Senin, 19 Februari 2018

Uji Coba ECU Juken Produk BRT untuk Upgrade Perfoma Honda CRF150L di Jalur Offroad

Dalam tim CHEELA yang jadi mitra IDB itu ada tiga orang yang memakai Honda CRF 150L untuk offroad, salah satunya adalah WW. Artikel ini mengupas komponen apa saja di CRF 150L tunggangan WW untuk menaklukan jalur offroad. Berikut ini tulisan WW yang diedit oleh IDB.

Begitu motor dikirim deler ke garasi WW, CRF 150L langsung diuprade untuk spek offroad. Berikut ini spek awal CRF150L milik WW:
  • Mesin standar 150 cc
  • Ban sudah ganti ban offroad merk IRC lengkap dengan stopper bannya
  • Knalpot sudah ganti free flow merk Prospeed TX Series 
  • Stang ganti dengan Protaper Contour low rise seri Charmichael
  • Handguard lokal 
  • Gir depan ganti 13T punya GL Pro (standar 15T), gir belakang tetap standar.  
  • ECU Juken 5 Dual Band 
  • Camshaft seri Standar
  • Per Kopling 


Dalam kondisi mesin standar dan spek di atas, CRF150L ini sebenarnya sudah cukup mumpuni untuk masuk jalur offroad ringan – medium  single track, double track, tanjakan ringan, dengan tipe jalur mulai tanah lumpur, tanah padas, tanah pasir sampai makadam atau tanah berbatu. 

Namun ketika dicoba untuk melahap tanjakan licin dengan kemiringan yang lumayan tegak disertai kondisi tanah yang berlumpur dan licin, ternyata CRF 150L agak kedodoran akibat terkena limiter ECU.

Sekedar informasi, untuk kondisi standar, limiter ECU diset pabrik pada angka 9000 rpm. Jadi saat melahap tanjakan yang agak berat, belum sampai dapat traksi mesin sudah meraung-raung kehabisan rpm. 


Dari sinilah kemudian ada keinginan untuk melakukan upgrade lagi di sektor tenaga mesin, namun tetap mempertahankan kubikasi mesin tetap standar 150CC. Setelah browsing sana-sini karena masih jarang ada yang utak atik parts CRF, akhirnya menemukan  solusi dari pabrikan BRT yang menawarkan paket upgrade untuk mesin standar yaitu: 
  •  ECU Juken 5 Dual Band 
  •  Camshaft seri Standar
  •  Per Kopling 
Dengan 3 komponen ini ada 3 sektor yang mengalami perubahan yaitu:

1. ECU mengubah limiter dari 9000 menjadi maksimal 12.500 (sudah ada yang mengujinya), tapi saya hanya memasang limiter di angka 10.500 (kemungkinan nanti akan dinaikkan lagi sedikit jadi 11.500 atau 12.000).

Selain itu, ECU juga memanipulasi pasokan bahan bakar dengan debit yang lebih banyak dibandingkan standarnya. Timing pengapian juga dimanipulasi oleh ECU ini. Dengan 3 sektor yang diubah ini, otomatis ada peningkatan pada sektor power (pabrikan BRT mengklaim ada kenaikan sekitar 3 HP dibandingkan standarnya). 

2. Camshaft mengubah posisi buka tutupnya klep

3. Per kopling mungkin tidak memberikan peningkatan yang signifikan ke sektor power tapi minimal secara spontanitas bukaan dan tutup kopling jadi lebih terasa hentakannya (dan otomatis berpengaruh ke traksi ban).

Setelah motor diganti dengan 3 komponen di atas, wow memang terasa ada peningkatan soal power. Memang mengukurnya masih dengan perasaan bro, karena belum punya alat dyno test.

Penasaran dengan performa motor setelah mengalami upgrade, motor langsung digeber di jalur yang sama, ketika CRF150L standar kedodoran melewati jalur di lereng gunung Arjuna itu.

Lihat video CRF150L standar kedodoran di jalur licin ini:  CRF 150L di Jalur Offroad


Hasilnya, wah kini CRF150L ini berhasil melibas tanjakan itu dengan mudah. Padahal dulu waktu mesin masih standar itu untuk melewati jalur ini harus dibantu dengan aksi dorong mendorong.

Melihat hasil yang cukup signifikan dnegan produk BRT itu, PR berikutnya adalah mencoba untuk mengganti per klep racing dan camshaft dengan seri  Tune Up. Berharap ada peningkatan lagi di sisi performa mesin karena per klep racing itu diklaim mampu bertahan sampai 14.000 rpm tanpa gejala floating (klep telat nutup dan buka). (IDB/WW)

Selasa, 06 Februari 2018

Beragam Istilah Kegiatan Offroad dengan Motor Trail di Indonesia


Maraknya kegiatan offroad dengan motor trail di tanah air juga memunculkan beragam istilah kegiatan ini. Memang belum ada istilah baku tentang olah raga motor satu ini, Sebutannya di berbagai daerah atau komunitas juga beragam.

Kalau secara global (internasional) itu IDB mencatat kegiatan olah raga dengan motor trail itu dikelompokan dalam setidaknya 4 kelompok utama jika mengacu jenis motornya yaitu:

Motokross, yaitu kompetisi balap motor trail tipe kros di lintasan balap buatan.

Enduro/Off road, yaitu kegiatan olah raa dengan motor trail di alam bebas. Motor yang digunakan beda dengan motor tipe kros, karena motor enduro biasanya dilengkapi dengan lampu dan standar/jagrak samping.

Adventure, yaitu eksplorasi alam atau menjelajah daerah dengan menggunakan motor tipe adventure seperti misalnya BMW GS series, Honda African Twin, Honda CRF 250 rally. Motor tipe adventure biasanya lebih berat dibandingkan motor tipe enduro dan dilengkapi dengan rack bagasi untuk barang.

Trial, yaitu olah raga dengan menggunakan motor trial. Motor trial itu ringan dan biasanya tanpa jok untuk duduk, karena rider kebanyakan berdiri dalam mengendarai motor trial.

Bagaimana dengan di Indonesia? Istilahnya sangat beragam dan kadang juga rancu. Berikut ini istilah atau sebutan kegiatan off road dengan motor trail yang dirangkum IDB:
  1. Ndakar, mengacu kegiatan rally Dakar. Istilah ini banyak dipakai di Batu, Malang.
  2. Trabas, mungkin mengacu kepada kegiatan dari salah satu klub trail tertua di taah ar yaitu Trabas Bandung.
  3. Ngetril
  4. Njalur
  5. Turing
  6. Offroad, IDB biasa pakai istilah ini
  7. Adventure, meskipun nyatanya yang ikut tidak semuanya motor tipe adventure
  8. Enduro, meskipun nyatanya yang ikut tidak semuanya motor enduro
  9. Kros, padahal tidak di sirkuit
  10. Mbolang
Kalau di tempat kamu, apa istilahnya?


Sabtu, 20 Januari 2018

Tim KTM Kembali Kuasai Rally Dakar 2018, Matthias Walkner Menjadi Jawaranya


Tim KTM kembali menguasai kejuaraan rally terganas di planet ini, Dakar 2018. Matthias Walkner, pembalap KTM dari Austria menempatkan dirinya pada posisi teratas menjadi jawaran Rally Dakar 2018. Posisi kedua diraih oleh pembalap Honda Monster Energy, Kevin Benavides.

JIka dilihat 12 besar jawara dalam rally yang diadakan di tiga negara yaitu Peru, Bolivia dan Argentina itu meskipun masih didominasi KTM tetapi lebih bervariasi merk motornya. Dalam dua besar tersebut tercatat selain KTM juga ada Honda, Gas Gas, Hero, Husqvarna dan Sherco. Sayangnya Yamaha terpaksa harus keluar dari barisan 12 besar setelah pembalap utamanya terjatuh.

Menariknya, motor yang masuk dalam 12 besar itu mencuat satu merk yang mungkin masih asing di telinga kita, yaitu Hero. Motor Hero asal India ini dengan pembalapnya Oriol Mena sukses berada di posisi 7. Ini bukan prestasi main-main lho.
Laia Sanz, pembalap wanita dengan prestasi gemilang
Pembalap wanita, Laia Sanz asal Spanyol kembali menorehkan prestasi gemilang di balap rally yang didominasi kaum pria ini. Laia dengan KTM 450 Rally-nya dengan pertarungan ketat akhirnya berhasil berada di posisi 12. 

Ini dia daftar 12 besar pemenang Rally Dakar 2018:

1. Matthias Walkner (Austria), KTM
2. Kevin Benavides (Argentina), Honda
3. Toby Price (Australia), KTM
4. Antoine Meo (Perancis), KTM
5. Gerald Farres (Spanyol), KTM
6. Johnny Aubert (Perancis), Gas Gas
7. Oriol Mena (Spanyol), Hero
8. Pablo Quintanilla (Chili), Husqvarna
9. Daniel Oliveras (Spanyol), KTM
10. Jose Ignacio Cornejo (Chili), Honda
11. Juan Pedrero Garcia (Spanyol), Sherco
12. Laia Sanz (Spanyol), KTM

Sumber: dakar.com

Selasa, 16 Januari 2018

Kemampuan Honda CRF 150L di Jalur Offfroad Licin Diluar Dugaan


Kemampuan Honda CRF150L dalam melibas jalur offroad yang licin itu diluar dugaan IDB. Dengan power mesin standar yang tidak terlalu istimewa, yang setara dengan Kawasaki KLX 150 BF itu awalnya IDB ragu dengan kemampuan CRF150L untuk melahap jalur offroad yang licin.

Tetapi ketika IDB dan tim CHEELA sudah beberapa kali melakukan offroad ke jalur pegunungan dan hutan yang licin, IDB terkejut denga kemampua n CRF150L yang dibandrol sehaga Rp 32 jutaan in. Ternyata CRF 150L mampu melibas jalur offroad yang licin itu dengan baik.


Dalam  liingkaran IDB dan tim CHEELA ada empat rider yang menunggangi CRF150L. Semua rider itu memang bukanlah pemula tetapi sudah kenyang dengan bau tanah medan offroad .


Jalur offroad yang kami lalui itu dikenal dengan jalur super licin dikala musim hujan. Jalur itu adalah jalur Gunung Kawi, Gunung Arjuna, Gunung mujur dan Pujon. Di jalur-jalur single track, ngeril dan licin itu rider yang naik CRF150L relatif mampu melewatinya bersama sahabat lain yang naik Husqvarna FE 250 dan Husaberg TE 250.

Spesifikasi Honda CRF 150L yang dinaiki IDB dan tim  CHEELA kebanyakan sama, yaitu hanya ganti knalpot model free flow, ganti ban tipe offroad dan gir depan ukuran 13T. Knalpot yang kami pakai merek 3Two dan ProSpeed. Kedua knapot ini beda harga, yang 3Two seharga Rp 700 ribu plus header dan ProSpeed seharga Rp 2 jutaan. Sedangkan sektor mesin masih tetap standar pabrikan.


Semburan tenaga CRF 150L yang smooth itu justru memberi keuntungan di jalur offroad yang licin. Roda belakang tidak mudah spin. Dengan memainkan ritme bukaan gas yang tepat itu CRF 150L mumpuni melibas jalur offroad yang licin.

Mesinnya juga tangguh. Digeber dengan bukaan gas dalam di jalur yang licin itu tidak ada gejala mesin overheat. Dengan ditunjang suspensi yang nyaman, itu CRF 150L memang jadi mainan yang menyenangkan untuk offroad di akhir pekan. (IDB)

link terkait:

Senin, 01 Januari 2018

Jatuh Bangun di Jalur Offroad Gunung Kawi- Gunung Panderman – Coban Rondo


Delapan orang perlahan meninggalkan sekretariat tim CHEELA pada hari Minggu (31/12/2017) untuk offroad akhir tahun. Mereka yang naik Husqvarna FE 250. Husqvarna TE 250, Husaberg TE 250, Kawasaki KLX 150 dan Honda CRF150L itu memacu motornya dengan perlahan ketika melewati perkampungan.

Tidak sampai 5 menit, tim langsung memasuki jalur offroad di atas perumahan Oma Campus, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Karena sudah memasuki jalur offroad dan tampak sepi, tim langsung buka gas motor lebih dalam. RK dan DW melesat di depan, menyemburkan lumpur yang terlontar ke sobat-sobatnya yang ada di belakang.

Sejak start awal, jalur offroadnya sudah mulai licin, karena memang hujan sedang deras-derasnya di bulan Desember itu. Jalur di tengah ladang itu kelihatannya mudah karena datar, namun salah buka gas dan keliru memainkan tehnik pengereman, bisa jadi akan terjungkal mencium kotornya lumpur.

Tak lama kemudian tim memasuki Desa Selokerto yang dikenal dengan agrowisata jeruknya. Tim memacu motornya dengan perlahan, karena gak keren kalau lewat perkampungan dengan kencang apalagi bleyer-bleyer knalpot hingga memekakan telinga.

Begitu masuk kembali jalur offroad, tim membetot gas motor. Kali ini jalurnya lebih licin, karena berupa tanah padas mengkilat di sela-sela hutan pinus dan perladagangan. DW yang memacu Husabernya di barisan depan harus terjungkal persis di depan RK.

Cek video ini: Husqvarna Fe 250 vs CRF 150L

DV yang biasa naik moge yang ikut offroad hari itu juga harus jatuh bangun melewati jalur licin. Setelah ban belakang motornya dikempesin dikit, baru dia mulai bisa melibas jalurnya dengan lebih enak, meskipun tetap tampak kesusahan.

Setelah tim menyebarangi sungai kecil, jalur mulai ngeril dalam. Tim harus berjuang extra keras untuk lolos jalur ini. RZ yang naik KLX 150-pun motornya tertancap di jalur ngeril tanpa bisa beregerak sama sekali. Semakin digas motornya, semakin dalam roda belakang tertancap di tanah. Akhirnya RZ menyerah pasrah.

Video motornya yang nancap di tanah: Motor nancap di tanah

ER yang baru pertama kali ikut offroad tim CHEELA juga harus menguras energi untuk melewati jalur di tengah pinus ini. Untungnya fisik ER kuat dan semangatnya menggebu, sehingga dia terus mampu mengkuti irama offroad para senior di tim CHEELA.

Setelah istirahat sejenak, tim melanjutkan perjalanan. Jalurnya tetap full single track, licin dan ngeril. Benar-benar butuh kosentrasi tinggi, fisik prima dan tentu saja motor yang sehat untuk lolos jalur ini.

Di jalur ini WW, AW dan DV sempat tersesat. Untung jalurnya buntu sehingga mereka bisa balik arah dan kembali menemukan anggpta tim lainnya yang menunggu di bawah rindangnya pohon hutan.

Sekitar jam 11.30, tim memasuki kawasan  Goa Jepang. Wajah rider dan warna motor sudah semakin tidak jelas, tesamarkan dengan cipratan lumpur. Disinilah WW yang naik CRF150L mengangkat bendera putih alias menyerah untuk tidak melanjutkan offroad.

“Tangan saya sakit pak, maaf tidak bisa lanjut offroad, saya akan lewat jalur on road aja,” kata WW.

Tim yang kini berjumlah tujuh orang kembali melanjutkan offroad, Jalurnya kali ini membuat tim tersenyum, karena sedikit kering dan meliuk-liuk di perbukitan, sehinga tim bisa membetot gas motor lebih dalam.

Tidak sampai setengah jam, tim memasuki jalan raya lintas barat Kota Batu. Wah jalannya macet karena wisatawa yang mau berkunjung ke Coban Rais.

Tim istirahat sejenak di sebuah warung yang ada di tepi jalur Jalibar. Sambil menyantap makan siang, kami ngobrol banyak hal tentang dunia motor trail. Dari obrolan ini kami baru tahu bahwa DV itu sebelum pindah ke Malang itu dia tinggal di Bandung dan sejak lama memang dia suka motor.
Istirahat sejenak di warung sekalian makan siang
“Saya sudah sejak lama tahu akan IDB dan CHEELA, dan baru sekarang bisa offroad bareng,” kata DV yang naik Husqvarna FE 250.

Setelah dirasa cukup istirahat, tim melanjutkan offroad. Kali ini jalurnya menyisiri lereng Gunung Panderaman yang tak kalah licinnya.

Di beberapa titik, DV kesulitan melewati jalur Panderman ini. Ban motor yang sudah mati, membuat DV kesulitan melibas jalur licin. Jatuh bangun sudah menjadi hal biasa untuk lolos jalur ini.

TG yang usianya paling mudapun juga harus mengeluarkan extra tenaga untuk melibas jalur. Dia juga sempat terjungkal bersama Husqvarna TE 250-nya.

Jalur lereng Gunung Panderman ketika musim hujan memang terkenal licin, karena karakter tanahnya itu padas keras tapi licin.



Setelah satu jam berasyik ria di jalur offroad lereng Panderman, akhirnya tim tiba di kawasan wisata Coban Rondo. Ini adalah kawasan wisata air terjun yang terkenal di Malang.

Dari Coban Rondo kami meluncur arah desa wisata Kungkuk lewat jalur Paralayang Batu. Dari Desa Kungkuk kami menuju arah lereng Gunung Arjuna lewat tengah perkebunan apel dan jeruk.

Di jalur menuju lereng Arjuna ini jadi ‘bonus’bagi tiim karena jalurnya lebar dan kering. Tim membetot gas dengan dalam dan meliuk-liuk di jalur speed offroad ini. DW dengan motor 250 dua tak langsung melesat di depan tanpa terkejar.

ER yang masih pemula juga terbawa irama speed offroad yang dimainkan tim CHEELA sore itu. ER punya nyali dan fisik yang mumpuni, tetapi skill riding masih minim. Di jalur lurus dia bisa buka gas pol, tetapi begitu masuk tikungan dia lurus saja dan nyungsep nabrak pagar tanaman!

RZ, anggota tim CHEELA nomor 20 tampak begitu menikmati jalur speed offroad ini. Meskipun fork depan motornya bocor, dia masih ngotot untuk buka gas melawan senior RK.

“Puas rasanya offroad akhir tahun ini, jalurnya lengkap, ada single track dan juga speed offroad,” kata RZ yang berasal dari Pasuruan.

Jalur speed offroad itu menajdi pamungkas rangkaian offroad akhir tahun tim CHEELA. Terima kasih atas kebersamaan dan persahbatan di jalur lumpur ini, sampai ketemu di jalur offroad berikutnya. (IDB)

Rabu, 27 Desember 2017

Pengalaman Seru Tak Terlupakan Menjelajah Alam Flores dalam I6DE 2017


Indonesian Six Days Enduro (I6DE) 2017 yang diadakan pada tanggal 4-9 Desember 2017 di Flores pastinya menjadi pengalaman tak terlupakan bagi pesertanya. Kenangan indah itu terpatri dalam hati peserta yang hanya dibatasi 20 orang dan dengan indahnya diabadikan dalam foto-foto menakjubkan karya Kadek Ramayadi.

I6DE selalu menjadi ajang offroad motor trail yang spesial, karena jalurnya mantap dan jumlah pesertanya juga dibatasi. Even tanpa embel-embel hadiah ini selalu menarik bagi offroader sejati yang lebih ingin menikmati jalur offroad dan keindahan alam, bukan sekedar memburu hadiah atau menikmati hiburan.

Menariknya, dalam I6DE 2017 ini tidak ada penandaan jalur, tetapi menggunakan sistem GPS. Otomotis selain dituntut skill riding yang mumpuni dalam melibas jalur offroad, peserta juga wajib bisa membaca GPS dengan baik.

“Thanks Flores, ini akan menjadi cerita indah sepanjang masa dan akan kami ingat sampai mati,” kata Erick, sang penggagas I6DE.

Ini dia foto-foto pilihan dari I6DE Flores 2017:

Sampai jumpa di I6DE 2018 di Sulawesi