Minggu, 09 Januari 2011

SPEED OFFROAD ARAN-ARAN: HUSQVARNA VS KAWASAKI





(9/01/2011) Mendekati jam 09.30 wib, tim CHEELA merapat di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Lagi-lagi hari itu tim CHEELA yang berjumlah 11 orang akan mencoba speed offroad di jalur menuju Sungai Aran-Aran yang dikenal dengan jalur seribu gundukan. Offroad kali ini terbilang istimewa karena bisa disebut sebagai ajang pembuktian motor husqvarna di medan offfroad. Lebih-lebih Daniel Tangka, crosser professional andalan tim MX Djagung dan Husqvarna, juga ikut offroad bareng tim CHEELA. Daniel yang sejak tahun 80-an sudah terjun di dunia garuk tanah itu dibekali senjata husqvarna TE 250.

Tim CHEELA yang lain menunggangi kuda besi beragam, antara lain Kawasaki KXF 250, Honda CRF 150, Kawasaki KLX 150, husqvarna TXC 250 dan husqvarna TE 250. Di offroad kali ini seakan-akan ada kompetisi antara dua pabrikan yaitu Kawasaki versus Husqvarna. Di jajaran Husqvarna ada TXC 250, TE 250 dan TE 125, sedangkan geng hijau diwakili KXF 250 dan KLX 150. Sementara Honda hanya ada MD, offroader perempuan satu-satunya di tim CHEELA, yang membawa tunggangan CRF 150F. Selain itu masih ada TT yang masih setia dengan Suzuki TS 125 andalannya.

Tidak sampai 5 menit meninggalkan Desa Pandasanri, jalur sudah berupa tanah sedikit menanjak dan penuh gelombang akibat tergerus air hujan. RK dengan motor barunya, TXC 250, langsung menggeber habis gas motornya. TXC 250 yang merupakan tipe enduro kompetisi (cross country) itu meliuk-liuk dengan enteng melibas rintangan alami. Di belakang RK, menempel ketat DW dengan KXF 250 yang terkenal ganas di sirkuit motocross. Menyusul DW adalah AD dengan KLX 150 yang berusaha keras mengikuti permainan “motor-motor gede”. Skill AD terlihat semakin matang di medan offroad.

Setelah melewati jalur air di tengah ladang tebu, tim dihadang jalur offroad menanjak ,berkelok-kelok dan penuh gundukan tanah ala “super bowl”. Di jalur ini Daniel Tangka yang kenyang asam garam dunia motocross menujukan skill-nya. Bersama RK dan DW, Daniel Tangka berada di barisan terdepan, meninggalkan tim CHEELA lainnya. Ketiga orang itu membetot gas motor dengan kencang, terbang melibas gundukan tanah, dan rebah melewati tikungan tajam. Jalur offroad yang sepi membuat kami bisa melakukan speed offroad dengan tenang, tanpa takut berpapasan dengan kendaraan lain. Namun begitu memasuki perkampungan, kami mengurangi laju motor untuk menghormati masyarakat sekitar.

Di jalur menuju Sungai Aran-Aran ini, DW memacu kencang KXF 250-nya tanpa memeprdulikan jalur offfroad yang hancur. Sekali-kali DW disalip oleh RK dan juga Daniel Tangka. RK yang baru adaptasi dengan TXC 250, masih belum berani menarik gas lebih dalam. RK yang biasa naik KTM dan CRF 250R itu baru pertama kali menunggangi TXC 250 di medan offroad yang panjang. Karena belum adaptasi itu, di track menurun menuju arah Desa Wonokerto, RK terjatuh dari motornya karena ban depan masuk dalam lubang. RK terlambat mengerem dan pindah jalur, akibatnya RK dan motornya harus mencium tanah segar di lereng Gunung Semeru itu.

Jam di tangan menunjukan pukul 10.45 ketika tim sampai di pos Patokpicis, Kecamatan Wajak. Tim istirahat sejenak, sambil bercanda ria melepas ketegangan setelah dihajar medan offroad. Ketika istirahat, DW penasaran dengan performa TXC 250 tunggangan RK. Karena dia tidak menyangka RK mampu menempel terus KXF 250 di medan speed offroad itu. DW yang mempunyai skill offfroad di atas rata-rata itu langsung membetot gas TXC 250 dengan kencang. Motor terlihat meliuk-liuk melibas gundukan tanah, jalan berbatu dan lubang air. Ban motor yang goyang kanan dan kiri itu, seakan-akan motor mau jatuh, namun motor bisa tegak kembali begitu gas ditarik lebih dalam lagi.

Usai mencoba performa TXC 250, DW mengatakan, “gila, motornya enak banget, kayak motor SE!” Memang tipe TXC ini adalah tipe enduro kompetisi, tenaganya dahsyat namun masih bisa dikendalikan, RK merasakan karakter TXC 250 ini mirip dengan Honda CRF 250R. Kalau digeng orange alias KTM, tipe enduro kompetisi itu disebut tipe XC.

Setelah puas istirahat sejenak, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju hutan di wilayah Dampit. Jalur masih full offroad, full gundukan tanah dan full lubang tanah bekas tergerus air. Tak lama kemudian tim tiba di tepi sungai dan diatas sungai itu ada jalur sempit alias single track yang super curam. Tikungan juga berbetuk ‘L”, sehingga butuh skill dan pengalaman untuk menaklukan jalur yang sering memakan korban itu.

RK yang berada di barisan depan langsung menggeber kencang motornya, sayang RK salah ambil jalur, karena roda ban belakang masuk ke dalam tanah gembur. DW yang di belakang RK, terpaksa harus mengerem mendadak kalau tidak mau tabrakan dengan RK. Di jalur “macet” itu menjadi neraka buat DW, karena KXF 250-nya tidak mau hidup. KXF yang mengandalkan “pancalan kaki” untuk menghidupkan motor itu “ngambek” alias tidak mau hidup. Keringat DW-pun mulai bercucuran seperti air hujan. Untungnya akhirnya motor mau hidup, itupun setelah “disundul” oleh TE 250 yang dibawa ED.

Di jalur single track itu HR, pemula yang memakai Husqvarna TE 125, motornya terbalik karena posisi mengendarai motor yang salah. Seharusnya di tanjakan ekstrim seperti itu posisi tubuh HR maju kedepan dan kaki menjepit tengki dengan erat. Muka HR terlihat pucat dihajar jalur single track ini. Sementara itu pasukan KLX 150 dan CRF 150 melewati jalur single track itu dengan relatif mudah. Dimensi motor yang tidak terlalu tinggi, membantu pengendara lebih mudah melewati jalur itu, karena kaki lebih mudah menapak ke tanah.

Lolos jalur tanjakan ekstrim, tim masih dihadang jalur single track di tengah hutan. Jalur sama sekali tidak terlihat karena tertutup rumput dan semak. Tim hanya mengandalkan feeling untuk melewati jalur itu. Tak lama kemudian, sekitar jam 12.00, tim sampai di tengah hutan mahoni yang rindang. Di tempat ini, kami memutuskan untuk istirahat sambil makan siang.

Sambil makan, DW berujar, “momen makan bersama di tengah hutan inilah momen yang tidak bisa dibeli, apalagi kebersamaan kita begitu kental”. Memang betul-betul nikmat seali makan di tengah hutan bersama sobat-sobat dekat. Lauk apapun jadi begitu nikmat! Namun yang jelas, usai makan, kami tidak meninggalkan sampah apapun. Sampah plastik dikumpulkan dan dibawa kembali pulang.

Setelah satu jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Jalur juga masih full speed offfroad. Di jalur balik menuju Wonokerto ini, RK, DW dan Daniel Tangka menggeber habis motornya. Mereka bertiga di berada di barisan depan, saling salip menyalip. HR yang berusaha mengikuti ketiga orang itu harus membayar mahal, karena dia terjungkal hebat yang mengakibatkan cidera di kakinya. HR-pun harus berjalan pincang dan meringis kesakitan.

Sementara itu RK, DW dan Daniel Tangka masih di depan. Ketiga motor orang tersebut terbang melibas gundukan tanah, bagaikan burung elang yang nama ilmiahnya adalah Spilornis cheela (dari nama elang itulah, muncul nama tim CHEELA). Di sebuah tikungan yang penuh gundukan tanah, RK berusaha menyalip DW yang membawa KXF 250 spek kompetisi. Motor RK digeber habis dan motor meloncat melewati gundukan tanah. DW-pun sempat terkaget-kaget dengan aksi RK yang berani mengambil sisi dalam sambil meloncat itu.

Sayangnya begitu motor RK mendarat di tanah, motor tidak bisa dikendalikan lagi. Tanpa sadar begitu roda depan menginjak tanah, gas motor tertarik dengan kuat, akibatnya motor langsung terbang melayang ke arah jurang di sisi kiri. Untungnya RK masih sadar dan sempat membuang badan ke arah kanan. Akibatnya motor melayang ke kiri dan tubuh RK terlempar ke arah kanan. Untungnya motor tidak masuk dalam ke jurang, karena terhalang oleh pohon. Lebih untung lagi, RK tidak mengalami cidera apapun karena memakai peranti perlindungan offroad yang maksimal.

Daniel Tangka yang berada persis di belakang RK, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kata Daniel, “wah seru sekali tadi, waktu itu saya terus berada di belakang DW dan RK yang lagi balapan, tahu-tahu motor RK terbang tak terkendali!”.

Setelah motor ditarik ramai-ramai, kamipun melanjutkan perjalanan. Meskipun baru nyaris masuk jurang, kami masih melakukan aksi speed offroad. Hanya HR yang kakinya keseleo yang harus menahan sakit mengikuti ritme speed offroad tim CHEELA. Di jalur pulang ini motor MD sempat terjebak dalam lubang tanah gembur. Tenaga MD yang perempuan itu tidak kuat mengeluarkan sendiri motor dari jepitan tanah. Untungnya anggota tim CHEELA yang lain seperti RS, AD dan TT segera turun tangan membantu evakuasi motor MD.

Sekitar jam 15.00 kami kembali sampai di Desa Pandansari. Mobil pendukungpun sudah menanti untuk membawa kami kembali ke Kota Malang. Senyum puas dan salam kompak-pun mengakhiri petualangan kami di hari minggu yang cerah itu.