedangkan KXF 250 menang di akselerasi yang terkenal ganas namun liar.

Kalau ingin motor tipe cross yang sudah ada electric starter-nya, maka sekarang sudah ada pilihannya yaitu KTM 350 SXF. Ini motor yang handlingnya seperti motor 250, namun tenaganya ganas seperti 450. Tangguh, ringan dan handling-nya enak. Ini motor yang dahsyat untuk cross ataupun offroad.

Peralihan Motor Enduro dan Cross

Bagi yang malas memakai motor tipe cross untuk offroad, namun ingin merasakan motor dengan karakter yang tidak terlalu jauh berbeda dengan motor MX, maka beberapa pabrikan mengeluarkan motor tipe cross country. Motor tipe cross country boleh dibilang motor yang spek-nya mendekati tipe cross tapi rasa enduro.

Motor tipe cross country itu dilengkapi dengan standar samping, sebagian sudah pakai electric starter dan juga bisa dipasang lampu. Seperti halnya motor tipe MX, motor tipe cross country juga tidak bisa dipakai di jalanan raya.

Kelebihan motor tipe cross country adalah suspensi sedikit lebih lembut dibanding tipe cross, tapi lebih keras dibanding tipe enduro. Suspensi motor tipe cross country ini terasa lebih mantap bagi penggemar speed offroad. Akselerasi dan tenaga motor juga diatas tipe enduro. Gigi juga terasa lebih pendek dibanding tipe enduro, sehingga tenaga bawahnya juga lebih dahsyat. Namun top speed motor tipe cross country itu kebanyakan lebih rendah dibanding tipe enduro.

Motor tipe cross country kebanyakan dikeluarkan oleh pabrikan Eropa seperti KTM, Husaberg dan Husqvarna. Maklum kejuaraan cross country memang lebih banyak di Eropa dan Amerika, kalau di Asia masih terbilang jarang kalau tidak mau disebut tidak ada. Di barisan KTM untuk tipe cross itu disebut tipe XC, misalnya 200 XC, 250 XC atau 300 XC. Semuanya adalah pasukan 2 tak. Sedangkan di pabrikan Italy, Husqvarna, itu disebut TXC, contohnya TXC 250. Untuk Husaberg motor tipe cross country disebut FX.

Sekarang tergantung pilihan anda. Mau memakai motor tipe enduro, cross atau cross country. Sesuaikan dengan skill dan riding style anda. Simak juga tips memilih motor trail di link berikut: http://indo-dirtbike.blogspot.com/2010/11/memilih-motor-trail-yang-pas.html

(Sumber: CHEELA Motoadventure)

Minggu, 06 Februari 2011

ALA THE LAS MAN STANDING DI PETUNGSEWU





Pukul 08.50 wib enam orang anggota tim CHEELA berangkat meninggalkan sekretariat CHELA di Jetis Kecamatan Dau Malang. Di hari minggu yang lumayan cerah itu tim CHEELA akan offroad pendek, namun ternyata akan menguras habis energi. Lima menit kemudian kami sudah dihadang medan offfroad di tengah ladang petani. Setelah melewati jembatan bambu selebar 1 meter, jalur terlihat becek oleh lumpur yang tergerus ban petani.

Tak sampai 50 meter setelah melewati jembatan bambu, di hadapan kami terpampang jalur yang sedikit menanjak dan menikung tajam. Jalur yang berupa tanah padas dan basah itu membuat ban motor tidak bisa menapak dengan sempurna. Di tikungan tajam ini RK harus merasakan “nikmatnya” ditindih motor BN. RK yang lagi membetulkan posisi motor di tikungan, tiba-tiba ditindih BN yang motornya terguling ke arah RK. Kamipun tertawa terbahak-bahak melihat adegan “tindih menindih” ini.

Lolos tikungan maut, jalur berikutnya masih di tengah-tengah ladang. Jalur berupa tanah yang diselingi rumput. Di jalur ini kami bisa memacu motor agak kencang. Tak lama kemudian kami memasuki perkebunan tebu dengan jalur berkelok-kelok. Di jalur inipun kami masih bisa memacu motor dengan kencang.

Melewati perkebunan tebu yang kami tempuh selama kurang lebih 5 menit, kami harus menyebarang jalur aspal. BN yang kehabisan air minum karena camel bag-nya bocor, berhenti sebentar di sebuah toko untuk membeli air minum. Keputusan membeli air minum ini sangatlah tepat, karena nanti akan benar-benar dibutuhkan ketika kmai dihajar jalur offroad sebenarnya.

Jalur berikutnya berupa jalan berbatu sepanjang 1 km. Karena jalan berada di tengah-tengah kampung, kami memacu motor dengan santai, untuk menghormati penduduk setempat. Tak lama kemudian kami sampai di Desa Petungsewu dan langsung masuk jalur offfroad, tidak lewat jalan aspal.

Begitu memasuki jalur offroad, kami langsung berhadapan dengan jalur single track selebar kurang dari semeter. Jalur berupa tanah dan menurun tajam. Jalur sangat licin karena berupa tanah liat dan di banyak titik itu tanahnya dicangkul oleh petani. Kami mengendalikan motor dengan hati-hati kalau tidak mau nyungsep dan mencium segarnya lumpur.

Tak lama kemudian di hadapan kami ada sungai selebar 3 meter dengan banyak batu-batuan licin. Di seberang sungai itulah jalur yang harus kami lewati. Jalur berupa tanjakan tajam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Persoalannya adalah selain jalur itu licin karena hujan, jalur itu juga penuh dengan rintangan batu sebesar kepala gajah!

Jam di tangan menunjukan pukul 09.30 ketika kami berada di sungai Petungsewu dan siap-siap menanlukan jalur berbatu ala the Last Man Standing itu. The Las Man Standing adalah nama kejuaran enduro ekstrim di Amerika, yang hanya ada satu pemenangnya. Dibutuhkan skill tinggi dan motor mumpuni untuk ikut dalam kejuaran the Last Man standing itu.

Jalur ini benar-benar jalur maut. Motor meraung-raung berusaha melewati licinnya tanah dan batu. Motor yang berusaha keras melewati tanah padas itu terpaksa harus berhenti karena ban tidak mampu melewati rintangan batu. Celakanya, batu itu banyak yang ditumbuhi lumut yang licin.

Di jalur ala “the last man standing” itu semua motor terjungkal. Segala jurus dikeluarkan untuk lolos jalur, hasilnya hanya satu yaitu terjungkal ! Ban motor sudah seperti donat karena dibalut lumpur. Wajah pengendara sudah penuh peluh, bahkan seperti habis terjebur di sungai. Nafas tersenggal-senggal mau putus. Motorpun meraung-raung seperti suara chain saw.

Jurus terakhirpun kami keluarkan yaitu jurus “tali sakti”. Ya TT akhirnya mengeluarkan “tali saktinya” beruap tali webbing untuk menarik motor satu per satu. Justru adegan tarik-menarik motor ini yang membuat energi kami terkuras habis. Apalagi setiap 5 meter motor terjungkal lagi dihajar oleh licinnya tanah padas. Kerja sama tim diuji di jalur ini. Kamipun bahu membahu untuk menarik motor satu per satu.

Jam 12.00 kami masih terjebak di jalur “the last man standing”. Petanipun mulai berdatangan untuk melihat “aksi” kami itu. Mereka berkomentar, “aduh mas jalan hancur kayak begini koq dilewati, ini adalah jalur orang mencari kayu, bukan untuk motor”. Kami hanya tersenyum mendengar celetukan para petani yang ternyata juga terhibur dengan adegan “kotor’ kami itu. Kami memang sudah benar-benar kotor oleh lumpur, baik motor maupun orangnya.

Setelah 3 jam berkutat di jalur “the last man standing”, jalur berikutnya lumayan santai karena berupa jalan tanah di tengah perladangan. Namun ternyata tidak santai-santai amat, karena di beberapa titik motor kami juga terjebak di licinnya tanah padas yang semalaman diguyur hujan. Kamipun harus sedikit bekerja keras lagi untuk melewatinya.

Mendekati jam 13.00 kami akhirnya lolos dari jalur offroad. Kami sampai di depan Jalan Margasatwa, jalan menuju Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC). P-WEC adalah sebuah pusat pendidikan konservasi alam yang juga asyik sebagai tempat outing. Kami meluncur ke arah P-WEC dan numpang makan siang di P-WEC.

Sambil makan siang, kami asyik bercanda melepas kepenatan. Menjadi kebiasaan di tim CHEELA untuk selalu membawa bekal makanan, maklum sering kita tidak tahu kita akan sampai jam berapa offroad di tengah hutan yang tentunya tidak ada warung.

Usai makan siang, kami memutuskan menyudahi offroad hari itu. WW bilang, “wah saya sudah low bat (loyo) nih karena tadi naikan beberapa motor”. Memang meskipun kami hanya offfroad sekitar 4 jam, namun rasanya seperti offroad 12 jam. Energi terkuras habis. Namun kami puas karena bisa melepas kejenuhan bekerja di hari minggu itu dengan offroad. Benar-benar puas, sehingga kamipun sepakat untuk mengakhiri petualangan hari itu. Sampai ketemu di offroad berikutnya!