Senin, 25 Mei 2015

Offroad Seputar Petungsewu Adventure


Minggu (24/5/2015) IDB mengikuti tim CHEELA offroad di seputar Petungsewu Adventure (www.petungsewuadventure.com), Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Peserta yang ikut hanya 6 orang yang membawa motor KTM 300 XCW, Husaberg TE 300, Honda CRF 150F dan Kawasaki KLX 150.

Justru karena hanya 6 orang itulah, offorad bisa asyik dan betot gas lumayan dalam, meskipun di jalur single track. Selama 6 jam offroad, jalur didominasi single track yang menguras energi. Maklum ada jalur sepanjang satu kilo meter yang memaksa riders untuk menunduk dan bahkan merayap karena melewati ‘goa’ yang terbentuk dari rerimbunan pohon pahitan.

Offroad diakhiri dengan makan siang dan istirahat di Petungsewu Adventure. Tempatnya asyik dan cocok untuk para offroader, karena jalur offroad hanya 5 menit dari Petungsewu Adventure. Berikut ini beberapa foto offroad IDB bersama tim CHEELA:

Minggu, 17 Mei 2015

Standar Samping yang Praktis untuk Motor Tipe Motocros yang Dipakai Enduro


Tidak sedikit penggemar offroad motor trail yang memakai motor tipe cross (di Indonesia sering disebut motor SE, Special Engine). Motornya yang lebih ringan dibandingkan tipe enduro dan tenaga yang galak, membuat motor tipe cross memikat banyak offroader untuk memamakainya di jalur offroad. Rider yang gaya ridingnya agresif dan punya fisik yang prima pasti akan senang memakai motor tipe cross untuk offroad atau enduro.

IDB juga punya pengalaman dalam menunggangi motor tipe cross untuk enduro, bahkan IDB mencoba memodif Kawasaki KX250F yang dikonversi menjadi motor enduro yang kami namai KX250FX. Selain KX250FX, IDB juga sudah mencicipi nikmatnya naik Honda CRF250R, KTM 250 SXF, KTM 250 SX, Kawasaki KX 100 dan KTM 85 SX untuk dipakai offroad.

Semua motor yang disebut di atas itu sangat mumpuni dipakai di medan offroad, dengan catatan sang joki punya fisik prima dan gaya riding yang agesif. Selain factor fisik, soal suspensi dan gearing juga harus disesuaikan dulu, agar motor yang biasa dibetot untuk kompetisi itu lebih nyaman dihajar di jalur offroad.

Salah satu kendala memakai motor tipe cros untuk offroad adalah semua motor tipe cros itu tidak dilengkapi dengan standar samping. Jadi kalau mau berhenti harus cari sandaran pohon dulu. Nah yang bikin puyeng, kalau di jalur itu tidak ditemukan pohon, padahal rider-nya harus berhenti karena sudah ngos-ngosan nafasnya.

Salah satu solusinya adalah membawa standar paddock yang dimasukan dalam tas punggung. Masalahnya kalau membawa standar paddock dari pabriknya itu terbuat dari besi dan akan memakan tempat. Tidak praktis bro.

Untungnya Polisport mengeluarkan produk standar samping model Tripod yang terbuat dari plastik. Standar samping ini bisa dilipat dan beratnya hanya 850 gram. Kalau dilipat, sangat mudah untuk dimasukan dalam tas punggung, tanpa memakan tempat yang banyak.

IDB telah mencoba standar samping Tripod Polispot tersebut untuk menemani offroad bersama KTM 250 SX dan Kawasaki KX250FX. Hasilnya, standar samping Polisport ini sangat fungsional sekali. Bahannya kuat, namun ringan. Ketika standar dipasang di motor, motor akan berdiri dengan stabil.

IDB merekomendasikan pemakaian standar samping Tripod Polisport yang dijual seharga Rp 450 ribu ini. Hanya saja standar samping Polisport itu cocok untuk motor tipe cross yang 250 cc ke atas, kalau untuk KTM 85 SX atau Kawasaki KX 85 itu standar sampingnya terlalu panjang. (IDB)

Jumat, 15 Mei 2015

Ban Trail Murah Tapi Tidak Murahan


Motor trail build up seperti KTM, Husqvarna, atau Husaberg biasanya identik dengan parts yang mahal, termasuk urusan ban. Kalau tidak pakai ban mahal yang harganya diatas Rp 1 juta itu katanya kurang sip. Benarkah demikian?

Ban yang mahal memang enak, namun tidak enak di harga. Adakah ban murah, namun dengan kualitas mumpuni? Selama berbulan-bulan IDB melakukan uji coba pemakaian ban IRC tipe iX-05H (ban depan) dan iX-09W (ban belakang). Ban IRC yang dijual seharga tidak lebih dari Rp 500 ribu ini IDB coba di motor KTM 300 XC, Kawasaki KX250F, Husaberg TE 300, Kawasaki KLX 250 dan Kawasaki KLX 150S.

Awal IDB memakai ban IRC ini, beberapa teman sempat bilang, “masak motor mahal dipasangi ban murah?”.  Pemikiran seperti itu wajar, karena ada peribahasa ada harga ada rupa. Tetapi ternyata untuk ban IRX seri iX, peribahasa itu tidak berlaku bro.

Setelah berbulan-bulan IDB mencobanya di berbagai jalur offroad, mulai dari tanah keras, lum;pur, tanah licin dan pasir, terbukti ban IRC iX itu sangat mumpuni untuk diandalkan sebagai teman ber-offroad-ria. Ban mempunyai daya cengkeram yang baik. Ini juga sudah dibuktikan di beberapa tim Motocross nasional yang memakai ban IRC sejak tahun 2010.

Ukuran ban IRC seri iX tersedia untuk ring 16, 17 depan, 18, 19 depan dan 21. Hanya saja untuk ukuran 18 itu hanya tersedia ukuran 100/100. Untuk ukuran yang lebih lebar, misalnya 100/110 itu IRC belum menyediakannya.

Kalau anda tidak mengejar gengsi, tapi mencari fungsi, ban IRC seri iX bisa diandalkan untuk motor trail anda, termasuk trail buil up. IDB sudah membuktikannya, silahkan anda coba. (IDB).

Senin, 04 Mei 2015

Indonesia Enduro Championship (IEC) 2015 Siap Digelar di Coban Talun Batu

Kejuaraan enduro Indonesia yang dikenal dengan nama Indonesia Enduro Championship (IEC) siap kembali digelar di tahun 2015. Seri pertama akan diadakan di Coban Talun, Batu pada tanggal 30-31 Mei 2015. Untuk IEC 2015 ini IDB menjadi official media partner. Informasi lebih lanjut tentang IEC 2015, silahkan hubungi 082233645000.


Untuk kelas yang dilombakan berikut hadiahnya silahkan lihat info di bawah ini:

Seri 1
PELAKSANAAN
Hari : Sabtu dan Minggu
Tanggal : 30 – 31 Mei  2015
Waktu : 08.00 s/d SelesaiLokasi : Wanawisata Coban Talun, Batu, Jatim


TECHNICAL MEETING
Tanggal : 29 Mei 2015
Waktu : 19.00 wib - selesai
Tempat : Pendopo Kota Wisata Batu


WALKING SESION
Hari Jumat 29 Mei 15


Kelas yang dilombakan dalam IEC:

Built Up (Pendaftaran @Rp 400rb)
E1- Open
E2- Hobby 15th +
E3- Hobby/Eks Pro 35th +

Lokal (Pendaftaran @Rp 300rb)
EL1- Open
EL2- Hobby

Campuran/Modif (Pendaftaran @Rp 200rb)
CL1- FFA Open
CL2- FFA Hobby
CL3- Bebek Open


HADIAH (Uang+Trofi):
Build UpE1 sbb:
Juara I : 5jt
Juara II : 2.5jt
Juara III : 1.25jt
Juara IV : 750rb
Juara V : 500rb

E2+E3:
Juara I : 3jt
Juara II : 1.5jt
Juara III : 1jt
Juara IV : 600rb
Juara V : 400rb

Lokal
EL1:
Juara I : 2jt
Juara II : 1jt
Juara III : 750rb
Juara IV : 500rb
Juara V : 300

EL2:
Juara I : 1.5jt
Juara II : 750rb
Juara III : 600rb
Juara IV : 400rb
Juara V : 300

Campuran/Modif 
CL1:
Juara I : 2jt
Juara II : 1jt
Juara III : 750rb
Juara IV : 500rb
Juara V : 200

CL2:
Juara I : 1.5jt
Juara II : 750jt
Juara III : 600rb
Juara IV : 300rb
Juara V : 200

CL3:
Juara I : 1.5jt
Juara II : 750jt
Juara III : 500rb
Juara IV : 300rb
Juara V : 200






Senin, 27 April 2015

Uji Coba Viar Cross-X 250 di Jalur Offroad (bagian kedua)


Secara penampilan. Motor Viar Cross X 250 memang terlihat gagah, mirip Honda CRF 250X. Penampilannya yang garang itu membuat penasaran IDB untuk mencobanya di jalur offroad. Dalam uji coba ini, ada empat hal utama yang menjadi perhatian yaitu suspensi, mesin, handling dan sektor pengereman. Bagiamana hasil uji cobanya? Simak terus artikel ini.

Mesin, Galak di Putaran Bawah

Mesin yang ada di Viar cross X 250 mirip sekali dengan mesin yang ada di Honda CRF 250X. Mesin SOHC dengan empat kep itu sudah dilengkapi dengan pendingin radiator (pakai air). Ketika IDB mencoba wheelie alias mengangkat ban depan motor sambil gas motor digeber, motor mudah untuk wheelie bro. Ini menunjukan motor mempunyai torsi yang mantap.
Torsi yang besar akan berguna untuk melibas jalur offroad. Apalagi jalur yang penuh tikungan, single track dan tanjakan.

Ketika gas motor dibetot lebih dalam lagi untuk jalur speed offroad, motor masih enak dipakai. Getaran mesin sangat minim, beda dengan kebanyakan motor mocin yang sudah pernah dicoba oleh IDB. Sebelumnya, IDB sudah pernah mencoba hapir semua motor trail non Jepang dan Eropa, misalnya Jialing, Monstrac, GasGaz, Hyosung, Loncin dan Happy. Kebanyakan motor itu punya kendala di mesin yang getar, bikin tangan rider kesemutan hehehe, tapi Viar Cross X ini minim getaran mesinnya.

Mesin yang menancap di Viar Cross X 250 mumpuni melibas berbagai jalur offroad ketika IDB melakukan uji coba. Dalam uji coba ini IDB menggeber habis motor dengan aksi speed offroad, jumping, single track dan double track.

Suspensi, Bisa Disetel

Suspensi menjadi komponen yang sangat vital ketika offroad. Suspensi yang tidak mumpuni akan membuat rider jadi cepat capek dan juga tidak pede dalam melibas rintangan. Suspensi depan (fork) viar Cross X 250 sudah mengusung tipe up side down namun tidak jelas memakai merk apa. Sepertinya itu produksi dari Viar sendiri.

Untuk suspensi belakang sdah monoshock yang bisa disetel daya pantulnya. Secara penampilan fork USD yang menancap di Viar ini terlihat keren. Persis motor SE keluaran Jepang.

Dalam uji coba IDB, suspensi depan dan belakang Viar Cross X 250 cukup mumpuni untuk melibas jalur offroad. Diajak jumping setinggi 1 hingga 2 meter, suspensi mampu meredamnya degan baik. Begitu juga pada waktu melintas di jalanan berbatu, suspensi bekerja dengan optimal.

Tiga orang tim IDB yang melakukan uji coba itu mempunyai rentang bobot tubuh antara 55 kg hingga 80 kg. Untuk rider yang berat tubuhnya 80 kg ke atas itu suspensi yang ada di Viar Cross X 250, terutama di bagian belakang terasa terlalu lembek. Motor mengayun terlalu lembut sehingga mengganggu dalam hal handling.

Namun untuk rider yang beratnya 55 kg hingga 70 kg, Viar Cross X 250 terasa nyaman. Sepertinya dari pabrikan itu suspensi motor disetting untuk berat rider dibawah 70 kg.

Handling Motor

Rangka Viar Cross X 250 mengusung model delta box, mirip kayak Honda CRF 250. Bedanya di Viar masih pakai besi, sementara di Honda sudah pakai almunium yang berkualitas. Model rangka sangat berpengaruh dalam handling di jalur offroad.

Handling Viar Cross X 250 cukup enak di jalur offroad. Untuk menikung, rebah dan speed offroad, motor mumpuni melibasnya. Berat motor juga terasa ringan jika dibandingkan dengan Kawasaki KLX 250.

Namun IDB menilai seandainya rangka Viar itu terbuat dari almunium, pasti handling-nya akan lebih enak dan stabil, terutama di tikungan. Dengan rangka besi, ada terasa handling Viar ini agak berat kedepan.

Masukan IDB agar rangka delta box diganti almunium sepertinya akan direspon positif oleh Viar. Kabarnya Viar ada rencana memberikan opsi jika konsumen ingin rangka almunium tinggal menambah biaya sekitar Rp 7 jutaan.

Jika rangka terbuat dari almunium, pasti bobot motor akan jauh ringan juga. Ini akan berefek dengan semakin lincahnya motor meliuk-liuk melibas rintangan di medan offroad.

Sektor Pengereman

Motor dengan mesin mumpuni dan suspensi nyaman, tapi kalau sektor pengeremannya kurang pakem itu tentunya akan jadi bahaya. Bisa-bisa rider mudah nyungsep mencium tanah atau menabrak pohon di hutan. Apalagi untuk rider yang doyan membetot gas, harus pakem tuh remnya.

Perangkat rem depan dan belakang di viar Cross X 250 sudah pakai disc brake. Ketika IDB mencobanya di jalur aspal dan offroad, kedua rem tersebut bekerja deegan cukup baik. Rem mampu menghentikan laju motor, tanpa ada gejala oleng.

Kesimpulan

Setelah melakukan uji coba Viar Cross X 250 di jalur offroad, motor yang dijual seharga Rp 32 jutaan ini terbukti memupuni untuk dipakai offroad. Untuk pemula, motor ini akan sangat menyenangkan.

Orang yang ingin punya motor tampang gagah ala SE, namun dengan harga terjangkau, Viar Cross X 250 bisa jadi pilihan. Jika dibandingkan dengan Kawasaki KLX 150L yang dijual seharga sekitar Rp 28 jutaan, namun kemudian harus upgrade dengan beli fork USD agar lebih garang tampilannya, tetunya motor Viar bisa menjadi alternatifnya.

Bagaimana dengan soal daya tahan motor? Tentunya IDB tidak bisa menjawabnya, karena IDB hanya mencobanya sehari di jalur offroad. Ketahanan motor hanya bisa dibuktikan dengan waktu dan pemakaian yang terus menerus. Namun sepertinya produsen Viar serius menggarap pangsa motor trail ini, jadi tentunya mereka tidak mau main-main soal kualitas.

Bagaimana kalau Viar Cross X 250 dibandingkan dengan Kawasaki KLX 250 atau GasGaz 250? Tunggu ulasan IDB di artikel berikutnya. (IDB)

Artikel terkaithttp://www.indonesiandirtbike.com/2015/04/uji-coba-viar-cross-x-250-di-jalur.html

Minggu, 26 April 2015

Meriah Pembukaan Dealer Motor Husqvarna Malang


Motor husqvarna semakin menancapkan kukunya di dunia motor trail tanah air dengan secara resmi dibukanya dealer Husqvarna di Malang pada tanggal 25 April 2015. Pembukaan dealer di Malang yang dirancang dengan mewah itu juga dihadiri pembalap enduro ekstrim kelas dunia Graham Jarvis.

Dealer motor Husqvarna bukan hanya menjual unit motor, namun juga spare parts dan pelayanan servis. Bos Husqvarna Indonesia, Duncan McRae kepada IDB mengatakan, “pembukaan dealer Malang ini sangat luar biasa, karena saya tidak menyangka akan dirancang dengan istimewa. Dealer Malang ini bahkan jauh lebih besar dibandingkan yang ada di Bali”.

Pembukaaan dealer motor Husqvarna Malang ini dihadiri oleh tokoh otomotif Jawa Timur, komunitas motor, penggemar dan owner motor husky dan juga pembalap motocross Husqvarna. Aksi Graham Jarvis dalam menaklukan rintangan batu, ban dan kayu dengan Husqvarna TE 300 semakin membuat meriah acara grand opening itu.

“Saya berharap kehadiran dealer Husqvarna di Malang ini akan semakin memperkuat jaringan Husqvarna di Jawa timur dan memberikan pelayanan yang terbaik ke konsumen”, kata Daniel Tangka, pemilik dealer Husqvarna Malang.

Husqvarna Malang
Jalan Mayjen Sungkono 7 Buring Malang
Hp 0811303182, 082177229977

Kamis, 23 April 2015

Uji Coba Viar Cross-X 250 di Jalur Offroad (bagian pertama)

Ketika Viar meluncurkan motor trail Cross-X 250 cc, IDB kebanjiran permintaan untuk melakukan test ride. Permintaan itu dikirim melalui Fb dan email. Untungnya pabrikan Viar yang ada di Semarang tanggap akan animo penggemar motor trail itu, mereka dengan senang hati memberi kesempatan IDB untuk melakukan uji coba motornya.

Bahkan tiga unit motor dikirim langsung dari Semarang ke Malang yang jadi base camp IDB. Itikad baik dari Viar yang mengirimkan motornya ke IDB untuk diuji coba ini menunjukan adanya customer care alias kepedulian terhadap pelanggan. Ini menjadi salah satu nilai plus, ditengah trauma masa lalu dimana produsen motor Cina tidak bertanggung jawab terhadap ketersediaan spare parts. Sepertinya Viar ingin membuktikan bahwa mereka adlah produsen yang bertanggung jawab.

Awalnya IDB akan melakukan uji coba dua tipe, yaitu 250 cc dan yang 200 cc, namun ketika mau uji coba ternyata yang 200 cc itu ada masalah di sektor pengereman. Kemudian IDB memutuskan untuk mengurungkan niatnya melakukan uji coba yang 200 cc, karena pertimbangan faktor keamanan.

Tim IDB yang melakukan uji coba ada 3 orang dan seorang mekanik. Ketiga orang tersebut adalah RK, DW dan YD, yang semuanya sudah kawakan bermain motor trail. Mereka semuanya adalah penggila motor trail. Berbagai jenis motor trail baik lokal maupun build up sudah pernah dicicipi.

Tercatat mereka pernah menunggangi Suzuki TS 125, KLX 150, KLX 250, Honda Cr 125, Honda CRF 250X, Honda CRF 250R, Yamaha WR250F, Kawasaki KX250F, KTM 250 EXCF, KTM 350 EXCF, KTM 450 EXCF, KTM 200 XC, KTM 250 EXC, Husaberg TE 300, Husqvarna TE 250, Husqvarna FE 450 dan banyak lagi. Jadi soal motor trail, rider IDB tidak diragukan lagi soal kepekaan “rasa” dan pengalaman dalam mencicipi motor trail.

Karena IDB itu media online khusus motor trail, yang melakukan uji coba juga orang yang memang hoby main motor trail, tentunya ulasan yang akan kami sajikan itu juga murni dari sudut penghoby motor trail. Tidak ada pesan sponsor ataupun ‘bisnis” dibalik uji coba ini. Bukan IDB namanya bro kalau tidak independen hehehe.

Uji oba kami lakukan di daerah Poncokusumo, Kabupaten Malang, dengan jalur berupa double track, single track, gundukan tanah yang lumayan banyak dan sedikit aspal.

Ada empat hal yang menjadi perhatian utama IDB dalam uji coba ini yaitu suspensi, mesin, handling dan sektor pengereman. Agar uji cobanya obyektif, setiap rider akan mengisi formulir hasil uji coba yang disisi secara independen. Kemudian hasil isian tersebut dikompilasi dan dianalisa. Ini yang membuat hasil uji cobanya agak lama bisa kami posting di website IDB. Apalagi jurnalis di IDB itu khan semuanya bekerja secara sukarela alias tidak dibayar, jadi dikerjakan di sela-sela kesibukan maing-masing.

Penampakan Pertama

Pertama kali melihat Viar Cross-X 250, tampangnya mirip sekali dengan Honda CRF 250X. Suspensi depan sudah mengusung tipe USD dan bagian belakang monosock yang bisa disetel daya pantulnya.

Rangka menggunakan delta box, persis kayak milik motor enduro keluaran Honda. Bedanya kalau di Honda CRF itu delta boxnya pakai almunium spesial, tapi di Viar Cross-X 250 ini masih pakai besi.

Sektor pengereman sudah mengusung disc brake depan belakang. Ketika IDB melihat detil mesinnya, wow ini mirip sekali dengan mesin yang menancap di CRF 250X! Jangan-jangan dalaman mesinnya bisa ditancapin punya CRF 250X.

Melihat tampang motor Viar Cross-X 250 ini terkesan garang dan tidak malu-maluin.
Motor dilengkapi dengan electric starter, jadi tinggal pencet langsung bunyi brum brum. Suaranya knalpotnya cukup halus dan ulem, mirip suaranya Honda CRF 250X atau Yamaha WR250F yang versi lama. IDB suka dengan suara model begini, tidak terlalu memekakan telinga.

Tidak zamannya lagi pakai suara knalpot yang meraung-raung, memekakan telinga, namun lari motornya lemot. Tren di dunia enduro dan motocross kini pabrikan knalpot ternama semacam FMF atau Pro Circuit itu berlomba bikin knalpot yang suaranya kalem, namun beringas dalam mendongkrak tenaga. Bukan menggelegar di suara, tapi loyo di tenaga.

Bagaimana hasil uji coba Via Cross-X 250 di jalur offroad? Tunggu di ulasan IDB berikutnya!