Minggu, 19 Desember 2010

Catatan Offroad tim Cheela di Tengah Letusan Gunung Bromo 19 Desember 2010





OFFROAD KE GUNUNG JANTUR DAN BROMO DITENGAH-TENGAH HUJAN KERIKIL

Jam di tangan menunjukan pukul 10.00 wib ketika tim CHEELA memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tim yang berjumlah 4 orang itu memacu motor dengan santai sambil melemaskan otot-otot sebelum memasuki medan offroad sebenarnya. Cuaca hari itu mendung dan agak dingin. Cuaca ini yang nantinya akan membantu kami tidakdehidrasi karena dihajar oleh medan offroad single track yang disertasi hujan abu dan kerikil.

Tak lama kemudian, di hadapan kami sudah menghadang jalur single track yang hanya cukup dengan satu roda dengan posisi menanjak. Tim CHEELA yang selalu offroad dalam jumlah orang kecil itu langsung membetot gas motor. RK dengan senjata andalannya, “the orange” memimpin di depan diikuti oleh BN, AD dan WW yang semuanya mengendari “the green” KLX 150. BN menunggang KLX 150 versi big wheel dan sudah racing full option.

Jalur yang kami lalui berupa single track yang kanan kiri penuh duri arbey hutan. Di beberapa titik ada banyak pohon yang rebah dan tumbang. Ini membuat kami tidak bisa memacu motor dengan kencang. Jalur ini banyak memakan korban. Hidung RK berdarah tersayat duri, kepala BN terbentur dahan yang melintang dan pelindung lutut WW sobek tersangkut ranting-ranting tajam yang menyelimuti jalur ini.

KLX 150 yang pakai ban ukuran 16/21 harus bekerja extra keras untuk menaklukan jalur ini. Karena jalur agak licin karena baru diguyur hujan, meliu-liuk, tetapi sempit. Sementara RK dan BN yang memakai ban ukuran 18/21 relatif mudah melahap jalur ini. RK malah dengan asyiknya menggeber motornya sampai roda depan terangkat berulang kali.

Ketika jam menunjukan pukul 11.45 wib, tim sampai di Gunung Jantur yang masih masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tenger Semeru. Kedatngan kami di Gunung jantir disambut kabut tebal. Sama sekali tidak terlihat pemandangan yang biasanya luar biasa cantik, yang ada adalah warna putih dan suhu yang dingin. Kami memutuskan untuk istirahat, apalagi AD sudah menggigil karena kelaparan dan terkuras tenaganya menaklukan medan offroad yang berada di bibir jurang itu. AD bilang, “wah saya sampai gemetar waktu lewat jalur sempit di tepi jurang, untungnya kabut tebal jadi nggak bisa lihat kedalaman jurang, hiiiii ngeri”. Padahal kalau AD lihat jurangnya akan lebih ngeri lagi karena kedalaman jurang itu lebih dari 100 meter!

Sambil istirahat kami membuka bekal makan siang. Kami semuanya membawa makanan yang dimasukan dalam kotak nasi. Ini kebiasaan tim CHEELA, karena untuk meminimalkan penggunaan plastik atau kertas bungkus makanan yang akan juga meminimalkan sampah. Hemmm nikmat sekali makan di puncak gunung, sayangnya kabut tebal sedang turun, jadi kami tidak bisa menikmati pemandangan taman edelwis yang ada di sekitar kami. Yang ada justru tikus-tikus hutan yang sepertinya tertarik dengan bau ikan ‘Pe’ yang dibawa BN.

Puas makan siang dan istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur menurun dan masih single track. Di jalur ini BN berulang kali jatuh karena kecantol semak-semak dan rumput tebal yang berada di kanan kiri jalur. WW nyeletuk, “wah BN itu belum adaptasi dengan sepatu tech 10 barunya tuh, makanya sering jatuh he he he”.
Tak sampai satu jam perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang mengerikan. Terlihat ada banyak pohon tumbang yang berwarna kehitaman dan tertutup abu tebal. Tidak ada kehidupan di tempat ini. Kami memacu motor lebih kencang agar segera meninggalkan jalur yang pemandangannya membuat hati kami merasa tidak nyaman.

Tiba-tiba kami melihat ada 2 orang warga desa yang sepertinya mencari kayu yang sudah mati itu. Kami bertanya, “kenapa mas kog ini pohon mati semua dan abunya tebal sekali?” Dengan wajah keheranan, dua warga desa itu menjawab, “lho apa bapak tidak tahu kalau Gunung Bromo baru saja meletus dan mengeluarkan abu dan kerikil?”

Wah gawat, ternyata pada hari itu kami sedang offroad ketika Gunung Bromo sedang meletus, bahkan sampai memuntahkan kerikil, batu dan abu tebal. Pantas sepanjang jalur yang kami lalui itu banyak pohon tumbang dan tertutup abu yang tebal. Perasaan kami menjadi tidak enak, apalagi suara gemuruh Gunung Bromo sekali-kali terdengar dengan jelas.

Meskipun di sepanjang jalur kami disuguhi pemandangan mengerikan karena semuanya terlihat hitam, kami sempat terhibur karena sempat melihat “keindahan” Bromo ketika mengeluarkan asap tebal berwarna merah. Kami sempat foto-foto dimomen yang mungkin tidak pernah terulang lagi ini. Puas foto-foto kami bergegas meninggalkan lokasi, takut tiba-tiba Bromo memuntahkan kerikil lagi.

Pukul 13.45 kami tiba di Pos Puncak atau kadang-kadang disebut juga dengan Pos Kutukan. Setelah istirahat sejenak untuk membersihkan goggle yang tertutup abu, kami langsung melanjutkan perjalanan. Baru semenit meninggalkan Pos Puncak, kami sudah dihadang dengan pohon besar yang tumbang. Terpaksa motor dituntun satu per satu dan diangkat ramai-ramai. Disinilah kekompakan dan kerja sama tim diuji.

Sukses melewati pohon tumbang, jalur di hadapan kami jauh lebih mengerikan lagi, karena semuanya terlihat hitam dan gosong. Sepanjang mata memandang terlihat pepohonan tumbang dan mati semuanya. Jalur yang kami lewati juga semakin sempit dan susah karena harus melewati ranting, dahan dan pohon yang melintang di tengah-tengah jalur. Tanah yang kami lalui dengan tertutup abu tebal. Motor dan orangpun semuanya jadi terlihat seragam, warna hitam semuanya. Jalur ini benar-benar menguras energi kami.

Setelah dua jam berkutat dengan jalur “pohon hitam” kami dengan perasaan lega memasuki Desa Ledok Ombo. Jam di tangan waktu itu menunjukan pukul 15.30 wib. Kedatangan kami disambut dengan warga desa yang keheranan ketika mereka tahu bahwa kami baru saja lewat Gunung Jantur, padahal Bromo sedang meningkat aktifitasnya.

Karena sudah sore dan lampu KTM punya RK bohlamnya putus, akhirnya kami memutuskan jalur on the road menuju Cemorolawang. Ternyata jalurnya tidak benar-benar “on the road” tetapi masih berbau kental “offroad”. Jalan yang kami lalui semuanya tertutup abu bercampur tanah. Jalanan kelihatan warna cokelat semuanya. Di sepanjang jalan kami juga melihat semua mobil warnanya jadi hitam karena tertutup abu tebal. Apalagi hujan turun dengan rintik-rintik sehingga semakin membuat jalan “on the road” itu menjadi jalur “offroad”.

Di jalan menuju Cemorolawang itu kami memacu motor dengan kencang karena jalanan sepi dan mengejar waktu jangan sampai kemalaman ketika memasuki lautan pasir Bromo. Mata kami sampai perih menahan percikan pasir yang disemburkan oleh Bromo, karea goggle kami sudah tidak bisa dipakai lagi karena kotor tertutup abu.

Sekitar jam 17.00 wib kami sampai di Cemorolawang, persis di depan Hotel Bromo Permai. Celaka, ternyata kawasan lautan pasir ditutup dan jalan menuju kesana ditutup dengan portal besi. Wah gawat, karena pilhannya hanya dua yaitu kami menginap di Cemorolawang atau kembali ke Malang lewat jalur aspal Probolinggo yang akan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Akhirnya kami memutuskan dengan pilihan alternatif dan nekat, yaitu membuka portal dan menerjang lewat lautan Pasir menuju Jemplang.
Begitu berhasil melewati portal, kami memacu motor dengan kencang menuju lautan pasir. Terlihat Gunung Bromo mengepulkan asapnya dengan tebal dengan mengeluarkan pasir yang memedihkan mata. Kami langsung membetot motor dengan kencang. Kami tidak menjumpai satu orangpun di lautan pasir, hanya kami berempat yang nekat menembus lautan pasir di hari yang semakin gelap itu.

Perasaan kami langsung plong alias lega ketika kami berhasil mencapai Jemplang dengan selamat, meskipun dengan wajah dan motor yang sudah tidak karuan lagi bentuknya. Kami kemudian memacu motor dengan santai menuju air terjun Coban Pelangi. Di Coban Pelangi telah menunggu dua mobil pick up yang akan mengangkut motor trail kami kembali ke Kota Malang.

Begitu sampai di Coban Pelangi, sopir kami bilang bahwa tadi pagi itu di Bromo sedang hujan kerikil, Bahkan ada banyak mobil jip yang kacanya pecah terhantam oleh kerikil dan batu yang dimuntahkan Gunung Bromo. Kami bergigik, untung saja kami tidak terkena lontaran kerikil itu. Senin pagi di halam depan sebuah koran nasional tertulis judul “Meletus, Bromo Muntahkan Batu”. Kami bersyukur karena Tuhan masih melindungi tim CHEELA, sehingga kamipun masih bisa offroad lagi.