Senin, 10 Januari 2011

DUA TAHUN BERSAMA HONDA CRF 150F




Ada banyak pilihan motor trail bagi penggemar trail adventure atau offroad di Indonesia. Beberapa motor sudah dibuat di dalam negeri sehingga harganya bisa ditekan, misalnya Suzuki TS 125 dan Kawasaki KLX 150. Sayangnya TS 125 sudah dihentikan produknya sejak tahun 2005. Saat ini KLX 150 menjadi pilihan utama bagi penggemar trail di Indonesia, karena selain harganya relatif terjangkau (sekitar Rp 22 juta), ketinggian motornya juga relatif pas untuk rata-rata ukuran orang Indonesia.

Kalau di internasional, KLX 150 itu aslinya adalah KLX 140 yang tipe offfroad murni (tanpa lampu dan tanpa surat). Nah pesaing dari KLX 140 itu adalah Honda CRF 150F. Sayangnya CRF 150F tidak dimasukan ke Indonesia oleh ATPM, jadi masih lewat importir umum.

Made Astuti, perempuan penggemar offfroad motor trail dari komunitas CHEELA, dalam dua tahun terakhir ini setia ditemani oleh CRF 150F dalam ber-offroad ria. Made Astuti sebelum menunggangi CRF 150F dia terbiasa naik TS 125 dan Honda CR 85 tipe kompetisi. Selain itu Made yang sudah mempunyai 2 orang anak itu juga memakai KLX 150.

Pengalaman Made Astuti memakai CRF 150F keluaran tahun 2009 itu pada sebuah kesimpulan bahwa CRF 150F adalah motor yang tangguh dan enak untuk dipakai offfroad. Bobot motor yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan KLX 150 memberikan nilai plus bagi Made ketika dia terjungkal, karena dia dengan mudah masih bisa mendirikan motornya tanpa bantuan orang lain. Namun ketika dia memakai KLX 150, dipastikan dia akan kesulitan untuk mendirikan motor jika dia terjatuh.

Handling CRF 150F juga enak dan ringan. Tenaga motor juga diatas KLX 150F standar. Material CRF 150 juga kuat, karena pelk sudah berbahan alloy yang tahan banting dan tengki sudah berbahan plastik seperti yang dipakai di motor SE tipe kompetisi. Satu lagi kelebihan CRF 150F adalah motor warna merah ini sudah dilengkapi electric starter, jadi tinggal pencet “grenggg”, motor sudah melaju. Meskipun bawaan pabrik motor ini belum dilengkapi dengan lampu, namun motor bisa diberi lampu tanpa merubah apapun. Tinggal menyambung kabelnya saja. Di CRF 150F punya Made, lampu dipercayakan kepada produk acerbis asli Italy yang dikenal handal untuk offroad.

CRF 150F enak untuk diajak terbang yang tidak terlalu tinggi. Melibas gundukan tanah setinggi 1 meter bukan menjadi masalah berarti. Motor bisa jatuh dengan enak, tanpa ada gejala roda “oleng”. Sementara jika Made memakai KLX 150F ada gejala roda terasa “oleng’ jika diajak melibas gundukan tanah.

Meterial plastic body CRF 150F juga terbilang kuat. Beberapa kali motor Made terjungkal ke jurang atau jatuh dengan keras, plastik sama sekali tidak pecah, hanya tergores sedikit saja. Plastik CRF 150F sangat lentur tapi kuat.

Kelebihan dari CRRF 150F adalah perawatan motornya yang sangat murah dan mudah. Perawatan hanya cukup rutin mengganti olie mesin dan membersihkan filter udara saja. Setahun sekali motor dibersihkan karburatornya. Selama 2 tahun memakai CRF 150F, komponen yang sudah diganti oleh Made Astuti adalah hanya ban, busi dan accu. Sedangkan komponen lainnya masih original alias belum perlu diganti.

Honda CRF 150F adalah pilihan tepat untuk penggemar offfroad yang ketinggian badannya tidak sampai 165 cm dan mendambakan motor offroad yang minim perawatan. Honda CRF 150F terbukti handal dan tangguh untuk dipakai di medan offfroad!

SPESIFIKASI CRF 150F PUNYA MADE ASTUTI:

Tipe dan mesin: Honda CRF 150F, 150cc, 4 strokes
Ring ban belakang/depan: 16/19
Ban depan belakang: Kenda
Stang: Renthal
Handguard; Acerbis rally pro
Lampu: Acerbis DHH
Busi: TDR
Silencer knalpot: AHRS

Minggu, 09 Januari 2011

SPEED OFFROAD ARAN-ARAN: HUSQVARNA VS KAWASAKI





(9/01/2011) Mendekati jam 09.30 wib, tim CHEELA merapat di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Lagi-lagi hari itu tim CHEELA yang berjumlah 11 orang akan mencoba speed offroad di jalur menuju Sungai Aran-Aran yang dikenal dengan jalur seribu gundukan. Offroad kali ini terbilang istimewa karena bisa disebut sebagai ajang pembuktian motor husqvarna di medan offfroad. Lebih-lebih Daniel Tangka, crosser professional andalan tim MX Djagung dan Husqvarna, juga ikut offroad bareng tim CHEELA. Daniel yang sejak tahun 80-an sudah terjun di dunia garuk tanah itu dibekali senjata husqvarna TE 250.

Tim CHEELA yang lain menunggangi kuda besi beragam, antara lain Kawasaki KXF 250, Honda CRF 150, Kawasaki KLX 150, husqvarna TXC 250 dan husqvarna TE 250. Di offroad kali ini seakan-akan ada kompetisi antara dua pabrikan yaitu Kawasaki versus Husqvarna. Di jajaran Husqvarna ada TXC 250, TE 250 dan TE 125, sedangkan geng hijau diwakili KXF 250 dan KLX 150. Sementara Honda hanya ada MD, offroader perempuan satu-satunya di tim CHEELA, yang membawa tunggangan CRF 150F. Selain itu masih ada TT yang masih setia dengan Suzuki TS 125 andalannya.

Tidak sampai 5 menit meninggalkan Desa Pandasanri, jalur sudah berupa tanah sedikit menanjak dan penuh gelombang akibat tergerus air hujan. RK dengan motor barunya, TXC 250, langsung menggeber habis gas motornya. TXC 250 yang merupakan tipe enduro kompetisi (cross country) itu meliuk-liuk dengan enteng melibas rintangan alami. Di belakang RK, menempel ketat DW dengan KXF 250 yang terkenal ganas di sirkuit motocross. Menyusul DW adalah AD dengan KLX 150 yang berusaha keras mengikuti permainan “motor-motor gede”. Skill AD terlihat semakin matang di medan offroad.

Setelah melewati jalur air di tengah ladang tebu, tim dihadang jalur offroad menanjak ,berkelok-kelok dan penuh gundukan tanah ala “super bowl”. Di jalur ini Daniel Tangka yang kenyang asam garam dunia motocross menujukan skill-nya. Bersama RK dan DW, Daniel Tangka berada di barisan terdepan, meninggalkan tim CHEELA lainnya. Ketiga orang itu membetot gas motor dengan kencang, terbang melibas gundukan tanah, dan rebah melewati tikungan tajam. Jalur offroad yang sepi membuat kami bisa melakukan speed offroad dengan tenang, tanpa takut berpapasan dengan kendaraan lain. Namun begitu memasuki perkampungan, kami mengurangi laju motor untuk menghormati masyarakat sekitar.

Di jalur menuju Sungai Aran-Aran ini, DW memacu kencang KXF 250-nya tanpa memeprdulikan jalur offfroad yang hancur. Sekali-kali DW disalip oleh RK dan juga Daniel Tangka. RK yang baru adaptasi dengan TXC 250, masih belum berani menarik gas lebih dalam. RK yang biasa naik KTM dan CRF 250R itu baru pertama kali menunggangi TXC 250 di medan offroad yang panjang. Karena belum adaptasi itu, di track menurun menuju arah Desa Wonokerto, RK terjatuh dari motornya karena ban depan masuk dalam lubang. RK terlambat mengerem dan pindah jalur, akibatnya RK dan motornya harus mencium tanah segar di lereng Gunung Semeru itu.

Jam di tangan menunjukan pukul 10.45 ketika tim sampai di pos Patokpicis, Kecamatan Wajak. Tim istirahat sejenak, sambil bercanda ria melepas ketegangan setelah dihajar medan offroad. Ketika istirahat, DW penasaran dengan performa TXC 250 tunggangan RK. Karena dia tidak menyangka RK mampu menempel terus KXF 250 di medan speed offroad itu. DW yang mempunyai skill offfroad di atas rata-rata itu langsung membetot gas TXC 250 dengan kencang. Motor terlihat meliuk-liuk melibas gundukan tanah, jalan berbatu dan lubang air. Ban motor yang goyang kanan dan kiri itu, seakan-akan motor mau jatuh, namun motor bisa tegak kembali begitu gas ditarik lebih dalam lagi.

Usai mencoba performa TXC 250, DW mengatakan, “gila, motornya enak banget, kayak motor SE!” Memang tipe TXC ini adalah tipe enduro kompetisi, tenaganya dahsyat namun masih bisa dikendalikan, RK merasakan karakter TXC 250 ini mirip dengan Honda CRF 250R. Kalau digeng orange alias KTM, tipe enduro kompetisi itu disebut tipe XC.

Setelah puas istirahat sejenak, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju hutan di wilayah Dampit. Jalur masih full offroad, full gundukan tanah dan full lubang tanah bekas tergerus air. Tak lama kemudian tim tiba di tepi sungai dan diatas sungai itu ada jalur sempit alias single track yang super curam. Tikungan juga berbetuk ‘L”, sehingga butuh skill dan pengalaman untuk menaklukan jalur yang sering memakan korban itu.

RK yang berada di barisan depan langsung menggeber kencang motornya, sayang RK salah ambil jalur, karena roda ban belakang masuk ke dalam tanah gembur. DW yang di belakang RK, terpaksa harus mengerem mendadak kalau tidak mau tabrakan dengan RK. Di jalur “macet” itu menjadi neraka buat DW, karena KXF 250-nya tidak mau hidup. KXF yang mengandalkan “pancalan kaki” untuk menghidupkan motor itu “ngambek” alias tidak mau hidup. Keringat DW-pun mulai bercucuran seperti air hujan. Untungnya akhirnya motor mau hidup, itupun setelah “disundul” oleh TE 250 yang dibawa ED.

Di jalur single track itu HR, pemula yang memakai Husqvarna TE 125, motornya terbalik karena posisi mengendarai motor yang salah. Seharusnya di tanjakan ekstrim seperti itu posisi tubuh HR maju kedepan dan kaki menjepit tengki dengan erat. Muka HR terlihat pucat dihajar jalur single track ini. Sementara itu pasukan KLX 150 dan CRF 150 melewati jalur single track itu dengan relatif mudah. Dimensi motor yang tidak terlalu tinggi, membantu pengendara lebih mudah melewati jalur itu, karena kaki lebih mudah menapak ke tanah.

Lolos jalur tanjakan ekstrim, tim masih dihadang jalur single track di tengah hutan. Jalur sama sekali tidak terlihat karena tertutup rumput dan semak. Tim hanya mengandalkan feeling untuk melewati jalur itu. Tak lama kemudian, sekitar jam 12.00, tim sampai di tengah hutan mahoni yang rindang. Di tempat ini, kami memutuskan untuk istirahat sambil makan siang.

Sambil makan, DW berujar, “momen makan bersama di tengah hutan inilah momen yang tidak bisa dibeli, apalagi kebersamaan kita begitu kental”. Memang betul-betul nikmat seali makan di tengah hutan bersama sobat-sobat dekat. Lauk apapun jadi begitu nikmat! Namun yang jelas, usai makan, kami tidak meninggalkan sampah apapun. Sampah plastik dikumpulkan dan dibawa kembali pulang.

Setelah satu jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Jalur juga masih full speed offfroad. Di jalur balik menuju Wonokerto ini, RK, DW dan Daniel Tangka menggeber habis motornya. Mereka bertiga di berada di barisan depan, saling salip menyalip. HR yang berusaha mengikuti ketiga orang itu harus membayar mahal, karena dia terjungkal hebat yang mengakibatkan cidera di kakinya. HR-pun harus berjalan pincang dan meringis kesakitan.

Sementara itu RK, DW dan Daniel Tangka masih di depan. Ketiga motor orang tersebut terbang melibas gundukan tanah, bagaikan burung elang yang nama ilmiahnya adalah Spilornis cheela (dari nama elang itulah, muncul nama tim CHEELA). Di sebuah tikungan yang penuh gundukan tanah, RK berusaha menyalip DW yang membawa KXF 250 spek kompetisi. Motor RK digeber habis dan motor meloncat melewati gundukan tanah. DW-pun sempat terkaget-kaget dengan aksi RK yang berani mengambil sisi dalam sambil meloncat itu.

Sayangnya begitu motor RK mendarat di tanah, motor tidak bisa dikendalikan lagi. Tanpa sadar begitu roda depan menginjak tanah, gas motor tertarik dengan kuat, akibatnya motor langsung terbang melayang ke arah jurang di sisi kiri. Untungnya RK masih sadar dan sempat membuang badan ke arah kanan. Akibatnya motor melayang ke kiri dan tubuh RK terlempar ke arah kanan. Untungnya motor tidak masuk dalam ke jurang, karena terhalang oleh pohon. Lebih untung lagi, RK tidak mengalami cidera apapun karena memakai peranti perlindungan offroad yang maksimal.

Daniel Tangka yang berada persis di belakang RK, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kata Daniel, “wah seru sekali tadi, waktu itu saya terus berada di belakang DW dan RK yang lagi balapan, tahu-tahu motor RK terbang tak terkendali!”.

Setelah motor ditarik ramai-ramai, kamipun melanjutkan perjalanan. Meskipun baru nyaris masuk jurang, kami masih melakukan aksi speed offroad. Hanya HR yang kakinya keseleo yang harus menahan sakit mengikuti ritme speed offroad tim CHEELA. Di jalur pulang ini motor MD sempat terjebak dalam lubang tanah gembur. Tenaga MD yang perempuan itu tidak kuat mengeluarkan sendiri motor dari jepitan tanah. Untungnya anggota tim CHEELA yang lain seperti RS, AD dan TT segera turun tangan membantu evakuasi motor MD.

Sekitar jam 15.00 kami kembali sampai di Desa Pandansari. Mobil pendukungpun sudah menanti untuk membawa kami kembali ke Kota Malang. Senyum puas dan salam kompak-pun mengakhiri petualangan kami di hari minggu yang cerah itu.

Minggu, 02 Januari 2011

TEST RIDE HUSQVARNA WR 125 DI GUNUNG MUJUR-ARJUNA




Ketika dealer motor trail husqvarna hadir di Indonesia, ada banyak orang yang menanyakan ke tim CHEELA bagaimana performa motor husqvarna. Maklum motor keluaran Italy ini memang masih asing di telinga kebanyakan orang Indonesia. Sebagian orang hanya tahu kalau husqvarna itu adalah merk gergaji (chain saw) kelas wahid. Padahal husqvarna juga memproduksi motor trail tangguh yang banyak dipakai di kejuaran-kejuaran enduro di Eropa dan Amerika.

Setelah pernah melakukan uji coba trail husqvarna TE 310 dan TE 250, akhirnya tim Cheela punya kesempatan mencoba versi 2 tak-nya yaitu WR 125. Jika waktu mencoba versi TE hanya di sirkuit motocross, kini kami beruntung bisa mencoba WR 125 di medan offroad panjang yang dikenal “maut” jika di musim hujan yaitu jalur Gunung Mujur-Arjuna!

Uji coba yang dilakukan pada tanggal 2 Januari 2011 itu dilakukan oleh 5 orang dari tim CHEELA yang mempunyai karakter mengendarai berbeda. Test riders tersebut adalah DW (crosser kelas eksekutif), RK (off roader senior), ED (pemula) WW (club man)dan BN (pemula club man). DW dan RK dikenal dengan penggila speed offroad yan terbiasa memakai motor KTM versi enduro kompetisi. Sedangkan BN dan ED adalah offroader pemula yang terbiasa memakai KLX 150 versi big wheel.

Medan offfroad yang digunakan untuk uji coba bervariasi, mulai sedikit aspal, jalan berbatu (macadam), single track dan open track. Sebagian besar jalur juga lincin dan berlumpur karena memang musim hujan, Apalagi jalur Gunung Mujur-Arjuna dikenal jalur licin yang banyak menelan korban di musim penghujan.

Secara dimensi, meskipun WR 125 mempunyai cc yang kecil namun motornya terlihat jangkung, Dimensi motor tidak jauh berbeda dengan tipe 4 stroke TE 250. Tapi begitu dinaiki, suspensi motor yang lembut membuat motor menjadi sedikit turun ketinggiannya. Meskipun demikian untuk pengendara pemula yang ketingggian badannya kurang dari 165 cm akan kesulitan mengendarai motor ini. Secara ukuran, motor ini cocok untuk orang yang tingginya diatas 165.

Ketika kami mulai mencoba WR 125 di medan offroad, wow motor ini terasa enak sekali. Handlingnya mudah dan powernya cukup untuk melibas medan offroad. Bobot motor terasa ringan, seperti naik TS 125 namun dengan tenaga yang jauh di atas TS 125. Motor sangat enak untuk manuver di tikungan ataupun di jalur yang naik turun. Motornya super ringan!

Di jalur yang licin, WR 125 enak saja melewatinya, karena power motor tidak menyentak seperti KTM 200, sehingga membuat roda motor tidak spin. Untuk pemula, tenaga WR 125 akan sangat cocok, karena powernya tidak berlebih sehingga tidak menguras energy. Namun untuk yang suka power ganas ala KTM 2 strokes, tenaga WR 125 masih terlalu smooth.

Suspensi WR 125 terbilang istimewa. Suspensi meredam dengan baik di jalan berbatu ataupun tanah. Untuk menikung tajam dengan kecepatan tinggi, suspense juga mampu menata dengan baik. Ketika dicoba untuk melewati gundukan tanah setinggi sekitar 1 meter, suspensi juga mampu meredamnya dengan baik. Hemmm soal suspensi, WR 125 patut diacungi jempol.

Meskipun WR 125 tidak dilengkapi dengan electric starter, namun untuk menghidupkan motor itu tidaklah sulit. Motor sangat mudah dihidupkan. Sayangnya ukuran kick starter-nya terlalu kecil, sehingga kaki sering “slip” waktu “memancal” motor. Ukuran kick starter mirip SE 85. Untuk orang dewasa yang ukuran kakinya 40 ke atas akan kurang nyaman dalam menghidupkan motor. Solusinya mungkin diganti dengan kick starter yang ukurannya lebih besar.

Sebagai motor enduro, WR 125 dilengkapi dengan lampu, termasuk lampu sein, jadi tidak perlu kebingungan jika offroad kemalaman di tengah hutan. Sayang kami tidak sempat mencoba performa lampunya, karena kami test ride-nya hanya di siang hari (mulai pagi hingga sore). Bagi offroader yang gemar melibas alam hingga gelap, keberadaan lampu yang terang benderang tetapi sinarnya fokus adalah menjadi sebuah keharusan.

WR 125 dilengkapi dengan rem brembo yang dikenal sebagai rem kualitas tinggi. Rem berfungsi dengan baik di medan offfroad ataupun on road. Ketika dicoba speed offroad dengan bukaan gas yang tinggi dan kemudian direm dengan tiba-tiba, motor bisa berhenti dengan baik. Tuas rem depan juga terasa ringan.

Setelah melakukan uji coba di medan offroad mulai pagi hingga sore, kesimpulan tim CHEELA adalah WR 125 motor enduro yang sangat cocok untuk pemula. Handling motor, suspensi dan power sangat bagus untuk pemula. Ini menjadi sebuah pilihan selain CRF 230 atau KLX 250S. Kelebihan WR 125 adalah motornya sangat ringan dan suspensinya sangat bagus meredam goncangan motor di medan “hancur”. Kelemahan WR 125 hanya di kick starter yang terlalu kecil, selain itu motor ini hanya cocok untuk orang yang ketinggiannya di atas 165 cm. Kalau tinggi badan kurang 165 cm, siap-siap akan kesulitan menjejakan kaki ketika dihadang medan offroad ekstrim, karena WR 125 terbilang jangkung untuk kebanyakan orang Indonesia. Kesulitan menjejakan kaki itu dirasakan oleh WW yang tingginya sekitar 160 cm.

Jika anda adalah offroader pemula yang ingin merasakan motor enduro yang mantap, WR 125 patut anda pertimbangkan. Performa WR 125 di medan offfroad di atas KLX 150, TS 125 ataupun KLX 250S. Handling motor enak dengan power motor yang lebih dari cukup untuk pemula.

SPESIFIKASI:


Tipe mesin: 1 Silinders, 2 tak, 125 cc
Cooling Liquid
Rasio kompresi: 8.8:1
Starter: Kick (pancalan kaki)
BBM: bensin campur
Ukuran pelk depan: 21
Ukuran pelk belakang: 18
Kapasistas tengki bensin: 7 liter
Berat kering: 99,3 kg
Perkiraan harga: Rp 69 juta