Selasa, 21 April 2009

Review KLX 150S




Review KLX 150S

KLX 150S yang banyak ditunggu oleh penggemar motor trail Indonesia ternyata tidak sehebat yang diharapkan. Paling tidak itu hasil pengamatan kami waktu melihat KLX 150S yang sudah dipajang di dealer Kawasaki Malang (21/4/2009).

KLX 150 yang berbasis KLX 140 itu ternyata tidak sama persi dengan KLX 140 versi Amerika atau Jepang, paling tidak dalam hal kualitas barang. Yang terlihat sama persis adalah sektor mesin dan suspensi. Sedangkan rangka, arm, pelek, ban, dan stang berbeda jauh kualitasnya dengan KLX 140 versi USA. Jika arm dan pelk KLX 140 versi USA terbuat dari alloy yang ringan namun kuat, untuk KLX 150 versi Indonesia itu terbuat dari besi.

Las di rangka KLX 150 juga terlihat kasar, beda dengan yang versi USA atau Jepang. Ban KLX 150 memakai merk lokal IRC, sedangkan versi USA pakai Dunlop yang versi offroad. Maklum untuk KLX 150S dirancang untuk dual purpose, sedangkan KLX 140 versi USA itu murni versi offroad.

Lampu depan KLX 150 juga terkesan kedodoran alias kebesaran, seperti dipaksakan. Modelnya sih meniru KLX 450R. Cuma karena body KLX 150 adalah kecil, maka pemakaian lampu depan ala KLX 450R terasa kurang pas. Stang juga masih terbuat dari besi dan tanpa plang. Bentuknya terlihat janggal untuk ukuran motor trail yang diklaim sebagai tunggangan para petualang.

Ring roda belakang KLX 150 adalah 16, sedangkan depan 19. Trail ini sepertinya cocok untuk orang yang punya ketinggian tidak lebih dari 160 cm. Lebih dari itu, motor akan terlihat kekecilan. Kesannya kalau KLX 150 ini terlihat masih sedikit lebih kecil dibanding TS 125.

Dengan pengurangan spek tersebut, wajar kalau harga KLX 150 ”hanya” sekitar Rp 24 juta. Beda jauh dengan versi offroad USA/Jepang yang harganya hampir US$3000 atau sekitar Rp 35 jutaan. Sepertinya kawasaki Indonesia berusaha menekan biaya produksi, namun dengan menurunkan kualitas, dengan harapan harga KLX 150 lebih terjangkau bagi kebanyakan konsumen Indonesia dibanding kakaknya KLX 250S yang penjualannya tidak terlalu spektakuler.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, KLX 150 pantas disambut hangat bagi penggila motor trail. Tinggal siapkan dana sekitar Rp 10 juta untuk upgrade KLX 150S menjadi versi offroad yang mumpuni untuk diajak berlumpur ria. Tapi yang jelas mesin dan suspensi KLX 140 yang dijejalkan di KLX 150S itu sudah terbukti kehandalannya, jadi bisa diandalkan di medan offroad. Selamat atas keberanian Kawasaki Indonesia memasarkan trail KLX 150 ala Indonesia ini!


Minggu, 05 April 2009

RIDE N" ROLL







Catatan offroad Coban Rondo-Gunung Banyak (5/4/2009)

Jam 09.00 pagi tepat kami meninggalkan rumah RK yang jadi meeting point untuk offroad ke Coban Rondo, Batu, Jawa Timur. Lima menit meninggalkan rumah RK, kami langsung dihadang track becek dengan tikungan tajam. Baru saja jalan, MD sudah terjungkal dari motor CRF 150-nya. Untungnya MD tidak jatuh terlalu keras.

Di offroad kali ini kami harus ’ngemong’ teman baru yang gabung dengan komunitas gila trail adventure ini. Teman baru itu adalah RL dengan tungangan KLX 250S yang masih kinyis-kinyis dan standar. Hari ini adalah offroad pertama RL (moga-moga aja dia tidak kapok ikut kami yang kalau offroad sering-sering nyari jalur aneh-aneh).

Tiga puluh menit kemudian kami mulai memasuki jalur basah. Track yang berupa tanah padas dan semalam diguyur hujan, benar-benar menjadi ujian bagi kami, khususnya RL yang belum pengalaman. Di track ini RL harus jatuh bangun bersama KLX 250. Keringatpun mulai bercucuran dari badan RL yang gempal. Beberapa kali terpaksa KLX 250 punyanya RL pindah joki. Jokinya siapa lagi kalau bukan RK yang sudah kenyang asam garam offroad. Apalagi trail kawasaki bukan barang baru bagi RK. RK sudah biasa mengendalikan kuda besi KXF dan KLX yang dua-duanya keluaran kawasaki itu.

Lolos dari medan basah (kalau basah dalam arti banyak uangnya sih kita suka amat, nah ini basah betul-betul basah), track menantang lainnya menanti kami. Ada track sepanjang 200 meter menaiki bukit curam dengan lebar track yang sempit, tidak lebih dari 50 cm!

Di track inilah adegan motor terbang dan mengelinding alias rolling benar-benar jadi pemandangan yang menghibur bagi petani yang ada di sekitar track. CRF 150 punya MD benar-benar terbang dan akhirnya terbalik 360 derajat. KLX 250 punya RL juga terjungkal di track ini.Bahkan RL harus rela ditindih motornya.

Adegan motor terbang dan terbalik ini justru membuat kami tertawa-tawa. Memang semuanya orang gila tuh, masak jatuh bangun malah senang-senang. Honda CRF 150 punya MD yang paling sering terangkat tinggi roda depannya dan terbalik. ”Untungnya motor trail asli, coba kalau motor modif udah patah dan hancur lebur tuh motor”, komentar TT yang menunggang TS. ”Makanya di komunitas CHEELA itu motor trail yang ikut harus motor keluaran pabrik alias trail asli, bukan motor biasa yang kemudian dimodif jadi trail”, tambah RK yang d track ini lagi-lagi jadi joki pengganti.

Jam 12 siang kami lolos dari track maut itu. Kami kemudian sampai di Desa Selorejo dan mampir di warung rujak. Sejam kami melakukan recovery alias istirahat. Tampang motor kamipun sudah nggak karuan lagi. KLX 250 punya RL yang kemarin dielus-elus kini sudah benar-benar tampang trail, sudah penuh tanah tuh. Stang juga agak bengkok karena keseringan jatuh. Stang standar KLX 250 memang kurang bagus kualitasnya, gampang bengkok. Jadi kalau ada yang punya KLX 250 dan mau dipakai offroad, buruan ganti dulu stangnya dengan yang lebih kuat seperti stang keluaran Renthal.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Coba Rondo lewat jalur offroad. Di jalur ini kami relatif mudah melibasnya. Tanah yang agak kering membantu kami enjoy aja lewat dtrack di tengah hutan ini. Sekita jam 2 siang kami sudah sampai di Coban Rondo.

Perjalanan langsung dilanjutkan ke Gunung Banyak lewat jalur Pandansari Pujon. Nah di track inilah tenaga kami benar-benar di kuras. Ada track sepanjang 4 km selebar tidak lebih dari semeter dengan jurang menganga di sebelah kanan. Track super licin karena habis hujan sehari sebelumnya. Yang bikin sulit adalah track banyak bekas roda motor petani yang dililit rantai, jadi mau ngak mau kami harus mengikuti bekas track petani itu, karena tidak ada pilihan jalur lain. Jalurnya sangat sempit sekali. Terlalu ke kanan akan masuk jurang, dan kalau ke kiri nyangkut tebing.

Di track Gunung Banyak ini JN, MD, RL dan TT harus gantian mencium tanah. MD yang cewek itu sampai kehabisan tenaga. ”Aduh kepalaku mulai pusing nih, istirahat dulu ya”, kata MD. Sampai jam 16.30 kami masih berjibaku di track Gunung Banyak. Hari mulai gelap dan kabutpun mulai turun. RL puna mulai berkali-kali melihat jam tangan. Santai bos, jam tangannya ngak mungkin hilang he he.

Akhirnya kami bisa melewati track jurang itu, meskipun dengan tenaga yang mulai menipis. Meskipun tenaga super tipis, JN masih ketawa ketiwi aja. Katanya sih untuk menghilangkan stress, biar nggak terjungkal ke jurang. Kalau ada JN memang kita bawaannya tertawa aja kalau offroad.

Gimana RL apa nggak kapok ikut offroad kami?” Dengan tenaga yang tersisa RL menjawab mantap, ”saya siap offroad lagi!”