Minggu, 05 Maret 2017

Catatan IDB dalam IOX Celebes (Bagian 2): Dihadang Puluhan Pohon Tumbang

Hari kedua kami start dari base camp Paralayang di Matantimali. Setelah melintasi jalan perkampungan, kami langsung masuk single track penuh lubang.  Gerimis rintik rintik semakin menambah peluh kami.

Panjang jalur hari kedua menuju Lariang sejauh 121 km. Briefing pagi yang disampaikan ketua official Teddy Wibowo menyatakan perjalanan ini bisa ditempuh dalam 5 jam. Dengan catatan rider selalu gaspoll di perjalanan.

"Mana bisa gaspoll kalau kita main bawa beban logistik dan BBM, " kata Hasan Henal.

karena motor ngambek, terpaksa ditinggal di hutan
Memang bukan perkara mudah offroad sambil bawa beban. Butuh keseimbangan dan kekuatan fisik lebih bro. Setelah beberapa jam offroad, motor Hasan ternyata ngambek. Tim berusaha memperbaiki ternyata masalah ada di bagian kelistrikan. CDI nya rusak! Kami diam sesaat sebelum akhirnya memutuskan motor ditinggal saja di jalur.

Ternyata keputusan kami tepat. Baru jalan 20 menit kami dihadang pohon tumbang di jalur. Tidak bisa dibayangkan jika bawa motor dalam kondisi mesin mati disini. Saat itu langit semakin gelap. Kami terus melaju perlahan sambil berboncengan. Ada sekitar 20 kali kami temui pohon tumbang. Kami baru keluar dari jalur 'neraka' ini jam 12 malam.

Melewati puluhan pohon yang tumbang
Kami terus bergerak hingga akhirnya menemukan perkampungan. Maksud hati ingin istirahat dan isi perut namun tak ada tanda tanda kehidupan di situ. Info GPS jalur yang masih harus kami tempuh sekitar 60 km lagi.

 "Kita harus terus jalan karena kalau diem malah kedinginan, " kata Hasan.

Setelah melewati perkampungan dan perkebunan sawit, akhirnya kami ketemu kampung lagi. Namanya kampung Pakawa. Ada satu rumah yang sudah dibuka pintunya. Saat itu memang sudah shubuh.

Kami disambut dengan baik. Dibikinkan kopi, disiapkan makanan, dan dipersilahkan istirahat. Setelah tidur sejenak,  kami langsung pamit melanjutkan perjalanan. Kami juga diantar tuan rumah keluar area perkebunan menuju jalan poros. Selang beberapa lama, telpon berdering. Ternyata dari official yang sedang bergerak mencari kami. Setelah ketemu official akhirnya kami on road ke basecamp 2 dan tiba jam 10 pagi. (IDB/ARZ)

Selasa, 28 Februari 2017

Catatan IDB dalam IOX Celebes (Bagian 1): Melibas Tanjakan Jabal Nur yang Menguras Keringat

Sekitar 63 offroader termasuk 7 official akhirnya diberangkatkan oleh Bupati Sulawesi dan muspida hari Sabtu 25 Februari 2017. Petualangan dengan menunggangi motr trail dalam event Indonesia Offroad Xpedition (IOX) di Sulawesi dimulai dari sini.

Hari pertama dengan jarak tempuh sekitar 130 kilometer langsung disambut dengan cuaca yang terang benderang alias panas. Setelah melewati aspal memutari kota, kami langsung masuk track berdebu. Baru sekitar 1 kilometer,  langsung disambut tanjakan Jabal Nur dan melewati perbukitan. Saat matahari di puncaknya, kami disuguhi lagi tanjakan yang cukup menguras keringat. Banyak rider yang jatuh bangun dan terpaksa turun ambil ancang ancang.

Istirahat sejenak, menikmati indahnya alam
Cuaca yang panas membuat kami harus terus bergerak. Tidak ada pepohonan yang memayungi kami. Sepanjang perjalanan disuguhi hamparan perbukitan batu lepas campur debu.

"Simpan tenaga, atur ritme yaa. Ini masih hari pertama, " kata safety track Sovan Dradjat.

Setelah melewati perbukitan dan semak belukar akhirnya kami keluar ke perkampungan. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk isi BBM dan makan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA.

Setelah selesai urusan perut,  kami lanjutkan perjalanan melewati aliran sungai sekitar 10 km. Tidak ada tanda lintasan yang diberikan panitia. Hanya modal GPS yang menuntun kami akhirnya keluar dari track sungai yang penuh batu.

Menjelang senja, posisi kami berada di puncak bukit dan masih sekitar 27 kilometer lagi yang harus diselesaikan dari total 130 km menuju base camp 1 di obyek wisata Paralayang di Matantimali. Perjuangan menuju puncak terbayar dengan suguhan pemandangan indah.

Menambal ban dalam yang bocor
Saat akan melanjutkan perjalanan, motor salah satu official bro Dharma ban dalamnya pecah. Wajar karena tanjakan yang kami lewati memang penuh batu tajam. Sekitar 1 jam kami berhenti untuk mengganti ban dalam.

Langit sudah memerah saat kami melanjutkan lagi perjalanan.  Setelah melewati turunan turunan curam,  kami masuk ke semak semak belukar. "Kalau tanpa GPS sudah jelas nyasar, " kata Gus Zidnie.


Track hari pertama ditutup dengan tanjakan tikus. Bukan perkara mudah saat kami melewati tanjakan berundak dengan medan berbatu saat gelap. Meski semua motor sudah dilengkapi lampu tambahan,  tetap saja banyak motor yang terperosok. Kami saling bantu hingga akhirnya keluar dari jalur sekitar jam 10 malam. (IDB/ARZ).


Suasana base camp

Kamis, 16 Februari 2017

Pasang Kabel Sling dan Ganti Karbu Kecil untuk Persiapan Melibas Jalur Offroad IOX Celebes

Motor sudah siap tempur melibas jalur offroad IOX Celebes
Hari hari jelang acara Indonesia Offroad Xpedition (IOX) sudah semakin dekat. Beragam persiapan mulai dari motor,  rider,  hingga pendukung teknis lainnya sudah dilakukan.

Untuk motor, seluruh rider sudah memasang lampu led sebagai tambahan lampu utama, tas bagasi, dan rak tambahan. Banyak juga yang membawa jerigen bensin isi 5 liter. Terutama mereka yang menggunakan motor 2 tak karena mesinnya dikenal haus bensin.

Salah satunya motor ARZ, yang diberi nama Husin alias Husqvarna Indonesia. Motor yang dimodif vintage dengan basic Husqvara WR 250 ini di kondisi jalan rata saja konsumsi bensinnya setara mobil yakni 1:10. Apalagi kalau digunakan offroad,  bisa tambah boros lagi seiring betotan gas saat melintasi medan ekstrim

"Saya bawa 2 jerigen isi 4 liter, nanti tas juga bisa diisi botol big cola yang berisi bensin " , kata ARZ yang jadi kontributor IDB di event IOX 2017.

Senada pula motor yang digunakan BMK. Motor dengan basic KTM 125 yang dimodif vintage ini juga ngga kalah boros. Bahkan untuk mengurangi 'rasa haus' motor ini sampai diganti karburatornya. "Karbu saya ganti lebih kecil. Yang penting main langsam, gak perlu buka gas dalem-dalem biar irit BBM",  kata pria gondrong asli Jepara ini.


Mungkin motor BMK ini satu satunya trail terunik yang ikut IOX. Posisi rantai di kanan, kick starter di kiri,  masih ditambahi lagi "winch" roda menambah keunikan trail kesayangan bapak satu anak ini.

"Buat jaga-jaga kalau terjebak lumpur dan ngga ada yang narik ", kata BMK sambil terkekeh.

Sistim kerjanya yaitu kabel sling dililitkan ke bagian roda belakang dan diberi plat pelindung agar tidak masuk ke jari-jari dan rantai. Ide cemerlang yang biasanya juga digunakan truk- truk di Kalimantan yang masuk hingga pedalaman. 

Motor dilengkapi dengan tas bagasi untuk bawa barang
Pantau terus blog IDB ini untuk mengikuti perkembangan event IOX 2017, langsung dari jalur offroad di Sulawesi! (IDB/ARZ)

Sabtu, 11 Februari 2017

Diler Trail Sherco dan Produk Fox Asli Hadir di Kota Malang

Penggemar motor trail di kota Malang semakin dimanjakan dengan semakin mudahnya membeli motor tral berkualitas berikut aksesorisnya. Kini hadir XClub yang menjual aneka riding gear produk Fox mulai dari sepatu, jersey, celana, gogle,safety gear hingga helm. XClub yang berada di Dinoyo Mall City ini semakin melengkapi toko-toko lain yang menjual aksesoris motor trail di Malang Raya.

“Kami hanya menjual produk fox, shift dan TLD yang ori, bukan bajakan”, kata Adit, penjaga toko XClub kepada IDB.

IDB menyambut baik kehadiran Xclub di Kota Malang ini, karena konsumen akan semakin mudah jika ingin membeli produk yang asli. Maklum di pasaran ada banyak produk berlabel Fox, tetapi itu sering bukan produk asli atau sering disebut barang KW.
Menjual aneka riding gear merk Fox dari seoatu hingga helm
Mantapnya lagi, XClub juga akan jualan motor trail asal Eropa yaitu Sherco. Nama Sherco tidaklah asing bagi penggemar motor enduro dan trial kelas dunia. Dengan kehadiran Sherco, penggemar motor trail build up di Malang semakin banyak pilihan selain KTM dan Husqvarna.

“Selain menjual motor Sherco kami akan jual spare parts dan aksesorisnya”, kata Edy Kampang, bos XClub Malang.

Yang mau belanja produk Fox dan Sheco atau sekedar tanya-tanya dulu, silahkan kontak Adit di 082187638443. (IDB)

Kamis, 09 Februari 2017

Honda Mulai Main Motor Trail, Akankah Menggerus Dominasi Kawasaki KLX?

Merk sepeda motor Honda itu begitu kuat di hati sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan di banyak daerah orang menyebut sepeda motor itu dengan sebutan "honda", misalnya Honda Mio, padahal Mio itu keluaran pabrikan Yamaha.

Fakta menunjukan Honda menjadi penguasa di pasar sepeda motor tanah air. Motor matic yang dulu sempat dikuasai oleh Yamaha, kini direbut oleh Honda. Di segmen motor sportpun Honda juga semakin berani betarung dengan merek lain seperti Kawasaki dan Yamaha.

Nah ketika Honda mulai ikutan main motor trail dengan mengeluarkan CRF250Rally apakah ini akan jadi ancaman serius bagi Kawasaki dan Yamaha yang sudah duluan jualan motor trail? Kalau hanya CRF250Rally yang dijual sepertinya belum akan bisa merebut tahta raja trail dari Kawasaki yang meraup pundi-pundi uang lewat KLX 150 yang laris manis.

Akan beda ceritanya jika Honda juga jadi mengeluarkan motor trail 150 cc, ini benar-benar ancaman serius bagi dominasi Kawasaki. Apalagi jika AHM melengkapi barisan pasukan trailnya dengan tipe lain seperti CRF 250X, CRF 230F dan CRF 250R, itu IDB yakin Honda lewat AHM akan bisa menggoyang Kawasaki.

Seberapa Besar Pasar Motor Trail di Indonesia?

Pasar moto trail memang tidak sebesar motor matic, bebek atau sport untuk harian, tetapi tetap saja ini menggiurkan untuk dimainkan. Apalagi jika untuk keperluan brand image, perlu setiap pabrikan mengeluarkan semua andalan motornya termasuk tipe trail.

Dari data yang ada, terlihat Kawasaki dengan KLX 150-nya masih mendominasi tahun lalu, seperti dikutip dari Kompas di artikel bawah ini.

Melongok data distribusi Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) 2016, segmen ini masih dikuasai sepenuhnya oleh Kawasaki dengan pencapaian untuk KLX250 mencapai 2.272 unit sepanjang 2016, dengan rata-rata penjualan 190-an unit perbulannya.

Lalu ada Suzuki DR 200 S yang dalam dua bulan terakhir di November dan Desember 2016, mencapai 1.400 unit, di mana ini untuk memenuhi pemesanan pihak Kepolisian Republik Indonesia. Kemudian Yamaha WR250, yang tidak tercantum rekapitulasi penjualannya di data AISI, di mana sudah meluncur sejak awal 2015. 

Sementara untuk KLX150, angkanya menyentuh 64.030 unit selama 12 bulan di 2015. Kalau dihitung rata-ratanya, sebesar 5.336 unit, atau menikmati 9,95 persen dari segemen sport secara keseluruhan.

Menarik dinanti kehadiran CRF250 dan CRF150 dari Honda, dan seberapa besar akan memengaruhi pasar trail, hanya menyomot jatah Kawasaki atau bisa memperluas pasarnya. (IDB)

Senin, 06 Februari 2017

Trail Honda CRF250 Rally Dilego Rp 62,9 juta Lengkap dengan Surat

Astra Honda Motor(AHM) akhirnya benar-benar meluncurkan motor trail series yaitu CRF 250 Rally dan CRF 1000L African Twin awal Februari 2017 ini. Sayangnya trail yang spek full offroad belum diluncurkan oleh AHM. Mereka lebih memilih tipe  adventure yang mungkin diangap konsumennya lebih luas.

CRF 250 Rally dilepas dengan harga yang relatif murah yaitu Rp 62,9 juta on the road Jakarta. Artinya dengan harga segitu motor ini sudah dilengkapi dengan surat lengkap yaitu STNK dan BPKB, jadi bisa dipakai touring kemana-mana tanpa takut disemprit polisi.

CRF 250 Rally ini akan jadi pesaing berat Kawasaki KLX 250S dan Yamaha WR250R yang sudah beredar duluan di tanah air. IDB tidak memasukan Kawasaki Versys 250 sebagai pesaing CRF250 Rally karena DNA-nya berbeda. CRF 250 Rally basisnya motor trail, itu ditandai salah satunya diameter lingkar rodanya yang mengusung depan ukuran 21 dan belakang 18. Dengan kombinasi ukuran roda seperti ini, CRF akan lebih mudah melibas jalanan offroad, dibandingkan Versys 250.

IDB suka dengan gaya AHM dalam launching dan promosi CRF series ini. Terlihat profesional dan tranparan. Salah satu indikaornya adalah informasi yang sangat jelas di website mereka (www.astra-honda.com), termasuk mencantumkan tata cara untuk inden.

Ini membuktikan bahwa CRF 250 Rally dan CRF 1000L ini benar-benar dijual secara resmi oleh ATPM. Dengan harga Rp 62,9 juta itu harga CRF 250 Rally sama dengan harga Kawasaki KLX 250S.

Yang juga penting semoga inden CRF 250 Rally atau African Twin itu waktunya tidak terlalu lama dan ada kepastian yang jelas bagi konsumen. Karena IDB mendapat beberapa inbox yang mengeluhkan lamanya inden trail Yamaha YZ series, semoga AHM tidak demikian. (IDB).

Minggu, 05 Februari 2017

Babak Belur Melumpur di Gunung Mujur

Sudah lama RZ ngidam pingin offroad di jalur yang berlumpur dan basah. Maklum dia pemula yang selama ini belum pernah mencicipi jalur basah. Untuk ukuran pemula, RZ yang naik Kawasaki KLX 150 itu terbilang kencang bawa motornya di jalur yang terbuka dan kering.

Mimpi RZ terwujud ketika dia mengikuti offroad tim CHEELA dan IDB ke Gunung Mujur yang berada di kaki gunung Arjuna, Kabupaten Malang pada awl lFebruari 2017. Mimpi yang ternyata bikin babak belur. Nightmare pertama yang tidak akan terlupakan oleh RZ.

Tim yang berjumlah hanya 3 orang yaitu RK, YD dan RZ merambat pelan menuju arah Kecamatan Karangploso dengan motor KTM 300 XCW, KTM 250 XC dan Kawasaki KLX 150. Seperti biasa kami memacu motor dengan santai dan santun ketika lewat jalanan raya dan perkampungan.

Tidak sampai 15 menit kemudian, kami sudah sampai di kawasan Yonkes, Karangploso. Dari sinilah mimpi RZ untuk main lumpur bersama motor trailnya akan dimulai. Kami pun siap membuka gas motor dengan lebih kencang karena sudah memasuki jalur offroad yang sepi.

RK langsung melesat di depan dengan KTM 300 racing-nya, melintasi jalan tanah yang becek. Air bercampur lumpur muncrat membasahi google dan pakaian. Hanya hitungan menit, motor dan rider sudah tidak kelihatan lagi warnanya, yang tampak hanya warna cokelat, warna lumpur.

Jalur "neraka" yang super licin
Tidak lebih dari 5 menit kami memasuki jalur sungai yang tidak terlalu dalam. Dangkal saja sungainya, namun setelah melewati sungai tampak tanah padas mengkilat yang itu tanda-tanda jalur super licin. Jalannya menanjak sedikit saja, tapi licin sekali.

RK langsung buka gas dengan ritme santai, agar roda belakang tidak spin. Dengan pengalaman belasan tahun main offroad, RK sukses melewati tanjakan licin itu.

Nasib lain terjadi pada YD dan RZ. YD yang juga baru pertama kali ofroad di jalur
Berjibaku melibas jalur licin
licin memakai KTM 250 XC terlihat belum beradaptasi dengan karakter motornya di jalur licin. Dia terjebak di sebuah lubang tanah padas yang licin. Motornya meraung-raung seperti suara gergaji, tetapi motor tidak bergerak sama sekali. Peluh mengucur deras dari sekujur tubuh YD.

Kondisi lebih parah dialami RZ yang masih muda. Motor KLX 150 yang dinaiki RZ betul-betul tidak bergerak di jalur licin ini. Meskipun digas pol, tetap saja motor tidak bergerak. Motornya ngambek. Tubuh RZ sudah penuh dengan peluh dan cipratan lumpur.

Motor RZ terpaksa ditarik dengan tali
Karena RZ tidak mungkin lewat jalur licin itu, akhirnya YD turun tangan membantu menarik KLX 150 dengan seutas tali. Untung YD membawa tali, kalau tidak, mungkin bisa sampai siang kami terjebak di tanjakan licin itu.

Begitu lolos tanjakan licin, RZ langsung terkapar di tanah. Tenaganya terkuras habis. Meskipun usia RZ terpaut 20 tahun lebih muda dibandingkan YD dan RK, tetapi pengalaman dan kemampuan motor berbicara lain.

“Aduh tolong om istirahat yang lama ya, ini saya seperti mau pingsan”, kata RZ sambil terlentang pasrah di atas rumput.
RZ terkapar setelah melewati jalur licin, dilihat sama seniornya YD
Setelah istiahat hampir setengah jam, kami melanjutkan perjalanan. Jalurnya masih berlumpur, tetapi tanah datar yang diselingi dengan batu di beberapa titik.

Motor dan penunggangnya sudah KO di jalur ini
Dua puluh menit kemudian kami tiba d sebuah kampung kecil. Kami berhenti sejenak di sebuah warung untuk membeli tambahan minuman. Ketika kami mau melanjutkan perjalanan, ternyata ban depan motor RK bocor. Kemungkinan bocor waktu melintas jalanan batu makadam.

Untungnya di kampung itu ada tukang tambal ban. Karena sudah jam 12.00, kami memutuskan untuk makan siang sambil menunggu proses tambal ban.

Jalur licin dan penuh lubang yang membuat ban terjebak
Beres mengisi perut, tambah BBM motor dan menambal ban, kami melanjutkan offroad di hari yang cerah itu. Jalur offroad berikutnya itu di tengah hutan mahoni dan pinus yang juga terkenal sangat licin di kala musim hujan seperti ini.

Benar saja, ketika kami memasuki jalur offroad di tengah hutan mahoni itu motor susah sekali melintas. Bukan sekedar licin, tetapi ada banyak lubang dalam yang membuat ban motor terjebak.

Kami memutuskan untuk lewat jalur alternatif. Masih jalur offroad, cuma kini berada di tengah hutan pinus. Jalurnya  single track, berupa tanah padas mengkilat yang licin.

Ketika buka gas, kami berusaha motor tidak berhenti, karena jika berhenti di tanjakan yang licin itu pasti motor akan susah naik lagi. Biasanya roda belakang akan spin alias memutar terus dan amblas ke dalam tanah.

Tiiga orang penggemar offroad ini terus meliuk-liuk di atas motor di sela-sela hutan pinus, Jalur menanjak terus dan super licin bro. Benar-benar licin, jika salah ambil jalur akan langsung terjungkal.

Perjuangan melintasi jaur licin di tengah pinus itu berakhir ketika kami akhirnya sampai jalan makadam di bawah kaki Gunung Mujur. Terlihat wajah-wajah penuh keringat bercampur lumpur.

“Istimewa jalurnya, untung saya pakai KTM 250 dua tak, motornya ringan dan bertenaga, sehingga saya masih bisa melibas jalur licin tadi”, kata YD sambil terengah-engah.

YD yang biasa memakai motor 4 tak yaitu Kawasaki KX250F itu benar-benar merasakan sensasi kepuasan yang berbeda ketika menunggang motor 2 tak keluaran KTM Austria.

“Sejak punya KTM 250 XC ini saya jadi pingin offroad terus hahaha”, tawa YD yang berusia diatas 45 tahun itu.

Sekali lagi RZ mencium tanah basah, tanda-tanda capek
Kondisi berbeda dialami RZ, anak muda yang penuh semangat tinggi ini. RZ terlihat kecapekan, itu terbukti bahkan di jalan datarpun dia terjungkal mencium tanah basah. Jatuh persis di depan warung yang berada di depan tangga menuju Gunung Mujur.

Karena RZ terlihat sudah kecapekan, RK memutuskan menyudahi offroad hari itu, Karena kalau dilanjutkan, jalurnya akan lebih licin lagi dan dikuatirkan RZ akan benar-benar pingsan.

Berakhir sudah offroad berlumpur hari itu. Yang jelas ini akan jadi pengalaman yang tak akan terlupakan bagi RZ. Pengalaman tentang offroad yang ternyata yang bisa bikin mau pingsan. (IDB).