Untuk foto-foto lainnya bisa dilihat di: http://www.facebook.com/album.php?aid=3112&id=100000498047308
Minggu (22/11/2009) pagi hujan turun dengan deras di Kota Malang. Sehari sebelumnya hujan juga terus mengguyur hingga malam hari. Ketika kebanyakan orang meringkuk dalam rumah ketka hujan deras, kami justru memutuskan untuk offroad ke lereng Gunung Kawi. Kami sudah membayangkan betapa asyiknya medan offroad yang akan kami hadapi nanti.
Tepat jam 9 pagi kami berangkat offroad di tengah rintik hujan yang masih setia membasahi bumi. Peserta yang ikut kebanyakan pakai KLX 150 yang warna hijau, hanya satu yang bewarna merah yaitu Honda CRF 150. Tidak sampai 5 menit kemudian kami sudah dihadang oleh jalur basah di tengah ladang. RK dan DW dengan mudah melalui jalur basah-basah itu. Namun tidak demikian dengan DM. Motor KLX 150 DM yang masih standar termasuk bannya itu terlihat kesulitan menaklukan jalur basah itu. Beberapa kali dia harus mencium tanah. Di jalur ini EW juga sempat terjungkal keras karena kaget ketika berpapasan dengan DW yang memacu kencang motornya di sebuah tikungan tajam.
Setelah 30 menit berjibaku dengan jalur basah yang sebetulnya tidak terlalu berat itu, kami mulai masuk jalur offroad menuju Gunung Kawi. Ini jalur maut! Karena jalur berupa tanah padas super licin dan tanjakan lumayan tajam. DM dan EW harus full keringat untuk memacu motornya. Aksi tarik menarik dan menggeret terpaksa kami lakukan di jalur licin ini. Ban motor DM yang masih standar pabrikan tidak mampu melibas track licin ini. Ban hanya mutar kencang tapi motor tidak jalan. Ban bentuknya sudah seperti donat!
Di jalur tanah padas yang licin itu kami bergotong royong membantu motor yang kerepotan naik. DW dan RK berulang kali menjadi “pemeran pengganti” untuk menaikan motor-motor sobatnya. Yang jelas di track ini keringat kami mengucur bersama derasnya hujan yang tidak kunjung berhenti. Karena super licin, di track ini motor yang dipacu kencang terlihat meliuk-liuk seperti sebuah tarian di atas lumpur!
Setelah sekitar 1 jam bergelut dengan tanah licin, kami sampai di hutan pinus. Kami istirahat sebentar untuk menarik napas, karena habis ini track yang akan kami hadapi tidak kalah serunya. Betul saja, di depan mata telah menghadang jalur sempit (single track) di tengah hutan pinus dengan tanjakan tajam. Jalur penuh lubang dalam dan lumpur.
Kami mencoba memacu motor di jalur single track itu. Namun sampai di tengah-tengah jalur, motor kehabisan tenaga. Ban yang sudah “mendonat” juga mempersulit kami untuk menaklukan track maut itu. “Aduh saya nyerah deh, lebih baik kita cari jalur alternative saja”, ujar DM dengan wajah penuh rasa putus asa. Akhirnya kami memutuskan untuk lewat jalur alternative yang lebih mudah. Kami akhirnya memutuskan turun ke kampung terdekat, yaitu kampung Sumberbendo.
Jam menunjukan pukul 12 siang ketika kami sampai di kampung. Kami memutuskan untuk makan siang sekaligus beristirahat sejenak. Tubuh dan motor kami yang penuh lumpur menjadi tontonan tersendiri bagi warga kampung di kaki Gunung Kawi itu..
Satu jam kemudian kami melanjutkan offroad. Hujan juga tidak kunjung berhenti. Jalur kali ini sedikit lebih lebar namun di beberapa titik memang super licin karena berada di bawah tajuk dan menanjak. Di jalur ini lagi-lagi DM dan EW kesulitan melaluinya. Kamipun bergotong royong lagi untuk membantunya. Inilah nikmatnya persahabatan, jadi susah senang ditanggung rame-rame gitu!
Berikutnya kami sampai di jalan Perhutani berupa jalan macadam (batu). Kami memacu motor dengan kencang, yah hitung-hitung sambil merontokan lumpur yang menempel di ban kami. Tak lama kemudian kami sampai di medan offroad berupa turunan tajam. Di jalur ini kami harus extra hati-hati karena jalur licin dan menurun tajam. DW yang bernapsu untuk segera melewati jalur ini akhirnya harus mencium tanah segar di hutan itu.
Sukses melewati jalur menurun itu kami belok kanan dan melanjutkan perjalanan. Tidak sampai 5 menit kemduian, kami sampai di jalur menanjak namun cukup lebar. Kami pun memacu motor dengan kencang dan meliuk-liuk. Lagi-lagi kami menyuguhkan tarian di atas lumpur! Wow betul-betul keren dan asyik pol!
Puas menari di atas lumpur, kami memutuskan menyudahi bersenang-senang di hari penuh hujan itu. Sekita jam 14.30 kami memutuskan untuk kembali ke kota dengan orang dan motor yang penuh lumpur. Tapi kami benar-benar puas hari itu meskipun badan pegal-pegal dihajar medan offroad yang gila-gilaan!