Minggu, 17 Oktober 2010

Catatan Off-road ke Coban Rondo





SUPER LICIN, BAN MELOW JADI LOYO

Minggu (17/10/10) tim CHEELA offroad ke Coban Rondo, Pujon, Kabupaten Malang. Jalur yang dimulai dari Jetis, Dau ke Coban Rondo kemudian nyambung ke arah Gunung Mujur itu 90% adalah medan off-road tanah. Hujan yang mengguyur Malang dalam seminggu terakhir ini membuat tanah yang dilalui menjadi super licin. Tanah padas, berlumut dan cerukan di beberapa titik membuat off-road kami selama 6 jam tersebut menjadi ‘hard off-road’, paling tidak buat 2 orang pemula yang ikut off-road tim CHEELA di hari minggu itu. Semoga saja mereka tidak kapok gabung sama tim CHEELA!

Medan off-road dari Jetis menuju Desa Selokerto bisa dilalui dengan mudah. Maklum jalur masih agak kering karena daerahnya terbuka sehingga sinar mentari bisa membuat jalur menjadi tidak terlalu licin. Tapi begitu masuk jalur off-road di Perinci, mulailah banyak yang bertumbangan mencium segarnya tanah pegunungan. AG dan Ml yang menaiki KLX 150 mulai harus memeras keringat untuk menaklukan medan yang penuh tanjakan dan bekelok-kelok itu.

Jalur off-road licin sebenarnya adalah ketika sudah mulai memasuki Gunung Pandeman hingga Coban Rondo. Jalur sigle track berupa padas licin selebar 1 meter itu memakan banyak korban. Semuanya terguling, kecuali RK yang bisa lolos meski harus berjuang lumayan keras dengan KTM 250-nya. Jalur ini menjadi neraka buat AD. ML dan WW yang memakai ban kurang berkualitas. Ban berlabel S*****w itu benar-benar mellow dan membuat orangnya jadi loyo.

Bagaimana tidak loyo, begitu motor digas, ban belakang langsung spin dan kadang motor jadi balik arah. Berkali-kali penunggang motor harus terjungkal. Tekanan angin ban coba dikurangi, namun tetap saja harus bersusah payah, meraung-raung, untuk bisa menaklukan lintasan licin yang menanjak itu. Sebaliknya EW dan TT yang juga sama-sama memakai KLX 150 dan TS 125, masih bisa melewati jalur itu meskipun juga tidak luput juga dari mencium tanah di tengah hutan pinus itu. Bedanya , AG, ML dan WW yang memakai ban melow itu harus berjuang ekstra keras dan lebih banyak terguling dibandingkan EW dan TT yang memakai ban berkualitas.

Pelajaran yang bisa kami petik dari off-road 6 jam di medan licin itu adalah wajib hukumnya untuk memakai ban off-road yang berkualitas. Memang harganya bisa 2 kali lipat dibandingkan ban biasa, namun ban berkualitas akan lebih menapak dan enjoy dalam melibas medan off-road yang licin. Model kembangan ban boleh sama, tapi kualitas bahannya jauh berbeda. Kalau anggaran cekak, mending nabung dulu untuk membeli ban berkualitas, daripada membeli ban murahan tetapi kemudian kecewa dan akhirnya terpaksa beli lagi ban yang berkualitas. Apalagi sekarang ada banyak pilihan ban berkualitas yang beredar di Indonesia, seperti Kenda, Pirelli, Dunlop, Bridgestone, metzeller, dll. Pilihan di tangan anda.

Minggu, 10 Oktober 2010

OFFROAD ARJUNA-BROMO, DARI LUMPUR HINGGA PASIR






Sabtu pagi (9/10/2010) jam 09.00 tim CHEELA meninggalkan sekretariatnya di Jetis untuk memulai petualangan di atas roda dua di hari yang tidak terlalu cerah itu. Hari itu kami memutuskan untuk offroad di jalur lereng Gunung Arjuna hingga ke Gunung Bromo. Seperti biasa, di jalanan dan perkampungan kami memacu motor dengan pelan untuk menghormati pengguna jalan lainnya. Rombongan tim CHEELA dengan santai melewati jalan kecil di tengah perkampungan, sekali-kali kami berdiri di atas motor untuk melemaskan otot kaki dan tangan.

Lima belas menit kemudian kami sampai di atas peternakan ayam Wonokoyo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Di depan kami sudah menghadang jalur offroad berupa tanah padas mengkilat akibat diguyur hujan sehari sebelumnya. Setelah semua tim datang, kami mulai memacu motor dengan kencang, meliuk-liuk di tanah basah yang berada di tengah ladang petani itu. RK dengan tunggangan KTM-nya memimpin di depan, disusul DW dengan KLX 150-nya. Tidak sampai 10 menit kami sudah sampai di jalanan berbatu, jalanan Perhutani yang biasa digunakan untuk mengangkut kayu.

Setelah melewati jalanan berbatu sepanjang 1 km, jalur offroad mulai menantang, yaitu tanah basah dengan beberapa titik berupa kubangan lumpur. Kami mulai melakukan aksi speed offroad. Di beberapa lokasi ada kubangan lumpur sedalam 60 cm. Badan dan motor kamipun mulai tidak terlihat warna aslinya, semuanya terlihat coklat kotor oleh lumpur. Malang buat DW, maksud hati ingin menghindari lumpur, namun dia malah terjungkal masuk lumpur. Kamipun tertawa terbahak-bahak melihat aksi DW berkubang dengan lumpur seperti kerbau.

Tak lama kemudian kami sampai di lereng Gunung Arjuna. Di jalur ini kami sempat ketemu dengan panitia kegiatan adventure trail yang diadakan oleh Pemkot Batu. Panitia itu sempat mengenali kami dan bercakap-cakap sebentar. Ternyata panitia itu hendak mengubah jalur offroad peserta, karena dipandang jalurnya terlalu ekstrim, apalagi jumlah peserta acara itu kabarnya mencapai 700 orang.

Puas istirahat sejanak, kami langsung melanjutkan perjalanan, jalur kali ini benar-benag menguras energy kami. Jalur berupa turunan tajam, tanah padas super licin dan penuh dengan cerukan dalam. Maklum ini sebenarnya adalah jalan air, bukan jalan manusia. Namun kami memutuskan untuk mencobanya. Di jalur ini MD yang perempuan itu terpaksa harus ganti joki, karena fisiknya tidak sanggup melewati jalur jalan air itu. DW dan RK dengan senang hati bergantian menjadi ‘pemeran pengganti’. CRF 150 tunggangan MD sebetulnya sangat enak untuk melibas jalur ini, hanya faktor fisik saja yang membuat MD menyerah.

Satu jam kemudia kami lolos meninggalkan jalur air itu. Jalur selenajutnya sangat enak untuk speed offroad karena berupa tanah agak lebar di tengah-tengah perkebunan tebu. Di jalur arah Desa Slumbung, Singosari, kami ketemu rombongan peserta event trail adventure Pemkot Batu. Kami melihat banyak motor yang mogok, bahkan ada yang ditarik dengan tali plastik. Karena dikejar waktu, kami memutuskan untuk tidak berhenti, tapi langsung tancap gas menuju arah Gunung Bromo!

Setelah 10 menit melewati jalan aspal, kami sampai di Pasar Singosari. Kami menyeberang jalan menuju arah Jabung. Jalan menuju jabung ini berupa tanah berbatu sepanjang 6 km. Jalannya lebar, penuh gelombang batu dan berada di tengah perkebunan tebu. Kami membetot gas motor dengan kencang dengan posisi tubuh berdiri untuk mengurangi guncangan. Meskipun di beberapa titik banyak kubangan air, kami tetap memacu motor dengan kencang, mumpung jalananya sepi sehingga mantap untuk speed offroad.

Tak lama kemudian kami sampai di Jabung. Tanpa istirahat, kami langsung mengambil jalur ke Bromo lewat Taji. Jalur ke Taji ini menanjak dan menyisiri pegunungan. Separuh dari jalur Taji ini adalah berupa batu yang licin akibat diguyur hujan selama berhari-hari. Sialnya di tengah jalan ternyata jalur menuju Taji ini ditutup karena ada hajatan, sehingga kami harus mengambil jalur alternatif. Jalur alternatif itu ternyata adalah jalur single track yang licin. Maklum di daerah ini hampir setiap hari turun hujan.

Tepat jam 12 kami berhasil melewati jalur single track itu. Kamipun memutuskan untuk makan siang di bawah pohon yang rindang. Hemm nikmat sekali makan bersama sahabat di tengah alam yang menyejukan hati. Sambil menyantap makanan, kami ngobrol ngalur ngidul, melepas kepenatan. Tak jarang kami tertawa lepas, terbahak-bahak, karena cerita-cerita lucu yang mengalir begitu saja diantara kami.

Istirahat satu jam ditasa cukup oleh kami. Perjalananpun dilanjutkan menuju Nongkojajar. Jam 13.30 kami sampai di satu-satunya pom bensin yang ada di Nongkojajar. Kami mengisi BBM, wah ternyata motor kami semuanya terbilang irit. KTM 250 punya RK hanya mengisi 3 liter, sementara CRF 150 punya MD hanya menambah 1,5 liter. KLX 150 punya WW dan DW juga sama iritnya dengan CRF 150. Padahal jalur yang kami tempuh lumayan jauh dan penuh tanjakan serta rintangan alam yang menyedot bahan bakar.

Jalur dari Nongkojajar menuju Bromo adalah berupa jalan aspal menanjak dan berkelok-kelok. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti sejenak di tepi sungai untuk mengambil foto. Waktu kami istirahat di tepi sungai ini kami sempat ketemu rombongan trail dari Malang.

Setelah puas menikmati gemercik air sungai di atas Nongkojajar itu, kami memutuskan menuju Bromo lewat jalur Ngawu, karena jalur Ngawu ini adalah full offroad. Di Ngawu kami memacu motor dengan kencang. Kabut mulai turun dan udara mulai dingin. Kami berhenti sejanak untuk memakai jaket dan memeriksa motor yang agak mbrebet karena terkena air.

Di jalur offroad Ngawu ini kami betul-betul bersenang-senang. Motor bisa dipacu dengan kencang. Tidak sampai 30 menit kemudian kami sudah sampai di Gunung Pananjakan. Di bawah kami terlihat samar-samar Gunung Batok dan Bromo. Gerimis dan kabut mulai menyelimuti Bromo. Kamipun bergegas turun ke arah lautan pasir.
Begitu sampai bibir lautan pasit, kami langsung tancap gas menuju Gunung Bromo. Kamipun balapan di medan pasir yang padat akibat hujan itu. Motor kami terlihat terbang ketika melewati beberapa gundukan pasir. Tepat jam 15.30 kami sampai depan Gunung Bromo. Setelah istirahat 5 menit, kami langsung tancap gas lagi menuju arah Jemplang. Jalur ke Jemplang kami lewati dengan mulus, relatif tanpa hambatan berarti meskipun hujan mulai turun dengan deras.

Dengan tubuh basah kuyup kami memacu motor dengan pelan meninggalkan Jemplang menuju Coban Pelangi. Tak lebih dari 20 menit kami sampai dengan selamat di Coban Pelangi. Tim pendukung kami sudah menanti kami di Coban Pelangi dengan mobil pick up. Hujan masih turun, kamipun langsung memutuskan untuk menaikan motor ke atas mobil pick up. Kami tersenyum puas karena dari pagi hingga petang kami bisa bersenang-senang menikmati medan offroad dari lereng Gunung Arjuna hingga Bromo.