Minggu, 22 November 2009

TARIAN LUMPUR DI LERENG GUNUNG KAWI









Untuk foto-foto lainnya bisa dilihat di: http://www.facebook.com/album.php?aid=3112&id=100000498047308

Minggu (22/11/2009) pagi hujan turun dengan deras di Kota Malang. Sehari sebelumnya hujan juga terus mengguyur hingga malam hari. Ketika kebanyakan orang meringkuk dalam rumah ketka hujan deras, kami justru memutuskan untuk offroad ke lereng Gunung Kawi. Kami sudah membayangkan betapa asyiknya medan offroad yang akan kami hadapi nanti.

Tepat jam 9 pagi kami berangkat offroad di tengah rintik hujan yang masih setia membasahi bumi. Peserta yang ikut kebanyakan pakai KLX 150 yang warna hijau, hanya satu yang bewarna merah yaitu Honda CRF 150. Tidak sampai 5 menit kemudian kami sudah dihadang oleh jalur basah di tengah ladang. RK dan DW dengan mudah melalui jalur basah-basah itu. Namun tidak demikian dengan DM. Motor KLX 150 DM yang masih standar termasuk bannya itu terlihat kesulitan menaklukan jalur basah itu. Beberapa kali dia harus mencium tanah. Di jalur ini EW juga sempat terjungkal keras karena kaget ketika berpapasan dengan DW yang memacu kencang motornya di sebuah tikungan tajam.

Setelah 30 menit berjibaku dengan jalur basah yang sebetulnya tidak terlalu berat itu, kami mulai masuk jalur offroad menuju Gunung Kawi. Ini jalur maut! Karena jalur berupa tanah padas super licin dan tanjakan lumayan tajam. DM dan EW harus full keringat untuk memacu motornya. Aksi tarik menarik dan menggeret terpaksa kami lakukan di jalur licin ini. Ban motor DM yang masih standar pabrikan tidak mampu melibas track licin ini. Ban hanya mutar kencang tapi motor tidak jalan. Ban bentuknya sudah seperti donat!

Di jalur tanah padas yang licin itu kami bergotong royong membantu motor yang kerepotan naik. DW dan RK berulang kali menjadi “pemeran pengganti” untuk menaikan motor-motor sobatnya. Yang jelas di track ini keringat kami mengucur bersama derasnya hujan yang tidak kunjung berhenti. Karena super licin, di track ini motor yang dipacu kencang terlihat meliuk-liuk seperti sebuah tarian di atas lumpur!

Setelah sekitar 1 jam bergelut dengan tanah licin, kami sampai di hutan pinus. Kami istirahat sebentar untuk menarik napas, karena habis ini track yang akan kami hadapi tidak kalah serunya. Betul saja, di depan mata telah menghadang jalur sempit (single track) di tengah hutan pinus dengan tanjakan tajam. Jalur penuh lubang dalam dan lumpur.

Kami mencoba memacu motor di jalur single track itu. Namun sampai di tengah-tengah jalur, motor kehabisan tenaga. Ban yang sudah “mendonat” juga mempersulit kami untuk menaklukan track maut itu. “Aduh saya nyerah deh, lebih baik kita cari jalur alternative saja”, ujar DM dengan wajah penuh rasa putus asa. Akhirnya kami memutuskan untuk lewat jalur alternative yang lebih mudah. Kami akhirnya memutuskan turun ke kampung terdekat, yaitu kampung Sumberbendo.

Jam menunjukan pukul 12 siang ketika kami sampai di kampung. Kami memutuskan untuk makan siang sekaligus beristirahat sejenak. Tubuh dan motor kami yang penuh lumpur menjadi tontonan tersendiri bagi warga kampung di kaki Gunung Kawi itu..

Satu jam kemudian kami melanjutkan offroad. Hujan juga tidak kunjung berhenti. Jalur kali ini sedikit lebih lebar namun di beberapa titik memang super licin karena berada di bawah tajuk dan menanjak. Di jalur ini lagi-lagi DM dan EW kesulitan melaluinya. Kamipun bergotong royong lagi untuk membantunya. Inilah nikmatnya persahabatan, jadi susah senang ditanggung rame-rame gitu!

Berikutnya kami sampai di jalan Perhutani berupa jalan macadam (batu). Kami memacu motor dengan kencang, yah hitung-hitung sambil merontokan lumpur yang menempel di ban kami. Tak lama kemudian kami sampai di medan offroad berupa turunan tajam. Di jalur ini kami harus extra hati-hati karena jalur licin dan menurun tajam. DW yang bernapsu untuk segera melewati jalur ini akhirnya harus mencium tanah segar di hutan itu.

Sukses melewati jalur menurun itu kami belok kanan dan melanjutkan perjalanan. Tidak sampai 5 menit kemduian, kami sampai di jalur menanjak namun cukup lebar. Kami pun memacu motor dengan kencang dan meliuk-liuk. Lagi-lagi kami menyuguhkan tarian di atas lumpur! Wow betul-betul keren dan asyik pol!

Puas menari di atas lumpur, kami memutuskan menyudahi bersenang-senang di hari penuh hujan itu. Sekita jam 14.30 kami memutuskan untuk kembali ke kota dengan orang dan motor yang penuh lumpur. Tapi kami benar-benar puas hari itu meskipun badan pegal-pegal dihajar medan offroad yang gila-gilaan!

Senin, 16 November 2009

CATATAN OFFROAD KE JAJANG, MALANG




Minggu (15/11/2009) komunitas CHEELA memutuskan untuk offroad ke Jajang, Malang. Pilihan ini diambil karena mumupung baru awal hujan sehingga medannya akan asyik pol, mengingat medan offroad di Jajang itu penuh dengan superbowl alami ala supercross. Dijamin pantat akan jarang nempel di jok motor karena harus berdiri terus dihajar medan offroad yang luar biasa mantapnya!

Tim yang berangkat adalah 4 orang yaitu RK, DW, ZN dan MD. Masing-masing memakai tunggangan KTM 200 XC, Honda CR 125, Kawasaki KLX 150 dan Honda CRF 150. Kami berangkat jam 09.00 dengan titik temu di depan patung pesawat Pakis. Kami agak terlambat berangkat karena harus menunggu ZN yang sepertinya hari itu bangun kesiangan.

Jam 09.30 kami menurunkan motor dari mobil pick up dan langsung geber gas motor ke jalur medan offroad. Lima menit kemudia kami sudah dihadang dengan medan offroad yang sedikit menanjak dan penuh dengan cekungan. Motor kami menari-nari dengan lincah. KTM 200 XC dan CR 125 melesat jauh meninggalkan KLX 150 dan CRF 150. MD yang satu-satunya anggota cewek dengan penuh percaya diri dengan CRF-nya mengimbangi tarian para cowok di medan offroad itu.

Medan berikutnya berupa super bowl ala supercross sepanjang 2 km. Motorpun terbang, yah meskipun terbangnya tidak tinggi-tinggi amat sih, paling maksimum 2 meter. Tapi ini sudah membuat kami puas pol, karena bisa memacu andrenalin kami sampai batas paling tinggi

Aksi loncat dan terbang itu memakan korban. Motor Honda CR 125 punya DW ban depannya bocor akibat dipakai aksi loncat-loncat dan ban depan motor DW seharusnya memang sudah waktunya diganti. Ayo bro DW segera ganti tuh ban motor yang sudah pada ompong……………..Untungnya ada tukang tambal ban di kampung terdekat. Sekitar 30 menit kemudian ban sudah kelar ditambal dan kami melanjutkan perjalanan.

Jalur offroiad kali ini berada di tengah-tengah ladang dan tepi hutan. Wow betul-betul keren dan asyik medannya. Medan yang mengandung pasir dan naik turun itu betul-betul memuaskan kami yang gila offroad. Tepat jam 11 kami sampai di rumah petani sahabat kami yaitu Pak Suliat. Kami disambut hanggat Pak Sulia dan keluarga. Kami disuguhi kopi dan pisang sebesar lengan. Wah yang gila, ZN yang berbadan kurus itu menyikat habis 6 buah pisang! Kata ZN, “wah enak pol pisangnya, nggak kayak pisang yang biasanya kita makan di kota”

Puas nyeruput kopi dan pisang, kami melanjutkan offroad kea rah hutan. Jalan juga masih full offroad. Namun baru berjalan 30 menit kami melihat ban belakang CRF 150 yang dinaiki MD bocor tertusuk paku. Terpaksa kami menggiring motor ke tukang tambal ban yang ada di kampung. Kami bercanda, “ini rejekinya tukang tambal ban, kayaknya dia berdoa terus semoga ada ban yang bocor!”

Sambil nunggu ban ditambal, kami disungguhi apel oleh petani yang menjadi sahabat RK. Kalau offroad sama RK di Jawa Timur memang banyak tuh para petani yang kenal baik dengan RK. Maklum RK memang doyan keluyuran kampung pakai motor trail sejak belasan tahun silam.

Sekitar 45 menit aksi tambal ban selesai. Kami kemudian melanjutkan offroad ke arah hutan. Medan offroad menanjak terus dan penuh super bowl. Sekitar jam 13.00 kami sampai di tepi hutan. Kami memutuskan makan siang di sebuah pondok petani yang berada di atas bukit. Sedap sekali makan siang di tepi hutan!

Usai maka siang dan istirahat sejenak kami memutuskan melanjutkan offroad dengan mengulang jalur tadi. Kami membetot gas motor dengan kuat. Motorpun meliuk-liuk di jalur offroad yang kini banyak turunannya. Yang bikin asyik, medan offroad yang kami lalui itu basah akibat hujan yang baru turun. Jalur jadi tidak berdebu dan kami bisa membetot ga lebih kencang lagi. Beberapa titik ada banyak kubangan yang berisi air. Hati-hati bos, jangan sampai tercebur kubangan tuh!

Jam di tangan menunjukan pukul 15.00. Akhirnya kami memutuskan menyudahi offroad yang penuh dengan ceria di hari yang mulai diguyur hujan itu. Motor kembali dinaikan mobil dan 10 menit kemudian hujan turun dengan derasnya dari langit. Yah hitung-hitung sambil mencuci motor kami yang penuh dengan debu dan cipratan lumpur!