Minggu, 16 Agustus 2009

NYUNGSEP KE JURANG!




Offroad motor roda dua memang olahraga yang penuh resiko dan rawan jatuh. Maklum jalur offroad di alam itu sering kali tidak terduga dan berubah-rubah rintangannya. Beda dengan sirkuit buatan manusia yang tracknya sudah jelas dan tidak terlalu banyak perubahan jalurnya.

Saah satu jalur offroad yang butuh pengalaman dan kosentrasi tinggi adalah ketika lewat single track dan jurang. Ketika Jalur sigle track tepi jurang itu harus extra hati-hati kalau tidak mau terjungkal ke jurang. Kejadian nyungsep ke jurang itu dialami Komunitas CHEELA yang offroad ke Pegunungan Kawi lewat jalur Dau (16/8/2009).

Jalur offroad ke Pegunungan Kawi, Kabupaten Malang itu memang banyak track yang sempit. Lebar track terkadang tidak lebih dari 30 cm. Selain sempit jalur tersebut juga tertutup rumput dan semak, sedangkan tepi kiri adalah jurang sedalam lebih dari 50 meter. Jalur yang tertutup rumput itu sering menipu, kelihatannya jalur lebar namun ketika dilindas ternyata itu sudah tepian jurang.

Tipuan jalur seperti inilah yang membuat MD harus nyungsep ke jurang. Untung MD tidak melorot jauh ke dalam jurang karena dia masih berpegangan pada rumput, namun dengan posisi kepala menghadap ke jurang yang menganga. Waktu MD nyungsep ke jurang, MD langsung berteriak-terika minta tolong sambil berpegangan di rumput. Begitu tahu MD nyungsep ke jurang, kontan anggota CHEELA yang lain berlarian berusaha membantu. Tanpa peduli nasib motornya, DMS dan RK langsung merebahkan motornya dan lari kea rah MD. Untung MD tertahan di semak dan rumput, kalau tidak bablas sampai ke bawah tuh!

Dengan semangat gotong royong, kami mengevakusi MD dan motornya. Untung bobot Honda CRF 150 punya MD terbilang ringan, jadi dengan mudah ditegakan kembali. Justru yang jadi korban adalah TS 125 punya RK yang lampu belakangnya pecah karena terbentur shockbeker depan KLX 150 punyanya ZN. Yang nyungsep CRF 150 tapi yang lampunya hancur lebur malah TS 125 punya RK yag masih standar! Yah namanya juga offroad, pasti resiko jatuh itu selalu ada. Untungnya kekompakan tim CHEELA itu sangat tinggi, jadi kita enjoy aja dan ber ha ha hi hi alias bersenang-senang dengan kejadian seperti itu.

Lolos jurang, kami mulai memasuki hutan yang masih alami. Kami istirahat sejenak di hutan yang adem itu, maklum habis ini jallur mulai “hot”. Yah setelah lewat jalur dalam hutan, kami mulai memasuki jalur yang agak extrim turunan dan tanjakannya. Jalur berbentuk zig zag, meyebrang sungai dan penuh akar pohon yang melintang. Di jalur ini beberapa motor harus dibantu didorong dan diangkat, karena motor nyangkut di akar yang melintang kayak ular phiton.

Keluar dari hutan kami mulai memasuki jalur offroad di tengah ladang dan perkebunan tebu. Jalur menurun dan masih basah. Di jalur sedikit basah alias nyemek-nyemek ini MD terjatuh lumayan keras.

Di jalur hutan pinus kami mulai memacu motor dengan kencang. RK, DW, ZN dan DMS membetot gas motor seperti balapan. Debu tebal berterbangan. Dan jarak pandang tidak lebih dari semeter. Dalam offroad ini RK yang pakai TS 125 “dikeroyok” 3 KLX 150. Hasilnya menunjukan kalau KLX 150 itu seimbang dengan TS 125. TS 125 hanya kalah di tanjakan panjang, namun di tikungan-tikungan tajam, TS 125 mampu memberikan perlawanan dalam “pertempuran” tersebut. ZN berkomentar, “wah ternyata meski pakai TS 125 RK masih bisa kencang tuh he he he”. Maklum RK sudah lama sekali tidak pakai “trail kecil” kayak TS. Biasanya sih dia pakai motor enduro dan SE yang segeda kuda.

Jam 12 tepat kami sampai di Kraton Gunung Kawi. Kami istirahat sambil makan siang. Sambil makan siang kami ngobrol ngalur ngidul melepas kepenatan. Suasananya gayeng sekali, apalagi ngobrolnya di bawah hutan pinus yang bikin badan segerrrr.

Setelah sejam istirahat, kami pulang ke Malang lewat jalur offroad lagi. Di jalur pulang ini ZN harus terjungkal. ZN yang berusaha menyusul DW dan RK itu harus jatuh karena jalur tertutup dengan debu super tebal.

Karena jalur pulang ini relatif lebar, kami melakukan speed offroad. Di jalurspeed offroad ini lagi-lagi RK dengan TS 125-nya dikepung 3 motor KLX 150. TT yang juga membawa TS 125 lebih memilih di belakang menjadi sweeper. Praktis RK dengan TS 125-nya harus “berjuang” sendirian melawan gempuran KLX 150. Aksi salip menyalip semakin memicu adrenalin kami di hari minggu yang cerah itu.

DMS yang masih baru gabung CHEELA boleh diacungi jempol. Dengan KLX 150 yang masih standar dia mampu mengikuti alur offroad kami.DMS terlihat berani dalam mengendalikan motor, meskipun pengalamannya naik trail masih minim. Safety riding DMS juga masih kurang, terutama soal sepatu. Tapi DMS sudah berjanji di offroad mendatang safety riding dia akan semakin sip! Karena safety riding itu menjadi perhatian utama di CHEELA. Selamat bergabung DMS, go adventure, go green!

Senin, 10 Agustus 2009

CATATAN OFFROAD KE NGANTANG



Minggu, 9 Agustus 2009 komunitas CHEELA offroad ke Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jalur offroad ini lumayan panjang yaitu 130 km dan 95% memang medan offroad, jadi bikin puas pol.


Tim berangkat jam 9 pagi dari Dau menuju air terjun Coban Rondo. Jalur ini sudah biasa kami lalui, jadi tidak ada banyak hambatan berarti. Jalur berupa tanah, beberapa berupa single track di tepi jurang. Yang harus waspada adalah debu yang luarrr biasa tebal. Di jalur penuh debu tebal ini membuat DW menabrak RK, ketika RK mengerem mendadak di persimpangan jalur. Lucunya RK yang naik trail gede merasa nggak terasa kalau ditabrak oleh KLX 150 yang dinaiki DW.

Sekitar jam 11.15 kami sudah sampai di Coban Rondo. Tanpa istirahat kami langsung membetot gas motor ke arah Gunung Kukup, Pujon. Nah di jalur ini mulai seru dan mengasah skill ber-offroad. Jalur berupa tanah di perbukitan dan banyak jebakan berupa lubang bekas roda motor petani di musim hujan. Jalurnya berkelok-kelok memutari gunung, mirip kayak jalur dari Kalibaru ke Sempolan Banyuwangi.

Beberapa jalur hanya selebar 60 cm dengan sisi kiri berupa jurang sedalam lebih dari 100 meter. Hii ngeri deh jika seandainya jatuh, ngak kebayang bagaimana cara evakuasinya! Lolos dari jalur tepi jurang, dari jauh kami melihat sungai yang airnya berkilau. Segarnya air sungai itu menjadi pendorong kami untuk segera sampai di sungai secepat mungkin.

Jam 12.30 kami sampai di Sungai Supit Urang. Karena sudah siang dan perut mulai bunyi minta diisi, maka kami memutuskan untuk istirahat makan siang. Wah nikmat sekali makan di bawah pohon pinus di tepi sungai. Makan di restoran mewahpun kalah nikmat dengan makan di alam seperti ini, meskipun lauknya hanya pepes plus kerupuk.

Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan. DW yang nggak sabaran memutuskan berada di depan. Hasilnya? Dia nyasar dan terpaksa harus dijemput oleh TT. Kayaknya DW nggak bakat jadi leader, karena selalu kesasar tuh he he he.

Jalur berikutnya juga harus extra hati-hati, karena masih menyusuri jurang dan sungai. Satu jam kemudian kami mulai memasuki hutan. Kicauan aneka jenis burung menjadi penyemangat kami untuk terus mengendalikan motor.

Jalur di tengah hutan ini menurun tajam dan sempit. Ada banyak lubang di tengah-tengah jalur. Di jalur ini MD yang menunggang Honda CRF150 harus terjungkal dari motornya 2 kali. Meskipun jatuh 2 kali, MD yang cewek itu tetap semangat tinggi untuk finish.

Jam 14.30 kami keluar dari hutan dan memasuki perladangan lagi. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar. DW nyeletuk, ”untung motor kita sehat semua ya, coba kalau bukan motor trail betulan, pasti sudah protol tuh motor”. Jalur yang kita lalui memang panjang dan banyak jebakan, motor dan orang yang sehat menjadi prasyarat wajib untuk melalui jalur ini.

Setelah istirahat 15 menit kami kemudian melanjutkan perjalanan. Jalur juga masih full tanah dan berkelok-kelok dan naik turun. Wuihhh pokoknya asyik sekali jalurnya. Di beberapa jalur motor juga bisa standing di gundukan tanah alami.

Tepat jam 16.30 kami akhirnya sampai di Ngantang. Berarti sudah 7,5 jam kami offroad. Mantap sekali meskipun tenaga mulai sedikit drop. Kami berhenti sebentar di sebuah toko untuk membeli minuman yang sudah menipis.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Malang. Kami memutuskan untuk lewat jalur offroad lagi, bukan lewat jalan aspal. Untuk menunju jalur offroad itu kami memang terpaksa harus melewati aspal sepanjang sekitar 5 km.

Sesuai dengan kebiasan DW, di jalur aspal ini dia memacu motornya dengan kencang. Meskipun jalan berkelok-kelok dan banyak kendaraan, DW terus aja membetot motornya sampai gas pol. DW memimpin di depan, padahal dia nggak tahu jalurnya. Hasilnya, dia tersesat lagi alias kebablas terus lewat jalan aspal. Padahal mestinya dia harus belok kanan untuk lewat jalur offroad menuju Coban rondo. Setelah kami tunggu 15 menit dia tidak kembali, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lewat jalur offroad karena hari sudah mulai gelap.

Di jalur offroad dari Pujon ke arah Coban Rondo ini juga asyik sekali. Ada banyak tikungan tajam dan tanjakan. Kami sempat salah ambil jalur menuju jalur buntu. Padahal kami sudah bersusah payah untuk melewati jalur dengan tanjakan ekstrim tersebut. Akhirnya dengan gotong royong kami memutar balik motor kami satu per satu. Motor harus diangkat karena jalur memang sangat sempit.

Setelah itu kami memacu motor dengan kencang. Motor meliuk-liuk di tengah hutan. Targetnya sebelum malam kami sudah harus keluar hutan. Dengan kosentrasi tinggi dan sisa-sisa tenaga kami terus memacu motor. Sekitar jam 17.30 kami keluar hutan di atas Kota Batu. Karena sudah mulai agak gelap, kami memutuskan untuk lewat jalur aspal menuju Malang. Puas rasanya kami bisa menuntaskan offroad seharian di hari itu.