Sabtu, 02 Januari 2010

OFFROAD KE SUNGAI ARAN ARAN






Menyeberangi 7 Sungai

Awal tahun baru 2010 diisi oleh komunitas CHEELA dengan offroad ke sungai Aran-Aran, Kabupaten Malang. Sekitar jam 09.30 tim yang berjumlah 5 orang sudah siap berangkat dari Poncokusumo dengan tunggangan KTM 200 XC, Honda CRF 150 dan Kawasaki KLX 150.

Tidak sampai 5 menit kami sudah memasuki medan offroad yang sedikit menanjak. RK dengan motor KTM-nya langsung melesat meninggalkan sobat-sobatnya, disusul kemudian oleh ZN dengan KLX 150-nya. Jalur tanah yang mengandung pasir membuat kami bisa membetot gas dengan kencang karena jalur tidak licin dan juga tidak berdebu. Pokoknya asyik sekali!

Medannya selanjutnya akan menguras adrenalin kami, karena medan berupa tanjakan dan penuh dengan superbowl alami ala supercross. Pantat jadi jarang duduk di sadel motor. EW dan WW yang baru menjajal jalur ini sedikit terkaget-kaget karena ada banyak gundukan tanah yang bisa setinggi 2 meter dan tiba-tiba menurun tajam. MD yang satu-satunya peserta perempuan mampu melibas jalur ini dengan baik karena dia sudah berulang kali melewati jalur yang luar biasa mantapnya ini!

Jam di tangan menunjukan pukl 10.30 ketika kami memutuskan istirahat sejenak di tepi hutan pinus. Meski baru sejam kami offroad, peluh sduah meleleh. Maklum selain medannya penuh superbowl alias gundukan-gundukan tanah, kami juga melakukan speed offroad.

Setelah lima belas menit istirahat, kami melanjutkan offroad ke Desa Wonokerto. Medannya masih menanjkan dan penuh gundukan tanah. Kami memacu motor dengan kencang. Aksi kami itu sempat menjadi tontonan bagi orang-orang kampung, anak-anak bersorak sorak, “horeeee!” ketika kami melewati kampung mereka.

Tak lama kemudian kami sampai di tepi Sungai Aran-Aran. Sungai yang menjadi lokasi tambang pasir ini lumayan luas, lebarnya kira-kira 100 meter. Wah pasti asyik kalau bisa menyebrang sungai itu. Setelah bertanya-tanya ke penggali pasir, kami memutuskan untuk menyebrang sungai itu. Sunaginyat idak terlau dalam, namun ada banyak batu dan kerikil, sehingga kalau tidak hati-hati bisa terjungkal di tengah-tengah sungai.

KLX 150 EW sempat bermasalah sedikit ketika menyeberangi sungai ini.Koil motornya sepertinya kemasukan air, sehingga sering mati sejenak kalau melibas air. Posisi koil KLX 150 yang berada di depan dengan bungkus kabel yang tidak rapat membuat KLX 150 sering bermasalah kalau melibas air. Solusinya perlu dikasil ‘seal’ agar kedap air.

Lolos menyeberangai sungai, kami memacu motor denga kencang menyusuri sungai Aran-Aran. Jalurnya mantap, berupa tanah berpasir dan penuh dengan kubangan berisi air. Jalur yang meliuk-liuk membuat kami harus sering menurunkan kaki untuk menjaga keseimbangan di tikungan yang tajam. Lagi-lagi kami melakukan speed offroad di jalur yang mengasyikan ini.

Beberapa saat kemudian kami sampai di Desa Patokpicis. Kemudian kami ambil jalur kiri menuju Desa Mbasri, Jalur juga masih full offorad, hanya cenderung datar, tidak menanjak lagi. Dari Desa Mbasri kami menyebrengai sungai lagi dan melewati jembatan sempit yang hanya cukup satu motor saja. Tak lama kemudan kami sampai di Desa Bambang, namun jalur sudah mulai beraspal. Kami bertanya ke penduduk setempat untuk mencari jalur yang full tanah dan akhirnya kami memutuskan untuk belok kanan menuju jalur offroad lagi.

Sekitar jam 12.30 kami sampai di tepi sungai lagi. Karena perut sudah mulai lapar dan RK kepalanya mulai pusing akibat dehidrasi, akhirnya kami memutuskan untuk istirahar makan siang. Sementara kami makan. ZN memutuskan untuk survey jalur offroad alternative.

Puas makan dan istirahat, kami melanjutkan offroad lagi ketika jam menunjukan pukul 13.15 wib. Kami menyeberangi sungai dan menyusuri jurang. Beberapa jalur sangat sempit, sehingga motor harus dituntun, kalau nggak bisa-bisa kami nyemplung jurang.

Sukses melewati single track menyusuri jurang itu, kami sampai di jalan offroad yang agak lebar yang kana kiri berupa hutan mahoni. Setelah itu kami harus menyeberangai sungai lagi dan seelah itu langsung dihadap jalur single track yang menanjak ekstri. Di jalur ini MD sempat salah mengambil jalur, sehingga roda motornya menjadi ‘spin’. Pemeran pengganti ZN akhirnya harus mengambil alih kemudia CRF 150 punya MD.

Kami memutuskan istirahar sejenak, sambil membersikan busa filter udara KLX 150 punya EW yang sudah pnuh debu. ZN juga harus mengeluarkan air yang ngendon di karburator. Setelah 10 meniti istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kami bersyukur karena hujan mulai turun, karena ini memberikan efek adem ke badan kami yang mulai “over heat”.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, namun kami terus melanjutkan perjalanan. Di tengah-tenah hujan yang deras kami melakukan speed offroad menyusuri kembali Sungai Aran-Aran. Jalan yang berulang jadi penuh air campur tanah. Kadang-kadang kelihatannya dangkal, namun begitu motor kami masuk ternyata lumayan dalam.

Sekitar jam 15.00 kami kembali tiba di Sungai Aran-Aran. Setelah melihat ada penjual bakso di tepi Sungai Aran-Aran, kami memutuskan istirahat sejenak samibl menghangatkan badan dengan mencicipi bakso kampung itu. Wah sedap sekali dan membantu memulihkan energy kami yang terkuras di hajar medan offroad.

Hujan masih tutun ketika kami meninggalkan sungai Aran-Aran menuju Desa Wonokerto. Jalur masih masih full offroad. Jalur tanah selebar 4 meter itu memacu adrenalin kami yang sudah sampai di ubun-ubun. Tepat jam 16.00 kami sampai di Desa Wonokerto. Kami mampir sebentar ke petani sahabat kami. Yang bikin mantap adalah kami disuguhi kopi panas yang membuat badan kami menjadi segar kembali.

Lima belas menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Poncokusumo. Jalur perjalanan pulang juga masih full offroad. Jalur naik turun dan penuh gundukan tanah alami. Kurang dari 1 jam kemudian kami sampai di Desa Pandansari yang sudah beraspal. Kami memacu motor dengan santai, makum sudah masuk perkampungan. Dengan wajah penuh kepuasan kami meninggalkan Desa Pandansari menuju mobil mengangkut motor yang menunggu di Poncokusumo. ZN bilang, “pokoknya kita harus mengulang lagi jalur offroad ini, benar-benar mantap sekali!”