Minggu, 22 Februari 2009

KLX 250 versus KXF 250




KXF 250 VS KLX 250

Mei tahun lalu Kawasaki Motor Indonesia mengeluarkan motor trail KLX 250S. Dari pabrikannya KLX 250 ini dikategorikan motor dual purpose alias motor yang bisa digunakan di jalanan aspal (on road) dan jalanan offroad (tanah). Dalam forum khusus KLX yang berbasis di USA, disebutkan kalau yang dimaksud dual purpose itu artinya 60% adalah on road dan 40% adalah offroad. Nah bagaimana kalau KLX 250S dipakai untuk 100% offroad?

Penasaran akan performa KLX 250S di medan offroad, kami mencoba membandingkan kemampuan KLX 250 di medan offroad dengan Kawasaki KXF 250. KXF 250 adalah monster di track motocross. Secara spec memang KXF 250 adalah tipe kompetisi sedangkan KLX 250 adalah tipe adventure. Namun tidak ada salahnya kami mencoba membandingkannya motor berbeda kelas ini.

Medan test yang kami pilih adalah jalur Gunung Bromo lewat Taji. Medan ini dipilih karena di jalur sangat lengkapnya tracknya mulai dari jalur berbatuan (makadam), tanah, pasir dan sedikit aspal. Tim tester adalah DW dengan KXF 250 dan RK dengan KLX 250S yang baru 3 bulan keluar dari dealer.

Di track awal yang penuh dengan bebantuan, 2 motor dipacu kencang. Track batu alias makadam sepanjang sekitar 3 km itu dengan mudah dilibas oleh KLX 250. Suspensi KLX yang lebih soft membantu RK bisa dengan leluasa menggeber motornya. Spedometer di KLX 250 sempat menunjukan angka 95 di medan batu di tengah perkebunan tebu tersebut. Sementara DW dengan KXF 250 tertinggal di belakang. Maklum suspensi KXF adalah dirancang untuk motocross yang penuh aksi jumping, jadi dibuat agak keras. Suspensi model motocross ini terasa kurang nyaman di bebatuan.

Lepas dari track batu, kami memasuki jalan aspal yang menanjak meliuk-liuk. Power KXF 250 yang ganas membuat roda ban depan sering terangkat. DW mengimbanginya dengan memajukan posisi badan ke depan. RK menggeber KLX-nya. Jalan aspal menanjak itu dengan mudah ditaklukannya. KXF 250 juga mudah saja melewati aspal yang kadang berlubang itu.

Di tikungan-tikungan aspal, KXF 250 dengan mudah menyalip KLX. Namun di track lurus kembali KLX bisa mengimbanginya. Boleh dikata di track aspal ini KLX dan KXF berimbang.

Track berikutnya adalah tanah selebar 1 meter dengan sisi kiri jurang sedalam 50 meter. KLX masih bisa menaklukan track tanah ini, meskipun di tikungan tajam harus lumayan kerja keras untuk menahan bobot KLX yang lumayan berat untuk ukuran motor offroad.. Sementara KXF yang ditunggangi DW dengan mudah melibas track tanah ini. Di track tanah ini KXF mengungguli KLX.

Track berikutnya adalah track pasir. DW membetot gas KXF-nya. Roda depan motor terlihat sering terangkat. RK dengan KLX-nya berusaha mengimbangi performa KXF itu. Di track pasir ini sangat sulit bagi KLX untuk mengejar KXF. Jarak antara RK dan DW semakin jauh. Power bawah KXF yang agresif membuat DW melesat bagai anak panah meninggalkan RK dengan KLXnya.

RK memacu terus KLX-nya, terlihat angka di spidometer menunjukan angka hampir 100. Gila di track pasir yang penuh dengan lubang itu motor bisa dipacu sekencang itu. Namun DW masih belum bisa terkejar. Begitu ada tikungan atau gundukan pasir, maka KXF yang dikendalikan DW itu ’terbang’ dengan mudahnya. Sebaliknya KLX harus bekerja keras untuk menaklukan rintangan alami itu.

Di track yang sedikit menanjak dan menikung, RK membetot KLX-nya dengan kencang berusaha untuk menyusul DW. Di tikungan tanah yang agak becek, power KLX tidak cukup untuk menaklukan tikungan itu dengan kecepatan tinggi. Hasilnya motor terhempas dengan keras di tanah dan RK terpental sejauh 2 meter. Untungnya RK memakai helm sehingga tidak mengalami cedera berarti, padahal posisi jatuh adalah kepala duluan. Lutut RK yang jadi korban.

Meski jatuh dengan keras di kecepatan sekitar 100 km per jam, KLX 250 tidak mengalami kerusakan berarti. Hanya plastik penutup radiator yang melengkung, namun tidak sampai patah. Setelah di tekuk-tekuk, plastik itu lurus lagi dan bisa dipasang kembali. Ini artinya kualitas plastik KLX 250 boleh diacungi jempol.

Kesimpulannya adalah untuk medan offroad KLX 250 masih kalah kelas dengan KXF 250. Bobot yang agak berat dan power bawah yang kurang, membuat KLX akan kedodoran di track tanah. Namun di track aspal atau bebatuan, KLX 250 masih bisa diandalkan.

Hasil lainnya dari test KLX 250 versus KXF 250 ini adalah RK terpaksa harus beristirahat beberapa hari karena lututnya bengkak dan tidak bisa berjalan dengan normal!