Minggu, 27 Desember 2009

OFFROAD KE GUNUNG ARJUNA





Cuaca minggu (27/12/2009) pagi itu mendung, namun tidak menghalangi semangat anggota komunitas CHEELA Motoadventure untuk offroad ke Gunung Arjuna. Sekitar jam 9 pagi, 6 orang yang dibekali kuda besi CRF 150, KLX 150 dan TS 125 berangkat menuju Arjuna dari rumah RK. Selang 15 menit kemudian kami sudah dihadang oleh medan offroad menanjak. Hujan deras yang mengguyur Malang seharian membuat medan berkilau tertimpa matahari yang menerebos di sela-sela daun pinus.


Di jalur tanjakan di tengah-tengah hutan pinus itu, kami harus berusaha keras menaklukan jalur yang super licin. Jalur yang juga penuh lubang membuat beberapa kalu ban motor menjadi ‘spin’. Di beberapa titik kami harus saling bantu menarik motor yang terjebak dalam kubangan. Peluh mulai berceceran. WW yang baru gabung CHEELA terlihat harus berusaha keras lolos dari jalur ini. Untung ada TT yang setia jadi sweerper dengan TS 125-nya.


Setelah 2 jam berkutat dengan licinnya jalur, jam 11 kami baru sampai di pal perbatasan Kabupaten Malang-Batu. Kami semua mengambil nafas dalam-dalam setelah dihajar medan offroad di tengah hutan pinus itu. Sambil guyon, DW ngomporin ZN, “makanya pakai ban bridgestones dan sepatu Alipenstar, jadi motor ngacir terus”. ZN yang dikomporin hanya senyam-senyum aja, sambil ngomong, “pokoknya nanti pasti akan saya salip deh di jalur berikutnya!” Kami semua ber ha ha hi hi bercanda sambil istirahat di tengah hutan pinus yang adem itu.


Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Jalur kali ini jauh lebih extrim, karena selain menanjak dan penuh lubang, jalur juga super licin! Motor sampai ditarik dengan tali. Kami semua kehabisan nafas. Di jalur ini DW harus terjungkal karena memacu motornya dengan kencang dan tergelincir ketika mau pindah jalur. Setelah hamper 1 jam berkutat di medan yan licin itu, kami memutuskan untuk ambil jalur lain. Makulum tujuan offroad masih panjang, kalau kami maksa lewat jalur ini bisa-bisa sampai malam kami masih terjebak di jalur yang memang sangat sangat licin itu.



Jam 12 siang kami sampai di Gunung Mujur dan sempat ketemu rombongan Imam dari Lawang. Setelah berbasa basi sebentar, kami turun Gunung Mujur lewat jalan air. Di jalur ini DW beberapa kali harus ’rebah’ akibat kecapekan dan lapar. Makanya begitu sampai warung, DW langsung nyerbu ke dapur untuk pesan mie. Yang lainnya cukup memesan teh dan kopi aja, karena sudah membawa bekal. ”Tumben mas nggak bawa bekal?” tanya teman-teman ke DW. ””maklum istri lagi liburan ama anak-anak, jadi nggak ada yang masakin nih”, ujar DW sambil ngelpas baju karena kepanasan setelah beberapa kali ”rebah” di jalur yang menurun tajam.


Usai makan dan istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Kebun Teh Lawang.Jalur ini terbilang datar dan ringan, hanya di beberapa titik ada kubangan lumpur. Yang bikin kesel adalah lumpurnya itu baunya mintan ampun, maklum lumpur bercampu tahi sapi! Wow sedap sekali baunya bro!


Sekitar jam 14.30 kami sampai di Kebun Teh Lawang. RK, ZN dan DW saling memacu motornya dengan kencang. Di jalur ini CRF 150 melwan 2 KLX 150! Hasilnya, menjelang habis kebun teh koq DW nggak kelihatan? Ternyata ban belakang motor DW yang dikempesin waktu di jalur basah itu bocor dihajar jalan berbatu menuju kebun teh. Jadinya mau nggak mau DW dan beberapa temen harus turun ke kampung untuk nambal ban. RK, ZN dan WW yang sudah terlanjur di bibir lereng Gunung Arjuna akhirnya memutuskan menunggu DW dan teman-teman di tempat wisata kebun teh.


Setelah 30 menit nunggu romongan DW nggak nongol-nongol, RK menelpon RS yang ada di romobongan DW. Wah wah ternyata DW dan teman-teman udah turun ke kota Singosari untuk cari tambal ban. Akhirnya kami memutuskan rombongan dipecah jadi dua, rombongan DW lewat jalur on the road, sedangkan rombongan RK tetap lewat jalur offroad.


Tepat jam 16.00 rombongan RK memacu kencang motornya meninggfalkan kebun teh lewat jalur offroad lagi. Jalur offroad mulai terlihat gelap karena berada di bawah tajuk pohon. Lumpur yang ada di beberapa titik dihajar habis oleh RK dan ZN. Yang kasihan adalah WW yang harus keluar extra power untuk mengejar RK dan ZN. Yah maklum jam terbang WW belum terlalu tinggi untuk main lumpur. Tapi yang jelas kami hari itu benar-benar puas main offroad. Semoga aja WW nggak kapok ikut rombongan CHEELA!

Minggu, 22 November 2009

TARIAN LUMPUR DI LERENG GUNUNG KAWI









Untuk foto-foto lainnya bisa dilihat di: http://www.facebook.com/album.php?aid=3112&id=100000498047308

Minggu (22/11/2009) pagi hujan turun dengan deras di Kota Malang. Sehari sebelumnya hujan juga terus mengguyur hingga malam hari. Ketika kebanyakan orang meringkuk dalam rumah ketka hujan deras, kami justru memutuskan untuk offroad ke lereng Gunung Kawi. Kami sudah membayangkan betapa asyiknya medan offroad yang akan kami hadapi nanti.

Tepat jam 9 pagi kami berangkat offroad di tengah rintik hujan yang masih setia membasahi bumi. Peserta yang ikut kebanyakan pakai KLX 150 yang warna hijau, hanya satu yang bewarna merah yaitu Honda CRF 150. Tidak sampai 5 menit kemudian kami sudah dihadang oleh jalur basah di tengah ladang. RK dan DW dengan mudah melalui jalur basah-basah itu. Namun tidak demikian dengan DM. Motor KLX 150 DM yang masih standar termasuk bannya itu terlihat kesulitan menaklukan jalur basah itu. Beberapa kali dia harus mencium tanah. Di jalur ini EW juga sempat terjungkal keras karena kaget ketika berpapasan dengan DW yang memacu kencang motornya di sebuah tikungan tajam.

Setelah 30 menit berjibaku dengan jalur basah yang sebetulnya tidak terlalu berat itu, kami mulai masuk jalur offroad menuju Gunung Kawi. Ini jalur maut! Karena jalur berupa tanah padas super licin dan tanjakan lumayan tajam. DM dan EW harus full keringat untuk memacu motornya. Aksi tarik menarik dan menggeret terpaksa kami lakukan di jalur licin ini. Ban motor DM yang masih standar pabrikan tidak mampu melibas track licin ini. Ban hanya mutar kencang tapi motor tidak jalan. Ban bentuknya sudah seperti donat!

Di jalur tanah padas yang licin itu kami bergotong royong membantu motor yang kerepotan naik. DW dan RK berulang kali menjadi “pemeran pengganti” untuk menaikan motor-motor sobatnya. Yang jelas di track ini keringat kami mengucur bersama derasnya hujan yang tidak kunjung berhenti. Karena super licin, di track ini motor yang dipacu kencang terlihat meliuk-liuk seperti sebuah tarian di atas lumpur!

Setelah sekitar 1 jam bergelut dengan tanah licin, kami sampai di hutan pinus. Kami istirahat sebentar untuk menarik napas, karena habis ini track yang akan kami hadapi tidak kalah serunya. Betul saja, di depan mata telah menghadang jalur sempit (single track) di tengah hutan pinus dengan tanjakan tajam. Jalur penuh lubang dalam dan lumpur.

Kami mencoba memacu motor di jalur single track itu. Namun sampai di tengah-tengah jalur, motor kehabisan tenaga. Ban yang sudah “mendonat” juga mempersulit kami untuk menaklukan track maut itu. “Aduh saya nyerah deh, lebih baik kita cari jalur alternative saja”, ujar DM dengan wajah penuh rasa putus asa. Akhirnya kami memutuskan untuk lewat jalur alternative yang lebih mudah. Kami akhirnya memutuskan turun ke kampung terdekat, yaitu kampung Sumberbendo.

Jam menunjukan pukul 12 siang ketika kami sampai di kampung. Kami memutuskan untuk makan siang sekaligus beristirahat sejenak. Tubuh dan motor kami yang penuh lumpur menjadi tontonan tersendiri bagi warga kampung di kaki Gunung Kawi itu..

Satu jam kemudian kami melanjutkan offroad. Hujan juga tidak kunjung berhenti. Jalur kali ini sedikit lebih lebar namun di beberapa titik memang super licin karena berada di bawah tajuk dan menanjak. Di jalur ini lagi-lagi DM dan EW kesulitan melaluinya. Kamipun bergotong royong lagi untuk membantunya. Inilah nikmatnya persahabatan, jadi susah senang ditanggung rame-rame gitu!

Berikutnya kami sampai di jalan Perhutani berupa jalan macadam (batu). Kami memacu motor dengan kencang, yah hitung-hitung sambil merontokan lumpur yang menempel di ban kami. Tak lama kemudian kami sampai di medan offroad berupa turunan tajam. Di jalur ini kami harus extra hati-hati karena jalur licin dan menurun tajam. DW yang bernapsu untuk segera melewati jalur ini akhirnya harus mencium tanah segar di hutan itu.

Sukses melewati jalur menurun itu kami belok kanan dan melanjutkan perjalanan. Tidak sampai 5 menit kemduian, kami sampai di jalur menanjak namun cukup lebar. Kami pun memacu motor dengan kencang dan meliuk-liuk. Lagi-lagi kami menyuguhkan tarian di atas lumpur! Wow betul-betul keren dan asyik pol!

Puas menari di atas lumpur, kami memutuskan menyudahi bersenang-senang di hari penuh hujan itu. Sekita jam 14.30 kami memutuskan untuk kembali ke kota dengan orang dan motor yang penuh lumpur. Tapi kami benar-benar puas hari itu meskipun badan pegal-pegal dihajar medan offroad yang gila-gilaan!

Senin, 16 November 2009

CATATAN OFFROAD KE JAJANG, MALANG




Minggu (15/11/2009) komunitas CHEELA memutuskan untuk offroad ke Jajang, Malang. Pilihan ini diambil karena mumupung baru awal hujan sehingga medannya akan asyik pol, mengingat medan offroad di Jajang itu penuh dengan superbowl alami ala supercross. Dijamin pantat akan jarang nempel di jok motor karena harus berdiri terus dihajar medan offroad yang luar biasa mantapnya!

Tim yang berangkat adalah 4 orang yaitu RK, DW, ZN dan MD. Masing-masing memakai tunggangan KTM 200 XC, Honda CR 125, Kawasaki KLX 150 dan Honda CRF 150. Kami berangkat jam 09.00 dengan titik temu di depan patung pesawat Pakis. Kami agak terlambat berangkat karena harus menunggu ZN yang sepertinya hari itu bangun kesiangan.

Jam 09.30 kami menurunkan motor dari mobil pick up dan langsung geber gas motor ke jalur medan offroad. Lima menit kemudia kami sudah dihadang dengan medan offroad yang sedikit menanjak dan penuh dengan cekungan. Motor kami menari-nari dengan lincah. KTM 200 XC dan CR 125 melesat jauh meninggalkan KLX 150 dan CRF 150. MD yang satu-satunya anggota cewek dengan penuh percaya diri dengan CRF-nya mengimbangi tarian para cowok di medan offroad itu.

Medan berikutnya berupa super bowl ala supercross sepanjang 2 km. Motorpun terbang, yah meskipun terbangnya tidak tinggi-tinggi amat sih, paling maksimum 2 meter. Tapi ini sudah membuat kami puas pol, karena bisa memacu andrenalin kami sampai batas paling tinggi

Aksi loncat dan terbang itu memakan korban. Motor Honda CR 125 punya DW ban depannya bocor akibat dipakai aksi loncat-loncat dan ban depan motor DW seharusnya memang sudah waktunya diganti. Ayo bro DW segera ganti tuh ban motor yang sudah pada ompong……………..Untungnya ada tukang tambal ban di kampung terdekat. Sekitar 30 menit kemudian ban sudah kelar ditambal dan kami melanjutkan perjalanan.

Jalur offroiad kali ini berada di tengah-tengah ladang dan tepi hutan. Wow betul-betul keren dan asyik medannya. Medan yang mengandung pasir dan naik turun itu betul-betul memuaskan kami yang gila offroad. Tepat jam 11 kami sampai di rumah petani sahabat kami yaitu Pak Suliat. Kami disambut hanggat Pak Sulia dan keluarga. Kami disuguhi kopi dan pisang sebesar lengan. Wah yang gila, ZN yang berbadan kurus itu menyikat habis 6 buah pisang! Kata ZN, “wah enak pol pisangnya, nggak kayak pisang yang biasanya kita makan di kota”

Puas nyeruput kopi dan pisang, kami melanjutkan offroad kea rah hutan. Jalan juga masih full offroad. Namun baru berjalan 30 menit kami melihat ban belakang CRF 150 yang dinaiki MD bocor tertusuk paku. Terpaksa kami menggiring motor ke tukang tambal ban yang ada di kampung. Kami bercanda, “ini rejekinya tukang tambal ban, kayaknya dia berdoa terus semoga ada ban yang bocor!”

Sambil nunggu ban ditambal, kami disungguhi apel oleh petani yang menjadi sahabat RK. Kalau offroad sama RK di Jawa Timur memang banyak tuh para petani yang kenal baik dengan RK. Maklum RK memang doyan keluyuran kampung pakai motor trail sejak belasan tahun silam.

Sekitar 45 menit aksi tambal ban selesai. Kami kemudian melanjutkan offroad ke arah hutan. Medan offroad menanjak terus dan penuh super bowl. Sekitar jam 13.00 kami sampai di tepi hutan. Kami memutuskan makan siang di sebuah pondok petani yang berada di atas bukit. Sedap sekali makan siang di tepi hutan!

Usai maka siang dan istirahat sejenak kami memutuskan melanjutkan offroad dengan mengulang jalur tadi. Kami membetot gas motor dengan kuat. Motorpun meliuk-liuk di jalur offroad yang kini banyak turunannya. Yang bikin asyik, medan offroad yang kami lalui itu basah akibat hujan yang baru turun. Jalur jadi tidak berdebu dan kami bisa membetot ga lebih kencang lagi. Beberapa titik ada banyak kubangan yang berisi air. Hati-hati bos, jangan sampai tercebur kubangan tuh!

Jam di tangan menunjukan pukul 15.00. Akhirnya kami memutuskan menyudahi offroad yang penuh dengan ceria di hari yang mulai diguyur hujan itu. Motor kembali dinaikan mobil dan 10 menit kemudian hujan turun dengan derasnya dari langit. Yah hitung-hitung sambil mencuci motor kami yang penuh dengan debu dan cipratan lumpur!

Selasa, 06 Oktober 2009

Sabtu, 26 September 2009

LAST MAN STANDING




Pernah dengar event enduro “Last Man Standing”? Ini adalah Event enduro gila-gilaan dan super extrim yang diadakan di Amrik sana. Peserta biasanya ratusan dan hanya akan ada satu orang yang akan lolos dan jadi pemenang. Medannya super extrim dan butuh skill tinggi untuk menjadi the last man standing.





Terinspirasi event itu 5 orang komunitas CHEELA melakukan offroad ala Last Man Standing di perbukitan yang ada di sekitar Gunung Bromo (26/9/09). Bukit ini sangat terjal dan penuh dengan cerukan tanah alias tidak rata. Tanah juga sedikit gembur, jadi begitu terlindas ban maka tanah akan hancur. Butuh tehnik speed offroad untuk menaklukan tantangan ala the last man standing di Bromo itu.

Kelima orang “gila” offroad extrim itu menunggangi motor KTM, KXF 250, TS 125 dan KLX 150. Kuda besi KTM yang ditunggangi RK cukup mudah melibas track hingga puncak bukit. Motor KTM XC yang dirancang untuk medan single track itu tidak terlalu kesulitan menaiki bukit. Sedangkan DW yang menunggangi KXF harus bekerja keras mengendalikan motornya untuk sampai puncak. KXF yang tipe cross memang tidak didisain untuk medan perbukitan yang penuh lubang.

Sementara itu KLX 150 harus bekerja extra keras untuk lolos sampai puncak. Ukuran ban yang kecil dan power yang sedang membuat KLX 150 yang dinaiki ZN dan EW harus meraung-raung menggerus tanah untuk bisa mendaki. KLX 150 punya ZN sampai harus “standing”. Meski dengan usaha keras, KLX 150 sukses mencapai puncak. Satu-satunya motor yang harus nyerah adalah TS 125. Motor keluaran Suzi ini kehabisan nafas untuk menaklukan bukit ganas itu.

Bersenang-senang dengan motor trail ala the last man standing benar-benar menjadi hiburan segar bagi kami di hari sabtu yang cerah itu.

Minggu, 16 Agustus 2009

NYUNGSEP KE JURANG!




Offroad motor roda dua memang olahraga yang penuh resiko dan rawan jatuh. Maklum jalur offroad di alam itu sering kali tidak terduga dan berubah-rubah rintangannya. Beda dengan sirkuit buatan manusia yang tracknya sudah jelas dan tidak terlalu banyak perubahan jalurnya.

Saah satu jalur offroad yang butuh pengalaman dan kosentrasi tinggi adalah ketika lewat single track dan jurang. Ketika Jalur sigle track tepi jurang itu harus extra hati-hati kalau tidak mau terjungkal ke jurang. Kejadian nyungsep ke jurang itu dialami Komunitas CHEELA yang offroad ke Pegunungan Kawi lewat jalur Dau (16/8/2009).

Jalur offroad ke Pegunungan Kawi, Kabupaten Malang itu memang banyak track yang sempit. Lebar track terkadang tidak lebih dari 30 cm. Selain sempit jalur tersebut juga tertutup rumput dan semak, sedangkan tepi kiri adalah jurang sedalam lebih dari 50 meter. Jalur yang tertutup rumput itu sering menipu, kelihatannya jalur lebar namun ketika dilindas ternyata itu sudah tepian jurang.

Tipuan jalur seperti inilah yang membuat MD harus nyungsep ke jurang. Untung MD tidak melorot jauh ke dalam jurang karena dia masih berpegangan pada rumput, namun dengan posisi kepala menghadap ke jurang yang menganga. Waktu MD nyungsep ke jurang, MD langsung berteriak-terika minta tolong sambil berpegangan di rumput. Begitu tahu MD nyungsep ke jurang, kontan anggota CHEELA yang lain berlarian berusaha membantu. Tanpa peduli nasib motornya, DMS dan RK langsung merebahkan motornya dan lari kea rah MD. Untung MD tertahan di semak dan rumput, kalau tidak bablas sampai ke bawah tuh!

Dengan semangat gotong royong, kami mengevakusi MD dan motornya. Untung bobot Honda CRF 150 punya MD terbilang ringan, jadi dengan mudah ditegakan kembali. Justru yang jadi korban adalah TS 125 punya RK yang lampu belakangnya pecah karena terbentur shockbeker depan KLX 150 punyanya ZN. Yang nyungsep CRF 150 tapi yang lampunya hancur lebur malah TS 125 punya RK yag masih standar! Yah namanya juga offroad, pasti resiko jatuh itu selalu ada. Untungnya kekompakan tim CHEELA itu sangat tinggi, jadi kita enjoy aja dan ber ha ha hi hi alias bersenang-senang dengan kejadian seperti itu.

Lolos jurang, kami mulai memasuki hutan yang masih alami. Kami istirahat sejenak di hutan yang adem itu, maklum habis ini jallur mulai “hot”. Yah setelah lewat jalur dalam hutan, kami mulai memasuki jalur yang agak extrim turunan dan tanjakannya. Jalur berbentuk zig zag, meyebrang sungai dan penuh akar pohon yang melintang. Di jalur ini beberapa motor harus dibantu didorong dan diangkat, karena motor nyangkut di akar yang melintang kayak ular phiton.

Keluar dari hutan kami mulai memasuki jalur offroad di tengah ladang dan perkebunan tebu. Jalur menurun dan masih basah. Di jalur sedikit basah alias nyemek-nyemek ini MD terjatuh lumayan keras.

Di jalur hutan pinus kami mulai memacu motor dengan kencang. RK, DW, ZN dan DMS membetot gas motor seperti balapan. Debu tebal berterbangan. Dan jarak pandang tidak lebih dari semeter. Dalam offroad ini RK yang pakai TS 125 “dikeroyok” 3 KLX 150. Hasilnya menunjukan kalau KLX 150 itu seimbang dengan TS 125. TS 125 hanya kalah di tanjakan panjang, namun di tikungan-tikungan tajam, TS 125 mampu memberikan perlawanan dalam “pertempuran” tersebut. ZN berkomentar, “wah ternyata meski pakai TS 125 RK masih bisa kencang tuh he he he”. Maklum RK sudah lama sekali tidak pakai “trail kecil” kayak TS. Biasanya sih dia pakai motor enduro dan SE yang segeda kuda.

Jam 12 tepat kami sampai di Kraton Gunung Kawi. Kami istirahat sambil makan siang. Sambil makan siang kami ngobrol ngalur ngidul melepas kepenatan. Suasananya gayeng sekali, apalagi ngobrolnya di bawah hutan pinus yang bikin badan segerrrr.

Setelah sejam istirahat, kami pulang ke Malang lewat jalur offroad lagi. Di jalur pulang ini ZN harus terjungkal. ZN yang berusaha menyusul DW dan RK itu harus jatuh karena jalur tertutup dengan debu super tebal.

Karena jalur pulang ini relatif lebar, kami melakukan speed offroad. Di jalurspeed offroad ini lagi-lagi RK dengan TS 125-nya dikepung 3 motor KLX 150. TT yang juga membawa TS 125 lebih memilih di belakang menjadi sweeper. Praktis RK dengan TS 125-nya harus “berjuang” sendirian melawan gempuran KLX 150. Aksi salip menyalip semakin memicu adrenalin kami di hari minggu yang cerah itu.

DMS yang masih baru gabung CHEELA boleh diacungi jempol. Dengan KLX 150 yang masih standar dia mampu mengikuti alur offroad kami.DMS terlihat berani dalam mengendalikan motor, meskipun pengalamannya naik trail masih minim. Safety riding DMS juga masih kurang, terutama soal sepatu. Tapi DMS sudah berjanji di offroad mendatang safety riding dia akan semakin sip! Karena safety riding itu menjadi perhatian utama di CHEELA. Selamat bergabung DMS, go adventure, go green!

Senin, 10 Agustus 2009

CATATAN OFFROAD KE NGANTANG



Minggu, 9 Agustus 2009 komunitas CHEELA offroad ke Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jalur offroad ini lumayan panjang yaitu 130 km dan 95% memang medan offroad, jadi bikin puas pol.


Tim berangkat jam 9 pagi dari Dau menuju air terjun Coban Rondo. Jalur ini sudah biasa kami lalui, jadi tidak ada banyak hambatan berarti. Jalur berupa tanah, beberapa berupa single track di tepi jurang. Yang harus waspada adalah debu yang luarrr biasa tebal. Di jalur penuh debu tebal ini membuat DW menabrak RK, ketika RK mengerem mendadak di persimpangan jalur. Lucunya RK yang naik trail gede merasa nggak terasa kalau ditabrak oleh KLX 150 yang dinaiki DW.

Sekitar jam 11.15 kami sudah sampai di Coban Rondo. Tanpa istirahat kami langsung membetot gas motor ke arah Gunung Kukup, Pujon. Nah di jalur ini mulai seru dan mengasah skill ber-offroad. Jalur berupa tanah di perbukitan dan banyak jebakan berupa lubang bekas roda motor petani di musim hujan. Jalurnya berkelok-kelok memutari gunung, mirip kayak jalur dari Kalibaru ke Sempolan Banyuwangi.

Beberapa jalur hanya selebar 60 cm dengan sisi kiri berupa jurang sedalam lebih dari 100 meter. Hii ngeri deh jika seandainya jatuh, ngak kebayang bagaimana cara evakuasinya! Lolos dari jalur tepi jurang, dari jauh kami melihat sungai yang airnya berkilau. Segarnya air sungai itu menjadi pendorong kami untuk segera sampai di sungai secepat mungkin.

Jam 12.30 kami sampai di Sungai Supit Urang. Karena sudah siang dan perut mulai bunyi minta diisi, maka kami memutuskan untuk istirahat makan siang. Wah nikmat sekali makan di bawah pohon pinus di tepi sungai. Makan di restoran mewahpun kalah nikmat dengan makan di alam seperti ini, meskipun lauknya hanya pepes plus kerupuk.

Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan. DW yang nggak sabaran memutuskan berada di depan. Hasilnya? Dia nyasar dan terpaksa harus dijemput oleh TT. Kayaknya DW nggak bakat jadi leader, karena selalu kesasar tuh he he he.

Jalur berikutnya juga harus extra hati-hati, karena masih menyusuri jurang dan sungai. Satu jam kemudian kami mulai memasuki hutan. Kicauan aneka jenis burung menjadi penyemangat kami untuk terus mengendalikan motor.

Jalur di tengah hutan ini menurun tajam dan sempit. Ada banyak lubang di tengah-tengah jalur. Di jalur ini MD yang menunggang Honda CRF150 harus terjungkal dari motornya 2 kali. Meskipun jatuh 2 kali, MD yang cewek itu tetap semangat tinggi untuk finish.

Jam 14.30 kami keluar dari hutan dan memasuki perladangan lagi. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar. DW nyeletuk, ”untung motor kita sehat semua ya, coba kalau bukan motor trail betulan, pasti sudah protol tuh motor”. Jalur yang kita lalui memang panjang dan banyak jebakan, motor dan orang yang sehat menjadi prasyarat wajib untuk melalui jalur ini.

Setelah istirahat 15 menit kami kemudian melanjutkan perjalanan. Jalur juga masih full tanah dan berkelok-kelok dan naik turun. Wuihhh pokoknya asyik sekali jalurnya. Di beberapa jalur motor juga bisa standing di gundukan tanah alami.

Tepat jam 16.30 kami akhirnya sampai di Ngantang. Berarti sudah 7,5 jam kami offroad. Mantap sekali meskipun tenaga mulai sedikit drop. Kami berhenti sebentar di sebuah toko untuk membeli minuman yang sudah menipis.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Malang. Kami memutuskan untuk lewat jalur offroad lagi, bukan lewat jalan aspal. Untuk menunju jalur offroad itu kami memang terpaksa harus melewati aspal sepanjang sekitar 5 km.

Sesuai dengan kebiasan DW, di jalur aspal ini dia memacu motornya dengan kencang. Meskipun jalan berkelok-kelok dan banyak kendaraan, DW terus aja membetot motornya sampai gas pol. DW memimpin di depan, padahal dia nggak tahu jalurnya. Hasilnya, dia tersesat lagi alias kebablas terus lewat jalan aspal. Padahal mestinya dia harus belok kanan untuk lewat jalur offroad menuju Coban rondo. Setelah kami tunggu 15 menit dia tidak kembali, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lewat jalur offroad karena hari sudah mulai gelap.

Di jalur offroad dari Pujon ke arah Coban Rondo ini juga asyik sekali. Ada banyak tikungan tajam dan tanjakan. Kami sempat salah ambil jalur menuju jalur buntu. Padahal kami sudah bersusah payah untuk melewati jalur dengan tanjakan ekstrim tersebut. Akhirnya dengan gotong royong kami memutar balik motor kami satu per satu. Motor harus diangkat karena jalur memang sangat sempit.

Setelah itu kami memacu motor dengan kencang. Motor meliuk-liuk di tengah hutan. Targetnya sebelum malam kami sudah harus keluar hutan. Dengan kosentrasi tinggi dan sisa-sisa tenaga kami terus memacu motor. Sekitar jam 17.30 kami keluar hutan di atas Kota Batu. Karena sudah mulai agak gelap, kami memutuskan untuk lewat jalur aspal menuju Malang. Puas rasanya kami bisa menuntaskan offroad seharian di hari itu.

Selasa, 21 Juli 2009

MERUBETIRI ADVENTURE (Bagian 1)



DAY 1

Tanggal merah di bulan Juli 2009 diisi oleh komunitas CHEELA untuk melakukan long adventure ke Taman Nasional Merubetiri, Banyuwangi, Jawa Timur pada tanggal 18-19 Juli. Petualangan ini diikuti 6 orang penggila motor trail yaitu RK, DW, EW, TT, MD dan ZN. Ini adalah adventure terpagi yang pernah kami lakukan, karena start dimulai jam 5 pagi dari Malang. Udara dingin menyergap kami yang meluncur menuju Kota Lumajang lewat jalur Gunung Bromo.

Perjalanan dari Malang ke Lumajang berjalan lancar. Meskipun jalan berupa aspal, namun lumayan mengasyikan karena jalan berada di tengah-tengah hutan. Jalan aspla tidaklah mulus, namun banyak lubang dan kerikil. Di jalur ini DW dan ZN hampir jadi korban karena mau nyusruk ke semak-semak di tikungan tajam yang menurun.

Melewati hutan Bromo, rombongan mulai memasuki jalan raya Lumajang untuk menuju Jember. Jalur ini benar-benar membosankan karena berupa aspla mulus dan banyak kendaraan gede-gede seperti bus dan truck. Motorpun dipacu lumayan kencang di jalanan ini. Spidometer KLX 250 yang dinaiki RK sempat menunjukan angka 120 km/jam.

Memasuki Gunung Kumitir yang berkelok-kelok, DW memacu KLX 150nya dengan gila-gilaan. Motornya meliuk-liuk ala supermoto. Anggota tim lainnya harus extra keras mengimbangi tarian supermoto DW di jalur ini. Apalagi jalur ini lumayan padat arus lalu lintasnya, jadi harus extra hat-hati kalau nggak mau nyungsep ke jurang atau dimakan bus!

Jam 13.00 wib rombongan memasuki Kalibaru dan makan siang di warung pinggir jalan. Menu khas jawa yang disajikan di warung ini benar-benar istimewa rasanya, apalagi disajikan secara prasmanan. Kata ZN yang makannya banyak meski tubuhnya kurus, ”sambalnya benar-benar mak nyos!”

Usai makan siang, kami meluncur ke Hotel Margoutomo di Kalibaru. Hotelnya nyaman dan bernuansa pedesaan. Sangat cocok bagi yang hobby petualangan. Di hotel kami disambut tim pendukung yang dikomandoi MD. MD yang biasanya ikut offroad dengan motor CRF 150 itu kini berperan sebagai tim pendukung yang membawa mobil untuk mengangkut perlengkapan cadangan offroad dan juga tenda.

Setelah istirahat 1,5 jam, kami bertiga yaitu RK, DW dan ZN memutuskan untuk mencoba medan offroad di arel perkebunan Kalibaru. Jam menunjukan 15.15 ketika kami berangkat menuju perkebunan Malangsari. Sementara TT memilih untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal di Kota Kalibaru dan EW lapor ke koramil setempat. Maklum nama terakhir ini adalah seorang tentara yang lagi gemar main garuk tanah dengan trail.

Lima belas menit kemudian kami bertiga sampai di dalam areal kebun cokelat. Track tanah berdebu menyambut kami. Ketiga motor langsung dibetot keras menuju perkebunan Pace yang menjadi tujuan kami di sore yang cerah itu. Debu berterbangan dan ketia orang itu saling pacu motornya. Mereka melakukan speed offroad! Gila, medannya luarrrrrr biasa asyik untuk main motor trail!

DW yang penuh keringat bilang, ”saya sangat puas sekali offroad hari ini, medannya benar-benar cocok untuk speed offroad. Puas deh setelah tadi pagi lebih banyak di jalanan aspal”. ZN juga mengamini apa yang dikatakan DW.

Jam 18.30 kami bertiga masuk hotel lagi. TT, MD dan EW harus menelan ludah mendengar cerita asyiknya kami bersenang-senang di medan offroad hari itu. TT dan EW sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk juga menjajal medan speed offroad itu.

MERUBETIRI ADVENTURE (bagian 2)









DAY 2

Sekitar jam 7 pagi kami meninggalkan hotel menuju Pantai Sukamade, Taman Nasional Merubetiri. Jalur yang kami paling adalah jalur yang full offroad lewat perkebunan Malangsari. Jalur ini sebelumnya sudah dirintis berdua oleh RK dan istrinya MD (lihat jurnal 7 hari adventure menembus 4 taman nasional).

Track di daerah perkebunan Malangsari lumayan asyik, berupa tanah dan kadang berbatu. Di jalur ini kami harus melewati 2 pohon yang tumbang dan melewati track sempit yang tertutup tanah longsor. KLX 150 dan TS 125 cukup mudah melewati rintangan ini, maklum motor dimensinya lumayan kecil. Tapi RK dengan KLX 250-nya harus dibantu untuk bisa lolos dari pohon tumbang dan tanah longsor itu. Motor harus sedikit direbahkan untuk melewati pohon tumbang itu.

Jam 11.30 kami sampai di London. Lho koq di London, apa kami kesasar ke ibukota Inggris? Serius bro, memang nama tempatnya adalah London, lebih lengkapnya sih namanya adalah London Sumatera. Keren ya namanya?

Di London Sumatera kami mampir ke warung kecil untuk mencicipi es campur yang segeeer sekali. Dinginnya es campur itu menyegarkan badan kami yang sudah penuh peluh setelah berpacu di medan offroad Malangsari. Harga es campurnya murah banget, hanya Rp 1000 per mangkok!

Dari London kami melanjutkan perjalanan ke Alas Wangi. Jalur kali ini adalah di tengah hutan rimba. Jalannya sebetulnya lebar, cuma karena jarang dilalui maka jalur yang tersisa hanya seperti jalan setapak. Kami memacu motor dengan santai di jalur ini, yah kita sambil menikmati indahnya alam.

Jam 12.30 kami sampai di air terjun Alas Wangi. Kami memutuskan untuk istirahat makan siang. TT dan DW langsung buka baju memamerkan badannya yang kurus he he he. Suasana air terjun yang sejuk memang membuat kami ingin buka baju biar merasakan nikmatnya hembusan angin dan percikan air terjun.

Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Sarongan. Jalur masih berada di tengah hutan dan disambung perkebunan cokelat dan karet. Dari Sarongan kami memacu motor dengan kecepatan sedang menuju Pantai Sukamade.

Nah jalur menuju Pantai Sukamade ini yang seru habis. Jalur sepanjang 15 KM berupa batu-batu minimal sebesar kepala kerbau dan bergelombang. Batu-batu itu tidak semuanya menancap kokoh di tanah, namun banyak yang lepas. Jalur ini benar-benar menghajar kami dan motor. Tangan dan sekujur tubuh dibuat bergetar hebat.

Gilanya, justru di jalur berbatu yang naik turun itu kami memacu motor dengan kencang. RK dan ZN saling salip menyalip layaknya sedang berlomba. Lolos dari jalur batu, kami memasuki jalur tanah berdebu. Disini DW menunjukan nyalinya. Dia menggeber habis motornya dan meninggalkan debu tebal bagi lainnya.

Setelah menyebrang 2 buah sungai, kami mulai memasuki wilayah Pantai Sukamade, Badan sudah terasa remuk dan keringat meleleh seperti air pancuran. Akhirnya sekitar jam 14.00 kami tiba di Pantai Sukamade dengan selamat.

Sorenya kami memutuskan untuk jalan-jalan menikmati indahnya Pantai Sukamade dengan berjalan kaki. Kami menyisir pantai sambil bercerita tentang kehidupan penyu yang unik. Pantai Sukamade adalah pantai yang dilindungi karena menjadi tempat bertelurnya penyu.

DAY 3

Pagi ini kami terlambat bangun. Jam sudah menunjukan pukul 5 pagi, padahal semula kami ingin bangun jam 4 pagi. Tidur kami rupanya sangat lelap setelah seharian bekerja keras menaklukan medan offroad yang ganas di jalur ke Sukamade. Akibatnya bangun jadi molor.

Setelah benah-benah, tepat jam 7 kami berangkat meninggalkan Pantai Sukamade. Jalur pulang yang kami pilih adalah lewat Glenmore. Jalur ke Glenmore ini benar-benar menjadi ajang bagi kami untuk memacu motor sekencang mungkin. Jalur berupa tanah selebar sekitar 12 meter sepanjang 8 Km itu benar-benar tempat yang pas untuk speed offroad. Apalagi jalur itu relatif sepi.

Di jalur tersebut RK melesat jauh meninggalkan teman-temannya. Kecepatan motor di medan offroad itu tembus di angka 130 km/jam. Wah benar-benar terasa seperti melayang!

Dari Glenmore kami melanjutkan perjalanan lewat jalan umum alias aspal menuju Lumajang. Sebuah perjalanan yang membosankan. Baru setelah lewat Lumajang kami bisa tersenyum lagi karena jalurnya berkelok-kelok di tengah hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sekitar jam 16.00 kami sampai dengan selamat di Kota Malang. Wuihh lega rasanya bisa menuntaskan petualangan 3 hari itu. Kami semua benar-benar puas puas puas dengan petualangan ke Merubetiri itu.

Petualangan 3 hari ke Merubetiri itu membawa ”oleh-oleh” bengkoknya pelk roda TS milik TT dan DW. Pelk TS milik TT lumayan parah bengkoknya, sedangkan pelk KLX 150 punya DW hanya bengkok sedikit. Meskipun pelk-nya bengkok namun KLX 150 telah membuktikan diri sebagai motor trail yang handal untuk dipakai berpetualang!

Satu hal yang membuat kami bangga dalam petualangan ini adalah kami sepaat untuk tidak membuang sampah plastik di hutan! Jika tidak ada tempat sampah, maka kami mengantongi sampah plastik itu. Kami mencoba berpatisipasi dalam penyelamatan lingkungan dengan tidak membuang sampah plastik di hutan dan di sepanjang jalan yang kami lalui. Go adventure! Go green!

Selasa, 07 Juli 2009

7 HARI ADVENTURE MENEMBUS 4 TAMAN NASIONAL




Menghabis-kan waktu 7 hari dengan menempuh jarak total 702 Km, Made Astuti bersama sang suami berpetua-lang dengan motor trail menembus 4 taman nasional di Jawa Timur. Angka 702 Km itu adalah hanya jarak yang ditempuh dengan motor trail, jika ditambah dengan ketika motor trail diangkut mobil maka jarak totalnya menjadi sekitar 1500 Km.

Taman nasional yang dikunjungi tersebut adalah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru-Lumajang, Merubetiri-Jember, Alas Purwa-Banyuwangi dan Baluran-Situbondo. Meskipun berstatus cewek, Made Astuti yang ikut komunitas CHEELA itu telah membuktikan suskes menembus hutan belantara yang tersisa di Jawa Timur itu pada tanggal 29 Juni-4 Juli 2009.

Petualangan itu juga sekalian untuk membuktikan kehandalan motor trail Kawasaki. Made memakai KLX 150S dan sang suami pakai KLX 250S. Medan offroad yang ditempuh sangat bervariasi, mulai dari perkebunan karet, jalan berbatu, sungai, hingga hutan belantara. Betul-betul hutan alami yang masih penuh dengan satwa langka, bukan hutan buatan manusia.

Selama perjalanan mereka menemukan indahnya berbagai jenis satwa liar yang hidup bahagia di hutan. Ada lutung, burung merak, biawak, berbagai jenis burung, elang, monyet, dll. Sebuah petualangan yang luar biasa karena bisa menikmati kekayaan alam yang menakjubkan.

Perjalanan dimulai dari Malang menyisiri Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tembus ke Kota Lumajang dan finish di Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai Afrika-nya Indonesia. Medan offroad sebenarnya masuk kategori sedang (intermediate), namun di beberapa titik benar-benar menguras energi karena ada banyak tanah longsor dan pohon tumbang. Apalagi jumlah tim hanya 2 orang, resikonya keringat dan energi seperti diperas habis!

Jalur yang paling menguras tenaga itu adalah jalur dari Malangsari menuju Merubetiri sepanjang 91 Km. Menurut sejumlah penduduk, dulunya jalur tersebut cukup lebar, namun karena tanah longsor dan banyak pohon tumbang, katanya sudah hampir 1,5 tahun ini jalan tersebut tidak pernah lagi dilalui motor. Boleh dibilang Made dan suami adalah orang pertama yang menembus lagi jalur tersebut dengan motor. Karena banyak pohon tumbang dan nggak mungkin pohon itu diloncati, motor terpaksa harus ditidurkan dan kemudian diseret. Aksi seret menyeret motor inilah yang membuat lemas mas, namun bikin puas! Puas setelah mampu melewati rintangan itu.

Yang membuat petualangan ini semakin seru adalah karena rute belum dikenal, sehingga Made dan suami harus sering bertanya kepada peladang yang ada di sekitar jalur. Susahnya para peladang itu tidak bisa berbahasa Indonesia atau Jawa. Ketika mereka ditanya, ”jalan ini menuju kemana?” Mereka menjawab memakai bahasa Madura! Wah jadi puyeng!

Selama dipakai 7 hari adventure, motor KLX 150 dan 250 yang ditunggangi Made dan suami sama sekali tidak ada gangguan alias lancar jaya. Konsumsi BBM juga terbilang irit, 1 liter sanggup menempuh sekitar 32 Km. Satu-satunya ”kendala” KLX 150S adalah susah banget mengejar KLX 250S di track panjang. Maklum beda cc. Tapi dua-duanya adalah motor trail yang asyik untuk touring adventure.

Kamis, 25 Juni 2009

Suzuki Keluarkan Motor Enduro Baru




Lama tidak mengeluarkan motor tipe enduro setelah generasi DRZ, pabrikan suzuki akan mengeluarkan senjata baru untuk varian enduronya yaitu RMX450Z. Namun pecinta dirt bike harus bersabar dulu, karena tipe ini baru akan diluncurkan tahun 2010.

RMX450Z ini terinspirasi dari kehandalan motor suzuki tipe motocross yaitu RMZ 450. Bedanya dengan tipe cross, RMX450Z dilengkapi dengan lampu, electric starters dan suspensi yang dirancang untuk offroad. Hebatnya lagi RMX450Z ini adalah pakai sistem injeksi alias tidak pakai kaburator. Diklaim sistem injeksi ini akan membuat RMX450Z lebih efesien dan hemat BBM.

Keluarnya RMX450Z ini menggembirakan karena akan melengkapi motor enduro yang sudah beredar dulu seperti KTM 450 EXC, WRF 450, KLX 450R atau CRF 450X. Kehadiran RMX450Z ini akan semakin memperuncing persaingan motor enduro kelas premium. Apalagi suzuki bermodalkan pengalaman dalam mengembangkan RMZ di level motor MX. Moga-moga saja suzuki Indonesia akan memasukan RMX450Z, gimana suzuki?

Minggu, 14 Juni 2009

1 Menit yang Memperpanjang Main Motor Trail


Lewat email dari seorang teman di USA, kami mendapat kabar kalau salah satu teman kami di sebuah forum khusus dirt bike baru saja kecelakaan dan selamanya dia tidak akan pernah lagi bisa naik motor trail. Teman kami itu mengalami kecelakaan ketika memanasi motor trailnya. Dia mencoba motornya tidak lebih dari 5 menit, namun akibatnya seumur hidup dia tidak bisa naik motor lagi.

Awalnya rombongan tema kami dari USA itu mau offroad dengan motor trail. Semua motor dinaikan dalam truck. Ketika sudah sampai tujuan, motor-motor penggaruk tanah itu diturunkan dari truck. Kemudian seorang teman memanasi motornya dengan mencobanya tidak lebih dari 200 meter. Malang ketika dia mencoba motor trail itu dia terserempet kendaraan lain yang membuat dia terpental. Parahnya teman kami itu tidak memakai helm, dan kepalanya terbentur keras di jalan. Setelah dia dibawa ke dokter, dia divonis bahwa dia selamanya tidak bisa lagi naik motor trail karena ada syaraf di leher dan kepala yang terluka hebat!

Kejadian di USA itu mengingatkan kami peristiwa 3 tahun yang lalu ketika kami latihan grasstrack di sebuah sirkuit di Malang. Waktu itu banyak sekali yang latihan, kebanyakan motor bebek modifikasi. Ketika sedang asyik latihan, datang rombongan yang menurunkan 3 atau 4 motor trail dari sebuah mobil pick-up. Seorang anak muda kemudian mencoba motornya itu di sirkuit, namun tanpa helm. Awalnya dia mencoba pelan-pelan, namun di lap ketiga dia mulai kencang, dan tiba-tiba motor melompat liar melewati berm. Kepalanya terbanting keras dan segera dia dilarikan ke rumah sakit. Kabarnya setelah mendapat perawatan intensif, akhirnya dia meninggal dunia!

Dari dua kejadian di dua benua yang berbeda itu dapat diambil kesimpulan, jangan pernah anda tidak memakai helm ketika naik motor trail, meskipun itu anda hanya sekedar mencobanya! Kecelakaan bisa terjadi dimanapun dan kapanpun, tidak peduli anda seorang pemula maupun maestro motocross sekalipun.

Helm sangat vital melindungi kepala. Olaah raga dirt bike, apakah itu grasstrack, motocross ataupun enduro/offroad itu bisa dikategorikan sebagai olahraga extrim atau paling tidak semi extrim. Di medan offroad, track selalu berubah-ubah, seringkali kita tidak bisa mengantisipasinya dengan cepat. Akibatnya fatal, kita bisa terjatuh dari motor kapanpun. Dan biasanya 2 anggota tubuh kita yang paling rawan terluka adalah kepala dan lutut.

Hukumnya wajib memakai helm ketika kita naik motor trail, apalagi kalau pakai motor trail SE atau enduro yang punya power besar. Motor trail biasapun wajib pakai helm, karena kecelakaan tidak pernah memilih jenis motor. Apa sih susahnya memakai helm? Memakai helm tidak lebih dari 1 menit, namun upaya 1 menit yang anda lakukan itu bisa memperpanjang waktu anda untuk bersenang-senang dengan motor trail!

Setelah memakai helm, pastikan helm telah terkunci atau terikat. Seringkali dalam offroad kita terjungkal dengan cukup keras dan mengalami benturan berulang (lebih dari satu kali). Jika helm tidak diikat atau dikunci dengan benar, helm akan terpental dari kepala kita, dan ini bisa berakibat fatal, karena pada benturan berikutnya kepala kita sudah tidak memakai helm lagi!

Senin, 08 Juni 2009

CATATAN OFFROAD ARJUNA (7 Juni 2009)


Tim lagi mejeng di lereng Gunung Arjuna

Minggu 7 Juni 2009 kami berlima memutuskan untuk offroad ke Kebun Teh Lawang lewat Gunung Arjuna. Offroad kali ini agak istimewa karena ada 2 unit KLX 150S yang masih kinyis-kinyis yang akan diuji coba juga di medan offroad. KLX 150 itu punya DW dan EW.

Medan offroad pertama adalah berupa jalur tanah di tengah kebun tebu. Jalannya menanjak bergelombang dan kering. Kelima motorpun dipacu dengan kencang. RK dengan motor CRF 250nya melesat jauh meninggalkan sobat-sobatnya. Dua KLX 150 dengan enteng juga melibas track tersebut. DW komentar, ”shock KLX 150 mantap, enak sekali dipakai offroad”

Lepas track kebun tebu, track mulai menanjak cukup extrim, sempit dan lumayan basah. Posisi sudah berada di lereng Gunung Arjuna. Di track basah ini KLX 150 juga terbukti melibasnya dengan tidak susah payah.

Track berikutnya berada di tengah hutan yang di beberapa titik menjadi kubangan lumpur. Lagi-lagi KLX 150S juga enak melewati kubangan lumpur tersebut meskipun ban masih standar bawaan pabrik. JN dengan monstrac 200 nya terlihat berjuang agak keras untuk lolos dari kubangan lumpur tersebut.

Track berikutnya berupa batu makadam. Semua tim juga dengan enteng melewati jalur makadam ini. Tidak ada hambatan berarti, kecuali EW yang harus jalan pelan-pelan, maklum ini adalah offroad pertama buat EW. Tapi salut buat EW, meskipun itu adalah offroad pertama namun EW mampu ”lulus” melewati track kkategori intermediate tersebut.

Memasuki jalur ladang menuju kebun teh, jalur terlihat basah dan mengkilat. Tanah padas mengkilat tersebut biasanya super licin. Betul, RK yang memacu kencang CRF 250nya harus jadi korban di track maut ini. RK terpental dengan kencang dari motornya dan harus tergolek di tanah basah. Ya namanya juga dirt bike, jadi biasalah main kotor dengan tanah. Di track ini hampir semua tim jatuh. Tapi yang paling parah adalah RK yang terpaksa harus istirahat beberapa hari untuk memlihkan lututnya yang bengkak membiru.

Di offroad ke Kebun Teh tersebut KLX 150 tunggangan DW sempat terjatuh. Meski KLX 150nya tidak terlalu keras jatuhnya, tuas perseneleng langsung bengkok. Kualitas besi tuas perseneleng KLX 150 memang buruk. Hal serupa juga pernah terjadi di KLX 150 punya MD di test ride KLX 150S. Jadi memang hukumnya wajib untuk mengganti tuas perseneleng KLX 150 dengan kualitas yang lebih baik jika motor dipakai untuk offroad.

Namun secara umum KLX 150S adalah motor yang nyaman untuk dipakai di medan offroad. Apalagi ketinggian motor yang tidak terlalu tinggi membuat penunggangnya lebih percaya diri melibas track basah dan super licin.

Minggu, 10 Mei 2009

TEST RIDE KLX 150 DI MEDAN OFFROAD




Foto di atas adalah foto KLX 150S dibandingkan dengan KLX 250S

Penasaran akan performa KLX 150S di medan offroad kami mencoba mengetesnya dan membandingkannya dengan CRF 150F. Rider dipilih MD yang memang sudah biasa pakai CRF 150F, jadi dia bisa membandingkannya dengan KLX 150. Test dilakukan di jalur offroad ke Gunung Kawi (9/5/09).

KLX 150 milik MD yang ditest itu sudah mengalami beberapa rombakan kecil. Ban sudah diganti merk Kenda yang spesial untuk offroad. Beberapa item yang juga diganti adalah lampu depan, lampu belakang, knalpot dan stang. Sedangkan mesin dalam kondisi standar pabrikan.

Secara dimensi, KLX 150 sedikit lebih kecil dibandingkan CRF 150F., namun berat KLX 150 malahlebih berat 10 kg. Ini membuat MD sebagai tester merasa agak kaku di awal test ride. MD yang biasa pakai CRF 150F dan CR 85 itu merasa agak keberatan ketika menikung dengan KLX 150S yang punya bobot kosong 108 kg

Suspensi KLX 150S boleh diacungi jempol. Suspensi bisa meredam dengan baik ketika dipakai di medan offroad dan juga batu makadam. Ketika dicoba untuk jumping setinggi 0,5 meter, suspensi depan dan belakang juga mampu meredamnya dengan baik. Handling KLX 150S di medan offroad juga enak dan ringan.

Mesin KLX 150S sangat halus. Perpindahan gigi terasa halus. D itrack lurus atau menanjak, KLX 150 dengan enteng melewatinya. Namun jika di tikungan-tikungan tajam di track offroad, KLX 150 kurang cepat keluarnya. Tenaganya kalah dengan CRF 150F. Mungkin ini karena gir belakang KLX 150 yang kecil, yaitu ukuran 42T sedangkan CRF 150F berukuran 48T.

Meski gir belakang KLX 150S ukurannya lebih kecil dibanding CRF 150F, namun anehnya top speed KLX 150 masih kalah dengan CRF 150F. Di track lurus KLX 150S sepertinya mentok pada kisaran 100 km/jam, sedangkan CRF 150F masih bisa tembus 110 km/jam.

Ketika uji coba di batu makadam yang licin karena hujan, MD sempat tergelincir dan terjatuh. Tuas perseneleng (gigi) KLX 150s bengkok parah, padahal jatuhnya tidaklah terlalu keras. Bahannya yang tipis dan dari besi biasa, membuat tuas perseneleng tersebut gampang bengkok. Ini menjadi catatan bagi kami, kalau KLX 150S mau diajak untuk offroad wajib diganti tuas persenelengnya dengan kualitas yang lebih sepertinya punya KLX 250 atau motor SE.

Secara umum KLX 150S adalah motor yang layak untuk dipakai offroad atau adventure. Dengan catatan, ada pergantian di beberapa sektor seperti ban, tuas perseneleng, knalpot, stang dan gir belakang. Catatan penting lainnya adalah KLX 150S sepertinya hanya cocok untuk orang yang ketinggiannya tidak lebih dari 165 cm. Ukurannya terlalu kecil untuk orang yang tingginya lebih dari 165 cm. Orang yang bobotnya lebih dari 70 kg, sepertinya juga kurang cocok memakai trail KLX 150S. Kalau dipaksain sih bisa aja, tapi akan terlihat seperti beruang sirkus naik sepeda!


SUPERCROSS ALA PONCOKUSUMO







Atas: lagi mejeng dan ambil nafas, Bawah: jumping on the hill

Jika ingin mencoba ala supercross namun di medan offroad alami, coba saja offroad ke Poncokusumo, Malang. Dijamin anda puas dan full keringat. Minggu (10/5/09) komunitas CHEELA kembali offroad ke Poncokusumo. Tim yang ikut tidak besar, hanya 4 orang. Namun justru inilah asyiknya, karena kami bisa geber habis motor dan bergaya ala crosser yang lagi berlaga di arena supercross ha ha ha.

Track di Poncukusumo sepanjang 20 km itu benar-benar 90% offroad yang penuh gundukan-gundukan tanah ala sirkuit supercross. Banyak gundukan seperti super bowl atau bahkan table top. Asyiknya lagi sirkuit ini betul-betul alami, karena memang topografi membuat track jadi seperti itu. Dijamin pantat akan jarang nempel di jok, karena mau ngak mau kami harus berdiri terus. Dan motor akan ’terbang’ karena posisi badan agak ke belakang sedikit saja, roda motor depan akan secara otomatis terangkat. Betul-betul mengasyikan!

Jalurnya berbukit, berada di lereng Gunung Semeru. Sebagian track melewati kampung. Uniknya ketika kami lewat justru semua masyarakat desa keluar rumah dan bertepuk tangan menonton aksi kami. Wah jadi merasa seperti benar-benar di arena sirkuit!



Selasa, 21 April 2009

Review KLX 150S




Review KLX 150S

KLX 150S yang banyak ditunggu oleh penggemar motor trail Indonesia ternyata tidak sehebat yang diharapkan. Paling tidak itu hasil pengamatan kami waktu melihat KLX 150S yang sudah dipajang di dealer Kawasaki Malang (21/4/2009).

KLX 150 yang berbasis KLX 140 itu ternyata tidak sama persi dengan KLX 140 versi Amerika atau Jepang, paling tidak dalam hal kualitas barang. Yang terlihat sama persis adalah sektor mesin dan suspensi. Sedangkan rangka, arm, pelek, ban, dan stang berbeda jauh kualitasnya dengan KLX 140 versi USA. Jika arm dan pelk KLX 140 versi USA terbuat dari alloy yang ringan namun kuat, untuk KLX 150 versi Indonesia itu terbuat dari besi.

Las di rangka KLX 150 juga terlihat kasar, beda dengan yang versi USA atau Jepang. Ban KLX 150 memakai merk lokal IRC, sedangkan versi USA pakai Dunlop yang versi offroad. Maklum untuk KLX 150S dirancang untuk dual purpose, sedangkan KLX 140 versi USA itu murni versi offroad.

Lampu depan KLX 150 juga terkesan kedodoran alias kebesaran, seperti dipaksakan. Modelnya sih meniru KLX 450R. Cuma karena body KLX 150 adalah kecil, maka pemakaian lampu depan ala KLX 450R terasa kurang pas. Stang juga masih terbuat dari besi dan tanpa plang. Bentuknya terlihat janggal untuk ukuran motor trail yang diklaim sebagai tunggangan para petualang.

Ring roda belakang KLX 150 adalah 16, sedangkan depan 19. Trail ini sepertinya cocok untuk orang yang punya ketinggian tidak lebih dari 160 cm. Lebih dari itu, motor akan terlihat kekecilan. Kesannya kalau KLX 150 ini terlihat masih sedikit lebih kecil dibanding TS 125.

Dengan pengurangan spek tersebut, wajar kalau harga KLX 150 ”hanya” sekitar Rp 24 juta. Beda jauh dengan versi offroad USA/Jepang yang harganya hampir US$3000 atau sekitar Rp 35 jutaan. Sepertinya kawasaki Indonesia berusaha menekan biaya produksi, namun dengan menurunkan kualitas, dengan harapan harga KLX 150 lebih terjangkau bagi kebanyakan konsumen Indonesia dibanding kakaknya KLX 250S yang penjualannya tidak terlalu spektakuler.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, KLX 150 pantas disambut hangat bagi penggila motor trail. Tinggal siapkan dana sekitar Rp 10 juta untuk upgrade KLX 150S menjadi versi offroad yang mumpuni untuk diajak berlumpur ria. Tapi yang jelas mesin dan suspensi KLX 140 yang dijejalkan di KLX 150S itu sudah terbukti kehandalannya, jadi bisa diandalkan di medan offroad. Selamat atas keberanian Kawasaki Indonesia memasarkan trail KLX 150 ala Indonesia ini!


Minggu, 05 April 2009

RIDE N" ROLL







Catatan offroad Coban Rondo-Gunung Banyak (5/4/2009)

Jam 09.00 pagi tepat kami meninggalkan rumah RK yang jadi meeting point untuk offroad ke Coban Rondo, Batu, Jawa Timur. Lima menit meninggalkan rumah RK, kami langsung dihadang track becek dengan tikungan tajam. Baru saja jalan, MD sudah terjungkal dari motor CRF 150-nya. Untungnya MD tidak jatuh terlalu keras.

Di offroad kali ini kami harus ’ngemong’ teman baru yang gabung dengan komunitas gila trail adventure ini. Teman baru itu adalah RL dengan tungangan KLX 250S yang masih kinyis-kinyis dan standar. Hari ini adalah offroad pertama RL (moga-moga aja dia tidak kapok ikut kami yang kalau offroad sering-sering nyari jalur aneh-aneh).

Tiga puluh menit kemudian kami mulai memasuki jalur basah. Track yang berupa tanah padas dan semalam diguyur hujan, benar-benar menjadi ujian bagi kami, khususnya RL yang belum pengalaman. Di track ini RL harus jatuh bangun bersama KLX 250. Keringatpun mulai bercucuran dari badan RL yang gempal. Beberapa kali terpaksa KLX 250 punyanya RL pindah joki. Jokinya siapa lagi kalau bukan RK yang sudah kenyang asam garam offroad. Apalagi trail kawasaki bukan barang baru bagi RK. RK sudah biasa mengendalikan kuda besi KXF dan KLX yang dua-duanya keluaran kawasaki itu.

Lolos dari medan basah (kalau basah dalam arti banyak uangnya sih kita suka amat, nah ini basah betul-betul basah), track menantang lainnya menanti kami. Ada track sepanjang 200 meter menaiki bukit curam dengan lebar track yang sempit, tidak lebih dari 50 cm!

Di track inilah adegan motor terbang dan mengelinding alias rolling benar-benar jadi pemandangan yang menghibur bagi petani yang ada di sekitar track. CRF 150 punya MD benar-benar terbang dan akhirnya terbalik 360 derajat. KLX 250 punya RL juga terjungkal di track ini.Bahkan RL harus rela ditindih motornya.

Adegan motor terbang dan terbalik ini justru membuat kami tertawa-tawa. Memang semuanya orang gila tuh, masak jatuh bangun malah senang-senang. Honda CRF 150 punya MD yang paling sering terangkat tinggi roda depannya dan terbalik. ”Untungnya motor trail asli, coba kalau motor modif udah patah dan hancur lebur tuh motor”, komentar TT yang menunggang TS. ”Makanya di komunitas CHEELA itu motor trail yang ikut harus motor keluaran pabrik alias trail asli, bukan motor biasa yang kemudian dimodif jadi trail”, tambah RK yang d track ini lagi-lagi jadi joki pengganti.

Jam 12 siang kami lolos dari track maut itu. Kami kemudian sampai di Desa Selorejo dan mampir di warung rujak. Sejam kami melakukan recovery alias istirahat. Tampang motor kamipun sudah nggak karuan lagi. KLX 250 punya RL yang kemarin dielus-elus kini sudah benar-benar tampang trail, sudah penuh tanah tuh. Stang juga agak bengkok karena keseringan jatuh. Stang standar KLX 250 memang kurang bagus kualitasnya, gampang bengkok. Jadi kalau ada yang punya KLX 250 dan mau dipakai offroad, buruan ganti dulu stangnya dengan yang lebih kuat seperti stang keluaran Renthal.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Coba Rondo lewat jalur offroad. Di jalur ini kami relatif mudah melibasnya. Tanah yang agak kering membantu kami enjoy aja lewat dtrack di tengah hutan ini. Sekita jam 2 siang kami sudah sampai di Coban Rondo.

Perjalanan langsung dilanjutkan ke Gunung Banyak lewat jalur Pandansari Pujon. Nah di track inilah tenaga kami benar-benar di kuras. Ada track sepanjang 4 km selebar tidak lebih dari semeter dengan jurang menganga di sebelah kanan. Track super licin karena habis hujan sehari sebelumnya. Yang bikin sulit adalah track banyak bekas roda motor petani yang dililit rantai, jadi mau ngak mau kami harus mengikuti bekas track petani itu, karena tidak ada pilihan jalur lain. Jalurnya sangat sempit sekali. Terlalu ke kanan akan masuk jurang, dan kalau ke kiri nyangkut tebing.

Di track Gunung Banyak ini JN, MD, RL dan TT harus gantian mencium tanah. MD yang cewek itu sampai kehabisan tenaga. ”Aduh kepalaku mulai pusing nih, istirahat dulu ya”, kata MD. Sampai jam 16.30 kami masih berjibaku di track Gunung Banyak. Hari mulai gelap dan kabutpun mulai turun. RL puna mulai berkali-kali melihat jam tangan. Santai bos, jam tangannya ngak mungkin hilang he he.

Akhirnya kami bisa melewati track jurang itu, meskipun dengan tenaga yang mulai menipis. Meskipun tenaga super tipis, JN masih ketawa ketiwi aja. Katanya sih untuk menghilangkan stress, biar nggak terjungkal ke jurang. Kalau ada JN memang kita bawaannya tertawa aja kalau offroad.

Gimana RL apa nggak kapok ikut offroad kami?” Dengan tenaga yang tersisa RL menjawab mantap, ”saya siap offroad lagi!”



Minggu, 15 Maret 2009

KAWI ADVENTURE











KAWI ADVENTURE

Minggu (15/3/2009) kami mencoba ‘wisata’ ke gunung Kawi, Malang, namun lewat jalan offroad. Start dimulai dari Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, langsung menuju medan offroad di tengah-tengah ladang. Dua hari tidak hujan, membuat medan kering sehingga kami bisa memacu motor hingga tembus angka 80 km/jam di speedometer motor KLX 250 tunggangannya RK.

Medan offroad di ladang bisa kami libas dengan tanpa hambatan berarti. Rintangan ’serius’ mulai menghadang kami setelah kami melewati Desa Kucur dan akan masuk hutan pinus. Tanjakan ekstrim, tanag penuh ceruk dalam, namun sempit, sehingga motor tidak ada posisi untuk menggeber gas dengan maksimal. Di medan tanjakan extrim ini terpaksa kami harus bergantian membantu mendorong motor. Keringatpun bercucuran dengan deras. Untungnya masih ada beberapa pohon yang bisa kami gunakan untuk istirahat sambil mengatur napas yang sudah kembang kempis!

Lolos rintangan tanjakan extrim, jalur berikutnya adalah makadam (tanah berbatu), tanah dan diselingi aspal yang sudah bolong di sana sini. Setelah memasuki Kecamatan Wagir, kami memilih jalur offroad di tengah hutan pinus, bukan jalan aspal yang biasa dilewati pengunjung yang mau ke Gunung Kawi. Medan offroad di hutan pinus ini menjadi hiburan kami alias bonus, setelah bosan dengan jalan makadam. Motorpun bisa meliuk-liuk seperti penari jaipong, karena medan agak licin. Justru inilah yang membuat kami bersenang-senang di hari minggu yang cerah itu.

Tepat jam 12 kurang 10 menit, kami sampai di Desa Gendugo. Kami berhenti di warung yang belakangan kami tahu pemiliknya adalah bernama Bu Yani. Wah soto di warung Bu Yani ini betul-betul mantap, mak nyos! Harganya juga murah meriah. Yang bikin sedap adalah karena sotonya pakai ayam kampung yang pasti jauh lebih sehat dibanding ayam peternakan yang penuh obat. Ayam kampung selain sehat juga nikmat.

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Kawi lewat jalan aspal. Jaraknya hanya tinggal sekitar 4 km. Meskipun aspal, namun kami sedikit terobati karena di kanan kiri aspal masih banyak pohon hutan, sehingga suasananya menyejukan.

Di Gunung Kawi kami menjadi pusat perhatian para tukang ojek. Mereka mengerubuti motor trail kami, sementara kami asyik berfoto ria di depan makam yang sering didatangani orang untuk berziarah itu.

Offroad hari itu kami menempuh jarak total 80 km (PP), dengan kombinasi jalan offroad 40% dan selebihnya jalan berbatu dan aspal. Sengaja hari itu kami memilih medan yang agak ringan, biar bisa sambil berwisata budaya dan alam di Gunung Kawi.

Ada satu kejadian ”aneh” dalam offroad ke Kawi hari itu, pijakan rem motor Monstrac 200 yang dinaiki JN itu hilang dan tidak bisa ditemukan lagi. Akibatnya JN harus pulang tanpa ada pijakan rem belakang. Benar-benar aneh dan lucu! Baru kali ini kami offroad ada yang kehilangan pijakan rem tanpa dirasakan oleh penunggang motornya!





Senin, 02 Maret 2009

KLX 150S SIAP MELUNCUR APRIL 2009


KLX 150S SIAP MELUNCUR DI BULAN APRIL 2009

Lahirnya adik dari KLX 250S di segmen motor trail Indonesia sepertinya akan benar-benar terealisasi di bulan April 2009. Hasil komunikasi dengan Kawasaki Motor Indonesia pusat di Jakarta dan juga diperkuat oleh kawasaki di Malang, memang KLX 150S akan keluar bulan April dengan kisaran harga dibawah Rp 25 juta.

Dengan harga yang relatif murah itu diprediksi KLX 150S akan menjadi pilihan utama bagi penggemar motor trail di Indonesia. Apalagi saat ini pemain motor trail di Indonesia dengan harga yang murah tapi kualitas bagus relatif masih sedikit. Motor trail mocin memang banyak, namun kualitas masih diragukan. Dalam beberapa kasus terbukti kalau trail mocin tidak layak untuk dipakai offroad. Kalau dipakai mejeng di jalanan raya sih masih boleh boleh aja. Boleh dibilang trail non Jepang dan Eropa yang beredar di Indonesia yang masih layak pakai untuk offroad adalah Monstrac, itupun mesti ada pembenahan dulu di beberapa sektor.

Hilangnya trail suzuki TS 125 yang tampang jadul dari pasaran, membuka peluang bagi KLX 150S untuk menjadi tunggangan baru dirt bikers. Apalagi mesin KLX 150 sudah mengusung mesin 4 tak yang tentunya akan lebih hemat dan ramah lingkungan.

Basis KLX 150S adalah KLX 140 yang sudah beredar lama di Jepang, USA dan Eropa. Aslinya KLX 140 yang punya cc 144cc itu tanpa lampu dan spion, maklum memang motor ini adalah offroad use only, bukan untuk jalanan aspal. Nah KLX 150 itu akan dilengkapi dengan lampu, spion dan juga STNK. Dengan harga katakanlah Rp 25 juta itu murah karena harga KLX 140 yang tanpa STNK itu adalah USD2,900 atau sekitar Rp 34 jutaan (dengan kurs 1$ = Rp 12.000). Pertanyaanya adalah kenapa harga KLX 150S di Indonesia lebih murah? Jawabannya, tunggu dulu hasil investigasi kami lebih lanjut.

Sssttttt, kabarnya KLX 150S itu akan keluar dalam 3 varian warna yaitu hijau, merah dan hitam!

Minggu, 22 Februari 2009

KLX 250 versus KXF 250




KXF 250 VS KLX 250

Mei tahun lalu Kawasaki Motor Indonesia mengeluarkan motor trail KLX 250S. Dari pabrikannya KLX 250 ini dikategorikan motor dual purpose alias motor yang bisa digunakan di jalanan aspal (on road) dan jalanan offroad (tanah). Dalam forum khusus KLX yang berbasis di USA, disebutkan kalau yang dimaksud dual purpose itu artinya 60% adalah on road dan 40% adalah offroad. Nah bagaimana kalau KLX 250S dipakai untuk 100% offroad?

Penasaran akan performa KLX 250S di medan offroad, kami mencoba membandingkan kemampuan KLX 250 di medan offroad dengan Kawasaki KXF 250. KXF 250 adalah monster di track motocross. Secara spec memang KXF 250 adalah tipe kompetisi sedangkan KLX 250 adalah tipe adventure. Namun tidak ada salahnya kami mencoba membandingkannya motor berbeda kelas ini.

Medan test yang kami pilih adalah jalur Gunung Bromo lewat Taji. Medan ini dipilih karena di jalur sangat lengkapnya tracknya mulai dari jalur berbatuan (makadam), tanah, pasir dan sedikit aspal. Tim tester adalah DW dengan KXF 250 dan RK dengan KLX 250S yang baru 3 bulan keluar dari dealer.

Di track awal yang penuh dengan bebantuan, 2 motor dipacu kencang. Track batu alias makadam sepanjang sekitar 3 km itu dengan mudah dilibas oleh KLX 250. Suspensi KLX yang lebih soft membantu RK bisa dengan leluasa menggeber motornya. Spedometer di KLX 250 sempat menunjukan angka 95 di medan batu di tengah perkebunan tebu tersebut. Sementara DW dengan KXF 250 tertinggal di belakang. Maklum suspensi KXF adalah dirancang untuk motocross yang penuh aksi jumping, jadi dibuat agak keras. Suspensi model motocross ini terasa kurang nyaman di bebatuan.

Lepas dari track batu, kami memasuki jalan aspal yang menanjak meliuk-liuk. Power KXF 250 yang ganas membuat roda ban depan sering terangkat. DW mengimbanginya dengan memajukan posisi badan ke depan. RK menggeber KLX-nya. Jalan aspal menanjak itu dengan mudah ditaklukannya. KXF 250 juga mudah saja melewati aspal yang kadang berlubang itu.

Di tikungan-tikungan aspal, KXF 250 dengan mudah menyalip KLX. Namun di track lurus kembali KLX bisa mengimbanginya. Boleh dikata di track aspal ini KLX dan KXF berimbang.

Track berikutnya adalah tanah selebar 1 meter dengan sisi kiri jurang sedalam 50 meter. KLX masih bisa menaklukan track tanah ini, meskipun di tikungan tajam harus lumayan kerja keras untuk menahan bobot KLX yang lumayan berat untuk ukuran motor offroad.. Sementara KXF yang ditunggangi DW dengan mudah melibas track tanah ini. Di track tanah ini KXF mengungguli KLX.

Track berikutnya adalah track pasir. DW membetot gas KXF-nya. Roda depan motor terlihat sering terangkat. RK dengan KLX-nya berusaha mengimbangi performa KXF itu. Di track pasir ini sangat sulit bagi KLX untuk mengejar KXF. Jarak antara RK dan DW semakin jauh. Power bawah KXF yang agresif membuat DW melesat bagai anak panah meninggalkan RK dengan KLXnya.

RK memacu terus KLX-nya, terlihat angka di spidometer menunjukan angka hampir 100. Gila di track pasir yang penuh dengan lubang itu motor bisa dipacu sekencang itu. Namun DW masih belum bisa terkejar. Begitu ada tikungan atau gundukan pasir, maka KXF yang dikendalikan DW itu ’terbang’ dengan mudahnya. Sebaliknya KLX harus bekerja keras untuk menaklukan rintangan alami itu.

Di track yang sedikit menanjak dan menikung, RK membetot KLX-nya dengan kencang berusaha untuk menyusul DW. Di tikungan tanah yang agak becek, power KLX tidak cukup untuk menaklukan tikungan itu dengan kecepatan tinggi. Hasilnya motor terhempas dengan keras di tanah dan RK terpental sejauh 2 meter. Untungnya RK memakai helm sehingga tidak mengalami cedera berarti, padahal posisi jatuh adalah kepala duluan. Lutut RK yang jadi korban.

Meski jatuh dengan keras di kecepatan sekitar 100 km per jam, KLX 250 tidak mengalami kerusakan berarti. Hanya plastik penutup radiator yang melengkung, namun tidak sampai patah. Setelah di tekuk-tekuk, plastik itu lurus lagi dan bisa dipasang kembali. Ini artinya kualitas plastik KLX 250 boleh diacungi jempol.

Kesimpulannya adalah untuk medan offroad KLX 250 masih kalah kelas dengan KXF 250. Bobot yang agak berat dan power bawah yang kurang, membuat KLX akan kedodoran di track tanah. Namun di track aspal atau bebatuan, KLX 250 masih bisa diandalkan.

Hasil lainnya dari test KLX 250 versus KXF 250 ini adalah RK terpaksa harus beristirahat beberapa hari karena lututnya bengkak dan tidak bisa berjalan dengan normal!


Rabu, 21 Januari 2009

Terkenalnya Rally Dakar


Marc Coma, Juara Dakar Rally 2009

Rally terganas di dunia, Dakar Rally yang ke-31 yang diadakan di medan offroad Amerika Latin telah usai. Rally Dakar ini menobatkan Marc Coma, pembalap asal Spanyol, sebagai pemenang kategori motor trail. Dari sekitar 250 bikers, yang berhasil sampai finis hanya 113 bikers. Hebatnya Rally Dakar 2009 ini masih didominasi oleh motor KTM. Tercatat ada 65 KTM yang mencapai finish. Ini artinya sekitar 60% motor didominasi oleh motor keluaran Austria itu. Marc Coma sendiri juga menunggangi KTM 690.

Untuk pertama kalinya Rally Dakar diadakan di luar Africa, yaitu di Argentina dan Chili. Alasan keamananlah yang membuat rally yang menyedot perhatian dunia itu dipindah ke kawasan Amerika Latin. Meski tidak diadakan di Afrika, namanya tetap menggunakan nama Dakar yang sudah identik dengan event ini. Rally Dakar di Argentina-Chile inipun tetap menjadi magnet orang-orang ’biker gila’ untuk berkompetisi dengan taruhan nyawa!

Rally Dakar 2009 menempuh jarak lebih dari 9000 km. Sebagian besar medan berupa gurun pasir. Ketahanan fisik biker dan motor menjadi sangat vital di ajang ini. Kermampuan navigasi juga turut menentukan ’survive’ tidaknya peserta rally yang di tahun ini menelan korban satu peserta itu.

Lucunya karena begitu terkenalnya nama Rally Dakar, sampai-sampai banyak penggemar motor trail di Kota Batu, Jawa Timur, memakai istilah ”Ndakar” untuk kegiatan adventure motor trail. Jadi jangan kaget kalau anda memakai motor trail di hutan di sekitar Batu dan anda ketemu orang kemudian disapa, ”Mas Ndakar kemana?”

Sabtu, 03 Januari 2009

Berlumpuria di Tahun Baru


Ketika kebanyakan orang merayakan tahun baru dengan pergi ke pusat-pusat keramaian atau juga tempat wisata, hal berbeda dilakukan oleh empat orang penggila motoadventure. DW, RK, AD dan TT dari komunitas CHEELA justru menghabiskan libur tahun baru dengan main lumpur di atas motor trail di lereng Gunung Arjuna, Malang.

1 Januari 2009, keempat orang tersebut sepakat untuk bertemu di depan Pasar Karangploso, Kabupaten Malang sebagai meeting point. Tepat jam 09.15 semuanya sudah berkumpul dengan tunganganya masing-masing. DW dengan Honda CR 125, RK dengan KLX 250, AD dengan Monstrac 200X dan TT masih setia dengan TS 125.

Merekapun memacu motornya dengan santai di jalan raya menuju medan offroad di atas peternakan ayam Wonokoyo yang berada di lereng Arjuna. Lima belas menit kemudian, tim sudah sampai di penghabisian aspal dan siap untuk beroffroad ria. Gila, ternyata medannya super licin! Tanah padas yang diguyur hujan membuat ’ban tahu’ yang menancap garang di motor sepertinya kurang bisa bekerja maksimal. Harus punya jam terbang tinggi untuk menaklukan tanah padas super licin tersebut.

Track pertama itu memakan korban. DW tergelincir dan rebah bersama motornya (mungkin DW masih ngantuk habis malam tahun baruan, jadi masih perlu rebahan di tanah he he he). Ban belakang CR DW yang sudah mulai gundul tidak mampu menggigit tanah padas Gunung Arjuna itu.

Setelah melewati tanah padas yang licin, tim disambut oleh track lumpur! Ya benar-benar lumpur. Track semakin hancur lebur karena bekas digiling oleh roda jeep milik petani yang barusan panen sayur. Track lumpur ini benar-benar mengursa tenaga (ya tenaga orangnya, ya juga tenaga motornya).

RK yang memacu kencang KLX 250-nya untuk mengejar DW yang berada di depan terpaksa harus keluar extra tenaga karena motornya amblas ke dalam lumpur sedalam 0,5 meter. AD dan TT harus turun tangan untuk mengevakuasi motor RK ke jalur yang benar.

Peluh mulai membanjiri keempat orang tersebut. Jalur lumpur sepanjang 6 km itu benar-benar menguras tenaga, skill dan tentu saja bensin motor! CR DW yang rakus bensin itu sudah berulang kali menegak bensin. Untungnya DW selalu setia menggendong botol berisi bensin. Wualah bensin kog digendong-gendong, makanya ganti 4 tak mas he he he.

Lolos dari jebakan lumpur, tim bisa bernapas lega karena ketemu tanah berbatu. Ini pertanda sudah mendekati Kebun Teh Lawang sebagai final destination. Keempat orang ini pun memacu motornya dengan kencang. Rosek dan Dewa memimpin di depan. ”Lho kemana ya AD dan TT, koq ngak muncul-muncul?” tanya DW.

Selang 15 menit kemudian baru AD dan TT muncul. ”Kenapa?” tanya RK. ”jatuh mas, kepleset batu”, jawab AD sambil masih ngos-ngosan. Hasil dari “atraksi” AD tersebut membuat tangannya bengkak akibat menyangga Monstrac yang lumayan berat itu.

Tim melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh Lawang. Track di Kebun Teh Lawang lumayan licin, karena tanahnya tipe padas yang mengkilat terkena air dan lumut. DWpun harus meliuk-liuk mirip penari untuk mengendalikan motornya. Ban gundul dan motor yang tinggi membuat DW harus mengeluarkan ”jurus pamungkas” guna menaklukan track padas itu.

Akhirnya tim sampai di Kebun Teh dengan selamat, meskipun motor sudah tidak jelas lagi warna dan merk-nya. Yang terlihat adalah motor warna lumpur! Ya hampir sekujur body motor keempat orang tersebut nyasir tertutp lumpur. Bukan hanya motor, orangnyapun sama-sama kotor. Namanya juga dirt bike, ya mesti kotor dong.

Di kebun teh tim CHEELA bertemu para sobat dari IPTI Surabaya. Kedua komunitas penggemar motor trail ini saling berjabat tangan kompak. Ya namanya juga brothers alias saudara sesama penggemar motor trail ya mesti harus saling bersahabat. Para trail riders inipun tertawa terbahak-bahak menceritakan pengalaman serunya beroffroad ria. Benar-benar nikmat bertahun baru sambil bercanda dengan lumpur Arjuna. Sampai ketemu di track berikutnya!