Selasa, 21 Juli 2009

MERUBETIRI ADVENTURE (Bagian 1)



DAY 1

Tanggal merah di bulan Juli 2009 diisi oleh komunitas CHEELA untuk melakukan long adventure ke Taman Nasional Merubetiri, Banyuwangi, Jawa Timur pada tanggal 18-19 Juli. Petualangan ini diikuti 6 orang penggila motor trail yaitu RK, DW, EW, TT, MD dan ZN. Ini adalah adventure terpagi yang pernah kami lakukan, karena start dimulai jam 5 pagi dari Malang. Udara dingin menyergap kami yang meluncur menuju Kota Lumajang lewat jalur Gunung Bromo.

Perjalanan dari Malang ke Lumajang berjalan lancar. Meskipun jalan berupa aspal, namun lumayan mengasyikan karena jalan berada di tengah-tengah hutan. Jalan aspla tidaklah mulus, namun banyak lubang dan kerikil. Di jalur ini DW dan ZN hampir jadi korban karena mau nyusruk ke semak-semak di tikungan tajam yang menurun.

Melewati hutan Bromo, rombongan mulai memasuki jalan raya Lumajang untuk menuju Jember. Jalur ini benar-benar membosankan karena berupa aspla mulus dan banyak kendaraan gede-gede seperti bus dan truck. Motorpun dipacu lumayan kencang di jalanan ini. Spidometer KLX 250 yang dinaiki RK sempat menunjukan angka 120 km/jam.

Memasuki Gunung Kumitir yang berkelok-kelok, DW memacu KLX 150nya dengan gila-gilaan. Motornya meliuk-liuk ala supermoto. Anggota tim lainnya harus extra keras mengimbangi tarian supermoto DW di jalur ini. Apalagi jalur ini lumayan padat arus lalu lintasnya, jadi harus extra hat-hati kalau nggak mau nyungsep ke jurang atau dimakan bus!

Jam 13.00 wib rombongan memasuki Kalibaru dan makan siang di warung pinggir jalan. Menu khas jawa yang disajikan di warung ini benar-benar istimewa rasanya, apalagi disajikan secara prasmanan. Kata ZN yang makannya banyak meski tubuhnya kurus, ”sambalnya benar-benar mak nyos!”

Usai makan siang, kami meluncur ke Hotel Margoutomo di Kalibaru. Hotelnya nyaman dan bernuansa pedesaan. Sangat cocok bagi yang hobby petualangan. Di hotel kami disambut tim pendukung yang dikomandoi MD. MD yang biasanya ikut offroad dengan motor CRF 150 itu kini berperan sebagai tim pendukung yang membawa mobil untuk mengangkut perlengkapan cadangan offroad dan juga tenda.

Setelah istirahat 1,5 jam, kami bertiga yaitu RK, DW dan ZN memutuskan untuk mencoba medan offroad di arel perkebunan Kalibaru. Jam menunjukan 15.15 ketika kami berangkat menuju perkebunan Malangsari. Sementara TT memilih untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal di Kota Kalibaru dan EW lapor ke koramil setempat. Maklum nama terakhir ini adalah seorang tentara yang lagi gemar main garuk tanah dengan trail.

Lima belas menit kemudian kami bertiga sampai di dalam areal kebun cokelat. Track tanah berdebu menyambut kami. Ketiga motor langsung dibetot keras menuju perkebunan Pace yang menjadi tujuan kami di sore yang cerah itu. Debu berterbangan dan ketia orang itu saling pacu motornya. Mereka melakukan speed offroad! Gila, medannya luarrrrrr biasa asyik untuk main motor trail!

DW yang penuh keringat bilang, ”saya sangat puas sekali offroad hari ini, medannya benar-benar cocok untuk speed offroad. Puas deh setelah tadi pagi lebih banyak di jalanan aspal”. ZN juga mengamini apa yang dikatakan DW.

Jam 18.30 kami bertiga masuk hotel lagi. TT, MD dan EW harus menelan ludah mendengar cerita asyiknya kami bersenang-senang di medan offroad hari itu. TT dan EW sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk juga menjajal medan speed offroad itu.

MERUBETIRI ADVENTURE (bagian 2)









DAY 2

Sekitar jam 7 pagi kami meninggalkan hotel menuju Pantai Sukamade, Taman Nasional Merubetiri. Jalur yang kami paling adalah jalur yang full offroad lewat perkebunan Malangsari. Jalur ini sebelumnya sudah dirintis berdua oleh RK dan istrinya MD (lihat jurnal 7 hari adventure menembus 4 taman nasional).

Track di daerah perkebunan Malangsari lumayan asyik, berupa tanah dan kadang berbatu. Di jalur ini kami harus melewati 2 pohon yang tumbang dan melewati track sempit yang tertutup tanah longsor. KLX 150 dan TS 125 cukup mudah melewati rintangan ini, maklum motor dimensinya lumayan kecil. Tapi RK dengan KLX 250-nya harus dibantu untuk bisa lolos dari pohon tumbang dan tanah longsor itu. Motor harus sedikit direbahkan untuk melewati pohon tumbang itu.

Jam 11.30 kami sampai di London. Lho koq di London, apa kami kesasar ke ibukota Inggris? Serius bro, memang nama tempatnya adalah London, lebih lengkapnya sih namanya adalah London Sumatera. Keren ya namanya?

Di London Sumatera kami mampir ke warung kecil untuk mencicipi es campur yang segeeer sekali. Dinginnya es campur itu menyegarkan badan kami yang sudah penuh peluh setelah berpacu di medan offroad Malangsari. Harga es campurnya murah banget, hanya Rp 1000 per mangkok!

Dari London kami melanjutkan perjalanan ke Alas Wangi. Jalur kali ini adalah di tengah hutan rimba. Jalannya sebetulnya lebar, cuma karena jarang dilalui maka jalur yang tersisa hanya seperti jalan setapak. Kami memacu motor dengan santai di jalur ini, yah kita sambil menikmati indahnya alam.

Jam 12.30 kami sampai di air terjun Alas Wangi. Kami memutuskan untuk istirahat makan siang. TT dan DW langsung buka baju memamerkan badannya yang kurus he he he. Suasana air terjun yang sejuk memang membuat kami ingin buka baju biar merasakan nikmatnya hembusan angin dan percikan air terjun.

Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Sarongan. Jalur masih berada di tengah hutan dan disambung perkebunan cokelat dan karet. Dari Sarongan kami memacu motor dengan kecepatan sedang menuju Pantai Sukamade.

Nah jalur menuju Pantai Sukamade ini yang seru habis. Jalur sepanjang 15 KM berupa batu-batu minimal sebesar kepala kerbau dan bergelombang. Batu-batu itu tidak semuanya menancap kokoh di tanah, namun banyak yang lepas. Jalur ini benar-benar menghajar kami dan motor. Tangan dan sekujur tubuh dibuat bergetar hebat.

Gilanya, justru di jalur berbatu yang naik turun itu kami memacu motor dengan kencang. RK dan ZN saling salip menyalip layaknya sedang berlomba. Lolos dari jalur batu, kami memasuki jalur tanah berdebu. Disini DW menunjukan nyalinya. Dia menggeber habis motornya dan meninggalkan debu tebal bagi lainnya.

Setelah menyebrang 2 buah sungai, kami mulai memasuki wilayah Pantai Sukamade, Badan sudah terasa remuk dan keringat meleleh seperti air pancuran. Akhirnya sekitar jam 14.00 kami tiba di Pantai Sukamade dengan selamat.

Sorenya kami memutuskan untuk jalan-jalan menikmati indahnya Pantai Sukamade dengan berjalan kaki. Kami menyisir pantai sambil bercerita tentang kehidupan penyu yang unik. Pantai Sukamade adalah pantai yang dilindungi karena menjadi tempat bertelurnya penyu.

DAY 3

Pagi ini kami terlambat bangun. Jam sudah menunjukan pukul 5 pagi, padahal semula kami ingin bangun jam 4 pagi. Tidur kami rupanya sangat lelap setelah seharian bekerja keras menaklukan medan offroad yang ganas di jalur ke Sukamade. Akibatnya bangun jadi molor.

Setelah benah-benah, tepat jam 7 kami berangkat meninggalkan Pantai Sukamade. Jalur pulang yang kami pilih adalah lewat Glenmore. Jalur ke Glenmore ini benar-benar menjadi ajang bagi kami untuk memacu motor sekencang mungkin. Jalur berupa tanah selebar sekitar 12 meter sepanjang 8 Km itu benar-benar tempat yang pas untuk speed offroad. Apalagi jalur itu relatif sepi.

Di jalur tersebut RK melesat jauh meninggalkan teman-temannya. Kecepatan motor di medan offroad itu tembus di angka 130 km/jam. Wah benar-benar terasa seperti melayang!

Dari Glenmore kami melanjutkan perjalanan lewat jalan umum alias aspal menuju Lumajang. Sebuah perjalanan yang membosankan. Baru setelah lewat Lumajang kami bisa tersenyum lagi karena jalurnya berkelok-kelok di tengah hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sekitar jam 16.00 kami sampai dengan selamat di Kota Malang. Wuihh lega rasanya bisa menuntaskan petualangan 3 hari itu. Kami semua benar-benar puas puas puas dengan petualangan ke Merubetiri itu.

Petualangan 3 hari ke Merubetiri itu membawa ”oleh-oleh” bengkoknya pelk roda TS milik TT dan DW. Pelk TS milik TT lumayan parah bengkoknya, sedangkan pelk KLX 150 punya DW hanya bengkok sedikit. Meskipun pelk-nya bengkok namun KLX 150 telah membuktikan diri sebagai motor trail yang handal untuk dipakai berpetualang!

Satu hal yang membuat kami bangga dalam petualangan ini adalah kami sepaat untuk tidak membuang sampah plastik di hutan! Jika tidak ada tempat sampah, maka kami mengantongi sampah plastik itu. Kami mencoba berpatisipasi dalam penyelamatan lingkungan dengan tidak membuang sampah plastik di hutan dan di sepanjang jalan yang kami lalui. Go adventure! Go green!

Selasa, 07 Juli 2009

7 HARI ADVENTURE MENEMBUS 4 TAMAN NASIONAL




Menghabis-kan waktu 7 hari dengan menempuh jarak total 702 Km, Made Astuti bersama sang suami berpetua-lang dengan motor trail menembus 4 taman nasional di Jawa Timur. Angka 702 Km itu adalah hanya jarak yang ditempuh dengan motor trail, jika ditambah dengan ketika motor trail diangkut mobil maka jarak totalnya menjadi sekitar 1500 Km.

Taman nasional yang dikunjungi tersebut adalah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru-Lumajang, Merubetiri-Jember, Alas Purwa-Banyuwangi dan Baluran-Situbondo. Meskipun berstatus cewek, Made Astuti yang ikut komunitas CHEELA itu telah membuktikan suskes menembus hutan belantara yang tersisa di Jawa Timur itu pada tanggal 29 Juni-4 Juli 2009.

Petualangan itu juga sekalian untuk membuktikan kehandalan motor trail Kawasaki. Made memakai KLX 150S dan sang suami pakai KLX 250S. Medan offroad yang ditempuh sangat bervariasi, mulai dari perkebunan karet, jalan berbatu, sungai, hingga hutan belantara. Betul-betul hutan alami yang masih penuh dengan satwa langka, bukan hutan buatan manusia.

Selama perjalanan mereka menemukan indahnya berbagai jenis satwa liar yang hidup bahagia di hutan. Ada lutung, burung merak, biawak, berbagai jenis burung, elang, monyet, dll. Sebuah petualangan yang luar biasa karena bisa menikmati kekayaan alam yang menakjubkan.

Perjalanan dimulai dari Malang menyisiri Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tembus ke Kota Lumajang dan finish di Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai Afrika-nya Indonesia. Medan offroad sebenarnya masuk kategori sedang (intermediate), namun di beberapa titik benar-benar menguras energi karena ada banyak tanah longsor dan pohon tumbang. Apalagi jumlah tim hanya 2 orang, resikonya keringat dan energi seperti diperas habis!

Jalur yang paling menguras tenaga itu adalah jalur dari Malangsari menuju Merubetiri sepanjang 91 Km. Menurut sejumlah penduduk, dulunya jalur tersebut cukup lebar, namun karena tanah longsor dan banyak pohon tumbang, katanya sudah hampir 1,5 tahun ini jalan tersebut tidak pernah lagi dilalui motor. Boleh dibilang Made dan suami adalah orang pertama yang menembus lagi jalur tersebut dengan motor. Karena banyak pohon tumbang dan nggak mungkin pohon itu diloncati, motor terpaksa harus ditidurkan dan kemudian diseret. Aksi seret menyeret motor inilah yang membuat lemas mas, namun bikin puas! Puas setelah mampu melewati rintangan itu.

Yang membuat petualangan ini semakin seru adalah karena rute belum dikenal, sehingga Made dan suami harus sering bertanya kepada peladang yang ada di sekitar jalur. Susahnya para peladang itu tidak bisa berbahasa Indonesia atau Jawa. Ketika mereka ditanya, ”jalan ini menuju kemana?” Mereka menjawab memakai bahasa Madura! Wah jadi puyeng!

Selama dipakai 7 hari adventure, motor KLX 150 dan 250 yang ditunggangi Made dan suami sama sekali tidak ada gangguan alias lancar jaya. Konsumsi BBM juga terbilang irit, 1 liter sanggup menempuh sekitar 32 Km. Satu-satunya ”kendala” KLX 150S adalah susah banget mengejar KLX 250S di track panjang. Maklum beda cc. Tapi dua-duanya adalah motor trail yang asyik untuk touring adventure.