Rabu, 28 Desember 2011

REVIEW SEPATU CROSS NO FEAR TIPE TROPHEE


Sekitar setahun dua orang anggota tim CHEELA memakai sepatu cross/offroad produk NO FEAR tipe Trophee. Sepatu ini enak dipakai, nyaman untuk offroad. Untuk memindah tuas gigi perseneling motor juga tidak ada hambatan berarti. Tali pengikat sepatu (buckle) juga enak menggunakannya, sangat gampang membuka dan menutupnya.

Sayang kualitas kulit sepatu NO FEAR Trophee sangat buruk. Belum genap setahun dipakai, kulit sudah pecah dan mengelupas. Bagian yang paling parah rusak adalah di bagian depan, di bagian tekukan. Di bagian tekukan tersebut kulit malah sudah tercungkil sebagian. Kualitas sepatu NO FEAR tipe Trophee sangat mengecewakan. Kami di tim CHEELA memutuskan untuk tidak pernah lagi membeli sepatu tipe ini.

PERHATIAN: Uji coba setiap produk yang dilakukan oleh tim CHEELA sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi atau marketing produk tertentu. Semuanya murni dilakukan dari sudut pandang konsumen/pengguna secara obyektif.

Senin, 26 Desember 2011

UJI COBA KTM 350 XCF-W 2012: RINGAN DAN BERTENAGA!





Ketika pabrikan Austira KTM meluncurkan motor cross tipe baru dengan kapasitas mesin 350 cc, banyak yang meragukan. Apakah 350 SXF mampu bersaing dengan motor lain dengan kapasitas 450cc? Keraguan itu dijawab oleh Tony Cairoli dengan menjadi juara MX1 dengan KTM 350nya. Sukses KTM 350 SXF di arena motocross, mendorong KTM untuk meluncurkan tipe enduronya yaitu KTM 350 XCF-W.

Munculnya KTM 350 enduro menjadi pembicaraan penggila offroad di berbagai belahan dunia dan semua majalah trail terkemuka ramai-ramai mengulasnya. Tipe ini unik karena mengisi celah antara motor 250 cc dan 450 cc. Bagi banyak orang, motor 250 itu kurang bertenaga, sedangkan motor 450 itu terlalu besar tenaganya dan juga berat. KTM 350 berada di tengah-tengah, antara 250 dan 450.

Majalah MOTO, majalah trail terbesar di UK, pada edisi Juni 2011 melakukan uji coba terhadap KTM 350 enduro tahun 2012. Majalah tersebut dalam judul artikelnya menulis, “motor ini akan merubah wajah dunia enduro selamanya”. Majalah MOTO juga menyebutkan kalau KTM 350 itu tangguh dan handling-nya mirip motor 2 tak. Majalah DIRT RIDER terbitan USA juga memuji KTM 350 sebagai motor yang ringan dengan handling yang mudah.

Penasaran dengan performa KTM 350 enduro, tim CHEELA melakukan uji coba KTM 350 XCF-W tahun 2012 di jalur offroad yang bervariasi. Uji coba dilakukan di tiga lokasi yaitu di Gunung Kawi, Poncokusumo dan Gunung Bromo. Tiga lokasi tersebut mempunya karakteristik medan offroad yang berbeda. Gunung Kawi banyak jalur single track dan terkenal licin dikala hujan, sedangkan Poncokusumo dikenal dengan jalur ‘seribu gundukan’. Untuk Gunung Bromo tentu saja terkenal dengan lautan pasirnya yang sangat cocok untuk menguji motor di area terbuka.

Kami awalnya agak ragu dengan performa KTM 350 XCF-W, maklum kami terbiasa dengan motor KTM 2 tak yang terkenal galak di jalur offroad. Namun karena majalah MOTO menyebutkan bahwa KTM 350 itu ringan dan handling mirip motor 2 tak, kami jadi penasaran untuk mencobanya langsung di jalur offroad.

Pertama kali menuntun KTM 350 XCF-W, kesan pertama sudah membuat kami tersenyum, karena terasa ringan seperti motor 2 tak. Kamipun berharap bahwa motor ini juga terasa ringan ketika dipacu di jalur offroad. Kami benci dengan motor yang berat, karena kebanyakan kami main offroad di jalur single track yang penuh rintangan.

Begitu kami memacu KTM 350 XCF-W di jalur offroad, kami langsung berujar, “gila motornya ringan banget dan bertenaga!” Kesan pertama menjajal di jalur offroad langsung membuat kami girang bukan kepalang, karena performa motor tidak mengecewakan. Handling motornya enak dan ringan. Untuk menekuk di tikungan tajam sangat nyaman, tidak ada gejala terasa mau jatuh karena keberatan motor.

Tenaga yang disemburkan mesin KTM 350 XCF-W terasa smooth, tidak menyentak seperti KTM 2 tak. Meskipun smooth, namun tenaganya mantap. Begitu gas motor dibetot lebih dalam, motor langsung melesat dengan entengnya!

KTM 350 XCF-W terasa mantap ketika dipakai di jalur yang licin. Tenaga motor yang tidak menyentak-nyentak, membuat KTM 350 enak saja melewati jalur yang licin seperti di jalur Gunung Kawi. Kami tidak menemukan gejala roda ‘spin’ seperti yang biasa terjadi di KTM 2 tak.

Karakter mesin yang smooth itu membuat kami tidak gampang lelah untuk offroad panjang. Dalam uji coba di jalur ofroad Poncokusumo mulai pagi hingga sore hari, kami sama sekali tidak merasa capek menunggangi KTM 350 XCF-W. Begitu kami ingin tenaga lebih, tinggal tarik gas motor lebih dalam maka tenaganya langsung mengisi dengan cepat. Sama sekali tidak ada gejala kehabisan energi.

Handling dan Suspensi

Salah satu kelebihan dari KTM 350 XCF-W adalah bobot motor yang terasa ringan dan handlingnya sangat nyaman. Motor begitu enak diajak untuk bermanufer di jalur single track. KTM 350 begitu nyaman untuk menekuk dan juga jumping. Motor ini betul-betul mirip karakter KTM 2 tak dalam hal handling. Ini yang membuat kami jatuh cinta.

Soal suspensi, KTM 350 XCF-W adalah motor yang paling enak yang pernah kami coba. Suspensinya bekerja dengan baik dan meredam setiap goncangan dengan sempurna. Ketika digeber di jalur berbatu, motor enak saja melibasnya tanpa kendala berarti. Dipakai untuk melibas ‘seribu gundukan’ di jalur Poncokusumo, justru motor menunjukan peformanya yang dahsyat. Suspensinya enak sekali dipakai untuk jumping di jalur offroad!

KTM 350 XCF-W juga stabil dipakai untuk speed offroad di jalur terbuka seperti di Gunung Bromo. Tenaga motor terasa mengisi terus. Suspensi juga bekerja dengan baik ketika melintas di pasir. Meskipun kami belum sampai membetot gas motor sampai mentok, karena motor masih masa break in, tapi kami sudah bisa merasakan kestabilan dari motor ini.

KTM 350 XCF-W memang terasa ringan seperti motor 250 cc, namun performanya mirip 450. Kami dari dulu tidak suka dengan motor 450 karena motor terasa berat untuk dipakai di jalur single track di hutan. Itu yang membuat kami kemudian lebih memilih KTM 2 tak untuk menjawab kebutuhan kami yang gemar offroad di jalur offroad yang susah. Kebutuhan kami ini kemudian dijawab oleh KTM 350 yang handling-nya mirip KTM 2 tak, namun dengan tenaga yang tidak menyentak.

Rem, kopling dan knalpot

Di sektor pengereman, KTM 350 XCF-W mengandalkan brembo yang masih terbaik. Rem depan dan belakang bekerja dengan baik sekali. Untuk kopling, KTM masih memakai system hidrolik, tanpa kawat kabel. Kopling terasa ringan, sehingga tidak cepat membuat jari tangan pegal.

Kami juga suka dengan suara knalpot KTM 350 XCF-W. Suara knalpot tidak terlalu keras, namun masih terasa “nendang”. Dari dulu kami ketika membeli motor KTM, kami tidak pernah mengganti knalpotnya dengan produk after market, karena kami merasa knalpot KTM itu sudah mumpuni dan ‘ready to race’.

Kesimpulan

KTM 350 XCF-W adalah motor pilihan bagi offroader yang mencari motor 4 tak yang ringan dan bertenaga. Handling dan berat motor seperti motor 250 cc, namun dengan performa ala 450 cc. Karakter motor yang mirip motor 2 tak akan membuat penggila 2 tak akan tidak susah untuk beralih ke motor 4 tak seperti KTM 350.

Sayangnya harga KTM 350 enduro ini masih terbilang mahal dibandingkan dengan KTM 2 tak. Harga pasaran KTM 350 di Indonesia (diambil dari beberapa penjual) adalah sekitar Rp 120 jutaan. Bandingkan dengan harga KTM 200 (2 tak) yang dibandrol seharga Rp 100 juta dan KTM 250 XCW (2 tak juga) seharga Rp 112 juta.

Dibandingkan dengan KTM 200, harga KTM 350 itu selisih sekitar Rp 20 juta-an. Namun dengan selisih harga segitu akan dibayar dengan kepuasan, karena KTM 350 itu ringan dan tentu saja tidak perlu bingung mencampur oli dengan bensin seperti di motor 2 tak.

Kami yang terbiasa memakai motor KTM 2 tak mulai dari kapasitas mesin 85, 125, 200, 250 hingga 300, kini punya mainan baru yang membuat kami betah main di jalur offroad. Mainan baru itu adalah motor 4 tak, KTM 350 XCF-W!

KELEBIHAN KTM 350 XCF-W:
• Ringan dan smooth
• Handling mirip motor 2 tak, cocok untuk jalur single track.
• Konsumsi bensin sangat irit
• Motor stabil
• Suspensi motor terbaik yang pernah kami coba

KELEMAHAN KTM 350 XCF-W:
• Ketika dingin, electric starter tidak mudah untuk hidup. Butuh 3 sampai 4 kali pencet baru bisa hidup.
• Tenaga bawah terlalu smooth, sehingga untuk yang suka akselerasi yang ganas, KTM 350 akan terasa ‘kurang’ tenaganya

SPESIFIKASI KTM 350 XCF-W TAHUN 2012:

Mesin: DOHC EFI 349,7 cc, 4 tak
Menghidupkan motor: electric starter dan kick starter
Ukuran roda: depan 21 dan belakang 18
Ukuran gir: depan 13 dan belakang 52
Kecepatan: 6 speed
Isi tengki bensin: 9,5 liter
Berat: 107 kg
Harga pasaran di Indonesia: Rp 120 jutaan

PERHATIAN: Uji coba setiap produk yang dilakukan oleh tim CHEELA sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi atau marketing produk tertentu. Semuanya murni dilakukan dari sudut pandang konsumen/pengguna secara obyektif.

Senin, 19 Desember 2011

TIM CHEELA BAKSOS DI DAMPIT



Komunitas offorad motor trail bukan hanya bersenang-senang untuk dirinya saja, namun juga berbagi dengan masyarakat di sekitar jalur offroad. Paling tidak itu yang dilakukan oleh tim CHEELA yang melakukan bakti sosial (baksos) pada hari Minggu 18 Desember 2011. Baksos tim CHEELA yang sudah aktif main offroad motor trail lebih dari 10 tahun itu dilakukan di Dusun Sumberwaru, Desa Ngelak, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Baksos tim CHEELA tidaklah muluk-muluk, hanya dengan membagi kaos ke masyarakat yang ada di Dusun Sumberwaru yang sering dilalui oleh tim CHEELA. Apalagi di awal tahun 2011 masyarakat Dusun Sumberwaru pernah membantu evakuasi Made Astuti, salah satu anggota tim CHEELA, yang nyemplung ke jurang waktu offroad. Made dan motornya bisa dievakuasi dengan selamat berkat bantuan penduduk desa yang ada di sekitar lokasi kecelakaan itu.

Tim CHEELA membagikan sejumlah kaos yang bertulisan “sahabat CHEELA” ke para penduduk Dusun Sumberwaru yang kebanyakan petani itu. Tentu saja kaos “sahabat CHEELA” itu disambut hangat oleh masyarakat dan langsung dipakai pada saat itu juga.Kaos “Sahabat CHEELA” itu menunjukan bahwa tim CHEELA adalah sahabat masyarakat desa, khususnya desa yang sering dilewati oleh tim CHEELA.

Sudah menjadi kode etik di CHEELA bahwa selama offroad wajib untuk menghargai masyarakat yang dilewati, misalnya dengan tidak ngebut di jalan kampung. Membuang sampah plastik atau putung rokok di sembarang tempat juga ‘haram’ hukumnya di tim CHEELA. Etika seperti ini tidaklah sulit untuk diterapkan, asalkan punya kemauan dan berfikir positif. Idealnya penggemar offroad motor trail itu menjadi sahabat bagi masyarakat desa, dan juga sahabat bagi alam. Karena kegiatan offroad motor trail tidak akan terlepas dari alam dan masyarakat desa.

Usai baksos, tim CHEELA langsung melanjutkan offroad ke arah Poncokusumo, Kabupaten Malang. Tim CHEELA yang dipesenjatai KTM 350, KTM 250, KTM 200, CRF 150, KLX 150 dan TS 125 itu langsung memacu motor dengan kencang di jalur offroad yang sepi. Di tengah jalan tim CHEELA sempat ketemu dan ngobrol sebentar dengan rombongan Mas Bagyo yang kebanyakan pakai motor KTM dan Husaberg. Setelah ber-akrab ria dengan rombongan Mas Bagyo kami memutuskan untuk jalan bersama ke arah Wajak. Jumlah rombonganpun jadi membengkak, gabungan tim CHEELA dan tim-nya mas Bagyo.

Di hari Minggu itu tim CHEELA selain bersenang-senang di jalur offroad, juga berbagi kebahagiaan dengan masyarakat desa. Kami senang bisa berbagi, meskiun sangat kecil nilainya. Maklum tim CHEELA adalah tim kecil. Meskipun kecil kami mencoba menerapkan etika dalam offroad, etika terhadap masyarakat dan alam. Kami senang bisa melakukan hal ini.

Senin, 21 November 2011

MEMILIH UKURAN BAN TRAIL YANG PAS


Seorang teman baru saja mengganti motor trailnya dengan ban baru, maklum ban belakangnya sudah mulai ompong sana sini digerus jalur offroad. Begitu ban baru terpasang, dia kaget sekali, “lho koq motor saya jadi lebih tinggi?” Lagi-lagi harus maklum, teman yang satu ini tingginya relatif standar Indonesia, sementara motornya yang warna orange itu standar Eropa. Jadinya ketika ban belakang diganti yang baru, kog malah kaki jadi jinjit, tidak napak ke tanah. Wah khan jadi repot tuh waktu offroad di jalur yang susah.

Tambah tingginya motor akibat pergantian ban itu disebabkan oleh ukuran ban yang kurang pas. Lho bukannya ukuran diameter bannya sama, yaitu 18? Memang ukuran diametr ban yang diganti itu sama yaitu 18, Cuma ukuran lebar dan ketinggian bannya berbeda. Ini yang membuat motor jadi sedikit lebih jangkung.

Ukuran ban trail yang beredar kebanyakan memakai ukuran mili meter, misalnya 100/90-18 atau 100/110-18. Angka 18 di belakang itu jelas menunjukan ukuran diameter roda/pelk yang memakai ukuran inci. Nah yang harus dicermati adalah angka yang di depan, karena ini menunjukan lebar dan tinggi ban.

Maka jika ban trail itu ukurannya 100/90 maka artinya lebar ban itu adalah 100 mm dan tingginya 100X(90/100) = 90 mm. Kalau ukuran bannya 100/110 maka lebar bannya 100 mm dan tingginya 100X(110/100) = 110 mm. Nah otomatis ketika bannya diganti dengan ukuran 100/110 maka ada perbedaan ketinggian sebesar 20 mm, ini yang membuat motor jadi terasa lebih jangkung.

Ban trail yang ukuran lebih lebar lebih enak untuk menapak atau mencengkeram tanah. Ini sangat baik dipakai di medan yang licin. Namun kelemahannya karena ukurannya lebih lebar maka menjadi sedikit kurang lincah dibandingkan dengan ukuran ban yang lebarnya lebih kecil.

Diameter ban yang lebih besar misalnya ukuran ban depan 21 dan belakang 18 inci itu akan lebih enak dipakai untuk melibas jalur offroad yang penuh gundukan atau cerukan tanah dibandingkan ukuran ban 19/16. Ukuran ban depan 19 dan belakang 16 ini seperti yang dipakai oleh kawasakI KLX 150. Sehingga tak heran banyak pemakai KLX 150 yang mengganti bannya dengan ukuran depan 21 dan belakang 18, dengan konsekuensi berat motor menjadi lebih bertambah. (C001)

Artikel lain tentang tips memilih tipe ban yang pas untuk motor trail bisa dilihat di link berikut: http://indo-dirtbike.blogspot.com/2011/06/tips-memilih-ban-trail-untuk-offroad.html

Jumat, 21 Oktober 2011

CAMPURAN OLI MOTOR TRAIL ENDURO 2 TAK


Motor trail 2 tak tidak mati, never die, karena motor ini masih banyak dipakai di berbagai kejuaraan enduro dunia. Pabrikan motor Eropa seperti KTM, Husaberg, Husqvarna dan TM masih memproduksi motor berbasis mesin 2 nada. Bahkan di berbagai kejuaraan enduro ekstrim, motor 2 tak masih merajai, mengasapi motor 4 tak. Ini fakta dan hasil balap yang tidak terbantahkan.

“Kelemahan” dari motor trail enduro 2 tak adalah bensin harus dicampur oli. Oli langsung dimasukan ke dalam tengki bensin, karena kebanyakan tidak ada tempat oli terpisah seperti motor trail lokal Suzuki TS 125. Sebetulnya mencampurkan oli langsung ke dalam tengki bensin ini lebih aman, karena memastikan bahwa bensin yang ada adalah sudah tercampur dengan oli. Kalau oli ditempatkan di tempat yang terpisah, rawan lupa untuk mengisi oli dan kalau sampai ini terjadi, anda akan menangis kayak anak kecil minta permen karena mesin bisa-bisa jebol!

Oli 2 tak apa yang cocok dan berapa perbandingannya dengan bensin? Untuk oli samping (oli 2 tak) wajib memilih yang ada kodenya JASO FC. Coba lihat di kemasan botol oli-nya pasti ada kode JASO-nya, misalnya JASO FB atau JASO FC. JASO (Japanese Automotive Standards Organization) adalah organisasi yang mengatur standarisasi otomotif buatan Jepang. Kalau JASO FB itu spek-nya masih rendah, biasanya berbahan dasar mineral, dan asapnya masih lumayan tebal. Tapi kalau ada kode JASO FC, ini biasanya sudah berbahan dasar semi sintetis atau sintetis, sehingga asapnya lebih tipis.

Pemakaian oli 2T yang ada kode JASO FC juga akan membuat motor lebih awet, karena pembakaran efesien. Jangan kuaitr, di pasaran masih banyak yang jual ole 2T yang memenuhi standar JASO FC seperti merk Shell, Motul, Maxima dan juga versi pabrikan Kawasaki yang dipakai untuk ninja 150. Jadi kalau mau motor 2 tak-nya awet dan lebih ramah lingkungan, pastikan pakai oli 2T yang memenuhi standar JASO FC.

Setelah ketemu tipe olinya, yang juga kadang membingungkan bagi kebanyakan dirt bikers adalah berapa perbandingan campuran oli dan bensin yang benar? Coba lihat buku manualnya, pasti pabrikan telah merekomendasikan berapa campuran oli-nya, misalnya KTM 200/250/300 yang tahun 2008 keatas itu merekomendasikan perbandingan oli dan bensinnya adalah 1:60. Apa maksudnya?

Perbandingan oli 2T dan bensin di KTM 1:60 itu artinya adalah 1 liter oli untuk 60 liter bensin. Jadi kalau 1 liter bensin itu campuiran olinya adalah 16,6cc atau jika untuk 10 liter bensin itu maka campuran olinya adalah 166cc. Amannya sih dibulatkan saja menjadi 170 cc untuk 10 liter bensin.

Beberapa orang itu memakai campuran oli lebih banyak, agar mesin lebih dingin, misalnya 175cc untuk 10 liter bensin (sama dengan 17cc untuk 1 liter bensin). Beberapa bahkan pakai campuran 20cc untuk 1 liter bensin. Untuk kami sendiri selama bertahun-tahun memakai campuran oli 17cc untuk 1 liter bensin di KTM 200 tahun 2008-2010, dan selama ini tidak ada masalah. Mesin motor awet, tidak terlalu berasap dan larinya masih super kencang!

Kalau campuran oli 2T terlalu banyak, selain asap knalpot akan lebih tebal, juga akan membuat ruang bakar lebih cepat kotor, bahkan sampai timbul kerak. Kebanyakan oli juga bisa membuat justru tenaga motor jadi drop. Jadi paling enak adalah pakai campuran oli yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan karena takarannya sudah pas, tidak kekurangan dan tidak berlebih. (C001).

Jumat, 14 Oktober 2011

UJI COBA KTM 250 XCW TAHUN 2011 DI MEDAN OFFROAD





KTM 250 XCW tidaklah terlalu banyak populasinya di Indonesia, beda dengan ‘adiknya’ yaitu KTM 200 EXC. KTM 200 EXC sejak tahun 1990-an menjadi salah satu favorit penggemar offroad trail di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bobot motor yang ringan, handling mudah, power dahsyat dan perawatan yang mudah, membuat KTM 200 yang mengusung mesin 2 tak itu menjadi pilihan utama bagi banyak penggila offroad motor trail.

Nah bagaimana dengan KTM 250 (2 tak), apakah performanya juga mantap seperti adiknya KTM 200? Beruntung tim CHEELA bisa mencoba KTM 250 XCW yang banyak dipakai oleh pembalap top di berbagai kejuaraan enduro ekstrim dunia. Tim uji coba adalah RK dan DW, dua orang yang sudah banyak makan asam garam dunia offroad motor trail. RK dan DW sudah biasa memakai berbagai tipe motor trail baik tipe enduro maupun MX, mulai dari 125 cc hingga 450cc.

KTM 250 XCW yang diuji coba adalah keluaran tahun 2011 yang masih fresh alias baru. Uji cobanya tidak dilakukan di sirkuit, namun langsung di medan offroad dengan berbagai tipe jalur yaitu single track, pegunungan, hutan, tanjakan ekstrim, turunan, pasir, jalan berbatu hingga sungai. Motor yang baru keluar dari pabrik itu langsung dijajal di jalur offroad, sekaligus untuk menguji slogan KTM ‘ready to race’.

Begitu kami menaiki KTM 250 XCW, tersasa motor ini lebih tinggi sedikit dari KTM 200 tahun 2010. RK yang punya tinggi badan 173 cm harus jinjit kakinya ketika nangkring di atas jok motor. Begitu tombol electric starter dipencet, motor langsung berbunyi renyah “ding, ding, ding…”, khas motor 2 tak. Ya jangan kaget, meskipun KTM 250 XCW adalah motor 2 tak, namun sudah dilengkapi dengan electric starter, selain juga kick starter. Wow pasti menyenangkan, motor enduro 2 tak namun dilengkapi dengan electric starter!

Ketika gas motor ditarik, wow motornya terasa ringan sekali dengan power yang mantap! Menaiki KTM 250 XCW serasa memakai motor yang sudah lama dipakai, cepat sekali adaptasi dengan motor ini, tanpa terasa kikuk. Power motor besar, namun tidak liar, smooth dan mudah diprediksi. Power model seperti ini akan sangat membantu di jalur single track.

Handling motornya…..hemmm sangat luar biasa enak! KTM 250 XCW sangat mantap untuk diajak menikung, rebah di tikungan tajam, dan melibas jalur single track. Bobot motor yang ringan dipadu dengan power mesin yang dahsyat, membuat KTM 250 XCW menjadi monster di jalur single track atau jalur sempit di tengah hutan! Dibandingkan KTM 450 EXC (4 tak), menaiki KTM 250 XCW di jalur single track itu serasa naik sepeda mountain bike, ringan sekali bro! Motornya sangat lincah dan tangguh untuk menerjang medan offroad!

DW yang biasa naik Kawasaki KXF 250 mecoba mencicipi KTM 250 XCW di jalur offroad di Gunung Putuk Gede. Motor digeber habis, seperti DW biasa membawa KXF 250. DW pun melesat, meliuk-liuk dan menekuk stang KTM 250 XCW itu dengan lihai. Begitu selesai uji coba, DW berujar, “wah dahsyat sekali motornya, handling ringan dan tenaganya ngisi terus!”

Dibandingkan KTM 200, KTM 250 XCW itu terasa lebih stabil di speed offroad. Jika di KTM 200 sering terasa ban belakang “menari-nari” ketika gas dibetot kencang di jalur offroad, tidaklah demikian dengan KTM 250 XCW. Meskipun beda kapasitas mesin hanya 50cc, namun sangat terasa sekali kalau power KTM 250 XCW lebih stabil dan besar. Jika di tikungan tajam, KTM 200 kadang-kadang harus mengurangi gigi untuk mengejar traksi, namun untuk KTM 250 XCW tidaklah perlu sampai mengurangi gigi.

Untuk sektor suspensi dan pengereman, KTM masih yang terbaik. Demikian juga suspensi di KTM 250 XCW yang bekerja sangat baik di jalur offroad maupun jalan mulus. Diajak untuk jumping ringan dan melibas jalan berbatu, juga tidak masalah.

Adanya electric starter di KTM 250 XCW, benar-benar nilai plus, terutama ketika dipakai di jalur ekstrim. Sebetulnya tanpai pakai electric starter-pun, KTM 250 XCW sangat mudah dihidupkan dengan ‘pancalan’ kaki. Sekali tendang, biasanya langsung hidup, “greng..ding, ding, ding….”.

Setelah uji coba di 3 jalur offroad yang berbeda dengan total jarak tempuh sekitar 200 km, kami sampai pada sebuah kesimpulan bahwa KTM 250 XCW adalah senjata yang sangat ampuh untuk melibas medan offroad! Apalagi jika dipakai di jalur single track atau sempit, KTM 250 XCW (dan KTM 200) akan menjadi monster di tangan pengendara yang tepat! KTM 250 XCW menjadi plihan bagi penggemar offroad motor trail yang mencari motor ringan, power dahsyat dan perawatan yang lebih mudah dibandingkan motor 4 tak.

Kami menjadi paham kenapa majalah DIRT RIDER terbitan USA mengatakan dalam review-nya tentang KTM 250 XCW tahun 2011, mereka mengatakan, “sangat sulit mencari offroader sejati yang tidak menyukai KTM 250 XCW”. Majalah DIRT RIDER dan juga majalah DIRT BIKE mengatakan bahwa KTM 250 XCW bersama KTM 300 XCW adalah the best dirt bike. Kamipun langsung jatuh cinta begitu mencoba KTM 250 XCW ini, dan mungkin kami akan sulit berpindah ke lain hati.

Tunggu uji coba tim CHEELA berikutnya, KTM 250 XCW versus KTM 350 XCW-F!

Kelebihan KTM 250 XCW:

  • Motor ringan
  • Handling enak, apalagi di jalur single track
  • Electric starter (ditunjang juga dengan kick starter)
  • Perawatan lebih mudah dan murah dibandingkan motor 4 tak

Kekurangan KTM 250 XCW:

  • Dari pabrikan tidak dilengkapi dengan lampu (namun bisa dipasang, karena sudah ada kabel dan colokannya)
  • Harus mencampur oli dengan bensin

Sabtu, 08 Oktober 2011

OFFROAD PUJON: BERPACU MELAWAN DEBU





Pukul 9 pagi lebih, tim CHEELA beranjak meninggalkan sekretariatnya untuk memacu adrenalin di jalur offroad di akhir pekan yang cerah itu. Rombongan berjumlah 9 orang dengan tunggangan KXF 250, KTM 250 XCW, KTM 200, Husqy TXC 250 dan Kawasaki KLX 150. Seperti biasa, rombongan memacu motor dengan pelan ketika melewati perkampungan dan jalan raya.

Tidak sampai lima belas menit kemudian, jalur mulai memasuki jalan pematang sawah yang penuh dengan cerukan bekas alur ban. Tim langsung memacu motor agak kencang. Motor meliuk-liuk di tengah pematang sawah, seperti tarian gadis petani menyambut panen padi. Upsss tiba-tiba BN dengan KTM 200-nya terjungkal mencium keringnya tanah persawahan! Di jalur sawah ini memang perlu hati-hati, karena meskipun jalannya datar, namun penuh dengan cerukan tanah yang terkadang tertutup oleh rumput. Perlu kosentrasi tinggi untuk melahap medan seperti ini.

Tak lama kemudian tim memasuki jalur offroad di Karangploso. Jalurnya selebar satu meter, sedikit menanjak dan tanah sedikit berdebu. Begitu mencum aroma tanah, tim langsung membetot gas motor dengan kencang. Speed offroad dimulai di jalur ini. RK memimpin di jalur ini dengan kuda besinya KTM 250 XCW, kemudian disusul DW dengan KXF 250 dan RB dengan TXC 250.

Ketika tim memasuki jalur offroad di dekat peternakan ayam Wonokoyo, tim kehilangan sweeper dan seorang anggota. Hemm kemanakah WW yang jadi sweeper? Ternyata WW salah jalur, seharusnya belok malah keasyikan menarik kencang gas motornya di jalaur yang lurus. Begitu jumlah anggota tim sudah komplit, tim langsung melanjutkan perjalanan offroad arah Bumiaji Batu lewat jalur Gunung Putuk Gede.

Di jalur Putuk Gede, jalur berupa full single track. Ini adalah jalur kesukaan tim CHEELA, jalur yang penuh rintangan, meliuk-liuk, menanjak dan sempit. Butuh jam terbang tinggi dan kosentrasi penuh untuk menaklukan jalur ini. Yang bikin harus super waspada adalah jalur ini penuh dengan debu. Begitu motor di barisan terdepan melesat, debu berterbangan laksana bom meledak. Tim yang berada di barisan belakang harus ekstra hati-hati kalau tidak mau menabrak pohon karena pandangan terhalang total.

Melalui jalur pegunungan ini lumayan menjadi siksaan bagi DW yang menunggang KXF 250. Power motor memang sangat mantap, namun sayangnya motor sangat susah untuk dihisupkan. Jadi beberapa kali DW harus mendorong motornya agar bisa hidup. Hal ini menguras energi DW yang sudah “senior” usianya. RK, sang sahabat, sambil bercanda berujar, “makanya mas segera ganti KTM, biar mantap melibas jalur offroad-nya”

Jam di tangan menunjukan pukul 11.30 ketika tim sampai di Gandon. Tim istirahat sejenak, untuk melepas urat syarat yang tegang setelah dipacu untuk melahap medan offroad. Lima belas menit kemudian, tim melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur berupa jalan berbatu di tengah perkebunan apel. Tim memacu motor dengan santai, maklum banyak petani yang sedang bekerja di perkebunan, jadi kami harus menghormati mereka.

Setelah melewati perkebunan apel, kami berhenti sejenak di sebuah toko untuk menambah perbekalan air minum. WW memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberi minum KTM 200-nya. Sementara BN malah asyik menyantap kue, katanya untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Tim CHEELA kemudian memasuki Desa Kungkung, Batu. Tidak sampai lima menit, kami langsung dihadang jalur tanah di tengah hutan pinus. Jalur selebar 1 meter itu meliuk-liuk tajam, hemm sangat menyenangkan untuk memacu adrenalin. Tim langsung tancap gas motor, menari-nari di tengah hutan pinus yang kering itu.

Tak lama kemudian, jalur semakin menyempit. Jalur selebar tidak sampai setengah meter, dengan sebelah kiri jurang menganga sedalam lebih dari 100 meter! Wow ngeri kalau sampai terjungkal ke bawah. Beberapa anggota tim sempat ketar-ketir melewati jalur ini. Namun bagi RK dan DW yang sudah kenyang asam garam dunia offroad, jalur ini dilahapnya dengan kecepatan tinggi. Hasilnya adalah debu membumbung tinggi, menyaput badan tim CHEELA lainnya yang ada di barisan belakang. Wajah semua tim terlihat seperti monster karena penuh debu putih.

Sebelum jam 12.30 kami sudah melewati jurang buntu yang ada di kawasan Pujon, Kabupaten Malang. Tim langsung memacu motornya ke arah air terjun Coban Rondo. Kami kemudian memutuskan untuk makan siang di bawahnya rindangnya pohon di kawasan Coban Rondo. Pemandangan di depan kami sangat indah sekali, yaitu kawasan pemandian air panas Songgoriti.

Setelah istirahat satu jam sambil menyantap bekal makan siang, tim melanjutkan offroad kea rah Gunung Panderman. Jalur masih berdebu dan single track. Di beberapa titik, jalur menikung tajam dengan sebelah kiri jurang dan kanan berupa tebing batu. Di jalur ini RB sempat terjungkal di sebuah tikungan.

Lolos jalur Gunung Panderman, tim melanjutkan offroad kea rah dau lewat jalur offroad di tengah-tengah hutan pinus. Lagi-lagi jalur masih single track. Tim memacu motor dengan kencang. Sekali-kali terlihat motor rebah di tikungan tajam. Ban depan motor juga sekali-kali terangkat ke atas terbawa power motor yang dahsyat.

Hari beranjak sore ketika tim memasuki jalur offroad di Perinci, Dau. Jalur kebanyakan masih single track dan menanjak tajam. Di jalur ini, terlihat DW sudah mulai drop. Motor KXF-nya yang sulit dihidupkan membuat DW terkuras energinya. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi offroad hari itu. Apalagi beberapa anggota tim CHEELA harus pulang ke Sidoarjo yang jaraknya sekitar 80 km dari Kota Malang.

Kami turun gunung dengan senyum puas. Meskipun badan dan motor penuh debu, kami sangat puas bersenang-senang di hutan pada hari itu. Puas bisa offroad bersama tim CHEELA yang penuh dengan persahabatan dan kesetaraan. Sampai ketemu di jalur offroad berikutnya! (C001).

Jumat, 23 September 2011

ETIKA DALAM TRAIL ADVENTURE (OFFROAD RODA DUA)





Belasan orang dengan tunggangan motor trail lagi asyik duduk-duduk di bawah rindangnya pohon di kaki Gunung Arjuna, Malang, Jawa Timur. Mereka sedang istirahat setelah ber off road-ria di sekitar Gunung Arjuna yang dikelilingi oleh lahan pertanian milik masyarakat sekitar. Lagi enak-enaknya ngobrol ngalor ngidul, tiba-tiba datang 2 orang petani dengan membawa sabit yang berkilau tajam. Dengan wajah tidak bersahabat, petani tersebut ngomong, “apa kalian yang minggu kemarin main trail disini? Banyak tanaman kami yang rusak karena dilindas motor, ayo siapa yang bertanggung jawab?”

Sepenggal kisah di atas adalah kisah nyata yang dialami seorang teman yang ikut rombongan trail tersebut. Kisah tersebut mungkin tidak banyak (atau belum banyak) terjadi, namun bisa saja kedepannya akan menjadi masalah besar kalau kegiatan trail adventure atau offroad roda dua tidak diikuti dengan etika dalam berkegiatan. Bisa-bisa masyarakat atau petani di sekitar jalur offroad akan menolak kehadiran motor trail. Wah kalau sudah begini, maka yang rugi brother juga khan, karena tidak bisa leluasa lagi menikmati hobby trail.

Terus gimana dong, apa yang mesti kita lakukan agar kita tetap bisa ber-trail-ria tanpa menimbulkan gesekan? Yang diperlukan adalah etika. Ketika bicara tentang etika dalam off road, maka setidaknya kita akan bicara dua hal yaitu etika sosial dan etika lingkungan.

Etika terhadap lingkungan menjadi sangat penting diperhatikan, karena kegiatan offroad itu kita memanfaatkan alam sebagai media. Artinya setiap kegiatan di alam, apapun bentuknya, akan punya potensi untuk merusak alam atau hutan. Bicara tentang hutan harus melihatnya dari pandangan yang lebih luas yaitu hutan sebagai ekosistem. Hutan bukan hanya berisi kayu semata, namun juga ada kehidupan lainnya seperti satwa liar yang juga patut diperhatikan kelestariannya.

Lho kegiatan offroad khan tidak sampai merusak atau menebang kayu di hutan? Itu kalau kita bicara hutan hanya sebatas kayu. Tapi pemikiran kita harus dibuka lebih luas lagi bahwa hutan itu adalah sebagai sebuah ekosistem yang berisikan tumbuhan, satwa, tanah dan juga masyarakat lokal yang memanfaatkan hutan untuk kehidupan mereka.

Seorang teman bicara, “bos kalau kita sih sudah peduli soal alam dalam kegiatan trail, buktinya beberapa waktu yang lalu kami terlibat dalam penghijauan”. Wah bagus sekali kegiatan penghijauan itu, namun maaf bro kalau kita bicara soal hutan bukan sekedar soal penghijauan saja, karena penghijauan yang mungkin hanya sekali itu menjadi tidak banyak berarti kalau etika kita terhadap alam belum terbangun. Apalagi kalau penghijauan itu hanya sekedar menanam saja, tanpa diikuti program perawatan, ya jadi percuma, karena pohon yang ditanam akan mati.

Etika sosial dan lingkungan yang justru perlu kita bagun, karena kalau sudah punya etika, maka semuanya akan menjadi lebih baik. Beberapa etika sosial dan lingkungan dalam offroad motor trail antara lain:

  • Ketika melalui jalan umum termasuk jalan di perkampungan, kendarailah motor dengan santun, tidak perlu kebut-kebutan atau ‘mbleyer-mbleyer’ knalpot. Jika ada anak kecil atau hewan ternak melintas, kasih kesempatan anak kecil atau binatang itu lewat terlebih dahulu, jangan main seruduk aja.
  • Ketika konvoi lewat jalan raya, jangan sampai mengganggu pengguna jalan lainnya. Ingat jalan umum adalah milik semua orang, hargai juga orang lain yang mau lewat.
  • Jika offroad di sekitar ladang atau lahan pertanian, jangan sekali-kali melindas tanaman petani. Jika itu terjadi karena ‘kecelakaan’, segera minta maaf ke petani dan kalau perlu mengganti biaya kerusakan tersebut.
  • Ketika sedang haus-hausnya karena dihajar medan offroad, tiba-tiba melintas di kebun apel yang ranum buahnya, hemmm jadi ngiler dan langsung main petik apel saja. Upssss jangan lakukan itu, kalau memang haus coba minta dengan baik-baik ke petani tersebut, jangan main comot aja bro..
  • Minimalkan membuka jalur offroad baru yang itu membuka hutan, lebih baik gunakan jalur yang sudah ada saja.
  • Ketika di jalur offroad berpapasan dengan petani atau penduduk desa, beri kesempatan mereka terlebih dahulu untuk lewat.
  • Jangan pernah membuang sampah plastik, botol minuman atau putung rokok ketika offroad. Sampah-sampah itu sangat sulit hancur secara alami, jadi bisa-bisa di hutan jadi penuh sampah nantinya. Putung rokok juga bisa menimbulkan kebakaran hutan, apalagi di musim kemarau panjang. Bawalah selalu kantong sampah dan tempat untuk putung rokok anda.
  • Jika ada binatang liar melintas di jalur offroad, kasih kesempatan binatang itu lewat dulu. Jangan main tabrak aja, apalagi kalau binatang itu binatang langka yang dilindungi, bisa-bisa kita kena pidana karena membunuh binatang dilindungi itu ancaman penjaranya 5 tahun….hiii ngeri khan. Dan lagian binatang itu adalah penghuni asli hutan, mereka yang lebih dulu ada dibanding kita. Nah sebagai “tamu” kita patut punya etika di “rumah” para binatang liar tersebut.
  • Ada pandangan yang keliru tentang knalpot. Katanya knalpot yang suaranya menggelegar itu identik dengan laju motor yang kencang? Ah itu kuno bro, justru sekarang dunia dirt bike internasional lagi ramai-ramai mengurangi kebisingan suara knalpot. Di USA dan Eropa kalau kita mau offroad atau bahkan pertandingan motocross itu sudah diatur soal kebisingan knalpot, beberapa negara membatasi maksimum 96 Db. Kalau lebih dari itu, yah tidak diperbolehkan. Semua pabrikan knalpot trail ternama seperti FMF dan Pro circuit sekarang itu justru memproduksi knalpot yang tingkat kebisingan rendah, namun dengan tenaga dahsyat! Jadi kalau masih ada yang berfikir motor trail itu harus suara knalpotnya menggelegar bagai halilintar, pikiran itu perlu ditendang jauh-jauh, maaf itu pandangan jadul bro
  • Minimalkanlah offroad di hutan pada malam hari, karena offfroad di malam hari itu suara motor akan lebih terdengar nyaring. Ini berpotensi lebih menggangu bagi penduduk desa yang berada di dekat jalur offroad, dan pasti mengusik ketenangan binatang hutan yang lagi nyenyak tidur. Bisa-bisa ada monyet yang jatuh dari pohon, karena kaget dengan deru motor! Apalagi para petani itu di malam hari khan sudah capek-capeknya, sehinga perlu istirahat setelah seharian bekerja keras di ladang. Jangan sampai mereka terganggu dengan kehadiran kita di malam hari, apalagi dengan suara motor yang meraung-raung.

Itu beberapa tips sederhana yang bisa kami bagi untuk meminimalkan kerusakan terhadap alam dan gesekan dengan masyarakat sekitar jalur offroad. Tidaklah sulit untuk melakukan itu, yang dibutuhkan hanyalah kemauan, hati terbuka dan etika. Saatnya kita ber-etika-ria dalam kegiatan offroad motor trail. Selamat offroad! (C001 & C002)

Senin, 05 September 2011

OFFROAD KE PANTAI SUKAMADE, SENSASI KERASNYA JALAN BERBATU DAN SEGARNYA KELAPA MUDA





Tim CHEELA mengisi liburan lebaran dengan offroad 2 hari ke Pantai Sukamade, Taman Nasional Merubetiri di Banyuwangi (2-4 September 2011). Tim yang ikut berjumlah 5 orang dengan tunggangan KTM 200, KTM 85, Honda CRF 150F dan KLX 150 big wheels. Jalur yang dilewati bukan jalur yang biasa dilalui oleh wisatawan, namun jalur alternative yang lebih dominan off road. Tim start dari Kalibaru menuju Malangsari, menembus hutan Alas Wangi dan finish di Pantai Sukamade.

Jalur yang dilalui kebanyakan adalah double track, berbatu dan sedikit single track. Dengan tipe jalur seperti ini, otomatis tim langsung menggeber habis motornya, melakukan aksi speed off road yang luar biasa menyenangkan. Apalagi di jalur menuju Glenmore yang berupa tanah selebar 12 meter, membuat tim bisa gas pol dengan meninggalkan debu berterbangan laksana badai. Anggota tim yang memegang nomor anggota C002 yang juga satu-satunya wanita, juga tidak mau kalah dengan sobatnya. Dengan CRF 150F, C002 ikut memacu kencang motornya agar tidak ketinggalan jauh dengan kaum pria yang melaju kencang di jalur yang kering itu.

Satu-satunya jalur yang lumayan menguras energi adalah jalur dari Rajegwesi menuju Pantai Sukamade. Jalur ini 100% berupa batu sebebar kepala orang dewasa dengan kontur tanah naik turun dan berkelok-kelok. Mungkin kami tidak akan terlalu lelah jika memacu motor dengan pelan, namun kami lebih memilih untuk membetot gas motor sekencang mungkin meskipun di jalur berbatu! Hasilnya, dua motor ban dalamnya menjadi bocor dan semua tangan menjadi seperti dirubung ribuan semut. C009 terlihat berkali-kali melepaskan tangannya dari stang motor karena tak kuasa menahan motor KTM spek kompetisi yang dinaikinya.

Pegal di lengan setelah dihajar jalan berbatu langsung sirna ketika kami sampai di Pantai Sukamade. Soalnya kami langsung disuguhi oleh segarnya air kelapa muda yang baru dipetik dari pohonnya. Kelapa muda ini disajikan oleh sahabat kecil kami yaitu Bagas dan Roy, dua anak Desa Sukamade yang jago manjat pohon. Suasana alam yang asri dan seakan-akan kembali ke zaman kolonial, semakin menambah segarnya air kelapa yang kami teguk. C007 sampai habis lebih dari 4 butir kepala muda! Kami bercanda. "ini kehausan atau kesetanan?"

Offroad selama dua hari ke Sukamade, Taman Nasional Merubetiri, sangatlah menyenangkan, karena kami masih bisa melihat hutan yang bagus dan juga aneka satwa langka yang hidup bebas. Meskipun sayang sampah plastik masih banyak berserakan yang membuat tidak sedap dipandang mata. Sayang, kami juga masih melihat ada orang yang berburu satwa liar di kawasan konservasi yang mestinya terlindung itu. Semoga alam Taman Nasional Merubetiri akan lestari, sehinga suatu ketika nanti kami atau anak cucu kami masih bisa berkunjung lagi untuk menikmati asrinya alam dan ramahnya penduduk Sukamade. (C001).

Jumat, 05 Agustus 2011

TIPS OFF ROAD: MELIBAS JALUR BERBATU


Bagi kebanyakan orang jalur berbatu adalah jalur yang paling menyiksa, sehingga seringkali sebisa mungkin dihindari. Namun bagaimana jika jalur berbatu itu adalah satu-satunya jalur yang harus dilalui untuk mencapi lokasi tertentu? Tentunya mau tidak mau kita harus melewatinya. Simak tips dari Destry Abbot, pembalap EnduroCross dan peraih medali emas ISDE, serta pengalaman tim CHEELA berikut ini.

Ketika melalui jalur berbatu, posisi badan harus berdiri, jangan pernah duduk manis di jok motor. Dengan posisi berdiri, selain akan mengurangi guncangan yang berakibat energi lebih terkuras, juga akan membuat handling motor lebih enak. Posisi berdiri juga membuat kaki pengendara berfungsi seperti suspensi kedua. Memang awalnya akan capek jika mengendarai motor trail dengan posisi berdiri, namun dengan latihan dan bertambahnya jam terbang, maka hal ini akan menjadi mudah untuk dilakukan.

Kesalahan yang sering dilakukan pengendara adalah pandangan mata selalu ke bawah, melihat spatbor depan. Coba pandangan mata arahkan ke depan, ke arah jalur yang akan dilalui, kira-kira 5 sampai 10 meter kedepan, sehingga otak kita akan segera merespon dan memerintahkan tubuh kita untuk siap-siap melalui jalur berbatu itu.

Di jalur berbatu, apalagi batu-batu lepas, pastikan jari tangan siap sedia di tuas kopling. Ini jaga-jaga jika sewaktu-waktu ada masalah, misalnya tergelincir atau mau jatuh, anda akan segera bereaksi cepat dengan menekan kopling untuk memindah gigi atau setengah kopling untuk menambah akselerasi. Tarik gas motor dengan lembut, tidak perlu “diblayer-blayer” yang justru akan membuat motor menjadi tidak terkendali dan energi anda akan terkuras. Jangan gunakan gigi rendah di jalur berbatu.

Jika sepanjang jalur itu dipenuhi batu, pilihlah lewat jalur yang ukuran batunya besar, karena batu besar lebih stabil dibanding batu ukuran kecil. Batu-batu kecil lebih rawan lepas dari tanah yang akan membuat ban motor anda menjadi tidak menampak dengan sempurna.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah tentang isi atau tekanan angin di ban. Tekanan angin di ban jangan terlalu keras, karena ini akan membuat motor terpantul-pantul dan getaran di tangan akan lebih terasa kuat. Bisa-bisa tangan akan lemas tidak berdaya. Namun tekanan angin juga jangan terlalu lembek, karena kalau terlalu lembek itu akan membuat ban dalam rawan bocor akibat dihajar jalur berbatu. Sering ada kasus setelah melewati jalur berbatu, ban dalam menjadi sobek atau pentil ban copot. Ini semua karena tekanan angin di ban terlalu lembek.

Jika sudah terlatih dan paham tehniknya, melewati jalur berbatu bukanlah menjadi rintangan berarti. Justru akan ada kenikmatan tersendiri jika berhasil melewati jalur berbatu dengan lancar dan hemat energi. Selamat menikmati jalur berbatu! (sumber: Dirt Rider Magazine dan CHEELA).

Minggu, 24 Juli 2011

OFFROAD ARJUNA-BROMO BERSAMA KOMUNITAS TRAIL TULUNGAGUNG





Minggu 24 Juli 2011, tim CHEELA kedatangan tamu dari komunitas trail Tulungagung yang ingin dipandu offroad menuju Gunung Bromo. Tim CHEELA tentu saja dengan senang hati memandu sesama penghobby offroad motor trail tanpa bayaran. Ini semata-mata untuk mempererat tali persaudaraan, apalagi tim CHEELA itu adalah komunitas hobby yang bersifat non profit, jadi kalau memandu atas nama tim itu meminta bayaran adalah masuk kategori “haram” hukumnya di tim CHEELA.

Jumlah rombongan yang akan ikut offroad jalur gunung Arjuna-Bromo itu lumayan besar untuk ukuran CHEELA, yaitu sekitar 35 orang. Rombongan Tulungagung menginap di P-WEC (www.p-wec.com), sebuah pusat pendidikan konservasi alam yang mestinya cocok untuk para petualang. Selain lokasi P-WEC yang berada di dekat jalur offroad, menginap di P-WEC tidak perlu menguras isi kantong, karena harganya sangat bersahabat dengan para petualang atau pecinta alam.

Sekita jam 07.30, rombongan sudah bergerak meninggalkan P-WEC untuk bersenang-senang di jalur offroad di hari minggu yang cerah itu. Rombongan dikomandoi oleh RK dengan tunggangan kesayangannya, KTM 200 XCW. Tidak sampai 5 menit, rombongan sudah dihadang jalur offroad double track. Di awal jalur ini Yudhi dari Tulungagung yang membawa Yamaha YZF 250 sempat terjungkal.

Ketika rombongan mulai memasuki jalur Gunung Arjuna, ada halangan yang menghadang. Bukan jalur yang super ekstrim, namun 2 motor bannya kempis, sehingga terpaksa rombongan yang lain harus bersabar menunggu. Setelah menunggu 30 menit tidak ada tanda-tanda proses tambal ban akan usai, akhirnya diputuskan rombongan dipecah dalam dua grup. Grup pertama melanjutkan offroad menuju Kebun Teh Lawang, sedangkan grup kedua langsung bertemu di SPBU Bedali.

Jalur di Gunung Arjuna menuju Kebun Teh terbilang mengasyikan. Sebagian besar jalur berupa single track. Beberapa kali ada anggota rombongan yang harus jatuh, mencium segarnya tanah Arjuna. Namun secara umum perjalanan dari Arjuna ke Kebun Teh hingga ketemu rombongan grup kedua di SPBU itu berjalan dengan lancar dan menyenangkan.

Setelah mengisi bensin di SPBU bedali, rombongan langsung melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo lewat jalur Rojo Pasang. Jalur masih didominasi single track, dengan beberapa titik jalan berbatu. Di jalur berbatu ini menjadi siksaan tersendiri bagi sebagian rombongan yang jam terbangnya di dunia offroad masih terbilang minim.

Jam di tangan menunjukan pukul 12.30 ketika rombongan sampai di hutan mahoni Rojo Pasang. Kamipun memutuskan untuk istirahat makan siang. Semua tim membuka kontak nasi bersisi bekal makan siang. Ya, memang kebiasaan di tim CHEELA itu kami selalu membawa bekal makan siang di kotak nasi (lunch box), jadi ini meminimalkan sampah bekas bungkus nasi. Rombongan yang dipandu tim CHEELA tentu saja harus mengikuti kode etik ini.

Usai istirahat dan makan siang, rombongan langsung tancap gas menuju Bromo lewat jalur Kandangan. Di jalur inilah debu mulai berterbangan dan harus ekstra hati-hati, karena jalur sempit dan meliuk-liuk seperti ular naga. Apalagi di sebelah kanan adalah jurang dalam menganga. Hiii ngeri kalau sampai terjungkal!

Setelah menari-nari, meliuk-liuk melintas di jalur Kandangan, rombongan memasuki lautan pasir Gunung Bromo. Rombongan Tuluangung-pun langsung ceria dan memuaskan diri ber-offroad-ria di lautan pasir. Hari itu angin cukup kencang, sehingga debu dan pasir berterbangan seperti putting beliung. Jarak pandangpun menjadi sangat pendek. Beberapa anggota sempat terperosok dalam lubang pasir. Namun semuanya merasa senang bukan kepalang bisa menikmati offroad di lautan pasir Gunung Bromo. Salah seorang rombongan dari Tulungagung berujar, “wah capek langsung hilang begitu memasuki lautan pasir Bromo!”

Setelah puas bersenang-senang di lautan pasir Bromo, rombongan mulai meninggalkan Bromo menuju arah Coban Pelangi untuk menyudahi offroad di hari itu. Meskipun badan letih dan wajah sudah tidak karuan bentuknya karena debu, terlihat senyum kepuasaan terpancar di wajah-wajah rombongan Tulungagung. Wawan, salah satu peserta dari Tulungagung mengatakan, “terima kasih untuk tim CHEELA yang telah memandu kami, ini adalah offroad yang paling menyenangkan yang pernah kami alami. Lain waktu kami akan datang lagi”. (C001)

Rabu, 20 Juli 2011

PASUKAN 2 TAK KUASAI RED BULL ROMANIAC 2011





Graham Jarvis yang menunggang Husaberg TE 300 menempatkan dirinya pada posisi teratas dalam kejuaraan enduro extrim kelas dunia Red Bull Romaniac 2011. Ini adalah gelar kedua yang diaraih Graham Jarvis setelah pada tahun 2008 dia juga meraih mahkota juara di event yang sama. Posisi kedua ditempati oleh Chirs Birch yang naik KTM 300 dan posisi ketiga diraih Andreas Lettenbichler dengan kuda besinya Husqvarna WR 300.

Red Bull Romaniac disebut-sebut sebagai event enduro paling ekstrim di dunia. Hanya rider dan motor tangguh yang akan lolos dalam kejuaraan super berat ini. Red Bull Romaniac 2011 yang diadakan pada tanggal 16-20 Juli 2011 di Sibiu, Romania itu diikuti oleh 176 pengendara dari berbagai negara dan menempuh rute sejauh 600 km.

Jalur offroad yang ditempuh bukan sembarang jalur, karena penuh dengan rintangan yang membuat pengendara harus memeras keringat, kemampuan dan otaknya. Belum lagi rintangan buatan seperti kayu gelondongan dan batu yang membuat banyak pengendara terjungkal dan berdarah. Hanya pengendara yang punya skill mumpuni saja yang bisa lolos hingga babak terakhir di acara yang selalu menjadi magnet bagi penggila off road ekstrim ini.

Menariknya, dalam kejuaran enduro super ekstrim seperti Red Bull Romaniac ini kebanyakan motor yang dipakai adalah motor 2 tak. Graham Jarvis, sang juara, mengendarai Husaberg TE 300, demikian juga juara kedua Chris Birch yang memakai KTM 300 (2 tak). Jika dilihat 10 besar pengendara yang finish terdepan itu 90% pakai motor 2 tak. Coba lihat hasil lengkapnya di situs resmi Red Bull Romaniac di link berikut: http://www.redbullromaniacs.com/results/results-2011/overall-results-day-4/

Motor enduro 2 tak bukan hanya pertama kali ini saja mendominasi kejuaraan enduro ekstrim. Selain di Red Bull Romaniac, motor 2 tak banyak dipakai juga di kejuaraan off road ekstrim seperti the Last Man Standing, Erzberg Rodeo dan Hell Gate.

Husaberg TE 300 yang dipakai Graham dan KTM 300 yang dipakai Chris Birch itu dari pabrikannya dilengkapi dengan electric starter, jadi tinggal pencet tombol, motor sudah siap melaju. Sementara Husqvarna WR 300 hanya mengandalkan ‘pancalan’ kaki untuk menghidupkan motor. Meskipun tidak pakai electric starter, sebetulnya tidak menjadi masalah karena motor 2 tak itu sangat mudah dihidupkan.

Motor 2 nada itu bobot motor lebih ringan dibanding motor 4 tak. Ini menjadi salah satu pertimbangan pengendara untuk turun di kejuaran ekstrim enduro yang penuh dengan single track dan rintangan. Pengendalian yang mudah namun dengan power yang mumpuni, membuat motor 2 tak banyak dipilih untuk enduro ekstrim.

Bagaimana dengan di Indonesia? Pada tahun 90-an, motor trail di tanah air juga “dikuasai” oleh motor 2 tak yaitu Suzuki TS 125. TS 125 selama bertahun-tahun dikenal tangguh, meskipun tampangnya terkesan “jadul”. Ketika Kawasaki meluncurkan KLX 150, sempat muncul dugaan kalau nasib TS 125 akan habis “dilahap” geng hijau 4 tak dari Kawasaki. Nyatanya sampai saat ini TS 125 masih eksis, meskipun pabrikan sudah tidak memproduksinya lagi. Andai saja Suzuki mengeluarkan “new TS’ dengan model lebih modern dan kapasitas mesin lebih besar, misalnya 150cc, pasti akan laris manis di kalangan off roader.

Untuk trail build up, pada awalnya di Indonesia juga “dikuasai” barisan motor 2 tak yaitu KTM 200 EXC. Motor yang satu ini dikenal tangguh, ringan, handling enak dan perawatan mudah. Tak heran kalau populasi KTM 200 di Indonesia lumayan besar. Namun kemudian lambat laun, orang mulai melirik motor 4 tak, apalagi sempat ada isu motor 2 tak akan dilarang di Indonedia. Padahal ini sebuah isu yang tidak ada dasarnya dan ngawur.

Jika motor trail (build up) 2 tak di Indonesia semakin meredup, tidak demikian di Eropa dan USA. Motor 2 tak, terutama KTM, masih sangat banyak di pakai di berbagai kejuaraan enduro. Bahkan tim enduro KTM USA juga kini disebut-sebut semuanya akan memakai motor 2 tak. Andalan mereka adalah KTM 250 XCW dan 300 XCW. Mereka masih percaya bahwa motor 2 tak masih sangat kompetitif melawan gempuran motor 4 tak dengan cc yang lebih gede.

Perlu diingat bahwa dalam kejuaraan enduro atau motocross, itu selalu kapasitas mesin 2 tak harus lebih kecil dibanding 4 tak. Misalnya, motor 2 tak 250 cc itu akan melawan motor 4 tak 450cc. Dalam motocross, motor 2 tak 125cc akan melawan 4 tak 250cc. Kenapa kapasitas mesinnya tidak dibuat sama saja, anatara 2 tak dan 4 tak? Kenapa motor 2 tak kapasitas mesinnya harus lebih kecil dibanding yang 4 tak? Bukankah lebih adil, kalau kapasitas mesinnya sama? Silahkan disimpulkan sendiri. (C001/foto: www.redbullromaniacs.com).

Kamis, 07 Juli 2011

POWERCROSS 2011: HABIS TERANG TERBITLAH GELAP





Powercros 2011 usai digelar. Para juarapun sudah dimumumkan. Juara pertama diraih oleh Kim Askhenazi (Surya 12 Evalube INK KTM), kedua Nick Sutherland (Surya 12 Evalube INK KTM) dan posisi ketiga diraih Jake Ridley (Dumasari Bostart INK MOS). Lho kog namanya asing semua? Ya memang Powercross 2011 ini seperti menjadi milik crosser asing. Di posisi 4 dan 5 pun diduduki oleh crosser asing dari tim Husqvarna MX yaitu Matev Irt dan Lewis Stewart. Praktis di posisi 5 besar itu dikuasi oleh crosser asing!

Hal menarik lainnya adalah di posisi 5 besar itu didominasi oleh motor Eropa, yaitu KTM dan Husqvarna. Posisi 1 dan 2 dipegang teguh oleh pembalap KTM. Kim Askenazi yang menunggangi KTM 250 SXF begitu kosisten naik podium di setiap seri. Sedangkan Husqvarna adalah tim baru yang mulai meramaikan balap garuk tanah Indonesia sejak tahun lalu. Pembalap nasional Aep Dadang juga naik kuda besi Husqvarna TC 250, walaupun sayang hasil yang diraih Aep di tahun 2011 ini kurang menggembirakan.

Untuk kelas SE 125 grade A nasional para jawaranya adalah pembalap-pembalap muda. Posisi pertama diraih Aris Setyo (Cargloss AHRS Jatim), kedua Alexander Wiguna (Gandasari Pertamina Enduro INK IRC) dan ketiga Farhan hendro (Cargloss AHRS IRC ARG). Sedangkan di posisi keempat dan kelima dipegang oleh Andre Sondakh dan Agi Agassi. Hasil kelas nasional ini menyejukan karena crosser-crosser muda mulai unjuk gigi. Selama bertahun-tahun juara motocross/supercross di Indonesia tidak lepas dari wajah crosser senior seperti Aep Dadang dan Dony Orlando.

Stop bicara pembalap dan motornya….karena mungkin kami tidak punya kemampuan analisa yang mumpuni untuk ini. Tulisan ini akan lebih ditujukan untuk “evaluasi” penyelenggaraan Powercross 2011 dari sudut penonton. Wah koq dari sudut penonton, kog bukannya dari pembalap atau pengamat cross? Sekali-kali perlu dong ada penilaian dari sudut penonton, toh balapan tanpa ada yang menonton juga akan jadi garing alias tidak bernyawa. Mau balapan tanpa ada penonton?

Secara umum Powercross 2011 sangat menarik ,karena ada banyak pembalap asing dan suguhan free style yang menajdi hiburan tersendiri. Kehadiran crosser asing memberi ‘jiwa” tersendiri dan menyenangkan penonton karena bisa menyaksikan tehnik cross yang rapi, konsisten dan professional. Kelihatan bahwa crosser asing lebih bisa menjaga irama bertanding, skill mumpuni dan punya mental juara yang mantap.

Powercross 2011 juga memanjakan penonton karena ada banyak tribun/kursi yang disediakan, jadi ada kesempatan penonton untuk bisa duduk jika capek. Penonton yang ‘kebelet’ buang air kecil pun juga tidak bingung cari tempat, karena disediakan toilet. Apalagi bagi penonton perempuan tentunya akan sangat membutuhkan toilet seperti ini, beda dengan kaum pria yang bisa “seenaknya” buang air. Terima kasih untuk panyelenggara yang telah menyediakan toilet ini!

Selain sisi positif yang ada di Powercross 2011, yang bikin kami bertanya-tanya kenapa Powercross diadakan di malam hari? Mungkin meniru supercross di luar negeri yang diadakan di dalam stadion yang ada lampu terang benderang. Sedangkan Powercross 2011 ini diadakan di sirkuit dadakan dan relatif minim penerangan. Di beberapa titik terlihat gelap. Penontonpun jadi bingung melihat aksi pembalap. Apalagi powercross ini diadakan mulai pagi hingga malam, jadi habis terang terbitlah gelap!

Penyelanggaraan Powercross di malam hari terkesan terlalu dipaksakan. Lampu terlihat kurang memadai, meskipun dari seri satu ke seri berikutnya terus ditambah lampunya, namun tetap saja penonton susah untuk menikmati aksi crosser dengan maksimal. Crosser hanya bisa dilihat dengan jelas ketika melintas di depan pentonton, begitu lepas dari depan mata hanya kelihatan seperti bayangan hitam saling balapan, membuat bingung penonton!

Powercross yang diadakan di malam hari dengan penerangan yang belum maksimal juga rawan terjadinya kecelakaan, seperti tabrakan beruntun 5 crosser di seri Malang. Selain petugas bendera kurang sigap mengibarkan bendera kuning, kurang terangnya penerangan diduga juga memicu kurang sigapnya crosser untuk menghindar dari kecelakaan beruntun.

Nomor start crosser yang tertera di motor dan baju juga sering beda. Ini juga bikin bingung penonton, apalagi penonton pemula yang belum hafal nama-nama crosser yang bertanding. Seharusnya panitia penyelenggara tegas soal ini, yaitu nomor start yang tertera di motor harus sama dengan yang tertulis di baju. Bahkan ada motor yang nomor start di depan dan di samping itu beda nomornya, apa tidak bingung tuh penonton?

Harga tiket kelas ekonomi juga terbilang terjangkau. Namun yang bikin heran kenapa harga tiket VIP begitu tinggi yaitu Rp 150.000? Padahal fasilitasnya hanya berupa kursi dan peneduh saja. Ini terlalu mahal, pantas kalau kursi VIP selalu terlihat tidak terisi penuh. Coba kalau harga tiket VIP di bawah Rp 100.000 pasti lebih menarik minat penonton.

Terlepas dari kekurangan Powercross 2011, kami salut terhadap promotor dan penyelenggara yang telah berusaha maksimal menyukseskan event nasional bahkan internasional tersebut. Semoga di tahun mendatang akan lebih baik lagi penyelenggaraannya, dan mungkin tidak perlu dipaksakan diadakan di malam hari. Toh sepertinya waktunya cukup bila diadakan mulai pagi hingga sore.

Selamat untuk para juara powercross 2011! Selamat untuk penyelenggaranya dan terima kasih juga untuk masyarakat yang setia menonton! Ingat tanpa penonton, event balapan itu akan kehilangan “nyawanya”. Sampai ketemu di Powercross 2012! (C001)

Rabu, 06 Juli 2011

OFFROAD DI PULAU DEWATA





Bali yang dikenal sebagai tujuan utama pariwisata di Indonesia bukan hanya menyimpan keindahan alam dan budaya, namun juga jalur offroad yang mantap. Pulau Dewata yang penuh dengan Pura dan senyum ramah masyarakatnya itu juga membuat RK dari tim CHEELA tersenyum lebar ketika menjajal medan offroad pada awal Juli 2011. Monty dan Mike, dua sahabat RK memfasilitasi offroad di Bali ini. Thanks Monty and Mike!

Kami melakukan start offroad dari Kintamani dan finish di Pantai Candidasa. Untuk menjajal medan offroad ini kami semuanya dilengkapi dengan tunggangan motor Eropa yaitu Husaberg dan KTM. Dua-duanya motor yang hebat yang membuat kami bisa enjoy di jalur single track dan double track di pulau seribu Pura ini.

Jalur dari Kintamani ke Candidasa ini didominasi single track, tanah berpasir dan sedikit jalan batu. Jalur banyak juga yang masuk ke dalam hutan di Gunung Abang. Jalur meliuk-liuk, asyik sekali, sehingga kami sekali-kali harus merebahkan badan untuk melibas tikungan tajam di beberapa titik. Lebih mengasyikan lagi, ada banyak jalur menanjak alias mendaki di perbukitan, yang membuat kami harus menarik kuat-kuat gas motor, jika tidak ingin motor melorot ke bawah.

Di tengah hari kami sampai di Pura Besakih, pura terbesar di Pulau Bali. Hemm indah sekali pura-nya. Dari Besakih kami melanjutkan offroad ke arah Karangasem. Di jalur ini jalurnya sedikit lebar, berupa tanah padat dan penuh dengan gelombang tanah. Otomatis kami langsung tancap gas, speed offroad! Motorpun beberapa kali terlihat “terbang” melibas gundukan tanah.

Di jalur yang berada di tengah-tengah perkebunan salak di Karangasem ini, RK mencoba merasakan performa Husaberg FE 390. Wow gilaa…motornya enak sekali. Handlingnya ringan seperti motor 250cc namun powernya mantap untuk melibas medan offroad. Untuk menikung, motor juga enak diajak rebah. Apalagi suspensinya, hemmm bikin tersenyum lebar! Empuk dan meredam dengan baik goncangan motor.

Di Karangasem kami juga disambut senyum manis gadis-gadis Bali yang berkebun di perkebunan salak. Dengan ramah mereka menyapa kami, bahkan sempat foto bersama. Beberapa wanita juga terlihat sibuk untuk mempersiapkan hari raya Galungan. Anak-anak mengerubungi kami yang lagi istirahat, sambil terheran-heran melihat motor yang jangkung-jangkung.

Menjelang gelap, kami sampai di Pantai Candi Dasa yang masih asri. Pantai ini relatif tidak banyak wisatawan, tidak seramai Pantai Kuta. Begitu sampai di Candidasa, hanya satu kata yang kami ucapapkan, “puas!”. Ya kami benar-benar puas bisa menjajal medan offroad di Bali ini. Medannya asyik, alamnya indah dan masyarakatnya ramah. Puas! (C001).

Minggu, 26 Juni 2011

OFFROAD ARJUNA BROMO BERSAMA DIRT BIKER AUSTRALIA





(Minggu, 26 Juni 2011). Pukul 08.30 pagi rombongan tim CHEELA meninggalkan sekretariat CHEELA menuju lereng Gunung Arjuna dan direncanakan tembus ke Gunung Bromo. Offroad di hari yang cerah itu menjadi istemewa karena ada lady dirt biker asal Australia yang gabung offroad bersama kami. Dirt biker asal Australia itu adalah Renee yang juga pernah melatih motocross untuk perempuan junior di Australia dan USA. Tim yang berangkat hari itu berjumlah 10 orang dengan persenjataan 5 KTM, 4 KLX 150 dan 1 honda CRF 150.

Lima menti setelah meninggalkan sekretariat CHEELA, kami langsung berhadapan dengan jalur single track di tengah-tengah persawahan. RK yang menjadi leader langsung membetot KTM-nya dengan kencang, sehingga beberapa kali terlihat roda depannya terangkat melibas jalur tanah sempit itu. RD yang juga menunggangi KTM 200 menguntit di belakang RK. Namun koq rombongan yang lain tidak kunjung tiba? Feeling kami mengatakan pasti ada masalah di belakang.

Ternyata feeling kami benar, tak lama kemudian kami dapat kabar bahwa WW terjungkal ke dalam sawah bersama KTM 200-nya. Terjungkalnya lumayan parah, karena knalpotnya sampai sobek dan kaki WW terlihat bengkak. Karena tidak bisa hidup, motor WW terpaksa diseret oleh motor AG menuju bengkel langganan tim CHEELA. Untungnya jarak ke bengkel hanya berkisar 2 km dari lokasi “kecelakaan”.

Sekitar jam 10 motor WW sudah kelar dan ready to race lagi! WW pun menyatakan siap melanjutkan perjalanan, meskipun dengan kaki pincang. Karena hari sudah beranjak siang, kami memutuskan tidak jadi lewat Gunung Mujur tetapi langsung potong kompas lewat jalur di atas perumahan Yonkes. Jalur di Yonkes menuju lereng Arjuna ini benar-benar luar biasa nikmat bagi penggemar speed offroad. Jalur berupa tanah selebar dua meter dengan beberapa titik banyak gundukan tanah menanjak. Di jalur ini tim CHEELA habis-habisan membetot gas motor. Debupun berterbangan seperti terkena bom!

Jaur di lereng gunung Arjuna kebanyakan jalur sempit di tengah hutan pinus. Namun karena tidak hujan, kami bisa melewati jalur ini dengan cepat. Jam 12.00 kami sudah tiba di tengah-tengah Kebun teh Lawang yang berada di lereng Gunung Arjuna. Kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Bromo, tanpa istirahat di kebun teh.

Jalur dari kebun teh Lawang menuju Desa Bedali berupa jalan aspal yang sudah rusak 95%, jadi mirip jalan batu (macadam). Kami memacu motor dengan agal kencang, namun ketika melewati perkampungan kami mengurangi laju motor kami untuk menghormati penduduk sekitar. Tak lama kemudian kami sampai di SPBU Bedali dan kamipun mengisi bensin semua motor. Mumpung di SPBU ini menyediakan pertamax plus, maklum beberapa motor minumnya wajib pertamax.

Usai mengisi bensin motor, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Desa Sri Gading. Dari Desa Sri gading jalan yang ada menjadi siksaan tersendii bagi sebagian anggota tim, karena jalur berupa bebatuan yang penuh dengan gelombang. MD, peserta cewek yang membawa KTM tipe cross harus extra keras mengendalikan motornya, karena berulang kali roda depannya terangkat terbawa oleh tenaga motornya yang ganas. Tangan MD jadi terasa seperti dikerubuti ribuan semut.

Terlepas dari “siksaan” jalur batu, kami mulai memasuki jalur tanah lagi. Ini membuat kami tersenyum. Namun karena jam di tangan sudah menunjukan pukul 1 siang, kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil makan siang di bawah rimbunya pohon. Semua anggota tim mengeluarkan bekal makanannya dan menyantap penuh dengan nikmat. Menjadi sebuah kebiasaan di tim CHEELA untuk selalu membawa bekal makanan ketika offroad, karena kami tidak tahu apakah di sepanjang jalur ada warung makan atau tidak. Khan lebih aman membawa bekal makanan sendiri, daripada kelaparan di tengah-tengah jalur offroad!

Usai makan, WW mulai merasakan nyeri yang hebat di kakinya akibat terjatuh di awal perjalanan. Untungnya di tim CHEELA juga ada “tukang pijat”. AG yang pernah mendapatkan kuliah ilmu pijat itupun mempraktekan ilmunya, mencoba memijat sobatnya itu. WW terlihat beberapa kali meringis menahan rasa sakit. Sementara WW dipijat, DM dan BG malah tertidur pulas di atas empuknya rerumputan! Wah dua orang ini memang begitu mudahnya tertidur dalam situasi apapun!

Tepat jam 2 kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang kami lalui 100% single track. Kamipun memacu motor dengan kencang, meliuk-liuk seperti penari ular menyusuri pinggiran bukit dan hutan. Tak lama kemudian kami sampai di turunan tajam yang meliuk-liuk di jurang Rojo Pasang. Kami harus extra hati-hati kalau tidak mau terjungkal ke dalam jurang!

Tak lama kemudian kami sampai di jalan aspal di daerah Nongkojajar. Kamipun memacu motor dengan santai melewati kota Nongkojajar yang dikenal sebagai penghasil apel itu. Namun kami mendapatkan “halangan” lagi, karena tanpa permisi tiba-tiba ban dalam motor RD bocor! Kamipun terpaksa menunggunya, sementara hari mulai beranjak sore. Jam di tangan waktu itu sudah menunjukan pukul 15.30 dan kabut tipis mulai menyelimuti lokasi kami berhenti.

Kelar menambal ban, kami memutuskan rombongan dipecah jadi dua. WW dan AG akan lewat jalur aspal menuju Pananjakan, karena kaki WW semakin parah. Sementara rombongan lain yang dipimpin RK akan terus melanjutkan offroad lewat jalur Ngawu. Titik ketemu dua rombongan ini adalah di pertigaan menuju Gunung Pananjakan.

WW juga harus tukar motor dengan DM, karena kaki WW tidak memungkinkan untuk “mancal” KTM-nya. WW berganti motor KLX 150 punya DM yang ada electric starter-nya. DM-pun menjadi tersenyum lebar mencicipi KTM di jalur offroad dari Ngawu menuju Panjakan. DM ngomong, “wah kalau pakai KTM jadi tidak milih jalur, semua medan dilibas!”

Sekitar jam 16.30 kami akhirnya sampai di pertigaan menuju Gunung Pananjakan. Setelah istirahatr sekita 15 menit sambil menncicipi bakso, kami memutuskan untuk langsung turun ke lautan padang pasir Gunung Bromo, agar kami tidak kemalaman di jalan. Jalur dari Penanjakan ke lautan pasir Bromo ternyata sudah banyak yang rusak berat. Di beberapa titik tanah longsor dan hanya cukup dilewati satu motor saja. Otomatis kendaraan roda empat tidak mungkin lewat jalur ini.

Lima menit kemudian kami sudah sampai di bibir lautan pasir Gunung Bromo. Renee yang asal Australia itu langsung menggeber Honda CRF-nya dengan kencang. Di jalur pasir ini Renee menunjukan kemampuan offroad-nya. Meskipun perempuan, dia begitu lihai mengendalikan motornya dan melibas habis rintangan di lautan pasir. Sepertinya di Australia dia sudah terbiasa offroad di padang pasir.

Medan di lautan pasir waktu itu super kering, jadi pasirnya lumayan tebal. Motorpun terlihat meliuk-liuk berusaha melewati pasir yang dalam itu. Debupun berterbangan tinggi membuat wajah kami semuanya seperti “korban perang”, kotor dan hitam! Renee yang wajahnya putih pun sudah tidak lagi terlihat seperti bule.

Setelah sesi foto bersama dengan latar belakang gunung Bromo yang masih terlihat mengepulkan asapnya, kami langsung membetot kencang motor kami ke arah Jemplang. Hari sudah mulai beranjak gelap, sementara beberapa motor tidak dilengkapi dengan lampu. Target kami adalah sebelum gelap total, kami sudah harus melewati Jemplang.

Ketika kami melewati Jemplang, hari benar-benar sudah gelap. Kamipun memacu motor dengan pelan karena harus mengawal beberapa motor yang tidak ada lampunya. Motor tidak ada lampunya, karena itu motor tipe kompetisi.

Setelah beberapa saat lamanya “berjuang” di kegelapan malam, akhirnya kami sampai juga di Coban Pelangi. Terlihat 3 mobil tim penjemput sudah siap di parkiran yang gelap total karena sama sekali tidak ada lampu. Kami semua bernafas lega karena akhirnya bisa finish di Coban Pelangi. Renee dari Australia juga tersenyum lebar, puas offroad bersama tim CHEELA! (C001).