Minggu, 19 Desember 2010

Catatan Offroad tim Cheela di Tengah Letusan Gunung Bromo 19 Desember 2010





OFFROAD KE GUNUNG JANTUR DAN BROMO DITENGAH-TENGAH HUJAN KERIKIL

Jam di tangan menunjukan pukul 10.00 wib ketika tim CHEELA memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tim yang berjumlah 4 orang itu memacu motor dengan santai sambil melemaskan otot-otot sebelum memasuki medan offroad sebenarnya. Cuaca hari itu mendung dan agak dingin. Cuaca ini yang nantinya akan membantu kami tidakdehidrasi karena dihajar oleh medan offroad single track yang disertasi hujan abu dan kerikil.

Tak lama kemudian, di hadapan kami sudah menghadang jalur single track yang hanya cukup dengan satu roda dengan posisi menanjak. Tim CHEELA yang selalu offroad dalam jumlah orang kecil itu langsung membetot gas motor. RK dengan senjata andalannya, “the orange” memimpin di depan diikuti oleh BN, AD dan WW yang semuanya mengendari “the green” KLX 150. BN menunggang KLX 150 versi big wheel dan sudah racing full option.

Jalur yang kami lalui berupa single track yang kanan kiri penuh duri arbey hutan. Di beberapa titik ada banyak pohon yang rebah dan tumbang. Ini membuat kami tidak bisa memacu motor dengan kencang. Jalur ini banyak memakan korban. Hidung RK berdarah tersayat duri, kepala BN terbentur dahan yang melintang dan pelindung lutut WW sobek tersangkut ranting-ranting tajam yang menyelimuti jalur ini.

KLX 150 yang pakai ban ukuran 16/21 harus bekerja extra keras untuk menaklukan jalur ini. Karena jalur agak licin karena baru diguyur hujan, meliu-liuk, tetapi sempit. Sementara RK dan BN yang memakai ban ukuran 18/21 relatif mudah melahap jalur ini. RK malah dengan asyiknya menggeber motornya sampai roda depan terangkat berulang kali.

Ketika jam menunjukan pukul 11.45 wib, tim sampai di Gunung Jantur yang masih masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tenger Semeru. Kedatngan kami di Gunung jantir disambut kabut tebal. Sama sekali tidak terlihat pemandangan yang biasanya luar biasa cantik, yang ada adalah warna putih dan suhu yang dingin. Kami memutuskan untuk istirahat, apalagi AD sudah menggigil karena kelaparan dan terkuras tenaganya menaklukan medan offroad yang berada di bibir jurang itu. AD bilang, “wah saya sampai gemetar waktu lewat jalur sempit di tepi jurang, untungnya kabut tebal jadi nggak bisa lihat kedalaman jurang, hiiiii ngeri”. Padahal kalau AD lihat jurangnya akan lebih ngeri lagi karena kedalaman jurang itu lebih dari 100 meter!

Sambil istirahat kami membuka bekal makan siang. Kami semuanya membawa makanan yang dimasukan dalam kotak nasi. Ini kebiasaan tim CHEELA, karena untuk meminimalkan penggunaan plastik atau kertas bungkus makanan yang akan juga meminimalkan sampah. Hemmm nikmat sekali makan di puncak gunung, sayangnya kabut tebal sedang turun, jadi kami tidak bisa menikmati pemandangan taman edelwis yang ada di sekitar kami. Yang ada justru tikus-tikus hutan yang sepertinya tertarik dengan bau ikan ‘Pe’ yang dibawa BN.

Puas makan siang dan istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur menurun dan masih single track. Di jalur ini BN berulang kali jatuh karena kecantol semak-semak dan rumput tebal yang berada di kanan kiri jalur. WW nyeletuk, “wah BN itu belum adaptasi dengan sepatu tech 10 barunya tuh, makanya sering jatuh he he he”.
Tak sampai satu jam perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang mengerikan. Terlihat ada banyak pohon tumbang yang berwarna kehitaman dan tertutup abu tebal. Tidak ada kehidupan di tempat ini. Kami memacu motor lebih kencang agar segera meninggalkan jalur yang pemandangannya membuat hati kami merasa tidak nyaman.

Tiba-tiba kami melihat ada 2 orang warga desa yang sepertinya mencari kayu yang sudah mati itu. Kami bertanya, “kenapa mas kog ini pohon mati semua dan abunya tebal sekali?” Dengan wajah keheranan, dua warga desa itu menjawab, “lho apa bapak tidak tahu kalau Gunung Bromo baru saja meletus dan mengeluarkan abu dan kerikil?”

Wah gawat, ternyata pada hari itu kami sedang offroad ketika Gunung Bromo sedang meletus, bahkan sampai memuntahkan kerikil, batu dan abu tebal. Pantas sepanjang jalur yang kami lalui itu banyak pohon tumbang dan tertutup abu yang tebal. Perasaan kami menjadi tidak enak, apalagi suara gemuruh Gunung Bromo sekali-kali terdengar dengan jelas.

Meskipun di sepanjang jalur kami disuguhi pemandangan mengerikan karena semuanya terlihat hitam, kami sempat terhibur karena sempat melihat “keindahan” Bromo ketika mengeluarkan asap tebal berwarna merah. Kami sempat foto-foto dimomen yang mungkin tidak pernah terulang lagi ini. Puas foto-foto kami bergegas meninggalkan lokasi, takut tiba-tiba Bromo memuntahkan kerikil lagi.

Pukul 13.45 kami tiba di Pos Puncak atau kadang-kadang disebut juga dengan Pos Kutukan. Setelah istirahat sejenak untuk membersihkan goggle yang tertutup abu, kami langsung melanjutkan perjalanan. Baru semenit meninggalkan Pos Puncak, kami sudah dihadang dengan pohon besar yang tumbang. Terpaksa motor dituntun satu per satu dan diangkat ramai-ramai. Disinilah kekompakan dan kerja sama tim diuji.

Sukses melewati pohon tumbang, jalur di hadapan kami jauh lebih mengerikan lagi, karena semuanya terlihat hitam dan gosong. Sepanjang mata memandang terlihat pepohonan tumbang dan mati semuanya. Jalur yang kami lewati juga semakin sempit dan susah karena harus melewati ranting, dahan dan pohon yang melintang di tengah-tengah jalur. Tanah yang kami lalui dengan tertutup abu tebal. Motor dan orangpun semuanya jadi terlihat seragam, warna hitam semuanya. Jalur ini benar-benar menguras energi kami.

Setelah dua jam berkutat dengan jalur “pohon hitam” kami dengan perasaan lega memasuki Desa Ledok Ombo. Jam di tangan waktu itu menunjukan pukul 15.30 wib. Kedatangan kami disambut dengan warga desa yang keheranan ketika mereka tahu bahwa kami baru saja lewat Gunung Jantur, padahal Bromo sedang meningkat aktifitasnya.

Karena sudah sore dan lampu KTM punya RK bohlamnya putus, akhirnya kami memutuskan jalur on the road menuju Cemorolawang. Ternyata jalurnya tidak benar-benar “on the road” tetapi masih berbau kental “offroad”. Jalan yang kami lalui semuanya tertutup abu bercampur tanah. Jalanan kelihatan warna cokelat semuanya. Di sepanjang jalan kami juga melihat semua mobil warnanya jadi hitam karena tertutup abu tebal. Apalagi hujan turun dengan rintik-rintik sehingga semakin membuat jalan “on the road” itu menjadi jalur “offroad”.

Di jalan menuju Cemorolawang itu kami memacu motor dengan kencang karena jalanan sepi dan mengejar waktu jangan sampai kemalaman ketika memasuki lautan pasir Bromo. Mata kami sampai perih menahan percikan pasir yang disemburkan oleh Bromo, karea goggle kami sudah tidak bisa dipakai lagi karena kotor tertutup abu.

Sekitar jam 17.00 wib kami sampai di Cemorolawang, persis di depan Hotel Bromo Permai. Celaka, ternyata kawasan lautan pasir ditutup dan jalan menuju kesana ditutup dengan portal besi. Wah gawat, karena pilhannya hanya dua yaitu kami menginap di Cemorolawang atau kembali ke Malang lewat jalur aspal Probolinggo yang akan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Akhirnya kami memutuskan dengan pilihan alternatif dan nekat, yaitu membuka portal dan menerjang lewat lautan Pasir menuju Jemplang.
Begitu berhasil melewati portal, kami memacu motor dengan kencang menuju lautan pasir. Terlihat Gunung Bromo mengepulkan asapnya dengan tebal dengan mengeluarkan pasir yang memedihkan mata. Kami langsung membetot motor dengan kencang. Kami tidak menjumpai satu orangpun di lautan pasir, hanya kami berempat yang nekat menembus lautan pasir di hari yang semakin gelap itu.

Perasaan kami langsung plong alias lega ketika kami berhasil mencapai Jemplang dengan selamat, meskipun dengan wajah dan motor yang sudah tidak karuan lagi bentuknya. Kami kemudian memacu motor dengan santai menuju air terjun Coban Pelangi. Di Coban Pelangi telah menunggu dua mobil pick up yang akan mengangkut motor trail kami kembali ke Kota Malang.

Begitu sampai di Coban Pelangi, sopir kami bilang bahwa tadi pagi itu di Bromo sedang hujan kerikil, Bahkan ada banyak mobil jip yang kacanya pecah terhantam oleh kerikil dan batu yang dimuntahkan Gunung Bromo. Kami bergigik, untung saja kami tidak terkena lontaran kerikil itu. Senin pagi di halam depan sebuah koran nasional tertulis judul “Meletus, Bromo Muntahkan Batu”. Kami bersyukur karena Tuhan masih melindungi tim CHEELA, sehingga kamipun masih bisa offroad lagi.

Senin, 29 November 2010

MEMILIH MOTOR TRAIL YANG PAS




Penggemar motor trail di Indonesia sekarang “dimanjakan” oleh produsen dengan banyaknya pilihan motor trail yang ditawarkan. Mulai dari produk “lokal” hingga motor build up yang harganya selangit. Dibandingkan tahun 90-an, tentunya kini jauh lebih mudah bagi konsumen untuk memilih motor trail idaman. Untuk saat ini motor trail apapun tersedia di pasaran, tergantung seberapa tebal isi dompet konsumen.

Uupps apa betul isi dompet menjadi pertimbangan utama dalam membeli motor trail? Bisa ya, bisa juga tidak. Karena membeli motor trail itu bukan sekedar pertimbangan isi dompet saja, namun pertimbangan apakah motor tersebut benar-benar “pas” dengan anda. Tulisan ini semoga bisa membantu anda yang ingin membeli motor trail. Yang jelas penulis bukanlah tim pemasaran produk tertentu, ini murni sebagai suara konsumen yang kebetulan telah mencicipi berbagai jenis motor trail mulai kelas lokal, mocin, motor rilisan Amrik hingga motor Eropa.

Setidaknya ada 5 pertimbangan dalam membeli motor trail:
1. Isi dompet alias budget yang tersedia
2. Peruntukan motor trail tersebut
3. Skill
4. Ketahanan dan kenyamanan motor (kualitas)
5. Perawatan dan spare parts motor

1. Isi dompet alias budget

Ketersediaan dana tentunya menjadi faktor pembatas dalam memilih motor trail yang akan dibeli. Bagi yang dompetnya tebal sih memang ada begitu banyak pilihan motor. Tapi bagi yang anggaran pas-pasan, tentunya ilihannya jadi lebih terbatas. Kalau anda belum terlalu “kebelet” (mendesak) untuk membeli motor trail idaman, maka anda bisa menunda membeli motor trail idaman tersebut sambil menabung sampai uangnya cukup untuk membeli motor itu, sehingga ketika anda membelinya anda akan puas karena sesuai dengan keinginan.

Daripada membeli motor “murah” namun kualitas apa adanya, maka bisa jadi anda akan kecewa ketika mencoba motor tersebut di medan offroad. Motor memang tampang trail, tetapi koq performanya tidak jauh beda dengan motor kebanyakan (baca: motor bukan trail). Apalagi ketika anda menjual motor trail yang mengecewakan anda tersebut pasti harganya akan terjun bebas.

Terlepas dari peruntukan motor trail yang akan anda pakai, untuk kantong anda yang budgetnya dibawah Rp 25 juta, maka pilihan motor trail yang tersedia di pasaran Indonesia antara lain KLX 150S, Suzuki TS 125 dan Hyosung/monstrac.

Kalau budget anda dibawah Rp 60 juta, maka pilihannya adalah KLX 250S, Honda CRF 150F, CRF 230F (second), KTM 200 (second), Yamaha WRF 250 (second), kawasaki KXF 250 (second), dll. Pilihan akan lebih banyak jika budget anda di atas Rp 60 juta, antara lain KTM 250 EXCF, CRF 250X, Husaberg, Husqvarna TE 250, KTM 200, CRF 230F, WRF 250 dan masih banyak lagi lainnya.

2. Peruntukan motor trail

Sebelum memutuskan untuk membeli, anda harus tahu motor trail tersebut akan lebih banyak digunakan untuk apa? Maksudnya apakah sekedar untuk touring yang artinya lebih banyak jalan aspal, adventure (aspal dan tanah), kompetisi atau offroad di medan extrim (tight offroad). Karena setiap motor oleh pabrikan telah dirancang untuk tujuan tertentu, meskipun juga ada motor yang multi purpose alias bisa digunakan di segala medan.

Kalau kebanyakan motor trail anda akan digunakan untuk touring atau light adventure yang tidak terlalu sering dipakai di medan offroad yang ekstrim, maka membeli motor dengan bobot yang “berat’ masih dimungkinkan. Bobot motor trail yang relatif berat itu misalnya KLX 250 dan Hyosung/monstrac 200. Motor yang berat bobotnya akan mengganggu manufer anda jika dipakai di medan offroad single track, tight wood, atau penuh tikungan tajam.

Kalau anda gemar offroad di medan single track atau offroad extrim, maka pilihan terbaik adalah motor dengan bobot yang ringan. Motor kategori ringan ini misalnya TS 125, KTM 200, CRF 150F, dll. Motor bobot berat juga bisa saja dipakai di medan offroad yang exrim, namun tenaga anda akan lebih banyak terkuras, aplagi kalau jatuh, hemmm pasti akan susah payah untuk mendirikan motornya!

Bagi anda yang suka speed offroad, akselerasi atau power motor yang dahsyat, maka bisa memilih motor-motor spek kompetisi atau murni enduro. Sayangnya untuk saat ini motor-motor kategori ini kebanyakan masih build up, sehingga harganya masih mencekik bagi kebanyakan konsumen. Motor kategori spek mumpuni ini antara lain KTM 200, KTM 250 EXCF, KTM 450 EXCF, husaberg FE 450, Husqvarna TE 250, CRF 250R/X, WRF 250, KXF 250, RMZ 250, YZF 250, dll. Motor tersebut dijamin dahsyat, tinggal apakah rider mampu mengendalikan motor tersebut (lihat penjelasan tentang skill di bagian bawah dari tulisan ini) atau tidak.

3. Skill

Membeli motor trail itu hendaknya bukan karena gengsi semata. Untuk apa membeli motor bagus yang harganya ratusan juta namun justru kita tidak bisa memakainya secara optimal karena skill mengendarai kita terbatas? Untuk pemula atau yang baru gandrung dengan trail, belilah motor yang tenaganya tidak terlalu menyentak, beli yang karakternya smooth saja. Selain skill mengenadrai, yang harus juga dipertimbangkan adalah berat dan tinggi badan. Di medan offroad postur badan pengendara ini menjadi sangat penting. Jika badan tidak terlalu tinggi, maka memakai motor jangkung (yang kebanyakan build up) itu akan menjadi siksaan tersendiri di medan offroad yang ketat/ekstrim.

Namun kabar gembiranya, jika tubuh anda pendek namun ngotot ingin beli motor spek offroad yang dahsyat macam KTM atau Husaberg, maka kini sudah ada produk yang bisa nurunin ketinggian motor. Jadi kakii bisa menapak tanah dengan baik yang akan membantu anda lolos dari rintangan di medan offroad.

Jika persoalan ketinggian badan sudah terpecahkan, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana riding skill anda? Bagaimana kemampuan anda mengendarai motor trail di medan offroad? Kalau kemampuan anda masih pas-pasan saja, maka lebih baik jangan membeli motor trail spek kompetisi/enduro murni. Kecuali anda memakainya hanya untuk “gaya-gayaan” saja, tidak dipakai di medan offroad yang extrim.

Pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa motor trail dengan cc besar berarti semakin mantap di medan offroad, patut ditinjau ulang. Memang betul motor dengan cc besar seperti 450 cc itu pasti punya power yang lebih dahsyat dibanding yang 250 cc. Namun pertanyaannya adalah, sejauh mana anda mampu membawa motor tersebut? Dalam diskusi di forum KTM Talk, disebutkan bahwa di Amrik itu tidak banyak orang yang bisa membawa motor 450cc dengan optimal. Power motor sering berlebih, sementara skill pengendaranya masih “tidak berlebih” alias pas-pasan. Akibatnya yang terjadi bukan kita yang mengendari motor, namun motor yang mengendarai kita.

Namun bagi anda yang merasa punya skill mumpuni, motor 450cc adalah motor yang menyenangkan dan luar biasa. Alternatif untuk mengimbangi motor sahabat anda yang pakai 450cc adalah motor 2T yang 200 atau 250cc. Motor enduro 2T seperti KTM 200/250, Husaberg TE 250 atau Husqvarna WR 250 itu relatif bisa mengimbangin motor 450cc 4T. Kelebihan motor 2T disbanding 4T adalah bobotnya yang lebih ringan.

Jika skill mengendari motor trail (di medan offroad, bukan di jalanan raya) masih terbatas, lebih baik pakai motor-motor yang spek bukan kompetisi/offroad. Alernatif motor yang bisa dipilih antara lain KLX 150, KLX 250, TS 125, Monstrac 200, dll.

4. Ketahanan dan Kenyamanan Motor (kualitas)

Jika motor trail anda lebih banyak digunakan untuk offroad, bukan sekedar untuk mejeng di jalanan raya, maka faktor ketahanan dan kenyamanan motor harus dipertimbangkan di urutan atas. Ada banyak motor di jalanan yang tampangnya seperti motor trail, namun begitu dipakai di medan offroad terlihat “mellow”, belum lagi kerusakan sering terjadi. Jangan sampai kita offroad di hutan, namun kita hanya report memperbaiki kerusakan motor yang sebetulnya memang tidak layak untuk offroad. Ada guyonan, ” buka bengkel kog di tengah hutan”.

Pilihlah motor-motor yang keluaran pabrikan ternama semacam Honda, Kawasaki, KTM, Husqvarna, Husaberg, Yamaha dan Suzuki. Paling tidak motor pabrikan ternama ini menjadi “garansi” bahwa produk yang dikeluarkan adalah produk yang berkualitas. Namun bukan berarti haram memakai motor trail keluaran pabrikan tidak ternama. Bila budget anda terbatas, bisa saja anda membeli motor tersebut, namun perlu diperhatikan lebih ekstra tentang beberapa komponen yang mungkin perlu diupgrade untuk dipakai di medan offroad.

Jika tinggi anda tidak sampai 165 cm, lebih baik anda tidak memakai motor jangkung spek kompetisi atau enduro 250cc atau lebih. Karena postur tubuh yang tidak terlalu tinggi akan membuat anda kesulitan melintasi medan offroad yang extrim apalagi dalam kondisi jalur yang basah. Lebih baik anda memakai motor yang relative tidak terlalu tinggi seperti KLX 150, CRF 150F dan TS 125.

Sebaliknya jika tinggi anda lebih dari 170 cm, lebih baik anda tidak memaki motor pendek (ban 16/19) seperti KLX 150. Karena posisi mengendarai jadi lebih cepat capek, karena kaki terlalu menekuk tajam. Apalagi jika bobot tubuh anda menca[ai lebih dari 80 kg, akan terlihat lucu jika naik motor kecil. Yah jadi kelihatan seperti beruang sirkus naik sepeda angin…...

Untuk yang mempunyai tinggi tubuh 170 cm keatas boleh bernafas lega, karena bisa lebih punya “kesempatan” untuk memakai motor-motor spek kompetisi 250 cc ke atas. Maklum motor seperti ini rata-rata memang terbilang jangkung untuk ukuran orang Indonesia.

Memakai motor tipe cross atau di Indonesia sering disebut motor SE untuk offroad juga masih dimungkinkan dengan catatan skill anda mumpuni untuk mengendalikan kuda terbang itu. Kelemahan motor SE ini adalah suspensi lebih keras dibandingkan motor enduro dan biasanya untuk motor SE (terutama sebelum tahun 2008) itu susah untuk menghidupkannya pakai kick starter. Beruntung sekarang ada motor SE seperti KTM 350 SXF yang sudah dilengkapi dengan electric starter. Jadi tinggal pencet tombol, motor sudah greng dan siap diajak ‘terbang’.

Motor tipe SE juga tidak dilengkapi dengan lampu, sehingga tidak bisa dipakai di malam hari. Namun sekarang juga ada produk-produk yang bisa membuat motor SE dilengkapi dengan lampu yang terang benderang.

Motor tral keluaran pabrikan ternama biasanya punya kualitas yang bagus. Memang harga lebih mahal, namun dibandingkan dengan daya tahan dan kenyamanan yang ditawarkan, maka harga mahal itu menjadi relatif tidak terlalu berarti.

5. Perawatan dan spare parts motor

Jika anda adalah orang yang tidak terlalu mengerti tentang mesin motor trail, maka ada baiknya memilih motor yang rendah perawatan. Beberapa motor yang perawatannya relatif murah dan mudah itu misalnya TS 125 dan KLX 150. Motor build up yang juga perawatannya murah adalah CRF 150F, CRF 230F dan Yamaha TTR 230. Perawatannya hanya cukup dengan membersihkan filter udara dan rutin mengganti oli mesin.

Motor spek kompetisi, SE atau enduro build up tentunya perawatannya juga lebih mahal. Apalagi untuk motor 4T yang harus selalu rutin mengecek kerenggangan klep. Belum lagi pergantian oli mesin harus rutin dan lebih sering. Seringkali oli mesin yang dipakaipun menuntut oli dengan spek tinggi yang harganya di atas Rp 100.000 per liternya. Itupun membeli olinya juga tidak terlalu mudah.

Motor enduro yang 2T perawatanya jauh lebih murah dan mudah, dibandingkan dengan yang tipe 4T. Cukup dengan rutin membersihkan filter udara dan mengecek busi. Kelemahannya adalah motor 2T bensinnya harus dicampur dengan oli. Hal ini yang sering bikin pengendara jadi ogah mamakai motor 2T. Padahal untuk anda yang malas pergi ke bengkel untuk servis rutin, maka trail 2T adalah pilihan jitu. Apalagi untuk motor trail 2T generasi terbaru semacam Husaberg TE 250 dan KTM 200 itu sudah dirancang untuk irit penggunaan oli samping. Konsumsi BBM-nya pun terbilang irit. Satu lagi kelebihan motor trail 2T adalah bobot motornya lebih ringan.

Di jaman serba internet dan FB, sepertinya soal spare parts motor tidak menjadi halangan berarti untuk saat ini. Semuanya bisa dibeli atau paling tidak bisa diorder. Spare parts motor Eropa seperti KTM, Husaberg dan Husqvarna, kebanyakan harganya lebih mahal dibandingkan motor Jepang. Enaknya motor Jepang adalah beberapa spare part itu bisa memakai spare parts motor harian yang sudah beredar di jalanan Indonesia. Misalnya beberapa komponen Honda CRF 230F atau CR 85 itu sama dengan motor tiger atau supra X, sehingga harganya menajdi lebih murah.

Membeli motor yang di Indonesia sudah ada dealer-nya memang akan lebih aman dan lebih murah harganya. Beberapa dealer motor trail yang sudah ada di Indonesia adalah untuk motor KTM (husaberg?), husqvarna dan kawasaki. Untuk motor lainnya masih dimasukan oleh importer umum yang biasanya harganya lebih tinggi dibanding ATPM atau distributor resmi khusus satu merk.

Selanjutnya terserah anda, motor trail apa yang akan anda beli. Konsumen dalah raja. Jangan tergoda oleh iklan dan gengsi semata, pertimbangKan dengan matang sebelum anda memutuskan untuk membeli motor trail idaman. Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari. Selamat mengendarai motor trail idaman anda!

(sumber: IDB).

Senin, 08 November 2010

PERANCIS MENDOMINASI KEJUARAAN ISDE 2010 MEXICO





Kejuaran enduro kelas dunia bertajuk the 2010 FIM International Six Days Enduro (ISDE) sampai hari terakhir didominasi oleh pembalap dari Perancis. Hebatnya lagi tim Perancis di event ISDE yang diadakan di Mexico ini menyabet juara di sektor pria dan juga wanita. Posisi kedua ditempati oleh tim dari Negara Italy, sedangkan posisi ketiga diraih tim Finlandia. Di ajang ISDE sebelumnya yaitu tahun 2006 yang diadakan di Selandia Baru, juara pertama direbut oleh tim Finlandia.

ISDE untuk pertama kalinya diadakan di Inggris pada tahun 1913. Event enduro ini memang tergolong event tertua yang masuk kalender FIM. ISDE 2010 diikuti lebh dari 350 pembalap yang berasal dari 30 negara. Event ini memang sangat kental nuansa persaingan antar Negara, karena peserta membawa bendera Negara, bukan bendera motor atau pabrikan.

Sampai hari kelima ISDE 2010 yang dianggap sebagai hasil final karena hari ke-6 dibatalkan, susunan pemenangnya adalah sebagai berikut:
Juara I, tim Perancis, yang terdiri dari:
- Johnny Aubert (KTM) E2
- Nicolas Deparrois (Kawasaki) E2
- Sebastian Guillaume (Husqvarna) E3
- Antoine Meo (Husqvarna) E1
- Rodrig Thain (TM) E2
- Chistope Nambotin (Gas Gas) E3
Juara 2 tim Italia yang terdiri dari:
- Alex Salvini (Husqvarna) E1
- Alessandro Belometti (KTM) E3
- Thomas Oldrati (KTM) E2
- Manuel Monni (Yamaha) E2
- Simone Albergone (KTM) E3
- Alessandro Botturi (Husaberg) E3
Juara 3 tim Finlandia yang terdiri dari:
- Eero Remes (KTM) E1
- Jari Mattila (Honda) E1
- Juha Salminen (Husqvarna) E2
- Marko T (Husqvarna) E2
- Oskari kantonen (KTM) E2
- Valteri Salonen (Husaberg) E3

Untuk sektor wanita juara 1 juga diraih oleh tim Perancis yang terdiri dari Blandine Dufrene (Gas Gas), Audrey Rossat (Gas Gas) dan Ludvine Pully (Gas Gas). Sedangkan juara 2 diraih oleh tim USA yang terdiri dari Keerie Swartz (KTM), Nicole Bradford (KTM) dan Amanda Mastin (Yamaha). Tim wanita Swedia memboyong juara 3 dengan tim yang terdiri dari Camilla Mitkiewicz (KTM), Vanja Kollman (KTM) dan Jessika Jonsson (KTM).

Kalau dilihat sebagai individu (bukan tim Negara) maka untuk hasil final hari ke-5 ISDE 2010 adalah sebagai berikut (urutan pertama hingga 3):

Kelas E1 (250 cc): Antoine Meo (Husqvarna), Eero remes (KTM) dan Alex Salvini (Husqvarna)

Kelas E2 (450 cc); Johnny Aubert (KTM), Juha Salminen (Husqvarna), dan Thomas Oldrati (KTM)

Kelas E3 (500 cc): Sebastian G (Husqvarna), Oreaol Mena (Husaberg) dan Chistope Nambotin (Gas Gas)

Motor mana yang banyak dipakai para juara ISDE 2010?

Meskipun ISDE lebih banyak membawa nama Negara, bukan nama pabrikan motor, namun tetap menarik untuk disimak motor mana yang paling banyak dipakai para jawara enduro kelas dunia itu. Tapi yang perlu juga diingat adalah faktor joki alias pembalap memegang vital dalam meraih podium tertinggi, selain perfoma motor tentunya.

Kalau dilihat dari juara kategori utama (world trophy) untuk kelas pria dan wanita, maka urutan motor yang dipakai para juara tersebut adalah sebagai berikut: KTM (11 joki), Husqvarna (5 joki), Gas Gas (4 joki), Husaberg (2 joki), Yamaha (2 joki) dan masing-masing 1 joki untuk Kawasaki, Honda dan TM.

Hal yang menarik adalah di kelas wanita yang untuk tim Perancis semuanya memakai merk Gas Gas. Motor ini terbilang langka untuk Indonesia, yang ada sih merk Gas Gaz yang buatan China. Sedangkan Gas Gas adalah pabrikan asal Spanyol. Kalau tim wanita Perancis memilih Gas Gas sebagai pacuannya, tim wanita Swedia semuanya memilih memakai KTM.

(sumber: http://www.isde2010.com)

Senin, 01 November 2010

FOTO POWERCROSS MALANG 30 OKTOBER 2010 (Bagian II)






Photos by: CHEELA Motoadventure

FOTO POWERCROSS MALANG 30 OKTOBER 2010

Photos by: CHEELA Motoadventure





Minggu, 17 Oktober 2010

Catatan Off-road ke Coban Rondo





SUPER LICIN, BAN MELOW JADI LOYO

Minggu (17/10/10) tim CHEELA offroad ke Coban Rondo, Pujon, Kabupaten Malang. Jalur yang dimulai dari Jetis, Dau ke Coban Rondo kemudian nyambung ke arah Gunung Mujur itu 90% adalah medan off-road tanah. Hujan yang mengguyur Malang dalam seminggu terakhir ini membuat tanah yang dilalui menjadi super licin. Tanah padas, berlumut dan cerukan di beberapa titik membuat off-road kami selama 6 jam tersebut menjadi ‘hard off-road’, paling tidak buat 2 orang pemula yang ikut off-road tim CHEELA di hari minggu itu. Semoga saja mereka tidak kapok gabung sama tim CHEELA!

Medan off-road dari Jetis menuju Desa Selokerto bisa dilalui dengan mudah. Maklum jalur masih agak kering karena daerahnya terbuka sehingga sinar mentari bisa membuat jalur menjadi tidak terlalu licin. Tapi begitu masuk jalur off-road di Perinci, mulailah banyak yang bertumbangan mencium segarnya tanah pegunungan. AG dan Ml yang menaiki KLX 150 mulai harus memeras keringat untuk menaklukan medan yang penuh tanjakan dan bekelok-kelok itu.

Jalur off-road licin sebenarnya adalah ketika sudah mulai memasuki Gunung Pandeman hingga Coban Rondo. Jalur sigle track berupa padas licin selebar 1 meter itu memakan banyak korban. Semuanya terguling, kecuali RK yang bisa lolos meski harus berjuang lumayan keras dengan KTM 250-nya. Jalur ini menjadi neraka buat AD. ML dan WW yang memakai ban kurang berkualitas. Ban berlabel S*****w itu benar-benar mellow dan membuat orangnya jadi loyo.

Bagaimana tidak loyo, begitu motor digas, ban belakang langsung spin dan kadang motor jadi balik arah. Berkali-kali penunggang motor harus terjungkal. Tekanan angin ban coba dikurangi, namun tetap saja harus bersusah payah, meraung-raung, untuk bisa menaklukan lintasan licin yang menanjak itu. Sebaliknya EW dan TT yang juga sama-sama memakai KLX 150 dan TS 125, masih bisa melewati jalur itu meskipun juga tidak luput juga dari mencium tanah di tengah hutan pinus itu. Bedanya , AG, ML dan WW yang memakai ban melow itu harus berjuang ekstra keras dan lebih banyak terguling dibandingkan EW dan TT yang memakai ban berkualitas.

Pelajaran yang bisa kami petik dari off-road 6 jam di medan licin itu adalah wajib hukumnya untuk memakai ban off-road yang berkualitas. Memang harganya bisa 2 kali lipat dibandingkan ban biasa, namun ban berkualitas akan lebih menapak dan enjoy dalam melibas medan off-road yang licin. Model kembangan ban boleh sama, tapi kualitas bahannya jauh berbeda. Kalau anggaran cekak, mending nabung dulu untuk membeli ban berkualitas, daripada membeli ban murahan tetapi kemudian kecewa dan akhirnya terpaksa beli lagi ban yang berkualitas. Apalagi sekarang ada banyak pilihan ban berkualitas yang beredar di Indonesia, seperti Kenda, Pirelli, Dunlop, Bridgestone, metzeller, dll. Pilihan di tangan anda.

Minggu, 10 Oktober 2010

OFFROAD ARJUNA-BROMO, DARI LUMPUR HINGGA PASIR






Sabtu pagi (9/10/2010) jam 09.00 tim CHEELA meninggalkan sekretariatnya di Jetis untuk memulai petualangan di atas roda dua di hari yang tidak terlalu cerah itu. Hari itu kami memutuskan untuk offroad di jalur lereng Gunung Arjuna hingga ke Gunung Bromo. Seperti biasa, di jalanan dan perkampungan kami memacu motor dengan pelan untuk menghormati pengguna jalan lainnya. Rombongan tim CHEELA dengan santai melewati jalan kecil di tengah perkampungan, sekali-kali kami berdiri di atas motor untuk melemaskan otot kaki dan tangan.

Lima belas menit kemudian kami sampai di atas peternakan ayam Wonokoyo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Di depan kami sudah menghadang jalur offroad berupa tanah padas mengkilat akibat diguyur hujan sehari sebelumnya. Setelah semua tim datang, kami mulai memacu motor dengan kencang, meliuk-liuk di tanah basah yang berada di tengah ladang petani itu. RK dengan tunggangan KTM-nya memimpin di depan, disusul DW dengan KLX 150-nya. Tidak sampai 10 menit kami sudah sampai di jalanan berbatu, jalanan Perhutani yang biasa digunakan untuk mengangkut kayu.

Setelah melewati jalanan berbatu sepanjang 1 km, jalur offroad mulai menantang, yaitu tanah basah dengan beberapa titik berupa kubangan lumpur. Kami mulai melakukan aksi speed offroad. Di beberapa lokasi ada kubangan lumpur sedalam 60 cm. Badan dan motor kamipun mulai tidak terlihat warna aslinya, semuanya terlihat coklat kotor oleh lumpur. Malang buat DW, maksud hati ingin menghindari lumpur, namun dia malah terjungkal masuk lumpur. Kamipun tertawa terbahak-bahak melihat aksi DW berkubang dengan lumpur seperti kerbau.

Tak lama kemudian kami sampai di lereng Gunung Arjuna. Di jalur ini kami sempat ketemu dengan panitia kegiatan adventure trail yang diadakan oleh Pemkot Batu. Panitia itu sempat mengenali kami dan bercakap-cakap sebentar. Ternyata panitia itu hendak mengubah jalur offroad peserta, karena dipandang jalurnya terlalu ekstrim, apalagi jumlah peserta acara itu kabarnya mencapai 700 orang.

Puas istirahat sejanak, kami langsung melanjutkan perjalanan, jalur kali ini benar-benag menguras energy kami. Jalur berupa turunan tajam, tanah padas super licin dan penuh dengan cerukan dalam. Maklum ini sebenarnya adalah jalan air, bukan jalan manusia. Namun kami memutuskan untuk mencobanya. Di jalur ini MD yang perempuan itu terpaksa harus ganti joki, karena fisiknya tidak sanggup melewati jalur jalan air itu. DW dan RK dengan senang hati bergantian menjadi ‘pemeran pengganti’. CRF 150 tunggangan MD sebetulnya sangat enak untuk melibas jalur ini, hanya faktor fisik saja yang membuat MD menyerah.

Satu jam kemudia kami lolos meninggalkan jalur air itu. Jalur selenajutnya sangat enak untuk speed offroad karena berupa tanah agak lebar di tengah-tengah perkebunan tebu. Di jalur arah Desa Slumbung, Singosari, kami ketemu rombongan peserta event trail adventure Pemkot Batu. Kami melihat banyak motor yang mogok, bahkan ada yang ditarik dengan tali plastik. Karena dikejar waktu, kami memutuskan untuk tidak berhenti, tapi langsung tancap gas menuju arah Gunung Bromo!

Setelah 10 menit melewati jalan aspal, kami sampai di Pasar Singosari. Kami menyeberang jalan menuju arah Jabung. Jalan menuju jabung ini berupa tanah berbatu sepanjang 6 km. Jalannya lebar, penuh gelombang batu dan berada di tengah perkebunan tebu. Kami membetot gas motor dengan kencang dengan posisi tubuh berdiri untuk mengurangi guncangan. Meskipun di beberapa titik banyak kubangan air, kami tetap memacu motor dengan kencang, mumpung jalananya sepi sehingga mantap untuk speed offroad.

Tak lama kemudian kami sampai di Jabung. Tanpa istirahat, kami langsung mengambil jalur ke Bromo lewat Taji. Jalur ke Taji ini menanjak dan menyisiri pegunungan. Separuh dari jalur Taji ini adalah berupa batu yang licin akibat diguyur hujan selama berhari-hari. Sialnya di tengah jalan ternyata jalur menuju Taji ini ditutup karena ada hajatan, sehingga kami harus mengambil jalur alternatif. Jalur alternatif itu ternyata adalah jalur single track yang licin. Maklum di daerah ini hampir setiap hari turun hujan.

Tepat jam 12 kami berhasil melewati jalur single track itu. Kamipun memutuskan untuk makan siang di bawah pohon yang rindang. Hemm nikmat sekali makan bersama sahabat di tengah alam yang menyejukan hati. Sambil menyantap makanan, kami ngobrol ngalur ngidul, melepas kepenatan. Tak jarang kami tertawa lepas, terbahak-bahak, karena cerita-cerita lucu yang mengalir begitu saja diantara kami.

Istirahat satu jam ditasa cukup oleh kami. Perjalananpun dilanjutkan menuju Nongkojajar. Jam 13.30 kami sampai di satu-satunya pom bensin yang ada di Nongkojajar. Kami mengisi BBM, wah ternyata motor kami semuanya terbilang irit. KTM 250 punya RK hanya mengisi 3 liter, sementara CRF 150 punya MD hanya menambah 1,5 liter. KLX 150 punya WW dan DW juga sama iritnya dengan CRF 150. Padahal jalur yang kami tempuh lumayan jauh dan penuh tanjakan serta rintangan alam yang menyedot bahan bakar.

Jalur dari Nongkojajar menuju Bromo adalah berupa jalan aspal menanjak dan berkelok-kelok. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti sejenak di tepi sungai untuk mengambil foto. Waktu kami istirahat di tepi sungai ini kami sempat ketemu rombongan trail dari Malang.

Setelah puas menikmati gemercik air sungai di atas Nongkojajar itu, kami memutuskan menuju Bromo lewat jalur Ngawu, karena jalur Ngawu ini adalah full offroad. Di Ngawu kami memacu motor dengan kencang. Kabut mulai turun dan udara mulai dingin. Kami berhenti sejanak untuk memakai jaket dan memeriksa motor yang agak mbrebet karena terkena air.

Di jalur offroad Ngawu ini kami betul-betul bersenang-senang. Motor bisa dipacu dengan kencang. Tidak sampai 30 menit kemudian kami sudah sampai di Gunung Pananjakan. Di bawah kami terlihat samar-samar Gunung Batok dan Bromo. Gerimis dan kabut mulai menyelimuti Bromo. Kamipun bergegas turun ke arah lautan pasir.
Begitu sampai bibir lautan pasit, kami langsung tancap gas menuju Gunung Bromo. Kamipun balapan di medan pasir yang padat akibat hujan itu. Motor kami terlihat terbang ketika melewati beberapa gundukan pasir. Tepat jam 15.30 kami sampai depan Gunung Bromo. Setelah istirahat 5 menit, kami langsung tancap gas lagi menuju arah Jemplang. Jalur ke Jemplang kami lewati dengan mulus, relatif tanpa hambatan berarti meskipun hujan mulai turun dengan deras.

Dengan tubuh basah kuyup kami memacu motor dengan pelan meninggalkan Jemplang menuju Coban Pelangi. Tak lebih dari 20 menit kami sampai dengan selamat di Coban Pelangi. Tim pendukung kami sudah menanti kami di Coban Pelangi dengan mobil pick up. Hujan masih turun, kamipun langsung memutuskan untuk menaikan motor ke atas mobil pick up. Kami tersenyum puas karena dari pagi hingga petang kami bisa bersenang-senang menikmati medan offroad dari lereng Gunung Arjuna hingga Bromo.

Kamis, 23 September 2010

TEHNIK DASAR OFFROAD DI PADANG PASIR


Bagi yang sudah berpengalaman, mengendari motor trail di padang pasir seperti yang ada di Gunung Bromo, adalah sesuatu yang mudah. Namun bagi sebagian orang, mengendarai moor di atas padang pasir bukanlah perkara mudah. Apalagi jika di musim kemarau, ketebalan pasir bisa sampai 60 cm, sehingga tak jarang motor terjebak di pasir. Semakin di-gas, semakin amblas ban motor ke dalam pasir.

Hal terpenting ketika kita offroad di padang pasir yang luas adalah kita harus melakukan scan alias melihat pandangan jauh kedepan untuk mengetahui jalur offroad yang benar. Ini untuk mengetahui sejak dini dimana jalur yang ada batu atau lubang, sehingga kita bisa memprediksi sejak awal. Jika kita sudah mengetahui jalur offroad yang akan kita lalui, maka kita bisa membetot motor dengan kencang, namun pandangan mata tetap jauh ke depan, minimal 25 meter kedepan.

Posisi tubuh adalah dalam posisi “attack mode”, yaitu berdiri dan tangan menekuk. Tangan yang menekuk akan berfungsi sebagai semacam peredam suspensi, sehingga jika sewaktu-waktu menghadapi medan darurat maka reaksi tangan anda akan lebih leluasa. Posisi kaki menjepit body motor, namun jangan terlalu tegang. Rileks saja, namun pastikan badan anda menyatu dengan motor. Lutut juga berfungsi sebagai “suspense”. Gunakan “body language” untuk mengendalikan motor, jadi jangan panik jika ban motor terasa oleng, terus saja berdiri dan gas motor anda, jangan mengurangi gas.

Untuk desert race atau balapan di padang pasir, biasanya suspensi disetting agak keras, karena suspensi yang terlalu lembut akan membuat motor oleng ketika dipacu dengan kencang. Kadang-kadang di padang pasir secara tak terduga kita dihadang oleh batu, gundukan pasir atau lubang pasir yang tergerus oleh air hujan. Suspensi yang disetting dengan pas dan posisi tubuh dalam mengendarai motor yang benar akan membantu anda melewati rintangan tersebut dengan mudah. (Sumber: DIRT RIDER Magazine dan CHEELA Motoadaventure)

Rabu, 01 September 2010

TIPS OFFROAD YANG NYAMAN DAN AMAN


Kegiatan trail adventure atau offroad yang lagi booming idealnya akan memberikan kesenangan atau kenikmatan tersendiri bagi penggiatnya. Kegiatan offroad dengan motor trail bisa dikategorikan olah raga extrim karena rawan akan resiko kecelakaan, maklum medan offroad yang dilalui sering beragam handicap-nya.

Meskipun punya skill mengendari motor yang tinggi, tetap saja ada resiko yang bisa diterima bagi offroader, karena jalur offroad di alam beda dengan jalur di sirkuit yang sudah jelas arah dan tipenya. Medan offroad di alam, meskipun sudah sering dilalui tetap membutuhkan extra kehati-hatian karena jalur bisa berubah sewaktu-waktu oleh faktor alam misalnya hujan, longsor atau pohon tumbang.

Untuk itu diperlukan persiapan matang sebelum kita melakukan kegiatan offroad motor trail. Berikut ini adalah tips-tips offroad yang nyaman dan aman yang merupakan pengalaman kami melakukan kegiatan trail adventure selama lebih dari 10 tahun.

PERSIAPAN MOTOR:

Motor menjadi alat yang sangat vital dalam kegiatan offroad. Kelayakan motor akan membuat kita menjadi bersenang-senang menikmati olahraga di alam bebas atau sebaliknya kita justru menjadi sengsara di rimba belantara. Pastikan motor anda memang layak untuk dipakai melakukan kegiatan offroad, karena ini bukan hanya sekedar menyangkut soal kenyamanan tapi juga keamanan anda. Perhatian utama adalah pada sektor suspensi dan kemampuan mesin. Jika motor anda sudah layak untuk offroad, simak tips-tips berikut ini sebelum kita berangkat offroad;

a. Cek tekanan angin ban. Jika kondisi hujan, maka tekanan angin dikurangi, ukurannya tergantung ukuran ban dan motor anda, termasuk berat tubuh pengendaranya.

b. Cek oli mesin, kalau pada level yang dibawah standar maka perlu ditambah. Pakailah oli yang berkualitas, jangan oli asal-asalan.

c. Pastikan air radiator telah terisi sesuai dengan takaranya. Kekurangan air radiator akan membuat motor over heat.

d. Cek kekencangan mur dan baut, juga rantai. Lumasi rantai dengan minyak pelumas khusus rantai.

e. Jika anda akan offroad sampai sore atau malam hari, pastikan lampu motor anda menyala. Jika motor tidak ada lampunya, misalnya tipe MX/cross, maka bisa dibekali dengan lampu senter khusus yang bisa ditempel di motor. Salah satu produk terbaru yang bisa dipakai adalah lampu keluaran Eiger.

f. Bersihkan saringan udara. Melepas saringan udara pada motor yang dipakai untuk offroad, sangatlah tidak direkomendasikan, karena ini akan memudahkan mesin/kaburator motor akan kemasukan debu atau partikel tanah, dan ini bisa membuat motor anda mogok di tengah hutan!

g. Isi bensin motor anda dengan penuh.

PERLENGKAPAN KEAMANAN PENGENDARA (SAFETY GEAR):

a. Pakailah helm tipe cross karena moncongnya akan melindungi mulut dan gigi anda dari resiko rompal jika terjatuh. Dengan helm tipe ini kita juga masih bisa bernafas dengan lega, beda dengan tipe helm full face untuk jalanan yang ada kacanya, karena tipe ini akan membuat kita sesak nafas di medan offroad.

b. Goggle atau kacamata, untuk melindungi dari debu dan lontaran lumpur atau kerikil. Goggle juga akan melindungi mata anda dari resiko tertusuk ranting-ranting pohon.

c. Sarung tangan, direkomendasikan yang full alias menutupi sampai ujung jari. Jangan memakai sarung tangan dari kulit karena ini membuat pori-pori tangan kita tidak leluasa bernafas dan juga jika hujan maka sarung tangan kulit akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi kering.

d. Sepatu khusus offroad atau boleh juga yang biasa dipakai untuk cross/grasstrack. Tidak direkomendasikan memakai sepatu yang pendek, karena ini masih rawan terkena benturan batu atau akar pohon yang tidak kita duga melintang di jalur offroad. Sepatu karet yang biasa dipakai oleh petani ke sawah atau ladang, juga tidak direkomendasikan untuk offroad. Itu sepatu berbeda peruntukan, selain tingkat keamanannya dalam melindungi kaki sangat rendah, sepatu karet juga membuat kaki kita lembab, ini menajdi rawan jamur dan bau menyengat!

e. Body protector, ini untuk melindungi dada dari lontaran kerikil atau tusukan ranting pohon atau meminimalkan dampak ketika kita jatuh. Sebagian orang merasa risih atau malu memakai body protector, hemmm pemikiran ini harus dibuang jauh-jauh. Kenapa harus risih dan malu memakai piranti yang justru akan lebih melindungi tubuh anda?

f. Pelindung lutut, ini akan melindungi lutut anda ketika anda jatuh. Pengalaman kami, bagian tubuh yang paling rawan akan resiko cidera pada waktu offroad adalah kaki termasuk lutut. Pribahasa mengatakan, sepandai-pandainya tupai meloncat, akan jatuh juta. Sejago-jagonya anda membawa motor, suatu ketika anda akan jatuh juga!

g. Belt atau stagen untuk mencegah goncangan perut yang berlebih. Ingat perut adalah berisi organ-organ vital yang rawan bermasalah jika terkena goncangan atau benturan keras.

PERLENGKAPAN/PERALATAN TAMBAHAN:

a. Kunci-kunci yang mungkin diperlukan jika ada trouble ringan di motor anda, misalnya kunci busi, obeng, tang,dan kunci ukuran 8,10 dan 12.

b. Pompa kecil yang biasa dipakai oleh sepeda angin. Di toko sepeda ada banyak jual pompa ukuran kecil, hanya sepanjang 12 cm, tapi sudah cukup untuk memompa ban motor anda jika kekurangan angin.

c. Kantong plastik untuk menyimpan sampah plastik bekas pembungkus makanan anda. Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami, jangan sampai aktivitas kita di alam justru memberikan kontribusi terhadap kerusakan alam. Jangan penah meninggalkan sampah plastic dan putung rokok anda di hutan/alam, bawa kembali sampah anda!

d. Bawa minuman dan bekal makanan secukupnya. Makanan lebih baik disiapkan dalam kotak makanan (lunch box), sehingga akan meminimalkan bungkus makanan yang terbuang percuma. Kotak makanan juga bisa dipakai berulang-ulang, jadi lebih hemat bukan?

e. HP untuk komunikasi pada situasi darurat

f. Jika akan offroad malam hari, jangan lupa untuk bawa senter

g. Bawa dompet yang berisi uang dan kartu identitas anda.

CARA PACKING PERLENGKAPAN ANDA:

a. Jika motor anda ada rack di belakang, ini adalah tempat yang tebaik untuk menyimpan perlengkapan anda sehingga akan mengurangi beban yang anda pikul. Motor trail seperti TS 125 sudah dilengkapi dengan rack, tapi untuk motor lain seperti KLX 150 atau KLX 250 juga sudah banyak yang menjual rack-nya.

b. Bawa tas punggung, pilih yang ada tali pengikat di bagian pinggang karena ini akan membuat tas akan menyatu dengan tubuh anda. Letakan barang yang berat di bagian paling bawah. Banyak juga orang suka model tas punggung yang sudah dilengkapi dengan kanyung air (camel bag), jadi kalau minum tinggal sedot saja.

c. Jika hanya offroad pendek dan anda malas membawa tas punggung yang berat, anda bisa mambawa tas pingang. Tas pinggang ini bisa diisi botol air minum ukuran kecil, dompet dan HP anda. Offroader di Eropa dan Amerika banyak yang memakai tas pinggang, termasuk di event-event kejuaraan enduro. Kelebihan tas pinggang ini adalah anda akan lebih leluasa membawa motor karena tidak ada beban di pundak.

Semoga tip-tips ini bisa bermanfaat, khususnya bagi offroader pemula. Selamat melakukan offroad yang nyaman dan aman! (sumber: CHEELA Motoadventure).

Minggu, 25 Juli 2010

OFFROAD KE BLITAR





Tepat pukul 08.45 kami dengan tunggangan KTM 250, KLX 150, CRF 150 dan TS 125 meninggalkan sekretariat CHEELA di Jetis Malang untuk offroad ke Blitar di minggu (25/7/10) yang mendung itu. Tidak sampai 5 menit kami sudah masuk ke medan offroad di tengah kebun tebu dan perladangan. Kami memacu motor dengan kencang, mumpung energi masih full jadi bisa gas pol.

Tak lama kemudian kami memasuki jalur sedikit basah di atas Desa Kucur. Jalanan berupa tanah menanjak selebar antara 2 hingga 3 meter. WD yang pakai KLX 150 warna merah terlihat agak kesusahan menaklukan track ini, maklum dia jarang sekali ikut offroad.

Lepas dari jalur tanah yang agak licin itu kami sampai di jalar Perhutani yang berupa batu dengan semak lebat di kanan kiri. Jalannya datar namun berkelok-kelok. Sebetulnya jalannya lebar, hanya saja karena tertutup semak dan rumput di kanan kiri makan jalur jadi sempit, cukup untuk satu roda saja. Jika tidak hati-hati pijakan motor sering nyangkut di rumput, terutama untuk motor dengan roda ban 16 seperti KLX 150.
Lima menit kemudian jalur berupa tanah lagi namun menurun tajam. Di beberapa titik agak licin karena tertutup rimbunnya pohon. Di jalur turunan ini lagi-lagi WD harus terjungkal. Tak lama kemudian kami sampai di Desa Bedali dan kami memacu motor dengan kencang arah Kraton Gunung Kawi.

Jalur menuju Gunung Kawi berupa tanah menanjak dan di beberapa titik ada banyak gundukan tanah. Kami memacu motor dengan kencang. Motor kami meliuk-liuk mengikuti jalur yang memacu adrenalin itu. KTM 250 yang ditunggangi RK terlihat beberapa kali melakukan aksi jumping melewati gundukan tanah.

Sekitar jam 11 kami sampai di Kraton Gunung Kawi. Di Gunung Kawi kami disambut dengan kabut tipis yang turun menyelimuti hutan yang sejuk itu. Kami istirahat sejenak sambil memberi kesempatan kepada WW untuk menyantap rotinya, maklum katanya dia nggak sempat sarapan pagi karena bangun kesiangan setelah semalaman ngelembur pekerjaan.
Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan offroad menuju arah Blitar. Jalur kali ini berupa tanah kombinasi batu di tengah-tengah hutan pinus. Kami melakukan speed offroad di jalur ini. Tepat pukul 12.30 kami memutuskan untuk istirahat dan makan siang. Wah nikmat sekali makan di alam, di bawah rindangnya pohon cengkeh. Kamipun sempat terlena, hampir ketiduran setelah kekenyangan. Sebelum tertidur, kami memutuskan melanjutkan perjalanan.

Jalur berikutnya berupa tanah berbatu di tengah-tengah kebun kopi, the dan juga perldangan. Jalanan berupa batu ini lumayan menguras energy kami. Apalagi ada banyak sekali single track alias jalur sempit yang hanya cukup untuk satu roda saja. Di jalur sempit ini MD, satu-satunya perempuan dalam tim CHEELA, harus terpelanting dari Honda CRF-nya. Untungnya dia tidak mengalami cidera berarti, hanya lengannya saja yang sedikit bengkak.

Setelah itu kami melewati dua perkebunan teh dan kopi yaitu perkebunan Sengon dan Bantaran. Keduanya sudah memasuki wilayah Kabupaten Blitar. Di jalur yang lumayan lebar ini kami membetot gas dengan kencang, karena target kami adalah kami harus sampai di Coban Rondo sebelum gelap. Kami paling malas kalau offroad malam hari, karena tidak banyak kenikmatan speed offroad yang bisa kami nikmati di kegelapan malam.

Jam 15.15 kami sampai di Rambut Monte, sebuah telaga kecil yang dihuni ikan sebesar bayi manusia. Dari Rambut Monte kami memacu motor ke arah Ngantang. Jalur berupa tanah di tengah ladang dan perkampungan kecil. Setiap melewati perkampungan, kami memacu motor dengan lambat, untuk menghormati warga sekitar.

Tak berselang lama kami akhirnya sampai di Ngantang, Kabupaten Malang. Di etape ini jalurnya berupa jalan aspal sepanjang sekitar 5 km. Kami memacu motor dengan pelan menuju Pujon. Setelah mengisi BBM di Desa Ngepreh Pujon, kami melanjutkan offroad menuju Coban Rondo. Jam di tangan waktu itu menunjukan pukul 16.30.

Jalur menuju Coban Rondo berupa jalur single track di tengah hutan. Kebanyakan menanjak tajam, dengan di beberapa sisi adalah jurang menganga. Di jalur gunung ini kami memacu motor dengan kencang. Selain mengejar waktu, kami juga mau menebus kebosanan setelah lewat jalur aspal dari Ngantang ke Pujon.

Empat puluh menit kemudian kami finish di air terjun Coban Rondo. Tim pendukung sudah menunggu dengan mobil pick up. Kami tersenyum puas bisa offroad seharian di hari minggu itu. Setelah menaikan motor ke atas pick up, kami kembali ke Kota Malang dengan senyum kepuasan. Dan kamipun saling berucap, “sampai ketemu di medan offroad berikutnya!”

Minggu, 04 Juli 2010

TRAIL ADVENTURE KE MERUBETIRI DAN BALURAN





Jam di tangan menunjukan angka 8 di pagi hari ketika kami tiba di Glenmore Banyuwangi, Jawa Timur. Cuaca yang cerah memompa semangat kami untuk memulai petualangan dengan motor trail menembus hutan Taman Nasional Merubetiri yang dikenal sebagai tempat terakhir bagi harimau jawa itu. Setelah mengecek semua perlengkapan, kami berdua mulai memacu motor dengan santai, sambil beradaptasi dengan motor. Maklum sebelumnya semalaman kami kurang bisa tidur nyenyak di dalam mobil yang membawa kami dari Malang ke Banyuwangi.

Lima menit kemudian jalanan mulai banyak berlubang, khas jalanan di Indonesia yang begitu cepat rusaknya. Kami mulai memacu motor dengan agak kencang. Tak lama kemudian jalanan mulai berupa tanah selebar sekitar 12 meter. Kamipun memacu motor dengan kencang, yah disini kami bisa melakukan speed offroad sepuas hati. Meskipun tanah, jalanan tidak berdebu karena di jalan ini masih sering turun hujan. Ketika motor-motor pekerja kebun berjalan lambat di jalur tanah ini, kami justru membetot habis gas motor, wow mantap sekali!

Satu jam kemudian kami mulai masuk jalur di tengah-tengah hutan Alas Wangi. Hutannya masih sangat bagus dan lebat. Ada banyak burung liar yang kami jumpai di jalur hutan ini. Jalur berupa single track dan basah. Kami harus hati-hati, karena di sebelah kiri kami adalah jurang menganga sedalam 10 hingga 50 meter.

Di jalur hutan Alas Wangi itu ada banyak pohon tumbang. Ini sangat licin karena potongan ranting pohon yang tumbang itu bercampur dengan lumpur, akibatnya roda motor kami sering spin. Jurus saktipun terpaksa harus dikeluarkan, yaitu mendorong motor!

Lolos dari jalur hutan Alas wangi, kami mulai memasuki perkebunan coklat dan kelapa. Jalan berupa jalan aspal rusak kombinasi dengan tanah yang bergelombang. Kami mulai bisa memacu motor lebih kencang. Pemandangan di sepanjang perjalanan indah sekali, karena di bawah jalur offroad kami adalah sungai yang masih jernih airnya. Jam 10.30 kami sampai di Desa Sarongan. Kami mampir di warung untuk membeli nasi sebagai bekal makan siang kami nantinya. Maklum di tujuan akhir offroad kami hari itu tidak ada warung yang menjual nasi, jadi kami harus mempersiapkan perbekalan logistik di Desa Sarongan.

Setelah membeli perbekalan logistic dan mengisi bensin, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sukamade, Taman Nasional Merubetiri. Jalur kali ini betul-betul menyiksa kami karena jalur sepanjang 25 km adalah jalur berbatu dan berlumpur. Hujan yang terus mengguyur membuat di banyak titik terjadi kubangan-kubangan lumpur. Batu-batu sebesar kepala kambing itu benar-benar menghajar tubuh kami. Peluhpun bercucuran.

Di jalur berbatu itu kami sempat berpapasan dengan rombongan turis dari Belanda yang naik mobil jeep. Mereka sempat melambaikan tangan ke kami ketika mereka kami salip di sebuah jalan tanah di Sarongan. Ketika kami berjumpa lagi di pos penjaga hutan di Rajegwesi, para bule itu terkejut setelah tahu bahwa salah satu dari kami itu ternyata seorang perempuan! “Wow, it’s cool”, ujar mereka. Kami hanya tersenyum, namun dalam hati kami bilang biar mereka tahu bahwa perempuan Indonesia juga bisa berpetualangan dengan motor trail!

Jam 13.00 kami akhirnya sampai juga di Pantai Sukamade yang terkenal dengan penyu-nya itu. Tapi sebelum Pantai Sukamade itu motor kami harus dinaikan ‘getek’ atau perahu dari bambu karena jembatan roboh diterjang banjir bandang. Ini menjadi petualangan tersendiri bagi kami menyebrangi sungai selebar 20 meter dengan perahu getek.

Untungnya di Pantai Sukamade itu ada guest house yang masih kosong, sehingga malam itu kami bisa menginap di sana setelah membayar Rp 200 ribu. Sayangnya kamar dan lingkungan sekitarnya kotor dan tidak terawat. Sampah plastik banyak berserakan di sekitar penginapan. Pantas saja kalau bule-bule itu lebih suka menginap di wisma yang ada di dekat perkebunan di desa daripada di pantai yang kotor. Meskipun kami tidak nyaman dengan banyaknya sampah plastik di sekitar penginapan, kami terpaksa menginap di tempat ini, karena tidak ada pilihan lagi dan lagian hari sudah semakin sore.

Usai memasukan barang-barang kami ke kamar yang hanya ada bantal dan kasur saja, kami memutuskan untuk offroad lagi menuju Sumbersari. Pada tahun 1997 kami sempat offroad ke Sumbersari dan kami ingin mencoba mengulangnya lagi.

Motorpun kami gas dengan kencang, meliuk-liuk di tengah perkebunan, dan sekali-kali jumping di gundukan tanah yang secara alami terbentuk akibat tergerus air. Kami pun menyebrang sungai sebanyak 2 kali. Menjelang malam kami memutuskan kembali ke Pantai Sukamade, karena kalau gelap susah sekali melihat jalur yang penuh dengan lubang dan lumpur itu.

Keesokan harinya, tepat jam 07.20 kami meninggalkan Pantai Sukamade menuju Glenmore. Kami memilih jalur yang sama ketika waktu kami berangkat. Karena seharian kemarin kami sudah beradaptasi dengan motor, hari kedua ini kami bisa memacu motor dengan lebih kencang. Empat jam kemudian kami sudah sampai di Glenmore dan kami memutuskan mencari tempat cucian motor. Maklum motor jadi penuh lumpur setelah 2 hari offroad di Merubetiri.

Jam 13.00 tim pendukung kami yang membawa mobil pick up datang menjemput kami. Kedua motor kami sudah kinclong lagi setelah dicuci itu kami naikan ke atas pick up menuju Hotel Margoutomo di Kalibaru. Hotel Margoutomo adalah hutan yang asri dan kental sekali nuansa alamnya. Di hotel ini tidak ada TV dan AC, semuanya dirancang untuk back to nature. Justru inilah yang membuat kami kerasan dan menjadi pilihan kami ketika melakukan petualangan di Banyuwangi. Harga kamar di Margoutomo ini yang paling murah adalah Rp 325 ribu.

Setelah semalam menginap di Margoutomo, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Baluran yang dulu dikenal sebagai tempatnya banteng dan kerbau liar. Karena jalur yang kita tempuh adalah jalur aspal, maka kami dan motor trail sama-sama nail mobil pick up. Sesampainya di Baluran kami memutuskan menginap di Pantai Bama. Di pantai yang bagus namun sayangnya tidak dikelola dengan baik itu kami trekking ke dalam hutan savanna untuk melihat kehidupan liar binatang yang ada di Baluran. Dulunya di Baluran itu dengan mudah melihat banteng dan kerbau liar, namun sekarang susah sekali melihatnya. Populasi satwa langka itu menurun drastis akibat perburuan liar.

Keesokan harinya kami mulau offroad di savanna. Kebanyakan jalurnya datar, jadi kami bisa speed offroad. Meskipun datar, kami harus hati-hati karena ada banyak jalur yang berlubang. Dan yang harus ekstra hati-hati adalah, kadang-kadang ada rusa yang melintas memotong jalan!

Setelah puas offroad isavana Baluran, kami siangnya memutuskan kembali ke Malang namun lewat jalur Gunung Bromo. Dari Baluran ke Kota Lumajang, motor kami naikan mobil. Sekitar jam 17.00 kami ampai di Desa Senduro, desa terakhir sebelum menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari arah Lumajang. Cuaca sore itu mendung dan ini yang membuat kami kuatir, karena kalau hujan kami bisa kehujanan di etngah hutan yang rawan pohon tumbang.

Setelah motor diturunkan dari mobil, kami segera memacu motor dengan kencang. Target kami adalah sebelum malam kami harus keluar hutan Ireng-Ireng, karena hutan ini dikenal angker dan banyak perampok. Baru 5 menit kami memacu motor, hujan turun lumayan deras. Kami memutuskan untuk tidak berhenti, karena takut kemalaman di tengah hutan. Kamipun membentot gas dengan kuat-kuat, meliuk-lik di jalanan berkelok menanjak di tengah hutan. Yang membuat kami tidak keluasa memacu motor adalah turunya kabut tebal yang membuat jarak pandang hanya 2 meter saja! Wow serasa di negeri antah baratah.

Menjelang mahrig kami sampai di Desa Ranupani, di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kami lega dan bersyukur karena tidak kemalaman di hutan. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Malang lmenyusuri jalan yang berada di kaki gunung Semeru itu. Jalanan tidak terlihat dengan jelas karena hari sudah gelap dan kabut tebal menyelimuti kawasan Bromo. Kami memacu motor dengan pelan-pelan, lambat asal selamat. Sekitar jam 7 malam akhirnya kami sampai di desa. Kami lega dan puas setelah tuntas menyelesaikan petualangan 4 hari kami di bulan Juli itu tanpa halangan berarti.

SAMPAH (dan) TRAIL ADVENTURE


Kegiatan trail adventure atau disebut juga offroad trail, enduro, “nrabas” atau “ndakar’ lagi booming dimana-mana. Orang ramai-ramai masuk hutan dengan membawa motor trail, baik itu motor trail bikinan sendiri alias modifikasi atau motor trail asli keluaran pabrik. Tidak sedikit juga yang memakai motor trail build up yang memang dirancang khusus untuk kegiatan offroad berat. Kehadiran KLX 150 juga turut meramaikan gairah motor trail di tanah air.

Animo yang tinggi di masyarakat penggemar trail untuk melakukan kegiatan petualangan ke hutan atau alam, patut diapresiasi positif. Ini adalah olahraga alam, yang bukan hanya dituntut fisik yang prima namun sedikit banyak juga akan mengenalkan orang akan kekayaan alam, sehingga idealnya sih akan turut mendorong orang untuk mencintai alam. Ya alam dan motor trail adalah dua hal yang tidak dipisahkan. Meskipun andaikata ada banyak dibangun sirkuit buatan untuk motor trail, tetap saja alam akan memberikan kenikmatan dan sensasi berbeda bagi penggila motor trail dibandingkan jika main di sirkuit.

Namun apa jadinya alam jika para penggiat trail adventure justru menodai dan melukai alam yang menjadi wadah kita untuk bermain? Noda dan luka itu paling tidak adalah dari dampak sampah plastik yang semakin banyak berserakan di hutan atau alam yang dilalui motor trail. Memang penggemar motor trail bukan satu-satunya “terdakwa” dalam penodaan alam itu, karena juga ada pendaki, pengunjung atau wisatawan lain. Namun kehadiran para offroader turut meyumbang semakin banyak aksi penodaan alam itu, jika para offroader-nya cuek aja dengan soal kelestarian alam.

Padahal data yang ada begitu membuat miris jika kita bicara soal sampah. Misalnya sampah plastik itu untuk terurai secara alami membutuhkan waktu sampai 100 tahun, sedangkan gabus putung rokok membutuhkan waktu 10 tahun untuk hancur. Wah lama sekali waktunya, dan lama kelamaan hutan atau alam akan jadi tempat pembuangan sampah. Info lebih lanjut tentang sampah ini bisa dilihat di situs P-WEC di: http://www.p-wec.com/content/id/go_green/hindari_budaya_nyampah.html

Akan sangat bijaksana jika para offroader atau penggemar motor trail tidak membuang sampah plastic atau putung rokok di hutan atau alam. Salah satu caranya adalah dengan selalu membawa kantong untuk menyimpan sampah. Beberapa club motor trail sudah menerapkan aturan yang ramah lingkungan ini. Andaikata semua trail mania mau peduli lingkungan dengan tidak membuang sampah di alam, wow akan luar biasa sekali dampaknya bagi kelestarian alam dan petualangan kita dalam menikmati alam! Hobby petualangan di alam tetap berjalan, alampun tetap lestari. Saatnya kita berhenti menodai alam kita. Let’s go green!

Minggu, 13 Juni 2010

TEST RIDE TRAIL HUSQVARNA



Kabar gembira bagi penggemar motor trail, karena produsen trail Husqyvarna akan membuka dealer di Kota Malang. Kabarnya bulan Agustus ini dealer akan resmi dibuka. Yang bikin mantap adalah pembelian semua tipe trail dari husqy tersebut bisa dibeli secara credit. Menurut Daniel Tangka, calon dealer Husgy di Malang, sudah ada pihak leasing yang siap support pembelian motor husqy secara kredit.

Menyongsong dibukanya dealer Husgyvarna di Malang itu Daniel Tangka mengundang komunitas CHEELA untuk test ride Husqy TE 310 minggu kemarin (13/6/2010). Agar menghasilkan test yang lengkap, test dilakukan mulai jalan raya hingga medan offroad di sirkuit motocross Plengkung. Tukang uji coba adalah DW, RK, WW dan DT yang punya latar belakang riding berbeda. DT adalah crosser professional, DW dan WW adalah crosser eksekutif, sedangkan RK adalah offroader/enduro rider.

Body Husgy terlihat ramping, bahkan lebih ramping dibanding KTM EXC. Kalau soal tinggi jok sih terbilang sama, seperti rata-rata motor enduro dan SE. Yang bikin merem melek dari motor keluaran Swedia ini adalah suspensinya yang empuk. Kata WW, “wah suspensinya ini kalau di mobil sih kayak Mercy”.

Power motor mantap sekali, untuk di jalanan raya sangat stabil. Di medan offroad juga enak sekali, di gigi 3 motor masih dengan mudah diajak wheelie alias standing. Diajak jumping dan melibas superbowl juga enak, hanya saja suspensinya memang terlalu empuk. Maklum motor ini memang buka tipe motocross tapi tipe enduro yang suspensinya lebih lembut. Namun kami merasakan kalau handling motor ini di tikungan, masih terasa lebih enak KTM tipe EXC. KTM lebih terasa menyatu dengan rider. Bisa juga karena ini adalah faktor kebiasaan saja.

Menutut Daniel Tangka, selain bisa dibeli dengan cara kridit, akan ada garansi juga selama 1 tahun. Dealer juga akan menjamin ketersediaan spare parts. Maklum hal ini yang sering ditakuti konsumen, beli motor tapi susah cari spare part-nya. Yang menggembirakan lagi, dealer juga akan melayani purna jual.

Secara umum Husqyvarna ini akan memberikan lebih banyak pilihan bagi penggemar trail akan motor enduro sejati, disamping KTM yang sudah banyak beredar di Indonesia. Dengan dibukanya dealer Husgy di Indonesia ini memberikan angin segar bagi penggila motor trail, karena mestinya harganya akan jauh lebih murah dibanding impor lewat importit umum. Apalagi kabarnya semua tipe akan didatangkan, mulai tipe cross, endure, supermoto hingga mini trail. Yang jelas KTM mendapat saingan baru dan hanya waktu yang akan membuktikan mana yang akan survive, karena Husqy dan KTM bermain di ceruk yang sama yaitu trail kelas premium.

Minggu, 30 Mei 2010

KETIKA MOTOR BERENANG DI SUNGAI





(Catatan offroad CHEELA ke Dampit 29 Mei 2010)

Jam di tangan menunjukan angka 9 ketika tim CHEELA sampai di Turen, Kabupaten Malang di pagi yang cerah itu. Kami segera menurunkan motor dari truck dan mobil pick up, terima kasih untuk BN yang telah meminjamkan truck-nya. Usai nyeruput kopi sejenak di warung, kami langsung tancap gas lewat perkebunan tebu dipimpin ZN yang memakai alat bantu GPS. Kami dengan enjoy melalui rute “pemanasan” ini.

Satu jam kemudian kami dihadang rute offroad sebenarnya, yaitu sungai selebar 15 meteran. Arus sungai terlihat deras dan banyak batu berlumut yang licin. Daripada basah, kami memutuskan untuk melepas sepatu dan celana. Maklum rute masih panjang, akan terasa nggak enak ketika sepatu basah.

Motor satu per satu mencoba menyebarang sungai yang airnya berwarna keruh karena lumpur hujan itu. Ternyata untuk nyeberang sungai itu tidaklah terlalu mudah, kami dipaksa kerja keras untuk memastikan motor tidak mati. Namun motor KLX 150 punya ZN tidak mampu menyeberang dengan mulus, motornya terpaksa “berenang” di sungai itu. Kami pun bersorak-sorak menyaksikan adegan itu.

Air sungai memang lagi dalam karena hujan yang terus mengguyur. KLX 150 yang berbodi kecil itu hanya kelihatan ujung tengki-nya saja. Tak heran ada banyak motor yang minum air dan mati. TS 125 yang memakai ban lebih gede dari KLX 150-pun juga harus “menyelam”, akibatnya mesinpun jadi ngadat. KTM 250 yang berbodi jangkung memang bisa lolos dari sergapan sungai itu, meskipun harus kerja lumayan keras. Untuk ada RSG yang hari itu jadi pahlawan karena bolak-balik menyeberangkan motor. Kaki RSG yang jangkung, membuat dia agak leluasa menunggapi motor di tengah-tengah sungai di kawasan Dampit itu.

Aksi “berenang” di sungai membuat kami kelaparan. Kami pun memutuskan untuk makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Wuih nikmatnya makan siang di tepi sungai bersama sahabat! Di sela-sela makan siang, DW malah asyik berenang, katanya ingat masa kecil ketika masih tinggal di desa!

Usai makan siang kami melanjutkan perjalanan. Medan yang menghadang kami di depan juga lumayan licin dan menanjak tajam. Motorpun terpaksa dibantu dengan tenaga extra ‘dorong’. Karena curamnya tanjakan, roda depan motorpun terangkat ketika gas motor dibetot. Keringatpun mulai menetas di sekujur badan kami.

Lolos tanjakan extrim, kami membetot gas motor dengan kencang. Motorpun meliuk-liuk di sela-sela perkebunan tebu dan perladangan. Kami sempat berhenti sejanak di tengah perkebunan tebu untuk memberi kesemepatan kepada DW, RSG dan DS mencicipi manisnya tebu.

Tepat jam 13.30 kami sampai di Kota Dampit. Setelah menambah BBm di pom besin teedekat, kami melanjutkan perjalanan. Wuahh kali ini baru asyik, karena jalan berupa tanah yang penuh dengan gelombang ala super bowl. Kamipun “terbang” dengan motor. Puas rasanya, setelah “berenang”, kini saatnya motor kami “terbang”.

Di jalur penuh gelombang, gundukan dan ceruk tanah yang dalam itu, kami bersenang-senang dengan speed offroad. DW mempertotonkan skill-nya dengan tehnik menikung dan jumping ala motocross. ZN, RK dan RSG berusaha mengimbangi skill DW yang memang patut diacungi jempol itu.

Dua jam kemudian kami sampai di Tirtuyudo. Kami istrirahat sebentar sambil mencicipi bakso yang kebetulan lagi lewat. Lumayan bikin badan hangat setelah diguyur hujan di tengah perjalanan. Motor kamipun jadi tontonan penduduk desa setempat. Mereka sempat berujar, “pak nanti jangan lupa jumping ya”. Wah ternyata mereka suka juga dengan “atraksi” kami di atas motor itu.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Kami memacu motor dengan kencang agar tidak kemalaman di tengah hutan. Namun fisik MD yang cewek itu mulai drop, jadi beberapa kali kami harus berhenti menunggu dia. MD yang sempat terjungkal di turunan tajam itu patut diacungi jempol, meskipun cewek, dia sanggup mengikuti ritme offroad para cowok yang gila-gilaan itu. MD yang biasanya membawa CRF 150 itu sepertinya belum terbiasa dengan tenaga KLX 150 yang agak dibawah CRF 150.

Sinar matahari mulai redup, dan lama-lama menghilang. Malampun tiba. Untung semua motor kami dilengkapi dengan lampu yang terang benderang. Kamipun memacu motor secara beiringan dan agak melambat. Maklum sulit sekali membaca track ketika gelap gulita apalagi di tengah hutan.

Setelah kurang lebih 2 jam offroad di tengah kegelapan, akhirnya kami sampai juga di sebuah kampung yang masuk wilayah Kecamatan Poncokusumo. Kami lega dan puas. DW bilang, “wah offroad hari ini benar-benar memuaskan, mantap pol!”. Ya hari itu kami semua merasa puas telah bersenang-senang di medan offroad yang mengasyikan itu. Kamipun pulang ke rumah masing-masih dengan senyum kepuasan, meskipun mata terasa berat menahan beban mengantuk.

Jumat, 14 Mei 2010

KTM versi 2011



Meskipun tahun 2010 baru berjalan 5 bulan pabrikan KTM sudah mulai menyiapkan motor offroad alias dirt bike versi 2011. Versi 2011 ini terlihat begitu banyak perubahan dibanding tahun 2010. Perbedaan secara fisik bisa dilihat di frame dan cover. Untuk yang 360 cc disebut-sebut juga akan mengusung tehnologi injeksi, nasib karburator sepertinya akan tamat di masa mendatang.

Coba lihat foto-foto yang secara tidak sengaja berhasil dijepret oleh sobat kami. Wow keren sekali! Belum jelas kapan akan mulai dipasarkan ke penggemar dirt bike warna orange ini.

Minggu, 28 Maret 2010

PERSYARATAN MENJADI ANGGOTA DAN KODE ETIK CHEELA MOTOADVENTURE



Sobat penggemar trail adventure,
Ada banyak sobat-sobat yang kirim email ke kami untuk menanyakan tentang cara bergabung dengan CHEELA Motoadventure. Untuk itulah kami membuat tulisan ini agar bisa dimengerti dan dimaklumi tentang tata cara untuk bergabung dengan CHEELA dan juga kode etiknya.

CHEELA adalah komunitas kecil penggemar trail adventure di Jawa Timur yang mengkedepankan rasa aman, nyaman dan ramah lingkungan. CHEELA dirancang untuk tidak besar secara kuantitas atau jumlah anggotanya, namun kami lebih mengkedepankan “kualitas”. Sekretariat CHEELA adalah di Malang, Jawa Timur.

Nama CHEELA itu diambil dari nama latin seekor burung elang yaitu Spilornis cheela yang di Jawa dikenal dengan nama Elang Bido. Kami ingin bebas berpetualang seperti halnya Elang Bido yang terbang tinggi mengeskplorasi keindahan alam. CHEELA berdiri pada tahun 2000, namun sebelumnya bernama Malang Trail Family.

PERSYARATAN UNTUK GABUNG DENGAN CHEELA MOTOADVENTURE:
  • Mempunyai motor trail yang layak dan sehat untuk offroad, misalnya Suzuki TS 125, Kawasaki KLX 150, KLX 250, KTM, Honda CRF, Hyosung RX 125, Kawasaki KXF, Yamaha YZ, dll. Motor trail asli keluaran pabrikan itu diperbolehkan dimodifikasi dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan standarnya.
  • Pengendara mempunyai perlengkapan standar offroad CHEELA yaitu helm cross, sepatu offroad/cross, sarung tangan, goggle (kaca mata) dan pelindung lutut (knee protector).
  • Setuju dengan kode etik CHEELA
  • Mengisi formulir pendaftaran anggota
  • membayar iuran pokok/pendaftaran sebesar Rp 50.000
KODE ETIK CHEELA:
  1. Memakai kendaraan motor trail yang layak dan aman untuk offroad
  2. Bersikap santun, tidak arogan dan tidak kebut-kebutan di jalanan raya dan di jalan kampung
  3. Menghormati budaya dan adat istiadat masyarakat setempat yang dilalui atau dikunjungi selama offroad
  4. Memakai helm dan sepatu offroad selama mengendarai motor trail
  5. Tidak membuang sampah plastik dan putung rokok di hutan atau di medan offroad lainnya. Sampah plastik harus dibuang di tempat pembuangan sampah yang disediakan, kalau tidak ada maka sampah plastik tersebut harus dibawa pulang.
  6. Tidak mengambil/membeli tanaman atau satwa liar yang ada di hutan/gunung
  7. Tidak melintas atau melindas tanaman petani dengan sengaja.
  8. Tidak merusak alam yang ada. Yang dimaksud merusak alam misalnya mencoret-coret pohon, batu, pondok atau tebing. Biarkan alam tetap asri dan alami.
  9. Selama melakukan offroad dilarang memakai/mengkonsumsi narkoba dan atau minuman beralkohol.
  10. Tidak melakukan tindakan kriminal yang melanggar hukum

KETENTUAN UNTUK ANGGOTA TIM CHEELA:

  1. Seseorang dianggap sebagai anggota resmi tim CHEELA kalau sudah pernah ikut offroad 
  2. Anggota yang melanggar kode etik CHEELA bisa dipecat dari keanggotaan
  3. Anggota tetap tim CHEELA wajib memasang sticker CHEELA di helm yang dipakai untuk kegiatan offroad
Informasi lebih lanjut silahkan hubungi CHEELA Motoadventure di email: mlgtrail@gmail.com