Rabu, 21 Januari 2009

Terkenalnya Rally Dakar


Marc Coma, Juara Dakar Rally 2009

Rally terganas di dunia, Dakar Rally yang ke-31 yang diadakan di medan offroad Amerika Latin telah usai. Rally Dakar ini menobatkan Marc Coma, pembalap asal Spanyol, sebagai pemenang kategori motor trail. Dari sekitar 250 bikers, yang berhasil sampai finis hanya 113 bikers. Hebatnya Rally Dakar 2009 ini masih didominasi oleh motor KTM. Tercatat ada 65 KTM yang mencapai finish. Ini artinya sekitar 60% motor didominasi oleh motor keluaran Austria itu. Marc Coma sendiri juga menunggangi KTM 690.

Untuk pertama kalinya Rally Dakar diadakan di luar Africa, yaitu di Argentina dan Chili. Alasan keamananlah yang membuat rally yang menyedot perhatian dunia itu dipindah ke kawasan Amerika Latin. Meski tidak diadakan di Afrika, namanya tetap menggunakan nama Dakar yang sudah identik dengan event ini. Rally Dakar di Argentina-Chile inipun tetap menjadi magnet orang-orang ’biker gila’ untuk berkompetisi dengan taruhan nyawa!

Rally Dakar 2009 menempuh jarak lebih dari 9000 km. Sebagian besar medan berupa gurun pasir. Ketahanan fisik biker dan motor menjadi sangat vital di ajang ini. Kermampuan navigasi juga turut menentukan ’survive’ tidaknya peserta rally yang di tahun ini menelan korban satu peserta itu.

Lucunya karena begitu terkenalnya nama Rally Dakar, sampai-sampai banyak penggemar motor trail di Kota Batu, Jawa Timur, memakai istilah ”Ndakar” untuk kegiatan adventure motor trail. Jadi jangan kaget kalau anda memakai motor trail di hutan di sekitar Batu dan anda ketemu orang kemudian disapa, ”Mas Ndakar kemana?”

Sabtu, 03 Januari 2009

Berlumpuria di Tahun Baru


Ketika kebanyakan orang merayakan tahun baru dengan pergi ke pusat-pusat keramaian atau juga tempat wisata, hal berbeda dilakukan oleh empat orang penggila motoadventure. DW, RK, AD dan TT dari komunitas CHEELA justru menghabiskan libur tahun baru dengan main lumpur di atas motor trail di lereng Gunung Arjuna, Malang.

1 Januari 2009, keempat orang tersebut sepakat untuk bertemu di depan Pasar Karangploso, Kabupaten Malang sebagai meeting point. Tepat jam 09.15 semuanya sudah berkumpul dengan tunganganya masing-masing. DW dengan Honda CR 125, RK dengan KLX 250, AD dengan Monstrac 200X dan TT masih setia dengan TS 125.

Merekapun memacu motornya dengan santai di jalan raya menuju medan offroad di atas peternakan ayam Wonokoyo yang berada di lereng Arjuna. Lima belas menit kemudian, tim sudah sampai di penghabisian aspal dan siap untuk beroffroad ria. Gila, ternyata medannya super licin! Tanah padas yang diguyur hujan membuat ’ban tahu’ yang menancap garang di motor sepertinya kurang bisa bekerja maksimal. Harus punya jam terbang tinggi untuk menaklukan tanah padas super licin tersebut.

Track pertama itu memakan korban. DW tergelincir dan rebah bersama motornya (mungkin DW masih ngantuk habis malam tahun baruan, jadi masih perlu rebahan di tanah he he he). Ban belakang CR DW yang sudah mulai gundul tidak mampu menggigit tanah padas Gunung Arjuna itu.

Setelah melewati tanah padas yang licin, tim disambut oleh track lumpur! Ya benar-benar lumpur. Track semakin hancur lebur karena bekas digiling oleh roda jeep milik petani yang barusan panen sayur. Track lumpur ini benar-benar mengursa tenaga (ya tenaga orangnya, ya juga tenaga motornya).

RK yang memacu kencang KLX 250-nya untuk mengejar DW yang berada di depan terpaksa harus keluar extra tenaga karena motornya amblas ke dalam lumpur sedalam 0,5 meter. AD dan TT harus turun tangan untuk mengevakuasi motor RK ke jalur yang benar.

Peluh mulai membanjiri keempat orang tersebut. Jalur lumpur sepanjang 6 km itu benar-benar menguras tenaga, skill dan tentu saja bensin motor! CR DW yang rakus bensin itu sudah berulang kali menegak bensin. Untungnya DW selalu setia menggendong botol berisi bensin. Wualah bensin kog digendong-gendong, makanya ganti 4 tak mas he he he.

Lolos dari jebakan lumpur, tim bisa bernapas lega karena ketemu tanah berbatu. Ini pertanda sudah mendekati Kebun Teh Lawang sebagai final destination. Keempat orang ini pun memacu motornya dengan kencang. Rosek dan Dewa memimpin di depan. ”Lho kemana ya AD dan TT, koq ngak muncul-muncul?” tanya DW.

Selang 15 menit kemudian baru AD dan TT muncul. ”Kenapa?” tanya RK. ”jatuh mas, kepleset batu”, jawab AD sambil masih ngos-ngosan. Hasil dari “atraksi” AD tersebut membuat tangannya bengkak akibat menyangga Monstrac yang lumayan berat itu.

Tim melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh Lawang. Track di Kebun Teh Lawang lumayan licin, karena tanahnya tipe padas yang mengkilat terkena air dan lumut. DWpun harus meliuk-liuk mirip penari untuk mengendalikan motornya. Ban gundul dan motor yang tinggi membuat DW harus mengeluarkan ”jurus pamungkas” guna menaklukan track padas itu.

Akhirnya tim sampai di Kebun Teh dengan selamat, meskipun motor sudah tidak jelas lagi warna dan merk-nya. Yang terlihat adalah motor warna lumpur! Ya hampir sekujur body motor keempat orang tersebut nyasir tertutp lumpur. Bukan hanya motor, orangnyapun sama-sama kotor. Namanya juga dirt bike, ya mesti kotor dong.

Di kebun teh tim CHEELA bertemu para sobat dari IPTI Surabaya. Kedua komunitas penggemar motor trail ini saling berjabat tangan kompak. Ya namanya juga brothers alias saudara sesama penggemar motor trail ya mesti harus saling bersahabat. Para trail riders inipun tertawa terbahak-bahak menceritakan pengalaman serunya beroffroad ria. Benar-benar nikmat bertahun baru sambil bercanda dengan lumpur Arjuna. Sampai ketemu di track berikutnya!