Minggu, 25 Juli 2010

OFFROAD KE BLITAR





Tepat pukul 08.45 kami dengan tunggangan KTM 250, KLX 150, CRF 150 dan TS 125 meninggalkan sekretariat CHEELA di Jetis Malang untuk offroad ke Blitar di minggu (25/7/10) yang mendung itu. Tidak sampai 5 menit kami sudah masuk ke medan offroad di tengah kebun tebu dan perladangan. Kami memacu motor dengan kencang, mumpung energi masih full jadi bisa gas pol.

Tak lama kemudian kami memasuki jalur sedikit basah di atas Desa Kucur. Jalanan berupa tanah menanjak selebar antara 2 hingga 3 meter. WD yang pakai KLX 150 warna merah terlihat agak kesusahan menaklukan track ini, maklum dia jarang sekali ikut offroad.

Lepas dari jalur tanah yang agak licin itu kami sampai di jalar Perhutani yang berupa batu dengan semak lebat di kanan kiri. Jalannya datar namun berkelok-kelok. Sebetulnya jalannya lebar, hanya saja karena tertutup semak dan rumput di kanan kiri makan jalur jadi sempit, cukup untuk satu roda saja. Jika tidak hati-hati pijakan motor sering nyangkut di rumput, terutama untuk motor dengan roda ban 16 seperti KLX 150.
Lima menit kemudian jalur berupa tanah lagi namun menurun tajam. Di beberapa titik agak licin karena tertutup rimbunnya pohon. Di jalur turunan ini lagi-lagi WD harus terjungkal. Tak lama kemudian kami sampai di Desa Bedali dan kami memacu motor dengan kencang arah Kraton Gunung Kawi.

Jalur menuju Gunung Kawi berupa tanah menanjak dan di beberapa titik ada banyak gundukan tanah. Kami memacu motor dengan kencang. Motor kami meliuk-liuk mengikuti jalur yang memacu adrenalin itu. KTM 250 yang ditunggangi RK terlihat beberapa kali melakukan aksi jumping melewati gundukan tanah.

Sekitar jam 11 kami sampai di Kraton Gunung Kawi. Di Gunung Kawi kami disambut dengan kabut tipis yang turun menyelimuti hutan yang sejuk itu. Kami istirahat sejenak sambil memberi kesempatan kepada WW untuk menyantap rotinya, maklum katanya dia nggak sempat sarapan pagi karena bangun kesiangan setelah semalaman ngelembur pekerjaan.
Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan offroad menuju arah Blitar. Jalur kali ini berupa tanah kombinasi batu di tengah-tengah hutan pinus. Kami melakukan speed offroad di jalur ini. Tepat pukul 12.30 kami memutuskan untuk istirahat dan makan siang. Wah nikmat sekali makan di alam, di bawah rindangnya pohon cengkeh. Kamipun sempat terlena, hampir ketiduran setelah kekenyangan. Sebelum tertidur, kami memutuskan melanjutkan perjalanan.

Jalur berikutnya berupa tanah berbatu di tengah-tengah kebun kopi, the dan juga perldangan. Jalanan berupa batu ini lumayan menguras energy kami. Apalagi ada banyak sekali single track alias jalur sempit yang hanya cukup untuk satu roda saja. Di jalur sempit ini MD, satu-satunya perempuan dalam tim CHEELA, harus terpelanting dari Honda CRF-nya. Untungnya dia tidak mengalami cidera berarti, hanya lengannya saja yang sedikit bengkak.

Setelah itu kami melewati dua perkebunan teh dan kopi yaitu perkebunan Sengon dan Bantaran. Keduanya sudah memasuki wilayah Kabupaten Blitar. Di jalur yang lumayan lebar ini kami membetot gas dengan kencang, karena target kami adalah kami harus sampai di Coban Rondo sebelum gelap. Kami paling malas kalau offroad malam hari, karena tidak banyak kenikmatan speed offroad yang bisa kami nikmati di kegelapan malam.

Jam 15.15 kami sampai di Rambut Monte, sebuah telaga kecil yang dihuni ikan sebesar bayi manusia. Dari Rambut Monte kami memacu motor ke arah Ngantang. Jalur berupa tanah di tengah ladang dan perkampungan kecil. Setiap melewati perkampungan, kami memacu motor dengan lambat, untuk menghormati warga sekitar.

Tak berselang lama kami akhirnya sampai di Ngantang, Kabupaten Malang. Di etape ini jalurnya berupa jalan aspal sepanjang sekitar 5 km. Kami memacu motor dengan pelan menuju Pujon. Setelah mengisi BBM di Desa Ngepreh Pujon, kami melanjutkan offroad menuju Coban Rondo. Jam di tangan waktu itu menunjukan pukul 16.30.

Jalur menuju Coban Rondo berupa jalur single track di tengah hutan. Kebanyakan menanjak tajam, dengan di beberapa sisi adalah jurang menganga. Di jalur gunung ini kami memacu motor dengan kencang. Selain mengejar waktu, kami juga mau menebus kebosanan setelah lewat jalur aspal dari Ngantang ke Pujon.

Empat puluh menit kemudian kami finish di air terjun Coban Rondo. Tim pendukung sudah menunggu dengan mobil pick up. Kami tersenyum puas bisa offroad seharian di hari minggu itu. Setelah menaikan motor ke atas pick up, kami kembali ke Kota Malang dengan senyum kepuasan. Dan kamipun saling berucap, “sampai ketemu di medan offroad berikutnya!”

Minggu, 04 Juli 2010

TRAIL ADVENTURE KE MERUBETIRI DAN BALURAN





Jam di tangan menunjukan angka 8 di pagi hari ketika kami tiba di Glenmore Banyuwangi, Jawa Timur. Cuaca yang cerah memompa semangat kami untuk memulai petualangan dengan motor trail menembus hutan Taman Nasional Merubetiri yang dikenal sebagai tempat terakhir bagi harimau jawa itu. Setelah mengecek semua perlengkapan, kami berdua mulai memacu motor dengan santai, sambil beradaptasi dengan motor. Maklum sebelumnya semalaman kami kurang bisa tidur nyenyak di dalam mobil yang membawa kami dari Malang ke Banyuwangi.

Lima menit kemudian jalanan mulai banyak berlubang, khas jalanan di Indonesia yang begitu cepat rusaknya. Kami mulai memacu motor dengan agak kencang. Tak lama kemudian jalanan mulai berupa tanah selebar sekitar 12 meter. Kamipun memacu motor dengan kencang, yah disini kami bisa melakukan speed offroad sepuas hati. Meskipun tanah, jalanan tidak berdebu karena di jalan ini masih sering turun hujan. Ketika motor-motor pekerja kebun berjalan lambat di jalur tanah ini, kami justru membetot habis gas motor, wow mantap sekali!

Satu jam kemudian kami mulai masuk jalur di tengah-tengah hutan Alas Wangi. Hutannya masih sangat bagus dan lebat. Ada banyak burung liar yang kami jumpai di jalur hutan ini. Jalur berupa single track dan basah. Kami harus hati-hati, karena di sebelah kiri kami adalah jurang menganga sedalam 10 hingga 50 meter.

Di jalur hutan Alas Wangi itu ada banyak pohon tumbang. Ini sangat licin karena potongan ranting pohon yang tumbang itu bercampur dengan lumpur, akibatnya roda motor kami sering spin. Jurus saktipun terpaksa harus dikeluarkan, yaitu mendorong motor!

Lolos dari jalur hutan Alas wangi, kami mulai memasuki perkebunan coklat dan kelapa. Jalan berupa jalan aspal rusak kombinasi dengan tanah yang bergelombang. Kami mulai bisa memacu motor lebih kencang. Pemandangan di sepanjang perjalanan indah sekali, karena di bawah jalur offroad kami adalah sungai yang masih jernih airnya. Jam 10.30 kami sampai di Desa Sarongan. Kami mampir di warung untuk membeli nasi sebagai bekal makan siang kami nantinya. Maklum di tujuan akhir offroad kami hari itu tidak ada warung yang menjual nasi, jadi kami harus mempersiapkan perbekalan logistik di Desa Sarongan.

Setelah membeli perbekalan logistic dan mengisi bensin, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sukamade, Taman Nasional Merubetiri. Jalur kali ini betul-betul menyiksa kami karena jalur sepanjang 25 km adalah jalur berbatu dan berlumpur. Hujan yang terus mengguyur membuat di banyak titik terjadi kubangan-kubangan lumpur. Batu-batu sebesar kepala kambing itu benar-benar menghajar tubuh kami. Peluhpun bercucuran.

Di jalur berbatu itu kami sempat berpapasan dengan rombongan turis dari Belanda yang naik mobil jeep. Mereka sempat melambaikan tangan ke kami ketika mereka kami salip di sebuah jalan tanah di Sarongan. Ketika kami berjumpa lagi di pos penjaga hutan di Rajegwesi, para bule itu terkejut setelah tahu bahwa salah satu dari kami itu ternyata seorang perempuan! “Wow, it’s cool”, ujar mereka. Kami hanya tersenyum, namun dalam hati kami bilang biar mereka tahu bahwa perempuan Indonesia juga bisa berpetualangan dengan motor trail!

Jam 13.00 kami akhirnya sampai juga di Pantai Sukamade yang terkenal dengan penyu-nya itu. Tapi sebelum Pantai Sukamade itu motor kami harus dinaikan ‘getek’ atau perahu dari bambu karena jembatan roboh diterjang banjir bandang. Ini menjadi petualangan tersendiri bagi kami menyebrangi sungai selebar 20 meter dengan perahu getek.

Untungnya di Pantai Sukamade itu ada guest house yang masih kosong, sehingga malam itu kami bisa menginap di sana setelah membayar Rp 200 ribu. Sayangnya kamar dan lingkungan sekitarnya kotor dan tidak terawat. Sampah plastik banyak berserakan di sekitar penginapan. Pantas saja kalau bule-bule itu lebih suka menginap di wisma yang ada di dekat perkebunan di desa daripada di pantai yang kotor. Meskipun kami tidak nyaman dengan banyaknya sampah plastik di sekitar penginapan, kami terpaksa menginap di tempat ini, karena tidak ada pilihan lagi dan lagian hari sudah semakin sore.

Usai memasukan barang-barang kami ke kamar yang hanya ada bantal dan kasur saja, kami memutuskan untuk offroad lagi menuju Sumbersari. Pada tahun 1997 kami sempat offroad ke Sumbersari dan kami ingin mencoba mengulangnya lagi.

Motorpun kami gas dengan kencang, meliuk-liuk di tengah perkebunan, dan sekali-kali jumping di gundukan tanah yang secara alami terbentuk akibat tergerus air. Kami pun menyebrang sungai sebanyak 2 kali. Menjelang malam kami memutuskan kembali ke Pantai Sukamade, karena kalau gelap susah sekali melihat jalur yang penuh dengan lubang dan lumpur itu.

Keesokan harinya, tepat jam 07.20 kami meninggalkan Pantai Sukamade menuju Glenmore. Kami memilih jalur yang sama ketika waktu kami berangkat. Karena seharian kemarin kami sudah beradaptasi dengan motor, hari kedua ini kami bisa memacu motor dengan lebih kencang. Empat jam kemudian kami sudah sampai di Glenmore dan kami memutuskan mencari tempat cucian motor. Maklum motor jadi penuh lumpur setelah 2 hari offroad di Merubetiri.

Jam 13.00 tim pendukung kami yang membawa mobil pick up datang menjemput kami. Kedua motor kami sudah kinclong lagi setelah dicuci itu kami naikan ke atas pick up menuju Hotel Margoutomo di Kalibaru. Hotel Margoutomo adalah hutan yang asri dan kental sekali nuansa alamnya. Di hotel ini tidak ada TV dan AC, semuanya dirancang untuk back to nature. Justru inilah yang membuat kami kerasan dan menjadi pilihan kami ketika melakukan petualangan di Banyuwangi. Harga kamar di Margoutomo ini yang paling murah adalah Rp 325 ribu.

Setelah semalam menginap di Margoutomo, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Baluran yang dulu dikenal sebagai tempatnya banteng dan kerbau liar. Karena jalur yang kita tempuh adalah jalur aspal, maka kami dan motor trail sama-sama nail mobil pick up. Sesampainya di Baluran kami memutuskan menginap di Pantai Bama. Di pantai yang bagus namun sayangnya tidak dikelola dengan baik itu kami trekking ke dalam hutan savanna untuk melihat kehidupan liar binatang yang ada di Baluran. Dulunya di Baluran itu dengan mudah melihat banteng dan kerbau liar, namun sekarang susah sekali melihatnya. Populasi satwa langka itu menurun drastis akibat perburuan liar.

Keesokan harinya kami mulau offroad di savanna. Kebanyakan jalurnya datar, jadi kami bisa speed offroad. Meskipun datar, kami harus hati-hati karena ada banyak jalur yang berlubang. Dan yang harus ekstra hati-hati adalah, kadang-kadang ada rusa yang melintas memotong jalan!

Setelah puas offroad isavana Baluran, kami siangnya memutuskan kembali ke Malang namun lewat jalur Gunung Bromo. Dari Baluran ke Kota Lumajang, motor kami naikan mobil. Sekitar jam 17.00 kami ampai di Desa Senduro, desa terakhir sebelum menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari arah Lumajang. Cuaca sore itu mendung dan ini yang membuat kami kuatir, karena kalau hujan kami bisa kehujanan di etngah hutan yang rawan pohon tumbang.

Setelah motor diturunkan dari mobil, kami segera memacu motor dengan kencang. Target kami adalah sebelum malam kami harus keluar hutan Ireng-Ireng, karena hutan ini dikenal angker dan banyak perampok. Baru 5 menit kami memacu motor, hujan turun lumayan deras. Kami memutuskan untuk tidak berhenti, karena takut kemalaman di tengah hutan. Kamipun membentot gas dengan kuat-kuat, meliuk-lik di jalanan berkelok menanjak di tengah hutan. Yang membuat kami tidak keluasa memacu motor adalah turunya kabut tebal yang membuat jarak pandang hanya 2 meter saja! Wow serasa di negeri antah baratah.

Menjelang mahrig kami sampai di Desa Ranupani, di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kami lega dan bersyukur karena tidak kemalaman di hutan. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Malang lmenyusuri jalan yang berada di kaki gunung Semeru itu. Jalanan tidak terlihat dengan jelas karena hari sudah gelap dan kabut tebal menyelimuti kawasan Bromo. Kami memacu motor dengan pelan-pelan, lambat asal selamat. Sekitar jam 7 malam akhirnya kami sampai di desa. Kami lega dan puas setelah tuntas menyelesaikan petualangan 4 hari kami di bulan Juli itu tanpa halangan berarti.

SAMPAH (dan) TRAIL ADVENTURE


Kegiatan trail adventure atau disebut juga offroad trail, enduro, “nrabas” atau “ndakar’ lagi booming dimana-mana. Orang ramai-ramai masuk hutan dengan membawa motor trail, baik itu motor trail bikinan sendiri alias modifikasi atau motor trail asli keluaran pabrik. Tidak sedikit juga yang memakai motor trail build up yang memang dirancang khusus untuk kegiatan offroad berat. Kehadiran KLX 150 juga turut meramaikan gairah motor trail di tanah air.

Animo yang tinggi di masyarakat penggemar trail untuk melakukan kegiatan petualangan ke hutan atau alam, patut diapresiasi positif. Ini adalah olahraga alam, yang bukan hanya dituntut fisik yang prima namun sedikit banyak juga akan mengenalkan orang akan kekayaan alam, sehingga idealnya sih akan turut mendorong orang untuk mencintai alam. Ya alam dan motor trail adalah dua hal yang tidak dipisahkan. Meskipun andaikata ada banyak dibangun sirkuit buatan untuk motor trail, tetap saja alam akan memberikan kenikmatan dan sensasi berbeda bagi penggila motor trail dibandingkan jika main di sirkuit.

Namun apa jadinya alam jika para penggiat trail adventure justru menodai dan melukai alam yang menjadi wadah kita untuk bermain? Noda dan luka itu paling tidak adalah dari dampak sampah plastik yang semakin banyak berserakan di hutan atau alam yang dilalui motor trail. Memang penggemar motor trail bukan satu-satunya “terdakwa” dalam penodaan alam itu, karena juga ada pendaki, pengunjung atau wisatawan lain. Namun kehadiran para offroader turut meyumbang semakin banyak aksi penodaan alam itu, jika para offroader-nya cuek aja dengan soal kelestarian alam.

Padahal data yang ada begitu membuat miris jika kita bicara soal sampah. Misalnya sampah plastik itu untuk terurai secara alami membutuhkan waktu sampai 100 tahun, sedangkan gabus putung rokok membutuhkan waktu 10 tahun untuk hancur. Wah lama sekali waktunya, dan lama kelamaan hutan atau alam akan jadi tempat pembuangan sampah. Info lebih lanjut tentang sampah ini bisa dilihat di situs P-WEC di: http://www.p-wec.com/content/id/go_green/hindari_budaya_nyampah.html

Akan sangat bijaksana jika para offroader atau penggemar motor trail tidak membuang sampah plastic atau putung rokok di hutan atau alam. Salah satu caranya adalah dengan selalu membawa kantong untuk menyimpan sampah. Beberapa club motor trail sudah menerapkan aturan yang ramah lingkungan ini. Andaikata semua trail mania mau peduli lingkungan dengan tidak membuang sampah di alam, wow akan luar biasa sekali dampaknya bagi kelestarian alam dan petualangan kita dalam menikmati alam! Hobby petualangan di alam tetap berjalan, alampun tetap lestari. Saatnya kita berhenti menodai alam kita. Let’s go green!